Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Sebatang kara


"Savana, bisa kita bicara?" tanya Joshua. Rasanya dia tidak sanggup lagi untuk menahan semuanya, hingga setelah makan malam dia mengajak Savana untuk berbicara.


Savana tersenyum getir. Dia yang akan bangkit berkata, "Bicaralah."


Lalu kini, kedua pasangan suami istri itu sudah duduk di sofa dengan posisi saling berseberangan. Joshua yang mengajak bicara, tapi Joshua juga yang masih terdiam sampai saat ini, sedangkan Savana, dia menunduk seraya memegang cangkir berisi susu.


Sesekali dia menyeruput susu yang berada di gelas yang dia pegang seraya menunggu Joshua berbicara. Joshua menghela napas kemudian mengembuskannya. Lelaki itu mencoba memutar otak, mencari kata-kata yang tepat untuk meminta maaf pada Savana.


"Aku tidak tahu dampak ucapanku berpengaruh padamu," ucap Joshua dengan suara pelan.


"Apa kau ingin menyalahkanku lagi?" tanya Savana kali ini menatap Joshua, tapi cepat Joshua menggeleng.


"Tidak, tidak bukan begitu maksudku. Aku tahu aku salah, aku egois, aku terlalu mementingkan diriku dan aku minta maaf atas semuanya," kata Joshua, wajah yang biasanya menatap Savana dengan malas berubah, entah karena kasihan atau karena merasa.


Savana mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku maafkan," jawabnya dengan singkat padat dan jelas.


Joshua mengangkat kepalanya. Dia menatap Savana dengan tatapan tak percaya. Dia pikir Savana akan mengatakan hal lain, tapi ternyata Savana hanya mengucapkan hal itu, padahal Joshua berharap Savana memakinya, mengutuknya ataupun mengatakan hal lain-lain. Namun, Savana hanya mengatakan hal yang sederhana.


"Savana," panggil Joshua.


Savana tersenyum. "Itu sudah berlalu. Maafmu, penyesalanmu, tidak akan membuat anakku kembali. Aku juga tidak menyalahkanmu sepenuhnya, karena aku juga salah." Savana menghentikan sejenak ucapannya. Satu kali kedipan saja, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata wanita itu, tapi dia berusaha menegarkan hatinya.


"Intinya, apapun yang terjadi di masa lalu itu sudah terjadi, dan tidak ada gunanya lagi untuk dibahas. Aku juga minta maaf selama ini aku terlalu kekanak-kanakan. Aku juga minta maaf karena terus menyusahkanmu," ucap Savana, mengakhiri ucapannya dengan senyuman, kemudian wanita cantik itu langsung bangkit dari duduknya.


"Selamat malam," jawab Savana. Wanita itu langsung berbalik kemudian kembali ke kamarnya.


Saat melihat punggung Savana, hati Joshua benar-benar terasa sesak. Dia tahu dan dia yakin betul istrinya begitu terluka karena apa yang dia lakukan dan apa yang dia ucapkan.


Savana masuk ke dalam kamar kemudian dia langsung mendudukkan diri di ranjang, lalu setelah itu dia menarik laci dan melihat kertas USG calon anaknya yang telah tiada.


"Nak, Mommy minta maaf. Hati Mommy begitu sakit saat mendengar maafnya. Maafkan Mommy, maafkan Mommy yang membenci ayahmmu," ucap Savana, mencium kertas USG yang dia pegang.


Akhirnya, Savana mengangkat kakinya kemudian dia membaringkan tubuhnya di ranjang, lalu setelah itu wanita itu pun memejamkan matanya berusaha terlelap dengan memeluk kertas USG milik calon anaknya.


***


Malam berganti pagi, Savana sudah siap untuk pergi kuliah. Kondisinya memang belum sehat benar dan belum pulih seratus persen, tapi Savana bingung harus melakukan apa. Belum lagi dia juga harus mengejar keterlambatannya, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk kuliah sekarang.


Savana keluar dari kamar, dan bersamaan itu juga Joshua juga keluar dari kamar. Sepertinya Joshua juga akan mengajar.


"Kau akan berangkat kuliah sekarang?" tanya Joshua. Savana mengangguk.


Sebenarnya dia malu untuk bertanya, hanya saja dia terlalu bingung saat berpapasan dengan Savana.


"Savana ayo berangkat denganku," kata Joshua lagi.


Savana tersenyum getir. Ini juga untuk pertama kalinya Joshua mengajaknya untuk pergi bersama secara sukarela, karena biasanya Savana yang ingin untuk ikut.


Savana tersenyum. "Duluan saja Paman, aku harus pergi ke perpustakaan, untuk membeli sesuatu," ucapnya.


Joshua mengangguk kemudian lelaki itu keluar dari apartemen, sedangkan Savana pergi ke dapur untuk mengambil sereal. Saat membuka kulkas, tiba-tiba Savana meringis wanita itu memegang perutnya yang terasa keram. Sepertinya obat yang diminum Savana sedikit berpengaruh pada rahimnya, hingga terkadang susah karena merasakan kram dan rasa nyeri.


***


Savana masuk ke dalam kelas. Dia masuk setelah mengurus administrasi dan lain-lain, sebab dia belum membayar biaya semester. Savana menggunakan seluruh uangnya untuk membayar biaya kuliah, dan saat ini tabungan Savana benar-benar sudah terkuras. Wanita itu hanya menyisakan uang untuk transportasinya dan juga mungkin untuk makan.


Dia juga berharap bisa secepatnya mendapatkan panggilan part time untuk bisa menyambung hidupnya. Dia memang tidak akan meminta pada Joshua, tapi jika Joshua memberikannya uang dia akan menerimanya. Namun sebelum Joshua memberikannya, dia harus bekerja terlebih dahulu.


Saat masuk tatapan Joshua langsung teralih pada Savana yang sedang duduk, tapi tak lama dia memalingkan tatapannya ke arah lain dan dia pun mulai untuk memberi materi.


Savana fokus mengerjakan tugas yang diberikan oleh Joshua. Ada hal yang berapa tidak dia mengerti, karena dia ketinggalan banyak sekali pelajaran. Namun, dia masih berusaha menyinkronkan semuanya.


Ketika dia fokus, Savana meringis ketika perutnya terasa kram. Dia meremas perutnya berkali-kali. Dia menghela napas agar rasa sakit di perutnya menghilang. Ini aneh, perutnya lebih sakit dari biasanya.


Joshua yang sedang mengutak-atik laptopnya, tanpa sengaja melihat ke arah Savana yang tampak meringis. Dia juga melihat ke arah bawah, dan dia juga melihat Savana memegang perutnya.


"Savana," panggil Joshua secara refleks, hingga semua mahasiswa langsung menoleh ke arah Joshua, dan tak lama Joshua berdeham.


"Iya Mister?" tanya Savana.


"Are you okay?" tanya Joshua.


"Hmm, aku baik-baik saja." jawab Savana.


Tak ingin terus menatap Joshua, Savana dengan cepat kembali melihat ke arah laptop. Dia berusaha untuk tidak meringis, padahal perutnya semakin bergejolak.


***


Kuliah Savana selesai, wanita itu bergegas untuk segera pergi. Barusan dia mendapatkan kabar bahwa ada satu restoran yang membutuhkan pekerja part time untuk mencuci piring, dan tentu saja bayarannya per jam.


Savana sudah melamar itu sedari kemarin malam, dan ternyata barusan dia mendapatkan balasan bahwa dia diterima, hingga pada akhirnya dengan cepat keluar dari kelas walaupun kondisi perutnya masih belum membaik.


Ketika Savana keluar dengan terburu-buru, Joshua yang baru saja berbelok mengerutkan keningnya. Entah kenapa rasa penasaran memantik diri lelaki itu, hingga pada akhirnya Joshua pun berjalan dengan kencang untuk mengimbangi langkah Savana.


Saat berada di luar kampus ketika Savana akan menyetop taksi, tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depannya membuat Savana mengerutkan keningnya, dan tak lama seseorang keluar dari mobil dan Savana tahu itu adalah pengacara kedua orang tua angkatnya.


"Nona Savana, bisa kita bicara?" tanya pengacara tersebut, hingga jantung Savana berdetak dua kali lebih cepat mendengar pengacara itu. Entah kenapa feeling-nya mengatakan hal yang tidak-tidak, yang tentu saja ini berhubungan dengan kedua orang tua angkatnya.


Lalu sekarang, di sinilah mereka berada, di sebuah kafe yang ada di sekitar kampus Savana.


"Ada apa Tuan menemuiku?" tanya Savana.


Pengacara di depannya langsung mengeluarkan beberapa berkas. "Mohon tanda tangan ini," ucapnya.


"Maksud Tuan?" tanya Savana.


"Ini adalah surat pencabutan seluruh harta yang sudah diberikan oleh orang tua angkat Anda, karena secara negara Anda sudah bukan menjadi anak dari orang tua anda dengan artian kata status Anda sebagai anak telah dicabut, karena Anda hanya anak adopsi," ucap pengacara.


Savana memegang pinggiran meja saat mendengar ucapan tersebut. Dia tidak menyangka ayah dan ibunya akan berubah sejauh ini. Ya, orang tua angkat Savana sepertinya sudah bulat untuk memutuskan hubungannya dengan Savana, hingga kini Savana benar-benar sebatang kara.


"Mohon tanda tangani sekarang," ucap pengacara tersebut.


Lalu dengan tangan yang gemetar, Savana mengambil pulpen kemudian wanita itu langsung menandatangani semuanya. "Dan juga Anda tidak berhak lagi untuk menggunakan nama Glenesia sebagai marga Anda. Kalau begitu, saya permisi," ucapnya.


Pengacara itu pun berlalu pergi. Tentu saja setelah membereskan berkas di meja, meninggalkan Savana yang diam mematung.


Joshua tampak mengerutkan keningnya saat mendengar apa yang diucapkan oleh Savana, dan pengacara tersebut, karena saat ini dia sedang berada di belakang meja yang ditempati oleh Savana, karena rupanya tadi dia mengikuti Savana sampai ke cafe tersebut.


Savana menghapus air mata yang sudah membanjiri pipi. Wanita itu langsung mengotak-atik ponselnya kemudian dia langsung menelepon ayah dan ibunya. Tidak ada sahutan dari keduanya hingga Savana langsung mengirimkan pesan suara.


"Mom, Dad, akhirnya kalian melepasku. Terima kasih karena sudah mengadopsiku, sampai aku yang hanya anak pelayan bisa mendapatkan segala yang aku mau. Aku tidak punya apapun untuk membalas Mommy dan Daddy, aku hanya berharap kalian bahagia. Terima kasih atas semuanya," ucap Savana.


Joshua membulatkan matanya saat mendengar pesan suara yang diucapkan oleh Savana, dan sekarang dia mengerti bahwasanya anak adopsi.