
“Anda tidak apa-apa?” tanya Miko saat kening Leticia terbentur pada pada kursi di depannya. Leticia mengelus keningnya, kemudian menggeleng. “Tidak, aku tidak apa-apa. Ayo jalan!” kata Leticia, sejujurnya wajahnya sudah memerah menahan malu karena mengucapkan apa yang barusan ia katakan.
Karena jujur saja, ia pun mengucapkan itu tanpa sadar, Ia hanya mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya. Entah kenapa pikiran itu tiba-tiba muncul, pikiran saat mengajak Miko menikah. Karena pengkhianatan Jordan, Leticia sudah tidak percaya lagi pada lelaki, dan ia berpikir jika ia menikah dengan Miko, Miko takan berani mengkhianatinya karena ia yakin, Miko tak akan berani main-main dengan Greey.
Otak Miko kosong saat mendengar ucapan Leticia. Namun, tak lama Letisia mengajaknya pulang, hingga Miko tersadar. Ia pun kembali menjalankan mobilnya.
Hening
Suasana di mobil itu mendadak hening, kecanggungan langsung melanda keduanya. Sebenarnya kondisi ini sama seperti biasanya. Miko tidak pernah berbicara pada Leticia, begitupun Leticia yang selalu menjawab pertanyaan Miko dengan singkat.
Dan sekarang tiba-tiba Leticia mengajaknya menikah.Tentu saja, itu membuat Miko terkejut.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Miko sampai di mansion Grey. Saat akan turun dari mobil, Leticia menoleh ke arah depan.
“ Paman tolong jangan anggap serius ucapanku.”
“Saya akan mematuhi semua perintah, Tuan Grey,” ucap Miko tiba-tiba, membuat Leticia mengerutkan keningnya, ucapan Miko barusan benar-benar ambigu dan Leticia tak mengerti dengan apa yang di maksud Miko.
“Maksud paman?” tanya Leticia.
“Tidak apa-apa, silakan turun Nona.” Miko tidak memperjelas ucapannya, membuat Leticia mengerutkan keningnya. Namun, tak urung dia pun langsung turun dari mobil kemudian berjalan ke arah luar.
Saat Leticia turun, Miko menyandarkan tubuhnya ke belakang. Matanya menetap punggung Leticia tanpa berkedip. Pikiran lelaki yang masih tampan di usia yang tak lagi muda Itu tampak mengembara, memikirkan sesuatu. Namun, tidak ada yang bisa menebak apa yang ia pikirkan.
“Nael ada apa?” tanya Gabby, ketika Nael masuk ke dalam restoran dan menghampiri meja, kemudian ia tersenyum. Lalu mendudukkan diri di sebelah Gabby.
“Mana Leticia?” tanya Gabby yang heran saat Nael masuk seorang diri.
“Letisya sudah pulang terlebih dahulu, kalian sudah memesan makanan?” tanya Nael, mengalihkan pembicaraan. Ia akan berbicara soal sang adik nanti, dan hari ini ia tidak mau memikirkan hal. Ia hanya ingin fokus bersama Gabby dan kedua putrinya.
“Kami sudah memesan dan aku memesankan makanan yang sama untukmu. Kau tdiak keberatan?” tanya Gabby, Nael menggeleng.
“Tidak, tidak apa-apa.”
10 menit kemudian, akhirnya makanan yang dipesan oleh Gabby sampai, “Kalian ingin Daddy suapi?” tanya Nael. Saat Laura dan Naura akan menggangguk, Gabby menggeleng.
“Tidak, makan makanan kalian sendiri. Daddy harus makan bersama-sama kita,” ucap Gabby membuat Laura dan Naura menghela nafas, kemudian mengangguk patuh.
Nael meenarik sudut bibirnya saat melihat Bagaimana cara Gabby mendidik kedua putrinya mereka, ia bersyukur Gabby mendidik putrinya dengan baik, terlihat memanjakan Laura dan Naura. Namun, tetap bersikap tegas pada kedua putrinya.
Waktu makan pun selesai, Nael dan Gaby pun keluar dari restoran, tentu saja dengan Laura dan Naura dan saat keluar, mereka langsung berjalan ke arah mobil dan tujuan mereka kali ini adalah taman hiburan, taman yang pernah mereka datangi beberapa tahun silam, hanya saja saat itu Nael datang dengan terpaksa.
Scroll gengs