Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Ampuni Aku


Satu minggu kemudian


Naura merentangkan tangannya, menghirup udara pantai sebanyak-banyaknya.Seperti yang direncanakan Naura dan Nauder pergi ke pulau pribadi untuk berbulan madu. Mereka berencana berdiam di pulau pribadi itu selama satu minggu.


Naura tidak tahu Alvaro mengikutinya atau tidak. Tapi yang jelas, Naura tidak ingin memikirkan lelaki itu dan kemarin juga saat ia bertemu dengan Alvaro, Alvaro juga tidak membahas tentang bulan madu ia dan Nauder.


Mungkin Naura bisa mengasumsikan Alvaro tidak mengikuti mereka.


Tak lama, Naura tersenyum saat ada yang memeluknya dari belakang. “Kau sudah selesai memindahkan semua?” tanya Naura. Namun tak lama, wanita itu mengerutkan keningnya saat Nauder tidak berbicara, Ia juga merasa aneh ini bukan wangi suaminya.


Tiba-tiba Naura merasa was-was, dia langsung berbalik. Mata Naura membulat saat melihat bukan Nauder yang memeluknya, melainkan Alvaro


“Kau!” Naura melotot galak pada lelaki di depannya ini, dia langsung mendorong tubuh Alvaro.


“ Bagaimana mungkin kau ada di sini!” teriak Naura. Naura melihat Alvaro dari bawah sampai ke atas, ternyata lelaki itu memakai setelan pekerja yang ada di villa. Naura menutup mulut dengan apa yang dilihatnya, lelaki ini benar-benar gila.


“Tidak mungkin aku tidak mengikuti kalian," jawab Alvaro, seperti biasa Alvaro menjawab dengan sangat menyebalkan, membuat Naura berdecak kesal.


'Ya Tuhan apalagi ini' Naura membatin. “Bagaimana jika Nauder melihatmu!”


“Biarkan saja, itu kan tujuanku.” Wajah Naura semakin memuncat saat mendengar Alvaro, tentu saja Alvaro berdusta. Jika ia membongkarnya sekarang, ia tidak akan bisa lagi mengancam Naura.


“Pergi dari sini, aku mohon,” ucap Naura.


“Kalau begitu nanti malam temani aku. Tidak apa-apa, aku akan menunggu sampai Nauder tertidur dan setelah itu kita akan menikmati angin malam berdua.”


“Tidak, aku tidak mau,” jawab Naura dengan wajah yang memucat.


“Baiklah aku akan memperlihatkan diriku di hadapan Nauder." Naura menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


”Baik ... baik. Aku akan menemanimu!" pada akhirnya Naura setuju dengan apa yang diucapkan oleh Alvaro, ia tidak mungkin membiarkan Alvaro muncul di depan Nauder.


Alvaro menyeringai, cara ini memang paling mudah untuk mengintervensi Naura, inilah tujuannya muncul sekarang, agar Naura terjepit dan mau mengikuti keinginannya, keinginan Alvaro tidak muluk-muluk Ia hanya ingin menelusuri bibir pantai bersama Naura.


“Cepat pergi," ucap Naura. Alvaro pun kembali menurunkan topinya agar wajahnya tidak terlihat setelah itu ia langsung berlalu begitu saja. Naura tidak mengerti kenapa Alvaro bisa mengetahui tempat di mana dia berbulan madu bersama Nauder, dan rasanya Ia juga begitu malas untuk bertanya.


Sekarang harapan Naura untuk bisa berleha-leha dan bisa bersantai dengan Nauder hilang begitu saja, tidak ada lagi ketenangan yang ia harapkan semuanya berganti dengan rasa risau karena Alvaro mengikutinya.


“Sayang ....” tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang membuat Naura menoleh, helaan nafas terlihat dari wajah cantik Naura saat saat Nauder datang dan Alvaro sudah pergi. Sungguh, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Kedua lelaki itu bertemu, sudah dipastikan mereka mungkin akan saling menenggelamkan diri ke laut


“Sayang, kenapa wajahmu tampak pucat?” Nauder bertanya karena melihat wajah Naura yang memutih lebih dari sekedar pucat. Bahkan ia melihat istrinya seperti sedang melamun.


Naura tersadar lagi, Kemudian ia menggeleng “Aku lelah, Nauder.” Nauder menyerahkan kaleng minuman ke hadapan Naura, kemudian Naura meminum itu tanpa jeda hingga minuman di kaleng itu habis membuat Nauder tertawa.


Naura mengerutkan keningnya, tidak biasanya istrinya seperti ini. Namun dia bertanya lagi.


Membayangkan ia akan pergi bersama Alvaro saja rasanya sudah menakutkan, apalagi jika ia benar-benar harus pergi nanti.


Akhirnya mereka pun sampai di villa, Naura menatap kagum pada villa tersebut. “Nauder apa ini pulau pribadi milikmu?” tanya Naura, ia menatap kagum sekelilingnya. Pemandangan di depan benar -benar memanjakan matanya.


”Bukan milikku, tepatnya milik keluargaku,” jawab Nauder. Dia tersenyum saat Naura tampak anteng melihat melihat ke sekitarnya.


•••


Setelah berjalan-jalan sebentar, akhirnya Naura dan Nauder memutuskan untuk beristirahat, tentu saja mereka sudah makan malam. Naura dan Nauder memutuskan beristirahat dengan cepat karena mereka besok berencana untuk snorkeling.


Saat Nauder sedang pergi ke kamar mandi, Naura terus mondar-mandir dia bingung bagaimana caranya pergi keluar dari villa ini untuk menemui Alvaro.


Tak lama, ponsel Naura berdering satu pesan masuk hingga Naura pun langsung terperanjat kaget, Ia pun langsung mengambil ponsel itu dengan tangan yang gemetar dan melihat siapa yang mengirimi pesan, dan ternyata yang mengirimi pesan adalah Alvaro.


“Ada obat tidur di kantongmu berikan itu pada Nauder, agar kita bisa keluar dengan waktu yang lama!” mata Naura membulat saat melihat ucapan Alvaro.


Tunggu siapa yang menaruh obat itu di tasnya, seingatnya tas itu terus melingkar di tubuhnya. Lalu kenapa Alvaro bisa menaruh obat itu.


Dengan cepat Naura pun berjalan ke arah sofa di mana tasnya tergeletak di sana, ia pun membuka tasnya kemudian ia langsung melihat isinya, dan benar saja ada serbukk putih yang mungkin itu adalah obat tidur untuk Nauder. Jika Nauder meminum obat itu, 10 menit kemudian, Nauder pasti akan tertidur.


Tak lama, terdengar suara pintu kamar mandi terbukaa. Sepertinya Nauder sudah keluar dari kamar mandi,.hingga Naura langsung mendudukkan diri di sofa lalu menyimpan obat tidur itu di belakang tubuhnya.


"Sayang!” panggil Nauder. “Kau tidak akan mandi?” tanya Nauder


Naura tersenyum. “Tentu.”.


“Ya sudah ayo cepat!” titah Nauder


“Sebentar, aku ingin mengambil minum dulu ke bawah,” ucap Naura dengan gugup.


“Biar aku saja yang mengambilnya Kebawah,” ucap Nauder. “Aku juga sekalian ingin minum.”


“Tidak biar aku saja, Aku ingin mengambil sesuatu di kulkas," jawab Naura dengan cepat.


“Baiklah.”


Naura menghela nafas lega dia pun langsung pergi dan bangkit dari duduknya, lalu menggenggam obat itu dan keluar dari kamar.


15 menit kemudian, akhirnya Naura masuk ke dalam sambil membawa minuman untuk Alvaro. Tak lupa dia sudah mencampurkan obat yang tadi. “Terima kasih,” ucap Nauder saat menerima gelas dari tangan Naura.


Dengan polosnya, Nauder minum air itu, hingga air di gelas itu tandas dan setelah itu, ia memberikan gelas lagi pada Naura. Rasanya, Naura ingin sekali menangis saat Nauder meminum minuman yang ia bawa


“Ampuni aku, Nauder.”