
Nael tersenyum kemudian melambaikan tangannya pada kedua putrinya yang sedang bermain komedi putar, dan setelah putrinya kembali fokus menikmati permainan Nael. kembali mendudukkan dirinya di sebelah Gabby.
Ia langsung menggenggam tangan Gabby dan mengecupnya. “Nael, ini tempat umum,” kata Gabby yang protes, ketika Nael tiba-tiba bersikap manis. Nael menoleh membuat Gabby tertegun, karena melihat mata Nael yang berkaca-kaca.
Rupanya, Nael merasa terharu dan merasa senang sekaligus merasa sedih ketika sampai di area taman bermain. Sebab, ia mengingat bagaimana dulu momen ketika ia datang dengan terpaksa dan itu adalah momen terakhir kalinya ia menemui putrinya dan momen ketika mengetahui bahwa putrinya menderita leukimia.
Dan sekarang, ia datangan dengan perasaan yang berbeda, jika di masa ia datang ke taman hiburan dengan rasa kesal dan terpaksa, namun sekarang, ia datang dengan perasaan suka cita.
“Nael, are you oke?” tanya Gabby, Nael menggangguk. “Aku hanya terharu, aku bisa datang kesini lagi dan membawa kedua putriku, melihat dan melihat senyuman mereka,” ucap Nael, membuat hati Gabby menghangat, karena ucapan Nael benar-benar terdengar saat tulus.
Saat Nael menoleh ke depan, tiba-tiba Gabby menyandarkan kepalanya di bahu Nael, ia membalas genggaman tangan Nael, membuat Nael tersenyum. Sangat jarang sekali, Gabby bersikap manis dan manja padanya.
Setelah lima belas menit berlalu, akhirnya permainan komedi putar yang ditumpangi Laura dan Naura berhenti. Laura dan Naura pun turun, kemudian menghampiri ibu dan ayahnya.
“Daddy, Ayo kita naik kincir angin. Aku ingin naik ke sana!” kata Laura.
Nael melepaskan genggaman tangannya dari Gabby, kemudian, kemudian bangkit, lalu menggenggam kedua tangan putrinya.
“Gabby, kau tidak ada ikut?” tanya Nael.
“Tidak, aku akan menunggu kalian di sini!” kata Gabby.
Setelah Nael dan kedua putrinya pergi, Gabby menunduk. jari-jarinya saling bertautan, tiba-tiba bulir penting langsung terjatuh dari pelupuk matanya
Yang di lakukan Nael memang sederhana. Namun, mampu meluluhlantahkan hati Gabby. Sebagai seorang wanita yang berjuang membesarkan putrinya seorang diri dan menahan luka yang luar biasa hebat, momen ini begitu berharga bagi Gabby.
Karena di masa lalu, ia tidak pernah melihat momen seperti ini. Bahkan, membayangkannya saja ia tidak berani. Tapi, sekarang Tuhan begitu baik, harapan Gabby terkabul, ia bisa melihat senyuman di kedua putrinya dan senyuman itu karena Nael.
Gabby merogoh tasnya, kemudian ia mengambil ponsel lalu mencari foto Sima dari Stuard. Ia mengelus foto kedua orang tuanya dengan tangis yang berlinang.
“Mommy ... Daddy, Jangan cemaskan. Aku sudah bahagia dan aku berjanji aku akan menjaga Gisel,” lirih Gabby.
•••
“Kakek ... Nenek!" teriak Laura dan Naura saat masuk ke dalam, Ini pertama kalinya lagi mereka bertemu setelah bertahun-tahun berlalu.
Grisella langsung berjalan dengan cepat. “Nenek, rindu sekali dengan kalian!” kata Grisella.
Greey yang sedang berdiri langsung menghampiri Gabby dan Gabby langsung melepas genggaman tangannya pada Nael, tanpa diperintahkan Gabby langsung berhambur memeluk Grey.
“Senang bertemu denganmu lagi Gabby,” ucap Greey. Saat berada di pelukan Grey, tangis Gabby kembali luruh, ia merasa sedang memeluk sang ayah.
“Senang bertemu denganmu lagi Tuan Greey," jawab Gabby dengan tangis sesegukan.
Scroll gengs