
uhuk
Jordan tersedak saat mendengar ucapan Joanna ,bagaimana mungkin gadis di depannya ini tahu dia berteman dengan Olivia, karena seingatnya ia tidak pernah membocorkan siapa dia sebenarnya. Bahkan saat itu, saat mereka bertemu di rumah Nael, Joana tampak tidak melihat ke arahnya. Lalu bagaimana, gadis ini tahu siapa dia.
Jordan sedikit gugup. Namun ia berusaha untuk tetap tenang. “Kau tahu dari mana aku teman ibu ?” tanya Jordan lagi, Joanna tampak berpikir.
“Aku pernah melihat fotomu saat wisuda bersama mommy dan Paman Nael,” jawab Joanna membuat Jordan menghela nafas lega. Setidaknya gadis di depannya ini tidak mengetahui bahwa ia dan Olivia pernah berpacaran.
Jordan mulai memakan sarapannya, begitupun Joanna. “Paman kenapa Paman bisa putus dengan ibuku?” tiba-tiba Jordan kembali tersedak saat mendengar pertanyaan Joana, ia pikir Joanna tidak tahu bahwa ia dan Olivia pernah berpacaran. Tapi ternyata Joanna mengetahuinya, karena ia pernah melihat foto Jordan sedang mencium pipi Olivia saat muda.
Jordan menyimpan garpu yang sedang ia pegang. “Apa kau tidak bisa diam, kau membuat seleraku makanku hilang!” Hardik Jordan membuat Joana berdecih. Namun tak lama, Joana tersadar bahwa dia tidak boleh kurang ajar pada Jordan
“Maafkan aku, Paman,” ucapnya, ia lebih memilih mengalah dan mulai melanjutkan makanannya, begitupun dengan Jordan. Jordan terus menyuapkan makanan di mulutnya, ternyata masakan yang di masak Joanna cukup pas di lidah Jordan.
“Kau tidak sekolah, lalu apa cita-citamu.”
“Sebenarnya aku ingin menjadi koki dan aku tidak tertarik dengan dunia pelajaran dan dunia pekerjaan. aku hanya aku ingin membangun restoran dan menjadi chef di restorannya sendiri. Tapi sayang, ibuku menentang keinginanku dan ...."
Bibir Joana bergetar saat menjawab ucapan Jordan membuat Jordan langsung menghentikan gerakannya yang sedang mengunyah, apalagi mendengar suara gadis yang ada di depannya ini begitu rapuh dan ia yakin, Olivia benar-benar membuat gadis ini tersiksa
Sebab dulu iya tahu bagaimana Olivia,
bagaimana kerasnya Olivia dan ia yakin apa yang di Alami gadis remaja ini begitu berat. Tak ingin terus memperpanjang pembahasan yang sudah terasa berat, Jordan kembali menyuapkan makanan ke mulutnya, begitupun dengan Joana. Hanya saja sekarang, mood makannya menghilang, setelah membahas itu.
Karena faktanya, dia sama sekali tidak tertarik dengan pelajaran ataupun pendidikan yang ibunya usulkan, entah kenapa dari dulu cita-citanya adalah menjadi seorang chef di restorannya sendiri. Tapi sayang, ibunya malah memaksanya mengambil sekolah yang tidak ia inginka.
Dulu ia sangat ingin sekolah memasak, tapi Joana bisa apa, semua harapannya hancur karena keegoisan sang ibu. Sebenarnya mungkin Joanna bisa saja menuruti sang ibu dengan catatan sang ibu membolehkannya jika suatu saat sang ibu ia ingin menjadikan menjadi chef.
Tapi ternyata Olivia melarang keras keinginan Joana, dan itu membuat Joana tertekan.
Sarapan pun selesai, Jordan mengambil tisu kemudian mengusap mulutnya. “Aku akan pergi ke kantor, bereskan apartemen ini, anggap saja itu sebagai biaya sewa kau tinggal di apartemenku!” kata Jordan, Joana pun mengangguk patuh.
“Baik Paman!” kata Joana.
“di kulkas ada cemilan, kau boleh memakannya kecuali alkohol, awas aja Jika kau meminum alkohol!” Jordan mewanti-wanti Joanna untuk tidak meminum alkohol, dan tentu saja Joana pun mengangguk.
Jordan yang akan berbalik menghentikan saat teringat sesuatu. “Kenapa sekarang kau Tidak mendebatku seperti kemarin-kemarin? tanya Jordan, kali ini nada suaranya seperti mengejek, membuat Joana menoleh
”Aku takut kamu mengusirku,” jawabnya dengan jujur, sedangkan Jordan hanya berdecak, ia pun lebih memilih keluar dari apartemennya, dan pergi ke kantornya.
•••
Jordan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu. Ia pun memutarbalikkan mobilnya, kemudian ia langsung menjalankan mobilnya ke sekolah Moa. Rasanya Ia ingin melihat putrinya.
Dan di sinilah mobil Jordan terparkir, di depan sekolah Moa. Pintu gerbang belum terbuka pertanda semua belum datang, dan 15 menit berlalu, terlihat mobil Raymond masuk ke dalam gerbang. Hingga Jordan pun mengikuti mobil Raymond yang juga ikut masuk ke area sekolah.
Mata Jordan berkaca-kaca saat melihat Moa turun dari mobil dan yang lebih membuat Jordan hancur, Moa tampak begitu bahagia dan tampak begitu damai ketika menggenggam tangan Raymond.
Jordan menghapus sudut matanya yang berair, kemudian ia lebih memilih untuk pergi sebelum Raymond memergokinya.
Sementara di sisi lain
Olivia membanting semua benda-benda yang ada di mejanya, ia kesal karena sampai sekarang orang-orangnya tidak berhasil menemukan Joanna. Bagaimana tidak, sudah seminggu ini ia kehilangan jejak putrinya.
Ia sudah mencari ke semua teman-teman Joanna, termasuk pada teman Joana yang paling dekat yaitu Laura Naura dan Seina. Tapi semua menjawab bahwa tidak melihat Joana, ia benar-benar pusing menghadapi anak bungsunya.
Setelah puas mengamuk, Olivia mendudukkan dirinya di sofa, kemudian berusaha mengatur nafasnya lalu memejamkan matanya.
Tak lama, ponsel Olivia berdering. Satu panggilan masuk dari seseorang yang tak lain adalah anak buahnya. “Apa! dia terlihat di sana!" teriak Olivia saat mendengar anak buahnya mengatakan bahwa putrinya ada di Mansion Nael.
Tiba-tiba rahang Olivia mengeras saat mengetahui yang sebenarnya, ia sudah bertanya pada Laura Naura dan tentang keberadaan Joanna.
Tapi kedua anak itu kompak mengatakan bahwa Joanna tidak ada di sana.
Seketika Olivia pun bangkit dari duduknya kemudian ia langsung keluar dari ruangannya dan menuju kediaman Gaby dan Nael.
•••
“Ayo kita main golf!” ajak Jordan tiba-tiba, membuat Nael membulatkan matanya.
“Apa kau tidak lihat aku akan pergi ke kantor!" ucap Nael lagi karena memang dia sendiri pun akan pergi ke kantor.
“Libur saja untuk hari ini, ayo temani aku main golf," ajak Jordan lagi, membuat Nael berdecak kesal.
“Kemarin-kemarin saja kau susah dihubungi, sekarang kau memaksa aku!” umpat Nael membuat Jordan mengangkat bahunya acuh.
“Sudah ganti saja pakaianmu, ayo kita bermain golf!” ajak Jordan lagi, ia malah mendorong tubuh Nael untuk masuk lagi ke dalam. Saat mereka sudah masuk ke dalam, tiba-tiba terdengar suara mobil hingga Jordan dan Nael menoleh.
“Siapa dia!” ucap Nael
“Mana aku tahu!” kata Jordan, dan tak lama mereka berdua membulatkan matanya saat Olivia turun dari mobil, hingga Jordan dan Nael saling tatap.
“Itu mantanmu!” kata nail sambil menyikut Jordan
“Untuk apa dia ke sini?" tanya Jordan, kedua lelaki itu saling berbisik
“Hai Nael!” kata Olivia, ia masih berusaha sabar dan tidak mengamuk di hadapan Nael, padahal saat ini ia ingin sekali mengamuk karena Laura dan Naura membohonginya.
“O-olivia!" balas nael. Olivia tidak melihat ke arah Jordan, ia hanya melihat Nael sedangkan Jordan menatap Olivia lekat-lekat, benar wanita di depannya ini tidak berubah sama sekali, dari cara berbicaranya dan sorot matanya saja, Jordan yakin Olivia masih seperti dulu.
“Aku ingin bertanya, apa Joana masih ada di sini?” tanya Olivia, Jordan dan Nael saling tatap.
“ Joana tidak ada di sini!” balas Nael berusaha mengelak.
“Aku mohon jangan berbohong, orang-orang ku mengatakan bahwa ada CCTV yang memperlihatkan Joanna masuk ke sini!” kata Olivia kali ini ada suaranya sudah berubah karena menganggap Nael berbohong.
Nael menghela nafas kemudian menghembuskannya, “Olivia memang di sini selama satu minggu. Tapi kemarin dia memutuskan untuk pulang!”
rahang Olivia mengeras kemudian tanpa permisi, Olivia berbalik meninggalkan Nael dan Jordan begitu saja, hingga Jordan dan Nael hanya bisa melongo saat melihat tingkah Olivia yang tidak berubah.
“Wah orang itu, benar-benar kurang ajar sekali!” gerutu Jordan. “Ayo kita main golf!" ajak Jordan lagi yang kekeh. iba-tiba Nael terpikirkan sesuatu.
“Kau saja main golf, aku ada meeting pagi ini!” sebelum Jordan mendorongnya, Nael sudah terlebih dahulu keluar dari mansion, membuat Jordan menepuk keningnya. Hingga mau tak mau, ia pun keluar mengikuti Nael..
•••
Jordan masuk ke dalam apartemennya, kemudian ia mengedarkan pandangannya ke sana kemari, apartemennya tanpa rapih. Ia mengerutkan keningnya karena tidak ada Joana di manapun..
Tak lama, ia mendengar suara ribut dari arah dapur. Hingga Ia pun langsung pergi ke arah dapur, dan ternyata Juoana sedang memasak di sana.
Sejenak, Jordan terdiam. Entah kenapa pemandangan ini membuatnya diam terpaku, entah kenapa ia merasa ada yang aneh saat melihat Joanna memasak, dan pemandangan ini terasa aneh bagi Jordan, karena selama ini tidak pernah ada yang menunggunya dan memasakan untuknya.
“Kau memasak apa?” anya Jordan
“Astaga Paman! kau mengagetkanku," Joanna menjatuhkan piring yang ada di tangannya hingga piring itu langsung pecah.
”Jangan!” pekik Jordan, ia maju untuk melarang Joana menyentuh piring yang telah pecah. Tapi Joana refleks menekuk kakinya dan berjongkok di lantai, hingga Jordan pun langsung ikut berjongkok.
Saat Joana akan membersihkan pecahan beling, Jordan menarik tangan Joana, hingga Joana melihat ke arahnya, dan tatapan mereka saling mengunci.
Namun tanpa disengaja, karena Ayana membungkuk tatapan Jordan melihat ke arah dadaa Joana, dan rupanya t Joana menyadari tatapan Jordan yang menatap ke arah dadanyaa, hingga Joana membulatkan matanya.
“Tidak aku tidak melihat apa pun," ucap Jordan dengan panik. Ia bisa saja berkata seperti itu
Tapi, matanya terus tertuju pada dada Joana.
Seketikaa ...
Gengs ini walau aku update satu bab tapi panjang kok, ini 3 bab di satui.
gengs boleh minta tolong ga, komen dong sebanyak-banyaknya. Ga apa2 spak komen juga pliss ya tolongin 🥺