
Gengs aku up dua bab satu bab lagi nyusul ya
Saat Nauder duduk di di sampingnya, jantung Naura berdetak dua kali lebih cepat apalagi ia merasa Nauder, akan melihat siapa orang yang mengiringi pesan.
Secepat kilat, Naura menggulirkan jarinya ke samping hingga bukan pesan dari Alvaro yang terlihat melainkan pesan dari teman yang belum terbaca. “Siapa sayang?” tanya Nauder.
“ Sisilia, dia mengatakan akan datang besok ke kantorku,” ucap Naura yang memperlihatkan layar ponselnya.
“Oh, ya sudah,” jawab Nauder. Naura pun bangkit dari duduknya.
“Kita mandi,” ucap Naura, pikiran kedua orang itu sama, hingga Nauder pun langsung bangkit dari duduknya dan mereka pun berjalan ke arah kamar, berencana mandi berdua, tentu saja mereka ingin melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.
***
Naura dan Alvaro sudah siap, mereka sudah rapih dan berniat untuk pergi ke mansion yang ditempati oleh Helmia, ibu Nauder. Helmia mengundang mereka untuk makan malam karena dia baru saja pulang dari Amerika
Helmia memang sudah berumur, tapi jika soal pekerjaan dan lain-lain Helmialah yang maju paling depan dan sebenarnya selain Nauder yang mengendalikan bisnis hitam itu, helmia juga memantau semuanya dari jauh dan dibilang Nauder hanya tangan kanannya saja.
Wanita paru baya itu memang sudah pensiun. Tapi dia tetap memberi perintah apa yang harus dilakukan ke depannya agar bisnis yang mereka kembangkan terus maju.
***
Mobil yang dikendarai Nauder sampai di mansion, Nauder menekan klakson hingga penjaga membukakan gerbang, dan setelah itu Nauder melajukan mobilnya kembali hingga mobilnya terparkir di pekarangan. Nauder dan Naura turun dari mansion, kemudian mereka berjalan untuk masuk.
“Naura ... Nauder!” Helmia memanggil anak menantunya, ia yang baru saja keluar dari area dapur langsung memanggil Alvaro dan Naura ketika melihat anak dan menantunya memasuki mansion.
“Hai, Mommy.” Naura menghampiri Helmia, kemudian memeluk sang ibu mertua.
“Ayo kita langsung makan, Mommy sudah menyiapkan masakan spesial untuk kalian," jawab Helmia, Kemudian mereka pun langsung berjalan ke arah ruang makan.
Waktu menunjukkan pukul 09.30. Setelah tadi makan malam, Naura ... Nauder serta Helmia berbincang-bincang hangat dan tak lama, Naura menguap dia merasa ngantuk hingga ia menoleh ke arah Nauder..
“Nauder, Bagaimana jika kita menginap di sini saja, rasanya mengantuk," ucap Naura.
“Ya, kalian menginap di sini saja!” timpal Helmia.
“Ya sudah ayo kita naik ke atas," ajak Nauder
“Nauder, Mommy ingin berbicara denganmu nanti!” kata helmia tiba-tiba, kedipan mata wanita itu mengisyaratkan agar Nauder menurut padanya, hingga Nauder pun mengangguk.
“Ya, mom.”
"Tidak apa-apa, kan Naura?” tanya Helmia, Naura benar-benar merasa diistimewakan Karena mertuanya juga begitu menghormatinya hingga hasil sekecil apapun pasti Helmia bertanya padanya.
“Tentu mom. Kalau begitu kami permisi."
Nauder dan Naura meninggalkan ruang tamu, mereka berjalan ke arah lift kemudian naik ke ruangan atas untuk pergi ke kamar Nauder. Saat membuka pintu kamar Nauder. Naura pun masuk mendahului. Nuansa hitam begitu pekat di kamar lelaki itu, hingga Naura sedikit bergidik.
“ Sayang kau ingin temani sampai terlelap?” tanya Nauder. “Aku bisa berbicara dengan Mommy nanti,” tawar Nauder. Naura tampak berpikir, ia melihat sekelilingnya kamar suaminya tampak menyeramkan.
“Kau tidak usah khawatir, aku ada pakaian walaupun mungkin kebesaran di tubuhmu.” Nauder berjalan ke arah walk in closet miliknya, Ia membuka lemari dan mengambil kaos miliknya yang jika dipakai Naura mungkin akan kebesaran.
“Pakai ini!”
“Kenapa kau menyuruhku memakai kaosmu?” tanya Naura.
“Sayang, ini sangat nyaman dan juga sepertinya ini bagus untuk tidur,” balas Nauder.
“Jika kau tidak mau. Bagaimana jika aku menyuruh orang untuk membelikan pakaian untukmu,” ucapnya. Naura tersenyum, kemudian mengambil bajunya Nauder.
“Tidak perlu, aku tidak apa-apa memakai baju ini!” Naura berjalan ke walk in closet untuk memakan pakainnya.
Naura mematut diri di cermin, tubuhnya yang kurus harus memakai pakaian Nauder yang sedikit besar. Tapi itu malah menjadi lucu di tubuh Naura, Ia pun mengikat rambutnya kemudian ia keluar dari walk in closet, dan ternyata Nauder sudah berbaring di ranjang.
“Kemari, Sayang.” Nauder menepuk sisinya hingga Naura pun naik ke ranjang dan setelah itu membaringkan diri di sebelah Nauder.
“Nauder, elus punggungku!” titah Naura, itu adalah kebiasaan Naura yang selalu meminta Nauder agar mengelus punggungnya.
Nauder terkekeh, dia membawa Naura ke dalam dekapannya. Satu tangannya membelai punggung Naura dengan saat lembut, hingga Naura memejamkan matanya dan berusaha tertidur.
Saat Naura sudah mulai memejamkan matanya, Nauder tidak melepaskan tatapannya pada istrinya dia menatap Naura dengan penuh ketulusan, tiba-tiba wajah Naura menjadi sendu. Namun tak lama, dia menggelengkan kepalanya kemudian mencium kening Naura.
setengah jam berlalu, nafas Naura sudah terdengar teratur. Dengan pelan, Nauder menyimpan kepala Naura di bantal dan melepaskan pelukan istrinya, kemudian Ia turun dari ranjang dengan perlahan dan keluar dari kamar
Setelah keluar dari kamar, Nauder langsung berjalan ke arah kanan, di mana ada gudang di sana. Orang-orang mungkin tahu itu adalah gudang, tapi tidak, itu bukan sembarang gudang melainkan tempat pembicaraan ia dan ibunya serta orang-orang yang bekerja dengan mereka.
Nauder mengangkat tangannya kemudian menempelkan sidik jari lalu setelah itu pintu terbuka. Di sana sudah ada sang Ibu dan beberapa anak buah mereka .
Setelah Nauder masuk, ia mendudukkan diri di kursi lalu memutar kursinya ke hadapan cermin. Dan kini semua yang ada di rumah itu melihat ke arah Sebuah cermin besar di ruangan itu. Lalu setelah itu Helmia mengangkat tangannya untuk menekan sebuah tombol dan cermin itu berubah menampilkan tayangan CCTV.
Ternyata, cermin itu bukan sembarang cermin, melainkan Sebuah layar yang menampilkan CCTV dari berbagai titik, ada yang dari pabrik mereka, markas Nauder, dan juga ada beberapa CCTV dari pabrik musuh
Semua orang di ruangan itu menatap dengan seksama, mencatat beberapa point yang harus mereka lakukan, setelah 40 menit berlalu, Helmia mematikan CCTV. Hiingga layar itu berubah menjadi seperti cermin biasa.
Setelah itu, Helmia menatap ke arah Nauder.
“Nauder, apa kita masih belum bisa mengambil wilayah yang dikuasai oleh Jaguar?” tanya Helmia.
“Belum, Mom. Aku menemukan cara untuk masuk ke dalam sana dan aku rasa akan sulit untuk memasuki daerah Alvaro, apalagi keamanan mereka sangat tinggi.”
“ Apa kau tidak bisa menyuruh orang menyusup dan mengambil data?” tanya Helmia lagi. Lagi-lagi, Nauder menggeleng.
“ Sudah. Tapi orangku tertangkap.”
Helmia menyandarkan tubuhnya ke belakang, ia harus mendapatkan wilayah yang sudah direbut oleh Alvaro.
“Mommy tidak mau tahu, cepat dapatkan bagian itu jika tidak ....”