
Dareen Menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Rasanya Dia tidak sabar untuk berada di sekolah putrinya, kepanikan Dareen semakin menjadi-jadi kala ternyata fotonya juga sudah tersebar di sekolah putrinya. Sebab beberapa layar yang ada di sekolah menampilkan slide foto deren dan foto Mia dan tentu saja itu dilihat oleh semua murid termasuk Theresia dan itu yang membuat Dareen semakin panik.
Beberapa kali dia menelepon Tristan tapi Tristan tidak menjawab dan saat ini Dareen benar-benar ketakutan. Bagaimana jika Theresia merajuk, Bagaimana jika Theresia kembali marah padanya sedangkan dia sudah mati-matian meminta maaf pada putrinya dan akhirnya putrinya memaafkannya.Tapi sekarang ....
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil yang dikendarai oleh Dareen sampai di sekolah, dengan nafas yang terengah Dareen turun dari mobil, kemudian dia berlari untuk masuk. Beberapa murid yang berpapasan dengannya melihat ke arah Dareen dengan aneh tapi Dareen tidak memperdulikan itu.
“Di mana Theresia?” tanya Dareen pada guru Theresia.
Guru itu tampak terdiam, dia tidak langsung menjawab karena terlalu terkejut dengan kehadiran Dareen yang secara tiba-tiba.
“Di mana Theresia?” tanya Dareen lagi, dia sedikit meninggikan suaranya karena guru itu tidak menjawab.
“The-theresia sepertinya ada di perpustakaan," ucap guru itu hingga Dareen dengan cepat berbalik, lalu lelaki itu berlari ke arah perpustakaan.
Di dalam perpustakaan tidak ada siapapun, karena ini masih jam pelajaran. Rupanya, tadi saat mengajar Theresia ribut karena layar yang dipakai untuk menenangkan pelajaran tiba-tiba berubah dan menampilkan Foto Mia dan juga foto Dareen l, membuatnya Thresia Shock. Beberapa teman Theresia menoleh ke arah Theresia hingga Theresia memilih untuk pamit pada gurunya dan berdiam diri di perpustakaan di mana tempat itu tidak ada siapapun. Theresia marah, Theresia kecewa tapi Theresia juga tahu itu adalah foto-foto masa lalu ayahnya.
Dareen berjalan ke arah dalam, matanya mencari-cari putrinya, hingga tanpa sengaja dia melihat rambut yang menyembul dan dia tahu itu adalah putrinya. Darren berjalan ke arah Theresia wajah lelaki itu sudah memucat membayangkan Bagaimana reaksi Theresia dan dia juga berpikir bagaimana harus menjelaskan pada putrinya.
“Theresia!” panggil Dareen, Theresia yang sedang melamun langsung menoleh, dia menatap Dareen dengan mata yang membasah, lalu memalingkan tatapannya ke arah lain karena dia masih kesal pada ayahnya. Melihat foto itu membangkitkan luka lama di diri therasia.
Dareen menghampiri putrinya, kemudian dia berdiri di depan Theresia lelaki itu langsung menekuk kakinya menyetarakan diri dengan Theresia.
“Theresia!” panggil Dareen. Namun, Thresia langsung memalingkan tatapannya ke arah lain.
“Daddy minta maaf, Daddy bisa menjelaskan. Itu semua ....”
“Aku tau," jawab Thresia memotong ucapan Dareen.
“Kau tau?” tanya Dareen. Bukannya membalas, Therasia malah turun dari kursi kemudian menghampiri Dareen lalu memeluk leher sang ayah.
Walaupun sempat marah, tapi Theresia merasa terharu karena sang ayah datang menyusulnya hanya untuk menjelaskan semuanya, hingga dia langsung memeluk sang ayah membuat Dareen menghela nafas lega, karena putrinya tidak salah paham.
Lima belas menit kemudian.
Theresia sudah sedikit tenang. Gadis itu langsung melepaskan pelukannya dari sang ayah.
"Daddy, ayo pulang. Aku malu," kata Theresia lagi hingga Darren mengangguk.
"Ayo kita pulang," jawabnya.
Hari ini, Darren tidak ingin memikirkan apapun. Dia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Theresia dan Tristan, dia akan mengajak anaknya untuk bermain basket.
Saat mereka melewati lorong, mereka mendengar suara teriakan Tristan dan suara gaduh dari tempat yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri, hingga kedua orang itu menghentikan langkahnya. Theresia tanpa sengaja melihat ke arah lorong di sebelah kiri, di mana Tristan bertengkar dengan temannya.
"Tristan, cukup. Kau juga cukup!" teriak Darren hingga keduanya terdiam. Sedari tadi, tidak ada yang memisahkan hingga mereka berkelahi sampai keduanya terluka.
***
Darren menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali dia melihat ke arah belakang di mana Theresia sedang mengobati luka Tristan. Matanya berkaca-kaca, entah kenapa dia terharu ketika mendengar alasan Tristan berkelahi hanya untuk membelanya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Darren sampai di apartemen. Tristan dan Theresia turun, disusul Darren yang juga ikut turun hingga kini Tristan dan Theresia berjalan terlebih dahulu, sedangkan Darren di belakang putra-putrinya.
"Tristan, kau ini bodoh atau bagaimana? Bagaimana mungkin kau kalah dari dia? Seharusnya, kau jangan biarkan dirimu terluka," kata Theresia.
"Hah, seandainya aku tadi tidak menahan diri, sudah kupastikan dia babak belur," kata Tristan.
Darren tersenyum ketika mendengar percakapan kedua putra-putrinya. 'Terima kasih, Tuhan. Kau telah memberikan aku kedua anak yang manis,' batin Darren.
***
Shelby mengendarai mobilnya dengan kecepatan pelan, entah kenapa dia terasa malas untuk pulang. Dia masih terpikirkan foto-foto tentang Mia dan Darren.
Semenjak tadi pembicaraan dengan Mario di balkon, dia merasa aneh dengan perasaannya. Dia cukup terganggu dengan ucapan Mario yang mengatakan Darren mencintainya, dan sekarang entah kenapa Shelby malas pulang karena dia merasa malas melihat Darren, karena setiap ingat Darren dia selalu ingat foto itu.
Tanpa sadar, sebenarnya benih-benih cinta di hati Shelby pun mulai tumbuh. Dia mulai terbiasa dengan kehadiran Darren, tapi karena trauma, Shelby menjadi seperti ini.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Shelby sampai di apartemen. Shelby masuk ke dalam apartemen. Suasana tampak hening, sepertinya anak-anak sedang belajar di kamar. Dia masuk ke dalam dan ternyata, terlihat Darren sedang melamun, bahkan lelaki itu tidak menyadari kehadiran Shelby.
Karena ternyata, banyak sekali hal yang harus di lakukan oleh ayahnya untuk menutup kasusnya, apalagi saat itu Darren bermain dengan cara yang benar-benar licik dan dia mengakui itu pada ayahnya.
“Ekhem.” Deheman Shelby menyadarkan Darren dari lamunannya.
"Kau sudah pulang?" tanya Darren.
Shelby mendudukkan diri di sebelah Darren, karena dia tidak enak jika harus langsung pergi ke kamar.
"Kau baik-baik saja?" tanya Shelby.
"Tidak, aku tidak baik-baik saja," jawab Darren.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan mandi dulu," kata Shelby karena dia bingung apa yang harus dibahas dengan Darren.
Saat Shelby bangkit, tiba-tiba Darren langsung menarik lengan istrinya membuat Shelby menoleh.
"Bisakah kau memelukku?" tanya Darren, wajahnya begitu memelas.