
“Gabby, Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? tanya Arsen lagi ketika Gabby tidak menjawab pertanyaannya soal ponsel yang dikunci dengan kode yang berbeda.
Gabby menghela nafas, kemudian menghembuskannya, lalu menghentikan langkahnya, kemudian menatap Arsen.
“Aku hanya ingin saja memprivasi ponselku,” Jawab Gabby, membuat Arsen terdiam.
Ia menatap Gabby lamat-lamat, kemudian ia menarik tangan Gabby. Lalu mengajak Gabby berjalan dengan cepat ke ruangan pribadi milik Gabby.
Setelah sampai di ruangan, Gabby ... Arsen memegang bahu Gabby kemudian mendudukkan istrinya di sofa. Sedangkan ia, berlutut di hadapan Gabby. “Gabby, kau tahu beberapa hari ini Kau sangat berubah. Aku merasa kau menghindariku dan sekarang, kau mengganti kode ponselmu. Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, ataukah ada sikapku yang salah, hingga kau bersikap begini padaku?” tanya Arsen dengan lemah lembut. Ia berusaha memancing Gabby berbicara, agar ia bisa memastikan apakah Gabby curiga padanya atau tidak.
Dada Gabby bergemuruh, ketika mendengar ucapan Arsen yang begitu manis, Entah kenapa kali ini ia ingin sekali menonjok wajah suaminya. Tapi Gabby harus menahannya agar rencananya berjalan mulus.
Gabby tersenyum, kemudian menggeleng. “Arsen, kau tahu bukan, aku wanita yang sangat gampang berubah mood, ada kalanya aku ingin menyendiri, ada kalanya aku ingin terbebas dari apapun dan mungkin beberapa waktu kedepan, sikapku juga akan seperti ini. Aku tidak ingin memaksakan aku baik-baik saja. Jadi aku mohon pengertianmu," jawab Gabby, membuat Arsen menghela nafas lega.
Ternyata, sifat Gabby berubah karena mood Gabby sedang buruk, Arsen tahu, bahwa Gabby adalah wanita yang mudah berubah-ubah. Kadang ceria dan kadang bersedih tanpa sebab, kadang juga Gabby mencampurkan keduanya.
Dan saat, ini arsen yakin dan percaya tentang alasan Gabby. Padahal, tentu saja Gabby tidak seperti itu, ia sedang menyelidiki semuanya diam-diam.
“Arsen, terkadang, aku ingin privasi tersendiri. Mulai saat ini, kau pun bisa mengunci ponselmu atau kau pun bisa mempunyai privasi tersendiri. Aku tidak akan melarangnya, tapi untuk beberapa saat, tolong jangan protes ketika sikapku berubah. Aku akan kembali seperti Gabby yang dulu, ketika moodku sedang membaik,” jawab Gabby. Tiba-tiba, Arsen terpikir sesuatu..
“Bagaimana jika kita liburan? kita sudah lama sekali tidak berlibur,” kata Arsen, Gabby tampak berpikir, sepertinya ini adalah ide yang bagus.
“Baiklah, mungkin kita bisa pergi dua bulan lagi,” jawab Gabby, Arsen bangkit dari berjongkoknya, kemudian ia mendudukkan diri di sebelah Gabby. Baru saja Arsen akan merangkul pundak Gabby, Gabby bangkit dari duduknya.
“Aku ingin pergi ke air dulu,” ucap Gabby. Setelah itu, ia langsung berlalu pergi ke kamar mandi untuk menghindari Arsen, rasanya ... ia merasakan perasaan semacam tidak rela, tubuhnya disentuh oleh arsen. Bahkan dekat dengan suaminya saja, rasanya ia begitu enggan.
Padahal, sebelum rasa itu datang, cinta Gabby pada Arsan begitu menggebu-gebu. Ia selalu senang dengan perhatian manis Arsen. Tapi sekarang, rasanya Gabby, begitu muak. Padahal ia juga belum menemukan bukti apapun tentang kelakuan Arsen di luar sana.
Lagi-lagi, Arsen menggeleng, ketika melihat Gabby. Tiba-tiba, ia terpikirkan sesuatu. Lalu, menyeringai ia pun bangkit dari duduknya untuk menyusul Gabby.
Scroll gengs.