
“Sebenarnya, kemana dia,” lirih Arsen saat Gaby tidak ada di ruangannya. Ia mendudukkan diri di sofa, kemudian merogoh saku mantel. Lalu mengambil ponsel dan mulai menelepon Gabby.
Saat mulai berdering, Arsen menurunkan ponsel dari telinganya, karena terdengar suara dering ponsel milik Gabby. Ternyata, Gabby tidak membawa ponselnya.
Setelah panggilan terputus, Arsen terus menelepon Gabby, karena mencari di mana Gabby menyimpan ponselnya. Ternyata, Gabby menyimpan ponselnya di laci meja. Ia pun menarik laci lalu mengambil ponsel Gabby.
Arsen kembali mendudukan dirinya di kursi kerja Gabby, Ia menyalakan ponsel Gabby. Namun tak lama, keningnya mengerut saat akan membuka kode akses.
“Apa-apaan dia, kenapa dia mengubah kode ponselnya,” gerutu Arsen. Ia mencoba beberapa kode yang mungkin dipakai Gabby. Tapi tak ada yang cocok, ponsel Gabby tetap terkunci. Arsen mengusap wajah kasar, “Sebenarnya ada apa dengannya.” Arsen bertanya-tanya, karena sikap Gabby membingungkan.
Arsen bangkit dari duduknya, kemudian ia keluar dari ruangan Gabby untuk bertanya keberadaan Gabby. Saat ia keluar, ia berpapasan dengan suster, hingga ia menghentikan suster tersebut.
“Apakah anda melihat dokter Gabby?” tanya Arsen, ketika berpapasan dengan perawat.
“Sepertinya dokter Gabby tadi masuk ruang ICU. Tapi saya tidak tahu, dokter Gabby sudah keluar atau belum,” jawab suster tersebut.
Arsen pun mengangguk. “Terima kasih, Sus." Setelah mengatakan itu, Arsen berbalik kemudian ia langsung menuju ruang ICU yang ditunjukkan oleh perawat.
Saat sudah sampai di ruang ICU, Arsen mengintip dari jendela, sayangnya dari jendela tidak terlalu terlihat, hanya terlihat kaki seseorang yang terbaring di berangkar.
Perlahan, Arsen membuka ruangan ICU. Lalu dengan langkah yang pelan, Arsen masuk ke ruangan tersebut. Ternyata benar, Gabby ada di ruangan itu dan sedang tertidur.
Mata Arsen membulat, ketika melihat siapa yang terbaring di berangkar. Ternyata, dia adalah Nael. Lelaki yang paling Arsen benci.
Arsen mengepalkan tangannya, kemudian ia menetralkan emosinya, ia harus menahan dirinya agar tidak emosi di hadapan Gabby.
Gabby membuka mata, kemudian mengerjapkan pandangannya. Lalu, ia melihat kebelakang. Matanya membulat saat sosok suaminya berdiri di belakangnya
“Arsen Kenapa kau ada di sini?” tanya Gabby dengan suara pelan. Bahkan, hampir berbisik ketika berbicara dengan suaminya, karena takut akan membangunkan Nael.
“Ayo keluar!” ajak Arsen. Dia menarik tangan Gabby. Hingga Gabby bangkit dari duduknya, kemudian mengikuti langkah Arsen.
“Arsen, kenapa kau di sini? ini masih sangat pagi,” ucap Gabby.
“Aku menghawatirkan mu Gabby. Kau tidak membalas pesanku. Semalam. Aku tertidur lebih awal. Jadi, aku tidak meneleponmu,” ucap Arsen, membuat Gabby tersenyum getir.
Mungkin, kemarin-kemarin-kemarin. Sebelum rasa curiga itu datang. Gabby akan berbunga-bunga, ketika mendengar suaminya mengkhawatirkannya.
Tapi sekarang. Rasanya begitu hambar, bahkan Gabby merasa muak, ketika Arsen mengatakan bahwa dia mengkhawatirkannya. Gabby tersadar, kemudian ia tersenyum pada Arsen. Ia tidak boleh menunjukkan bahwa ia sedang menyelidiki Arsen dan mulai curiga pada Arsen.
“Maaf, Arsen, jadwal operasiku sangat padat. Jadi, aku tidak sempat memegang ponsel,” ucap Gabby, kemudian ia berjalan mendahului Arsen untuk pergi ke ruangannya, agar Arsen tidak menggenggam tangannya. Jujur saja, ia tidak ingin tubuhnya disentuh oleh Arsen.
“Kenapa kau mengganti kode ponselmu?” tanya Arsen ketika mereka berjalan menuju ruangan Gabby.
Gabby ....
Mulai besok, doain ya aku bisa up rutin