
Melihat reaksi Naura nauder tertawa, dia sengaja menyimpan kotak berisi kalung itu di sana dengan kondisi kotak yang terbuka, agar Naura melihatnya ia begitu bahagia melihat ekspresi Naura saat ini, pertanda ia tidak gagal memberikan kejutan untuk istrinya.
“Nauder!" panggil Naura dengan lirih, dia memandang kalung itu kemudian mengambilnya. Nauder bangkit, kemudian ia meraih celana lalu memakai celananya, hingga kini ia berjalan dengan bertelanjanggg dada ke arah Naura..
Nauder menarik lembut kalung itu, lalu memakaikannya pada Naura. “Sempurna,” jawab Nauder. Naura memegang kalung itu, lihatlah betapa besarnya cinta Nauder untuknya.
Saat itu, ia sangat menginginkan kalung ini. Tapi, ia sama sekali tidak berbicara pada Nauder, dia hanya melihat kalung itu di katalog. Tapi, ternyata suaminya tau ia ingin kalung ini dan ternyata suaminya juga mendapatkan kalung ini. Padahal kalung Ini hanya diproduksi tiga buah saja di dunia dan Nauder mendapatkannya.
Tiba-tiba Naura berbalik, kemudian ia berhambur memeluk suaminya. “Nauder terima kasih,” ucap Naura. Belaian tangan Nauder di punggungnya membuat Naura ingin sekali menangis. Entah bagaimana murkanya Nauder jika mengetahui yang sebenarnya
“Kau ingin terus seperti ini, Apakah kita mengulangi seperti tadi?” tanya nauder Naura tersadar bahwa tubuhnya masih polos, Ia pun langsung berlari ke arah kamar mandi, membuat Nauder tertawa
Nauder mendudukkan diri di kursi kerjanya, kemudian ia mengambil ponselnya. Lalu setelah itu, menelepon seseorang. “Ada berapa target yang akan menjadi sasaran berikutnya?” tanya Nauder pada anak buahnya, sesaat hening sepertinya anak buahnya sedang menghitung target yang akan mereka jalankan.
“Sekitar ada 23 Tuan.”
“Baik pastikan semuanya baik-baik saja gunakan lahan baru untuk membuang semuanya, kau mengerti,” ucap Nauder. Setelah itu, Nauder matikan panggilannya dan tepat ketika Nauder mematikan panggilannya, kamar mandi terbuka ternyata Naura sudah selesai memakai pakaian membuat Nauder menghela nafas.
“ Siapa?” tanya Naura.
“Teman bisnisku mereka sedang membangun proyek,” dustanya dan Naura pun percaya begitu saja.
“Kau ganti bajumu, kita makan di luar;" titah Naura. Nauder tidak menjawab dia malah mengulurkan tangannya pada Naura. Hingga Naura mendudukan diri di pangkuan suaminya.
“Kau sangat cantik,” ucap Nauder, membuat Naura tersipu, kata-kata Nauder memang selalu sederhana. Namun mampu menggetarkan hati Naura, inilah yang membuat Naura bertahan bersama Nauder selama bertahun-tahun. Bahkan sampai mereka menikah, Nauder selalu memperlakukannya dengan istimewa. Hingga rasanya, Naura tidak butuh apapun lagi.
Naura tahu pekerjaannya udah seorang mafia dipikiran Naura mafia adalah seorang penjual senjata. Tapi tentu saja ada hal yang lain yang dilakukan suaminya.
“ Ya sudah, aku ganti baju dulu. Setelah itu kita makan di luar,” ucap Nauder. Naura pun bangkit dari duduknya, kemudian disusul Alvaro yang juga ikut bangkit. Lalu setelah itu Nauder berjalan ke arah kamar mandi
10 menit berselang, Nauder sudah rapih kembali. “Ayo!” nauder mengulurkan tangannya pada Naura, kemudian ia menyambar kunci mobil dan mereka pun keluar dari ruangan dengan Nauder yang merangkul pinggang Naura.
•••
“ Bagaimana jika makan di sini saja?” tanya Nauder ketika mereka sudah berada di depan restoran.
“Sepertinya tidak buruk,” jawab Naura. Seperti biasa, mereka berjalan ke dalam restoran dengan bergandengan tangan. Tepat saat Nauder masuk tiba-tiba ada yang menabrak tubuh Nauder. Hingga lelaki itu langsung melihat siapa yang menabraknya.
Secepat kilat Wanita itu pergi berlalu dan tidak berani untuk mengatakan sepatah kata pun pada Nauder, membuat Naura mengurutkan keningnya ia heran dengan reaksi orang yang menabrak suaminya. “Nauder, kau mengenalnya?” tanya Naura.
Nauder tersadar, ia menormalkan ekspresinya kemudian. “Tidak, aku tidak tahu,” dustanya.
“Ayo masuk.” Nauder menarik tangan Naura untuk masuk ke dalam, sedangkan Naura menoleh ke arah belakang melihat wanita yang tadi menabrak suaminya, bahkan wanita yang sudah berlalu itu pun juga menoleh ke belakang hingga tatapan Naura dan wanita itu saling mengunci. Namun Naura tidak mau memikirkan apapun lagi, hingga Ia pun kembali lagi menoleh ke depan.
Setelah menentukan meja yang akan mereka duduki, Nauder menarik kursi untuk Naura. Lalu, ia pun mendudukkan diri di kursi sebelah istrinya. Lelaki itu langsung mengangkat tangannya memanggil pelayan, dan setelah memesan Naura dan Nauder sibuk pada ponsel masing-masing.
Tring!
Satu pesan masuk kedalam ponsel Naura. [“Sepertinya akan seru jika aku menghampiri kalian”] tulis Alvaro dalam pesannya, ternyata Alvaro lah yang mengirimnya pesan. Hingga Naura refleks menjatuhkan ponsel yang ia pegang.
Jantung Naura berdegup dua kali lebih cepat saat menyadari mungkin Alvaro ada di restoran yang sama. “Sayang kau baik-baik saja?” tanya Nauder, ia langsung menyimpan ponselnya dan melihat Naura.
Naura menunduk kemudian mengambil ponselnya lalu mematikan layar. “Aku baik-baik saja,” Jawab Naura ia berusaha untuk tidak gugup.
Rupanya Nauder percaya hingga lelaki itu langsung melihat lagi ke arah ponselnya sedangkan Naura mengedarkan pandangannya ke seluruh arah, dan tatapannya langsung berhenti di meja yang terdapat di sudut kanan dan ternyata benar dugaannya, di sana ada Alvaro yang juga sedang melihatnya lalu menyeringai padanya.
Naura memejamkan matanya, ia berpura-pura untuk bermain ponsel, lalu mengirim pesan pada Alvaro. [Ku mohon, Jangan menggangguku. Aku sudah mengikuti keinginanmu jadi kumohon biarkan aku tenang bersama Nauder."
Naura membalas pesan Alvaro, berharap Alvaro mengerti lalu Naura menghapus pesannya dan kembali menaruh ponselnya, ia melihat ke arah Nauder yang sedang fokus dengan ponselnya. Hingga ia langsung menoleh ke arah Nauder dan ia melihat Alvaro sedang fokus pada makanannya dan tidak lagi melihat ke arahnya. sepertinya Alvaro mengerti bahwa ia tidak ingin diganggu.
Akhirnya pesanan Naura dan Nauder pun datang mereka makan dengan Hening, tidak ada yang berbicara hingga makan itu selesai.
“Sayang kau ingin menambah sesuatu lagi?” tanya Nauder. Naura tampak berpikir.
“Tidak. Aku kenyang,” jawabnya.
“Ya sudah.” Nauder mengangkat tangannya untuk meminta bill makanan yang barusan mereka makan, hingga tak lama pelayan pun datang dan Nauder langsung mengeluarkan sebuah kartu.
Transaksi pembayaran selesai, Nauder kemudian mengulurkan tangannya pada Naura, kemudian Mereka pun langsung langsung keluar dari restoran.
Mata Naura membulat saat melihat siapa yang ada di depan mobil Nauder, siapa lagi jika bukan Alvaro. Rupanya, tadi tanpa sadar Nauder memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Alvaro hingga kini Alvaro menunggu di depan mobilnya sendiri, rasanya begitu kurang ketika ia tidak mengerjai musuhnya.