
KHALISIA MY EX WIFE
Yang ga mau Baca tinggal skip, karena Bab Nauder ada setelah ini.
Tentang Khalisia yang terobsesi dengan lelaki matang, hingga berujung di rumah sakit jiwa.
Cerita ini sudah tamat dan kalian bisa baca di “K-B-M” ap”p.
Bab 1 Obsesi Khalisia.
Khalisia menunduk, ia meremas kedua tangannya. Matanya terpejam ia menahan gugup saat ia sedang berhadap-hadapan dengan sang ayah.
"Khalisia! Tatap Daddy!" seru Julian yang tak lain adalah sang ayah. Julian tau, bahwa putri pertamanya tengah gugup. Namun, ia tak bisa menunda lagi membicarakan hal yang menurutnya sangat penting.
Khalisia, mengigit bibirnya. Selalu seperti ini ... Sang ayah akan bersikap tegas jika keinginan Khalisia sudah di anggap tak wajar.
Bagaimana dianggap wajar, Jika Khalisia meminta sang ayah untuk menjodohkannya dengan seorang lelaki matang yang merupakan cucu sahabatnya.
Julian dan sang istri tak pernah mempermasalahkan keinginan putra-putri mereka. Kedua orang tua Khalisia selalu memasrahkan keputusan penting di tangan putra putrinya, asalkan mereka bertanggung jawab dengan keputusan yang mereka ambil.
Dan saat Khalisia merengek meminta di jodohkan dengan Gemma, Julian rasa, ia harus terlebih dahulu berbicara dengan sang putri.
"Khalisia!" panggil Julian lagi saat Khalisia masih tak mau menoleh ke arahnya.
Khalisia menghembuskan napas berkali-kali, ia mulai mengangkat kepalanya dan menatap Julian.
"Katakan kenapa kau ingin menikah muda? dan katakan, kenapa kau ingin Daddy menjodohkanmu dengan Gemma?" tanya Julian. Ia menatap sang putri dengan tatapan tegas, membuat Khalisia semakin gugup.
"Karena aku mencintainya, Dad!" lirih Khalisia dengan pelan.
"Khalisia! kau masih muda. Umurmu masih 20 tahun. Kau tau, menikah bukan hanya sekedar kau mampu mendapatkan suamimu. Tapi, ada banyak hal yang harus kau pahami," jawab Julian. Nada bicaranya terdengat sangat tegas, membuat nyali Khalisia sedikit menciut.
"Aku tau, Dad. Aku mengerti," jawab Khalisia. Kali ini, Khalisia memandang sang ayah dengan tatapan sama tegasnya, bahwa ia tak main-main dengan keinginannya.
Mungkin, bagi semuanya keinginan Khalisia sungguh tak masuk akal. Menyukai dan terobsesi dengan seorang pria yang bernama Gemma Raharja, pria yang 12 tahun lebih tua darinya.
Sosok Gema yang ramah, tampan serta sopan mampu membuat hati seorang Khalisia kim, bergetar. Khalisia tak tau rasa yang dia alami murni cinta atau terobesi. Yang pasti, Khalisia begitu ingin memiliki Gemma.
Dan keinginan Khalisia yang kuat, mendorongnya untuk mencari tau tentang Gema lebih dalam. Khalisia melayang saat mengetahui fakta tentang Gemma, fakta Gema yang sangat takut dan sangat menurut pada Tanu, kakeknya.
Dan karena Tanu adalah sahabat ayahnya, Khalisia mendesak sang ayah berbicara dengan Tanu agar menjodohkan dirinya dan Gemma. Ia yakin, Gema akan setuju dengan perjodohan ini, jika Tanu yang berbicara pada Gemma.
Awalnya, Julian mengira bahwa putrinya bercanda, mengingat umur Khalisia yang masih sangat muda. Namun, Julian salah. Ternyata putrinya serius dan selalu merengek membuat Julian tak tahan dan memilih mendengarkan keinginan putrinya.
"Bagaimana jika Gema tak setuju dengan perjodohan ini?" tanya Julian. Membuat Khalisia sedikit lega, sepertinya sang ayah akan luluh dengan permintaannya.
"Dad, Daddy bisa kan membujuk, Uncle Tanu. Aku yakin, Ka Gemma akan setuju," jawab Khalisia dengan bersemangat membuat Julian menggeleng.
"Baik, Daddy akan mencoba bicara dengan Uncle Tanu. Tapi, Daddy ingin bertanya satu hal lagi padamu! Bagaimana jika pernikahanmu gagal dan kau menjadi janda di usia muda?" tanya Julian berharap sang putri mengubah keputusannya.
"Daddy selalu mengajarkanku untuk bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan. Jadi, apa pun yang terjadi nanti. Aku takan menyesal, dan akan bertanggung jawab untuk yang terjadi dalam hidupku," ucap Khalisia mantap, membuat Julian kembali menghela napas kasar. Kini, ia tau bahwa tak ada gunanya melarang putrinya. Hingga ia terpaksa harus mengikuti kemauan putrinya.
Setelah diskusi Julian dan Khalisia selesai, Julian menyenderkan kepalanya kebelakang. Kepalanya berputar-putar karena harus memikirkan permintaan maaf sang putri.
Suara pintu terbuka menyadarkan Julian, ia kembali menegakan kepalanya. Ia tersenyum saat melihat sang istri.
"Bagaimana, Dad?" tanya Tania yang tak lain adalah istri Julian, ibu dari Khalisia.
Julian menggeleng, ia menarik lembut tangan Tania dan menuntun Tania untuk duduk menyamping di pangkuannya.
"Keinginannya tetap sama. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang," jawab Julian.
"Kau bisa melarangnya, Dad. Atau kita bisa mengirim Khalisia keluar negri agar dia tak melanjutkan obsesinya pada Gemma," jawab Tania, mencoba memberi saran pada suaminya. Namun, Julian menggeleng tak setuju dengan jawaban Tania.
"Kau tau bukan, seperti apa Khalisia ... Dia akan semakin menjadi- jadi jika kita tak menuruti keinginannya." Julian berucap sendu. Ada kalanya, ia menyesal telah membuat keputusan tentang menyerahkan pilihan pada putra-putrinya dan keputusan itu menjadi bumeran sekarang.
•••
Keringat mengucuri tubuh Gemma, sedari tadi, ia terus bermain basket seorang diri. Darahnya mendidih saat mengingat nama Khalisia. Wanita manja yang sangat ia tidak sukai.
Awalnya, Gemma bersikap baik pada Khalisia karena memang sikap Gemma sama pada semua. Namun ternyata, Khalisa menyalah artikan sikap Gemma.
Mereka hanya pernah bertemu beberapa kali, dan Gemma pernah menjemput Khalisia di kampusnya.
Gemma tak menyangka, bahwa Khalisia akan salah paham pada sikapnya.
Dan kini, sang kakek sudah memberikan ultimatum bahwa ia harus menerima perjodohan dengan Khalisia. Gadis manja yang kini sangat ia tidak sukai.
"Aisshhh!" teriak Gemma saat memasukan bola kedalam ring. Ia berteriak karena kesal dengan apa yang akan terjadi di hidupnya.
Gemma mendudukan dirinya di sisi lapangan, ia mengambil botol berisi minuman dan menenggaknya hingga tandas. Tak lama, ia meremas botol tersebut saat lagi-lagi ia mengingat nama Khalisia.
"Kenapa, Lu?" tanya Bunga yang menghampiri Gemma, Bunga adalah kaka sepupu dari Gemma.
Gemma menoleh sekilas lalu pandangannya kembali lurus ke arah depan.
"Lu masih mikirin perjodohanlu?" tanya Bunga, sedangkan Gemma hanya berdehem.
"Dah, lah, Gem. Apa salahnya coba lu terima perjodohan sama Khalisia. Baik ia, cantik ia," kata Bunga membuat Gemma berdecih.
"Gue mana tahan sama cewe kaya dia."
"Lu ga akan tau kalau lu ga nyoba. Lu bisa aja ga cinta sekarang. Tapi siapa tau lu nanti bakal jadi bucin," ejek Bunga pada adik sepupunya
"Dasar dakjal betina!" gerutu Gemma pada kaka sepupunya. Ia bangkit dari duduknya dan kembali mengambil bola, lalu meneruskan bermain basket di susul Bunga yang juga ikut bangkit menyusul Gemma dan mereka pun bermain basket bersama.
•••
Waktu menunjukan pukul 07 malam. Khalisia yang sedang berada di kamar terus berjalan kesana kemari.Ia tak sabar menunggu keputusan sang ayah dan Tanu, kakek Gemma. Kakek Gemma sudah setuju dengan perjodohan ini, mereka hanya tinggal membicarakan rencana apa yang akan mereka ambil lakukan setelah ini. Entah mereka akan menikahkan langsung Khalisia dan Gemma atau ....
Bab 2 Berusaha kuat
"Apakah Gemma setuju, Tanu?" tanya Julian. Saat ini, ia dan Tanu sedang berada di ruang tamu. Mereka sepakat bertemu untuk membicarakan kelanjutan hubungan antara Khalisia dan Gemma.
Tanu tersenyum, ia mengangguk pada sahabatnya. "Aku pastikan dia akan setuju," jawab Tanu. Ia mengambil teh di depannya lalu menyeruputnya.
"Tanu, kita sudah bersahabat sejak kita kuliah, dan aku tak mau suatu saat nanti jika Gemma dan Khalisia sedang ada masalah, hubungan kita renggang. Jadi sebaiknya kau diskusikan dulu dengan Gemma secara bijak. Aku pun akan memberikan pengertian pada Khalisia," kata Julian lagi, ia menatap Tanu lekat-lekat. Ia berharap, Tanu akan menolak perjodohan ini, karena dengan begitu, sang putri akan mengerti.
Seperti biasa, Tanu tersenyum dan senyuman Tanu membuat Julian bergidik. Tak perlu bertanya lagi, Julian sudah tau apa jawaban dari Tanu.
"Gemma sudah masuk kepala 3, jadi aku rasa ia akan bisa membingbing Khalisia," jawab Tanu dengan santainya. Membuat Julian menghela napas berat.
"Bunga, cucu pertamaku akan melepas masa lajangnya. Dan aku tak bisa membiarkan Gemma hidup tanpa tujuan. Selama ini, anak itu hanya mengikuti kaka sepupunya. Bahkan, ia menjadi dokter bukan karena keinginannya sendiri, melainkan karena mengikuti langkah kaka sepupunya dan aku rasa, dia sudah cukup bermain-main, dan menjadikan Khalisia sebagai pendamping Gemma adalah hal yang terbaik."
Khalisia bersorak saat mendengar obrolan Tanu dan Julian. Ia yang sedari tadi berada di kamar, memutuskam untuk menguping dan ia cukup senang, bahkan sangat senang ketika Tanu menyetujui perjodohannya. Selangkah lagi, Khalisia akan mendapatkan Gemma.
•••
Seminggu kemudian
Khalisia mematut diri di cermin, dengan gaun panjang dan rambut diikat kebelakang, Khalisia begitu cantik. Hari ini, ia akan di jemput Gea untuk menghadiri acara pernikahan Bunga, kaka sepupu dari Gemma.
"Mau kemana, kau?" tanya Stevia yang tak lain adalah kaka sepupunya. Ia masuk tiba-tiba masuk ke kamar Khalisia.
"Kapan kau datang!" seru Khalisia, ia menatap Stevia dengan tatapan tak suka. Biasanya, jika mereka bertemu, mereka bagaikan tom and Jery yang selalu berdebat.
"Apa kau lupa! besok hari kematian Papih, kenapa kau bertanya kapan aku kesini. Bukankah setiap hari kematian, Papih, Poppa dan Momma kita akan selalu berkumpul," jawab Stevia. Mendengar ucapan Stevia, Khalisia menepuk keningnya ia lupa bahwa besok adalah hari kematian kakeknya.
•••
"Khalisia, Gemma sudah menunggumu di bawah," ucap Tania, sang ibu.
Khalisia yang sudah siap mengangguk, ia bangkit dari duduknya, kemudian kembali bercermin memastika bahwa tampilannya sudah sempurna.
"Kau sangat jelek, Khalisia. Sangat jelek!" ejek Stevia pada Khalisia membuat Khalisia menatap kaka sepupunya dengan tatapan membunuh. Seandainya ia tak akan berangkat bersama Gema. Sudah di pastikan, Khalisia dan Stevia akan berperang.
"Dasar jomblo akut!" gerutu Khalisia, tanpa mendengar lagi jawaban Stevia, Khalisia pun berjalan meninggalkan kamar untuk menemui Gemma, pujaan hatinya.
Suara hils berpadu sangat nyaring, membuat Gemma yang sedang berbincang dengan Julian menoleh. Sejenak, Gemma merasa terpesona dengan kecantikan Khalisia. Namun tak lama, Gemma menggeleng. Ia berubah kesal saat mengingat tingkah Khalisia.
"Hai, ka!" sapa Khalisia pada Gemma. Ia tersenyum sangat manis, sedangkan Gemma hanya menanggapi sapaan Khalisia dengan mengangguk.
"Kalau begitu kami permisi, Om," pamit Gemma, ia mengulurkan tangannya pada Julian untuk mencium tangan calon mertuanya.
"Aku pergi, Dad!" Khalisia pun menyalami Julian laly mengekori langkah Gemma.
Saat Gemma akan masuk kedalam mobil, Khalisia memincingkat matanya karena Gemma tak membukakan pintu untuknya.
"Apa kau takan masuk!" teriak Gemma dari dalam, ia berdecak kesal saat Khalisia terus berdiri di depan mobilnya. Ia tau, keinginan Khalisia tapi Gemma lebih memilih acuh pada Khalisia.
Khalisia berusaha menegarkan hatinya saat Gemma berteriak. Sikap Gemma berbeda jauh ketika tadi di hadapan Julian.
Khalisia pun masuk kedalam mobil, jantungnya berdegup kencang saat ia bersebelahan dengan Gemma. Ini pertama kali lagi mereka bertemu semenjak perjodohan mereka di sepakati.
Setelah Khalisia naik, Gemma mulai menyalakan mobilnya dan menjalankannya. Suasana hening langsung tercipta saat mobil mulai melaju membelah jalanan ibu kota, seketika Khalisia di landa kecanggungan saat Gemma sama sekali tak mengajaknya bicara, jangankan mengajak bicara, menoleh pada Khalisia pun tidak.
30 menit kemudian, mobil yang di tumpangi Gemma dan Khalisia pun sampai. Gemma melepas sabuk pengamannya dan langsung turun meninggalkan Khalisia seperti tadi.
Khalisia merasakan nyeri pada hatinya saat Gemma membanting pintu mobil, ia ingin menangis, tak lama ia tersenyum. "Aku harus kuat, harus kuat," ucap Khalisia menguatkan dirinya. Ia tak mungkin mundur setelah selangkah lagi mendapatkan Gemma.
Khalisia pun turun dari mobil lalu berjalan, menyusul Gemma yang sudah masuk, meninggalkannya.
Bab 3 Syarat dari Gemma
Saat keluar dari mobil, Khalisia mencoba setenang mungkin. Hatinya begitu sakit saat Gemma masuk kedalam rumah dan meninggalkannya. Tapi, ia mencoba tersenyum. Ini pilihannya, dan ia yakin, ia bisa menaklukan Gemma yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Saat masuk kedalam rumah kakek Gemma. Khalisia menolehkan kepalanya kesana kemari, mencari Gemma. Lalu, terdengar suara dari taman belakang dan Khalisia pun masuk untuk menyusul Gemma, yang sudah duduk menyaksikan kaka sepupunya yang akan melakukan ijab qobul.
Karena tamu tak terlalu banyak, Khalisia mendudukan dirinya di kursi yang tak jauh dari Gema. Matanya terus menatap Gemma berharap Gemma menoleh padanya.Namun naasnya, Gemma sama sekali tak menoleh padanya. Bahkan, mungkin tak ingat dengan kehadiran dirinya.
Lamunan Khalisia buyar kala mendengar suara ribut dari depan. Ternyata, kaka sepupu Gemma pingsan saat usai ijab qobul.
Semua langsung panik, termasuk Gemma. Dan saat Bunga yang tak lain kaka sepupu Gemma akan di bawa ke rumah sakit, Khalisia langsung menghampiri Gemma berniat untuk ikut.
"Kau bisa kan pulang sendiri, aku harus pergi ke rumah sakit," ucap Gemma saat Khalisia datang menghampirinya. Ucapan Gemma sungguh menusuk dan membuat hati Khalisia teriris perih. Apalagi Gemma pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban Khalisia.
Semua orang sudah pergi ke rumah sakit, hanya tinggal beberapa orang yang mungkin asisten rumah tangga di rumah kakek Gemma. Dan Khalisia, ia hanya mampu terdiam melihat punggung Gemma yang semakin menjauh. Dan bodohnya, Khalisia berharap Gemma menoleh padanya, walau ia tau, Gemma tak mungkin melakukan itu.
Setelah lama terdiam, Khalsia pun melangkahkan kakinya untuk keluar dan berniat pulang menaiki taxi. Namun tak lama, ia menepuk kening saat menyadari bahwa rumah kakek Gemma berada di dalam perumahan elit dan tak mungkin ada taxi dan setidaknya, Khalisia harus berjalan kaki selama setengah jam lebih jika ingin pergi ke gerbang.
Khalisia merogoh tasnya untuk mengambil ponsel. Namun tak lama, matanya membulat saat tak ada ponsel di tasnya. Ia menepuk kening saat mengingat bahwa saat tadi akan turun, ia sempat bercermin lewat di ponselnya dan mungkin ponselnya terjatuh di mobil Gemma.
Dan sekarang, tamatlah riwayatnya! ia harus berjalan ke gerbang depan. "Kau bisa, Khalisia," lirih Khalisia. Ia menyemangati diri sendiri dan mulai berjalan.
Saat keluar dari gerbang utama, ada mobil yang membunyikan klakson dan membuat Khalisia menoleh. Wajah Khalsia berbinar saat melihat mobil itu, yang ternyata mobil Stevia
Tanpa pikir panjang, Khalisia pun langsung berlari ke arah mobil dan membuka pintu kemudian masuk kedalam mobil. "Kau menyelamatkanku, Stevia," ucap Khalisia sambil memasangkan sabuk pengaman ke tubuhnya, membuat Stevia berdecih.
"Jika saja bukan karena Mamih, aku tak sudi menjemputmu!" umpat Stevia, tentu saja dia berbohong. Stevian dan Khalisia memang seperti musuh. Tapi, mereka saling menyayangi dengan cara yang berbeda.
Saat tadi Khalisia pergi, Stevia merasakan perasaannya tak nyaman. Ia merasa bahwa akan ada yang terjadi dengan Khalisia, dan benar saja dugaannya. Sebab, Stevia tau, hubungan macam apa yang di jalani oleh Gemma dan Khalisia.
Khalisia berdecih, lalu memandang Stevia dengan tatapan menyelidik. "Kenapa Mamih menyuruhku pulang. Bukankah pengajian akan di adakan nanti malam?" tanya Khalisia.
"Karena Mamih tau, kau akan bernasib seperti ini!" jawab Stevia. Membuat Khalisia hampir saja menjambak rambut Stevia.
Sedangkan Stevia langsung memutar bola mata, lalu menjalankannya untuk pulang.
•••
"Lihatlah, anak itu. Bahkan dia sama sekali tak berterimakasih padaku!" gerutu Stevia saat Khalisia turun dari mobil terlebih dahulu dan meninggalkannya.
"Khalisia, kenapa kau sudah pulang?" tanya Julian yang heran kenapa putrinya sudah pulang. Padahal Khalisia baru sebentar meninggalkan rumah. "Mana Gemma?" tanya Julian lagi yang melihat Khalsia hanya seorang diri.
"Tadi kak Bunga tak sadarkan diri, Dad. Jadi ka Gemma ikut pergi ke rumah sakit dan aku lebih memilih pulang," jawab Khalisia, Julian pun mengangguk.
"Kau harus segera naik ke atas dan temani Mamih dan hibur Mamih,!" titah Julian. Khalisia pun mengangguk.
Khalisia menaiki lift, ia berjalan ke arah kamar sang nenek, kamar neneknya terbuka. Hingga, ia melongokan kepalanya kedalam. Seperti biasa, sang nenek sedang terisak sambil memeluk foto Bram, sang kakek.
"Mamih!" panggil Khalisia, Keinya sang nenek menoleh. Lalu tersenyum dan menyimpan foto suaminya.
"Kau baru pulang?" tanya Keinya. Khalisia pun mengangguk.
"Mamih, jangan bersedih. Papih pasti akan menangis di sana jika Mamih bersedih," celoteh Khalisia. Ia memeluk Keinya dari samping membuat tangis Keinya pecah.
Kisah cinta Keinya dan Bram memang indah, mereka terpaut usia 27 tahun. Walaupun umur mereka berbeda jauh. tapi keduanya saling mencintai dan cinta mereka sehidup semati. Dan saat Bram meninggal beberapa tahun silam, membuat Keinya amat terpukul, jiwanya seolah ikut terbang bersama suaminya.
"Papih, aku sangat merindukanmu. jemput aku, agar kita bisa bertemu di surga," ucap Keinya dalam hatinya. Ia selalu berkata hal yang sama setiap mengingat suaminya.
Beberapa minggu kemudian.
Gemma mondar mandir di depan ruangan kerja sang kakek, sebentar lagi adalah hari pernikahannya dan Khalisia, ia dan ia ingin mengajukan syarat pada sang kakek
"Kek!" panggil Gemma sambil mengetuk pintu.
Saat mendengar perintah sang kakek untuk masuk, Gemma pun mulai memutar handle pintu dan masuk kedalam ruang kerja sang kakek.
"Ada apa?" tanya Tanu. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah sofa dan mendudukan dirinya di sofa, Gemma pun mengikuti sang kakek untuk duduk.
"Kek, aku cuman pengen resepsiku sama Khalisia di tunda. Kita bisa ijab qobul aja dulu. Boleh, ya, Kek?" ucap Gemma. Membuat Tanu menghela napas berat. Ia sudah mendiskusikan ini dengan Julian.
Tanu ....
Bab 4 Tingkah Gemma
"Baiklah, syarat kamu kakek terima. Kamu sama Khalisia boleh akad dulu," ucap Tanu, membuat mata Gemma berbinar. Dalam otak Gemma, sudah terususun rapih rencana untuk Khalisia. Ia akan membuat Khalisia menderita hidup dengannya dan akan membuat Khalisia meminta cerai padanya.
"Makasih, Kek," jawab Gemma. Ia langsung bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan kakeknya. Lalu, setelah itu ia berjalan ke kamarnya.
Saat berbaring di ranjang, Gemma memandang langit-langit. Ia memegang dadanya yang terasa sesak kala mengingat mantan pacarnya yang juga seorang dokter di rumah sakit yang sama.
Garnia, nama wanita yang berhasil mencuri hati Gemma. Dia bekerja sebagai dokter anak. Mereka berpisah tanpa alasan, Garnia tiba-tiba menjauh dari Gemma dan meminta putus tanpa alasan yang jelas.
Gemma sudah berusaha mencari tau tentang alasan Garnia meminta berpisah darinya. Tapi, Garnia kekeh tutup mulut. Ia malah semakin menjauhi Gemma. Hingga pada akhirnya, Gemma pun menyerah. Dia lebih memilih menghargai keputusan Garnia.
Lamunan Gemma buyar kala mengingat Khalisia, ia harus bertemu dengan gadis manja itu. Mengingat namanya saja membuat Gemma muak apalagi melihat wajah gadis itu. Tapi, apa daya. Ia harus bertemu dengan Khalisia.
•••
Khalisia bersorak, ia melompat-lompat di kasur saat membaca pesan Gemma yang mengirim pesan dan meminta bertemu dengannya.
"Khalisia, kau kenapa?" tanya Tania, sang ibu
Dengan girang, Khalsia turun dari kasur dan langsung berhambur memeluk sang ibu membuat Tania heran.
"Khalisia!" teriak Tania saat Khalisia mencium pipi Tania dengan gemas, hal yang sering Khalisia lakukan ketika ia sedang bahagia
"Kau kenapa?" tanya Tania saat Khalisia sudah tenang.
Khalisia mengambil jus yang di bawa oleh Tania lalu meminumnya. "Mommy, besok aku akan bertemu ka Gemma. Kami akan membahas soal pernikahan kami," jawab Khalisia membuat Tania menghela napas gusar. Entah kenapa, Fellingnya mengatakan bahwa Khalisia akan menderita dengan keputusannya sendiri.
"Khalisia, Mommy ingin berbicara denganmu," ucap Tania. Ia menarik lembut tangan putrinya dan mendudukan Khalsia di ranjang dan Tania duduk di sisinya.
"Khalisia, kau masih muda. Kau cantik, jalanmu masih panjang. Kenapa kau harus memutuskan untuk menikah muda?" tanya Tania dengan lembut. Ia menggenggam tangan Khalisia dan menatap sang putri lekat-lekat. Berharap Khalisia mau mendengarkannya.
Khalisia tersenyum. Ia mengerti dengan ketakutan kedua orang tuanya. Tapi, Khalisia sudah separuh jalan. Ia tak mungkin mundur. Sebentar lagi, Gemma akan menjadi miliknya.
"Mommy, aku tau Mommy dan daddy mengkhawatirkanku. Tapi, aku berjanji aku akan bertanggung jawab dengan keputusanku sendiri," jawab Khalisia membuat Tania tak bisa berkata-kata.
Suaminya benar, terkadang, ia dan suaminya menyesal membebaskan pilihan pada anak-anak mereka asal bisa bertanggung jawab. Dan kini, Khalisia seoalah tak berpikir tentang masa depan pernikahnya dan berlindung memakai kata akan bertanggung jawab dengan keputusannya sendiri.
•••
"Kau kenapa, Sayang?" tanya Julian saat melihat Tania melamun.
Tania yang sedang merebahkan dirinya di ranjang menoleh lalu tersenyum.
"Kau kenapa, hmmm?" tanya Julian lagi. Ia membaringkan diri di samping istrinya hingga posisi mereka berhadap-hadapan.
"Dad, apa kita paksa saja Khalisia untuk membatalkan rencananya. Fellingku mengatakan bahwa Khalisia takan bahagia dengan keputusannya," jawab Tania. Gurat cemas terlihat jelas di wajah Tania. Ia seorang ibu, dan pasti ia mempunyai firasat tentang putrinya.
"Aku juga berpikir sama. Aku sudah membujuk Khalisia bahkan aku sudah meminta Tanu untuk membatalkan rencananya. Tapi, usahaku sia-sia," kata Julian. Ia pun sama seperti Tania, ia merasakan bahwa putrinya takan bahagia dengan keputusannya.
•••
Khalisia terus melihat jam di tangannya sudah dua jam berlalu. Namun, Gemma belum juga muncul. Saat ini, ia sedang berada di sebuah caffe untuk bertemu dengan Gemma. Namun, sudah dua jam menunggu Gemma tak juga muncul.
Khalisia mengambil ponsel di depannya, berniat menghubungi Gemma, bertanya tentang keberadaan Gemma. Baru saja ia akan menelpon Gemma. satu pesan masuk kedalam ponselnya membuat Khalisia girang karena ternyata pesan itu dari Gemma.
["Kita tak usah bertemu di caffe itu. Temui aku sekarang di restoran depan rumah sakit"] tulis Gemma dalam pesannya.
Mata Khalisia membualat, ia sudah 2 jam menunggu Gemma. Tapi, Gemma malah menyuruhnya datang ke tempat lain. Khalisia menghela napas dan mencoba sabar. Anggaplah dia bodoh, berjuang seorang diri. Tapi, ini adalah keputusannya dan ia harus bertanggung jawab untuk itu.
Khalisia pun bangkit dari duduknya dan keluar dari caffe, kemudian ia menaiki taxi dan meminta taxi untuk mengantarkannya ke tempat tujuan. Ia sengaja tak memakai supir, berharap Gemma akan mengantarkannya pulang.
Sedangkan di tempat lain
Gemma tertawa terbahak-bahak setelah mengirimi Khalisia pesan. Ia bangkit dari tidurnya dan mendudukan dirinya. Faktanya, dia mengerjai Khalisia. Ia menyuruh Khlisia datang ke restoran padahal dia sendiri sedang berada di kamarnya. Ia akan terus membuat Khalisia menunggu-menunggu dan menunggu.
"Ini baru permulaannya saja, Khalisia. Kau akan menderita hidup denganku sampai kau memutuskan untuk mundur," ucap Gemma. Ia berjalan ke arah jendela untuk melihat cuaca, ia semakin tersenyum kala melihat cuaca sedang mendung, ia yakin, kali ini, Khalisia akan kesal padanya.
Tinggalian komen pli
Bab 5. Pernikahan
Khalisia memeluk tubuhnya, suhu dingin sudah merasukinya karena di luar hujan lebat. Ia terus melihat jam di tangannya, berharap Gemma segera datang.
Setelah menunggu di caffe pertama selama dua jam, akhirnya, Khalisia pun pergi ke Caffe yang di titah oleh Gemma. Dan Khalisia sudah menunggu Gemma selama 3 jam dan total, hari ini Khalisia menunggu Gemma selama 5 jam. Khalisia sudah menunggu lama di caffe yang pertama, dan sekarang, ia juga harus menunggu lama di caffe yang kedua
Waktu menunjukan pukul 9 malam, semua pengunjung caffe sudah meninggalkan caffe, dan 15 menit lagi caffe tutup akan tutup. Khalisia ingin sekali menangis, ia kedinginan, ponselnya mati, di luar hujan deras, Gemma belum juga datang, ia ingin pulang tapi ia tak bisa mencari taxi dalam keadaan hujan deras.
Mata Khalisia sudah berkaca-kaca saat pelayan memberitau bahwa caffe tersebut akan segera tutup. Khalisia tak punya pilihan, ia harus menunggu di luar.
Khalisia berdiri diluar caffe, ia memeluk tubuhnya semakin erat, tubuhnya menggigil, bibirnya membiru, tubuh Khalisia cukup lemah, hingga ia tak terlalu kuat dalam suhu dingin.
Khalisia menangis, saat tubuhnya semakin lemas, lampu caffe sudah padam, hingga membuat ketakutan Khalisia bertambah
"Daddy, tolong aku!" lirihnya saat tubuhnya semakin tak bertenaga. Kakinya serasa lemah, rasanya ia tak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya.
Saat Khalisia akan terjatuh dan akan kehilangan kesadarannya. Seseorang datang dan menahan tubuh Khalisia
"Khalisia! Khalisia!" teriak Stevia, dan ternyata Stevia lah yang datang. Ia sudah mencari Khalisia kemana-mana. Sedari tadi, ia berada di rumah Tania dan Julian. Julian mengira bahwa Khalisia aman bersama Gemma. Tapi feeling stevia bahwa adik sepupunya sedang tidak baik-baik saja. Hingga ia memutuska untuk mencari Khalisia diam-diam.
Setelah lelah mencari, Stevia baru teringat jika ia bisa melacak posisi Khalisia lewat email. Karena ponsel Khalisia mati, Stevia hanya bisa mengakses lokasi di saat ponsel Khalisia menyala dan akhirya, Stevia datang tepat waktu
"Khalisia!" teriak Stevia lagi saat Khalisia terlihat kesusahan membuka matanya.
Khalisia mengerjap, akhirnya ia bisa sedikit membuka matanya. "Se-Stevia, ba-bawa aku ke apartemenmu," ucap Khalisia terbata-bata.
"Bodoh!" gerutu Stevia saat mendengar ucapan Khalisia, ia tau apa yang ada pikiran Khalisia. Ia tau, Khalisia tak ingin nama Gemma jelek di mata Tania dan Julian.
Stevia melepaskan jaketnya, ia menutupi kepala Khalisia dengan jaketnya. Kemudian, ia membantu Khalisia berdiri dan Stevian memapah Khalisia untuk berjalan ke arah mobil menerobos hujan.
••
Saat sampai di apartemen, Stevia meminta bantuan penjaga untuk membawa Khalisia ke unit apartemennya. Saat masuk Khalisia langsung di baringkan dan dengan cepat Stevia mengganti pakaian Khalisia. Ia menyalakan penghangat udara untuk menormalkan suhu tubuh Khalisia.
Saat suhu tubuh Khalisia sudah stabil, Stevia mengambil minyak angin dan obat demam. Ia menepuk-nepuk pipi Khalisia, hingga Khalisia sedikit membuka matanya, Khalisia sadar, tapi ia kesusahan membuka matanya.
Karena mata Khalisia kembali tertutup lagi, Stevia membubukan obat dan mencampurnya dengan air lalu membuka mulut Khalisia dan memasukan kedalam mulut Khalisia secara perlahan.
Stevia menarik selimut dan menyelimuti Khalisia. Ia menatap Khalisia lekat-lekat, ia ingin sekali menghajar adik sepupunya agar sadar, bahwa Khalisia terlalu dibutakan oleh cinta.
"Kau cantik, kau pintar, kau mempunyai segalanya. Tapi kenapa kau bodoh dalam menilai orang. Jelas-jelas, dia tak menginginkanmu!" gerutu Stevia. Setelah mengatakan itu, Stevia pun keluar dari kamar.
Tepat saat Stevia keluar dari kamar, bulir bening langsung keluar dari pelupuk mata Khalisia. Ia memang tak membuka matanya. Tapi, ia bisa mendengar semua ucapan Stevia.
"Kau benar, Stev. Aku sadar, dia memang tak menginginkanku. Tapi, aku tak bisa mundur sekarang," ucap Khalisia dalam hatinya. Ia sudah me nyiapkan hatinya karena ia tau, hal semacam ini akan terjadi dan ia yakin, rasa sakitnya akan terbayar dengan beribu kebahagiaan, karena ia yakin, ia bisa menaklukan Gemma.
.•••
Khalisia membuka matanya saat sinar matahari menyusup kamar yang di tempatinya. Ia bangun dari tidurnya dan, melihat kesana kemari
Setelah nyawanya terkumpul, Khalisa mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca saat ia mengingat kejadian kemarin.
Rasanya begitu membuatnya sesak saat mengingat bahwa Gemma tega membiarkannya menunggu selama 5 jam, bahkan ia hampir saja kehilangan kesadarannya.
"Kau bisa, Khalisia. Kau bisa," lirih Khalisia. Sekecewa-kecewanya ia pada Gemma. Ia tetap ingin melanjutkan obsesinya pada Gemma, ia yakin, jika mereka sudah menikah, ia bisa membuat Gemma jatuh cinta padanya.
Ia turun dari ranjang dan mencari tasnya, berniat mengambil ponselnya. Ia berharap, Gemma mengiriminya pesan. Khalisia tersenyum saat melihat ponselnya sudah di cas oleh Stevia, hingga ia tak harus menunggu.
Saat ponsel menyala, satu pesan masuk kedalam ponselnya, terpampang nama Ka Gemma di notifikasi layar ponselnya, membuat senyum Khalisia mengembang.
[Sebentar lagi kita menikah. takan ada resepsi, kita akan langsung tinggal di apartemenku. Jangan beberkan apa pun yang terjadi di kehidupan pernikahan kita pada keluargamu. Kau tak boleh memakai fasilitas apa pun dari keluargamu. Semoga kau mengerti] tulis Gemma dalam pesannya
Seketika Khalisia merasa sesak, jantungnya terasa di remas, rongga dadanya terasa mencekik. Ia tak menyangka, Gemma akan memberikannya syarat yang begitu berat. Bahkan, sama sekali tak ada kata maaf karena telah membuat Khalisia menunggu.
"Kau pasti bisa, Khalisia." Seperti biasa, Khalisia akan menyemangati dirinya sendiri saat rasa sakit dan sesak itu menderanya.
Setelah berkutat dengan pikirannya, Khalisia pun berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
"Kau sudah bangun rupanya!" sindir Stevia saat sedang berada di meja makan. Khalisia berdecih, lalu mendudukan diri di sebelah Stevia dan menarik sereal lalu menumpahkan sereal itu ke mangkuknya.
"Stevia, apa mommy dan Daddy tau aku bersamamu, mereka tak tau, kan, apa yang terjadi padaku semalam?" tanya Khalisia ragu-ragu. Ia tau, Kaka sepupunya pasti akan mengomel.
Mendengar pertanyaan Khalisia, Stevia membanting sendok yang di pegangnya, lalu ia menatap Khalisia dengan tatapan tajam.
"Apa kau bodoh! Kau hampir mati semalam dan kau masih ingin melindungi lelaki itu. Oh, sadarlah Khalisia!" omel Stevia. Sedangkan Khalisia yang mendengar Omelan dari Stevia meledek dengan menggerak-gerakaan bibirnya mengikuti ucapan Stevia.
"Ini terakhir kali aku menolongmu. Awas saja jika kau bertindak bodoh lagi," ucap Stevia. Setelah mengatakan itu, Stevia pun bangkit dari duduknya meninggalkan Khalisia. Dan setelah itu, Khalisia tertawa, Stevia selalu berkata bahwa Stevia Takan menolongnya lagi. Tapi, faktanya, Stevia lah orang pertama yang menolongnya ketika ia terkena masalah.
Satu minggu kemudian.
Satu minggu berlalu, hari di mana yang di tunggu Khalisia akhirnya tiba. Hari ini, ia akan menikah dengan lelaki pujannya. Tak apa-apa tak ada resepsi, ia sudah memiliki tubuh Gemma dan ia akan berusaha mendapatkan hati Gemma.
Dan kini, di depan meja sudah ada sepasang pengantin, Julian, penghulu dan para saksi.
"Pak, silahkan dimulai," ucap penghulu pada Julian.
Julian menghela napas gusar. Sejenak, ia melihat pada Khalisia yang tampak bahagia, dan ia melihat ke arah Gemma yang tampak datar.
"Bismillah. Ya Allah, jika ini jalan putriku. Maka permudah semuanya." Julian membatin dalam hati. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa putrinya akan bahagia bersama Gemma
Julia mengulurkan tangannya pada Gemma, dan Gemma pun langsung menerima uluran tangan Julian, hingga kini mereka berjabat tangan.
"Saya nikahkah engkau Gemma syarif Rahardja bin Arsen Rahardja dengan putri saya Khalisia kim hendrayan binti Julian Muhamad dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
"Saya terima nikahnya, Khalisia Kim Hendrayan binti Julian Muhamad dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
Setelah saksi mengucapkan kata Sah dan berdoa, Julian langsung bangkit dari duduknya. Ia tak kuasa menahan tangisnya. Rasanya begitu menyesakkan kala ia harus melepas putri pertamanya pada lelaki yang membuat ia ragu.
•••
"Dad!" panggil Tania saat masuk kedalam kamar. Julian yang sedang berdiri menatap keluar lewat jendela menoleh, lalu berusaha tersenyum.
"Aku mengerti perasaanmu, Dad," ucap Tania. Ia berhambur memeluk suaminya. Khalisia baru saja di bawa pergi oleh Gemma. Dan Julian, sungguh merasakan hatinya tidak tenang.
"Dia pasti akan baik-baik saja, kan?" ucap Julian dengan napas memberat, membuat Tania ingin menangis.
"Dia pasti akan baik-baik saja," jawab Tania. Walaupun berusaha menenangkan suaminya dan berkata Khalisia akan baik-baik saja, tapi ia pun tak yakin dengan ucapannya sendiri.
Sedangkan Gemma dan Khalisia ....
Bab 6 Khalisia yang sesungguhnya
Khalsia menyenderkan kepalanya ke jendela. Ia menghembuskan napas kasar, mengingat semuanya baru akan di mulai.
Saat ini, Khalisia sedang berada bersama Gemma di dalam mobil, mereka baru saja resmi menjadi pasangan suami istri dan Gemma langsung membawa Khalisia ke apartemen yang telah ia siapkan.
Khalisia dan Gemma larut dalam diam. Hanya terdengar suara mesin mobil dan bising dari luar. Gemma mengerutkan keningnya saat Khalisia terdiam. Padahal, dalam pikiran Gemma, Khalisia akan heboh seperti biasanya. Apalagi impian Khalisia adalah menikah dengannnya.
Gemma menggeleng samar. "Untuk apa juga aku memikirkannya." Gemma membatin dalam hati.
Saat sampai di basement apartemen, Khalisia turun lebih dulu lalu ia membuka pintu belakang dan mengangkat koper besar miliknya seorang diri.
Tingkah Khalisia sungguh di luar perkiraan Gemma. Ia pikir, Khalisia akan merengek meminta tolong padanya dan akan merepotkannya. Tapi nyatanya ....
Tak ingin pusing memikirkan wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya. Gemma pun keluar dari mobil dan langsung berjalan tanpa menghiraukan Khalisia. Sedangkan Khalisia mengekor di belakang Gemma.
"Aku harus tidur di kamar mana?" tanya Khalisia saat masuk kedalam apartemen, membuat Gemma kembali mengerutknan keningnya. Gemma berbalik lalu menatap Khalisia lekat-lekat. Ada apa dengan gadis muda di sampingnya ini. Padahal, gadis muda di depannya ini sangat menggebu-gebu meminta di nikahi. Tapi kenapa sekarang, Khalisia malah seperti orang asing.
"Maksudmu?" tanya Gemma. Dalam pikiran Gemma. Ia yang akan menyuruh Khalisia untuk tidur di kamar yang berbeda saat mereka sudah sampai di apartemen. Namun ternyata, niat Gemma tak tereleasikan karena ternyata Khalisia yang lebih dulu menawarkan untuk tidur terpisah.
"Kita akan tidur terpisah bukan?" tanya Khalisia membuat Gemma diam-diam merasa heran dengan gadis di sampingnya.
"Bukankah kita sudah suami istri. Lalu kenapa kita harus tidur terpisah!?" tantang Gemma.
"Baiklah. Jadi di mana kamar kita?" Khalisia berbalik menantang Gemma. Diam-diam, Khalisia menarik sudut bibirnya karena melihat Gemma yang kebingungan. Khalisia sedang memakai cara tarik ulur dengan Gemma. Ia tau, jika ia agresif, Gemma akan membencinya.
Gadis itu ingin seperti pengantin lainnya, mengkalaim Gemma menjadi seutuhnya miliknya. Tapi ia harus sabar untuk mendapatkan hati Gemma.
Mendengar jawaban Khalisia, Gemma berdecih. "Apa kau sedang main tarik ulur denganku?" tebak Gemma, membuat tubuh Khalisia menegang. Rupanya, niatnya sudah terbaca oleh Gemma.
"Untuk apa aku main tarik ulur denganmu," jawab Khalisia dengan tenang. Padahal, hatinya ketar-ketir.
"Ka Gemma sudah menjadi suamiku saja itu sudah cukup. Aku tak mengharapkan lebih, bahkan aku tak berharap kita seperti pasangan suami istri pada umumnya," jawab Khalisia, seketika mata Gemma melotot.
Kemarin, wanita di depannya ini merengek untuk dinikahi olehnya. Tapi kenapa saat mereka sudah menikah wanita ini malah tak mengharapkan menjadi pasangan suami istri seperti pada umumnya. Dan yang membuat Gemma kesal, harusnya Gemma lah yang mengatakan hal itu pada Khalisia. Tapi yang terjadi, malah sebaliknya.
Sungguh, Gemma merasa kalah sebelum berperang.
"Kau benar. Kita memang tak perlu menjadi suami istri pada umumnya," jawab Gemma. Khalisia mengangguk-nganggukan kepalanya tanda setuju dan lagi-lagi sukses membuat Gemma berdecak kesal.
"Oh, ia. Aku sengaja mengajakmu tinggal di apartemen ini karena di unit sebelah ada wanita yang aku cintai. Jadi, jangan terkejut jika kau melihatku mesra dengannya," kata Gemma lagi. Ya, Gemma memang sengaja tinggal di apartemennya yang bersebelahan dengan Garnia.
Ia membeli apartemen itu saat berpacaran dengan Garnia. Lalu, saat ia sudah putus dengan Garnia dia meninggalkan apartemen itu. Dan sekarang, setelah menikahi Khalisia, Gemma kembali lagi ke apartemen itu. Ia berniat untuk mendekati lagi Garnia dan memanasi Khalisia agar Khalisia meminta brrpisah dengannya.
"Lalu kenapa kaka mengatakan itu padaku. Aku sama sekali tak perduli," jawab Khalisia. Sungguh, Gemma ingin sekali mencekik wanita muda di hadapannya ini. Seharusnya dia lah yang mengatakan apa yang Khalisia katakan.
"Kamarmu di sebelah sana!" kata Gemma dengan nada ketus karena kalah dari Khalisia.
Khalisia pun mengangguk. Ia berbalik dan meninggalkan Gemma tanpa pamit terlebih dahulu pada Gemma, membuat Gemma berdecih lagi karena Khalisia mengabaikannya. Seharusnya ia yang mengabaikan Khalisia, bukan Khalisia yang mengabaikannya.
Khalisia membuka pintu kamarnya. Ia memasukinya, matanya menatap ke segala penjuru arah. Cukup besar, rapih dan sedikit mewah. Walaupun, lebih besar dan mewah kamar miliknya.
Ia menaruh koper, lalu mendudukan dirinya di ranjang. Matanya menatap kosong kedepan. ia memegang dadanya yang masih berdenyut nyeri.
Ucapan tentang perempuan yang di cintai suaminya, mampu meluluntahkan perasaan Khalisia. Jangan di tanya seberapa hancurnya dia. Sudah pasti hancur, sangat hancur.
"Kau pasti bisa, Khalisia," lirihnya dengan suara pela. hanya itu yang bisa ia ucapkan untuk dirinya, menyemangati bahwa ia akan mendapatkan hati suaminya.
••
Waktu menunjukan pukul 07. malam, Gemma keluar dari kamarnya, rasa lapar menderanya hingga ia terpikirkan untuk membuat sesuatu. Saat mendengar suara ribut dari dapur, ia yakin itu adalah Khalisia.
Tiba-tiba, Gemma terpikir sesuatu. Ia masuk kembali kedalam kamar dan mengganti pakaiannya dengan kaos tanpa lengan. Ia ingin memamerkan tato di tangannya pada Khalisia, Gemma menato tangannya dengan wajah dan nama Garnia. Tato itu dia buat saat masih berpacaran dengan Garnia.
"Kau membuat apa?" tanya Gemma. Khasia yang sedang mengaduk-ngaduk pen menoleh, lalu matanya tertuju pada tato di lengan suaminya.
Seketika Khalisia terdiam, matanya mulai memanas. Namun, secepat kilat, ia menormalkan ekpresinya.
"Aku bikin capcay seafood. Kaka mau?" tanya Khalisia, membuat Gemma melongo. Ia tak menyangka bahwa gadis semanja Khalisia bisa memasak.
Gemma mendekat ke arah Khalisia. Ia sengaja berjalan sedikit menyamping untuk memarkan tangannya.
"Kaka mau?" ulang Khalisia saat Gemma tak menggubris ucapannya.
Gemma menghela napas panjang, ia merasa gagal lagi saat wajah Khalisia sama sekali tak berubah. Padahal, Khalisia sudah melihat tato di tangannya.
"Buatkan aku mie instan!" titah Gemma pada akhirnya. Ia lagi-lagi merasa gagal sebelum ia melakukan rencananya.
Khalisi pun mengangguk, ia berjalan ke arah lemari gantung untuk mengambil mie. Sedangkan Gemma langsung pergi ke arah kulkas untuk mengambil soda kemudian ia pergi dan menunggu di ruang televisi.
Gemma menatap televisi dengan tatapan kosong, kemudian ia menatap cincin pernikahan di tangannya, kemudian ia terseyum getir. Rasanya ia tak percaya berada di titik ini. Titik di mana ia menikahi seorang gadis yang tidak pernah ia sukai.
Lalu ia merogoh saku untuk melihat ponselnya, tangannya terketuk untuk membuka galeri. Matanya langsung tertuju pada sebuah foto dirinya dan Garnia saat masih berpacaran
Cinta itu masih ada, dia masih mencintai Garnia sepenuh hatinya. Wanita yang selama ini membuatnya bahagia. Ia ingin mengejar cinta Garnia lagi, tapi kini ia sudah bersetatus sebagai suami dari Khalisia.
Mata Khalsia memanas saat melihat suaminya sedang fokus melihat foto di ponselnya. Jantungnya terasa sesak, tak ingin terus merasakan nyeri, Khalisia pun berdehem, menyadarkan Gemma dari lamunannya.
"Ini mie kaka," ucap Khalisia. Gemma menerima mie dari tangan Khalisia.
"Kau mau kemana?" tanya Gemma saat Khalisia berbalik.
"Aku ingin makan di meja makan," jawabnya. Setelah mengatakan itu, Khalisia pun secepat kilat berbalik. Sejujurnya ia sudah tak sanggup menahan tangisnya hingga ia memilih pergi meninggalkan Gemma.
"Aku sudah menduga hal semacam ini akan terjadi, tapi kenapa rasanya begitu menyesakkan," lirih Khalisia saat mendudukan dirinya, ia menatap makanan di depannya dengan getir. Nafsu makannya hilang seketika saat Gemma memerhatikan wanita lain.
•••
Keesokan harinya.
"Kau akan pergi ke kampus?" tanya Gemma saat keluar dari kamar dan Khalisia sudah berada di meja makan. Gemma pun sudah rapih dan bersiap pergi ke rumah sakit.
Khalisia pun mengangguk, lalu ia menyuapkan sereal ke mulutnya.
"Kaka ingin sereal?" tanya Khalisia. Gemma pun mengangguk. Secepat kilat, Khalisia menyiapkan sereal untuk Gemma.
Setelah selesai, Gemma bangkit dari duduknya. Ia mengambil dompet dan mengeluarkan atm, lalu ia memberikan atm ke hadapan Khalisia.
"Di atm ini ada uang 10 juta. Ini sebagai uang jajanmu selama sebulan. Aku tak bisa memberikan lebih karena ini adalah gajihku, walaupun aku cucu pemilik rumah sakit, tapi aku hidup hanya mengandalkan gajihku," ucap Gemma. Tentu saja ia berbohong. Mana mungkin ia hanya hidup dari gajih dokter, uang bulanan dari orang tuanya saja sangat fantastis belum lagi uang bulanan dari kakeknya
Ia memberikan uang kecil pada Khailisia agar Khalisia tak tahan hidup dengannya. Gemma tau bahwa semua yang di pakai Khalisia adalah brand-brand ternama dan ia yakin uang 10 juta hanya cukup untuk merawat kuku-kuku Khalisia saja. Dan cepat atau lambat, Khalisia akan mundur karena Gemma yakin, Khalisia takan tahan dengan hidup hemat.
"Aku tak ingin kau menerima uang bulanan lagi dari ayahmu, jadi kau harus menghemat uang ini. Untuk makanmu, uang jajanmu dan ongkos taximu, sebab aku tak bisa mengantar jemputmu," ucap Gemma lagi.
Kening Khalisia mengernyit dalam saat mendengar ucapan Gemma. Tanpa pikir panjang, Khalisia langsung menyodorkan lagi atm ke arah Gemma.
"Uang ini untuk kaka saja. Untuk makan dan bensin mobil kaka," ucap Khalisia membuat Gemma langsung membulatkan matanya.
"Ini untukmu. Aku tak ingin kau membuatku malu karena kau menerima uang dari ayahmu!"
"Kaka jangan khawatir, aku takan meminta uang dari Daddy, bahkan sudah dua tahun aku tak menerima uang dari Daddy, karena aku memiliki uang sendiri,"
Mendengar ucapan Khalisia, Gemma mendudukan dirinya kembali, ia menatap Khalisia dengan tatapan menyelidik. "Kau mendapatkan uang dari mana?" tanya Gemma. Mustahil Khalisia tak mendapatkan uang dari orang tuanya sedangkan gaya Khalisia begitu glamour.
"Gajihku sebagai pemimpin perusahaan," jawab Khalisia membuat Gemma berdecih.
"Kau membuka online shop?" tanya Gemma dengan seringai mengejek.
Khalisia tetap tenang, kemudian menggeleng. "Aku memimpin prusahaan Globehealt," jawab Khalsia
"Apa kau sedang membual, Khalisia?" tanya Gemma. Mana mungkin Khalisia memimpin perusahaan yang sangat besar. Perusahaan Globehealt adalah anak perushaan yang berada di Swiss yang tak lain adalah milik Julian.
Bakat bisnis Khalisia sudah terlihat sejak kecil, sedari sekolah menengah pertama Khalisia sudah tertarik dengan hal bisnis. Julian mengasah kemampuan Khalisia, dan saat Khalisia sudah lulus sekolah menengah akhir, Julian sudah melepas prusahaan Globehealt pada tangan Khalisia.
Sudah 3 tahun, Khalisia memimpin perusahaan Globehealt, perusahaan yang bergerak di bidang farmasi dan alat-alat kesehatan. 2 tahun lalu, Julian masih mendampingi Khalisia untuk memimpin Globehealt dan seteah 2 tahun berlalu, Julian benar-benar lepas tangan dan membiarkan Khalisia memimpin dan mengambil keputusan seorang diri.
Hingga perusahaan yang di pimpin Khalisia maju pesat. Bahkan selama 3 tahun memimpin, Khalisia berhasil mendapatkan kontrak dari rumah sakit rumah sakit besar di Indonesia dan berhasil mendapatkan kontrak dari beberapa rumah sakit di Asia.
Mungkin, Gemma menganggap Khalisia manja, hanya karena ia melihat sekilas. Karena pada nyatanya, Khalisia adalah orang yang ambisius. Di saat orang lain seumurannya pergi, nongkrong dan berbelanja. Khalisia malah meneliti kertas-kertas kerja sama yang melibatkan perusahaannya.
Di saat orang lain seumurannya berkencan, Khalisia malah fokus membagi waktu untuk datang ke kantor dan untuk pergi ke kampus.
Khalisia tumbuh dari keluarga pebisnis. Tentu saja, kemampuan dalam memipin perusahaan tak perlu di ragukan lagi.
Dalam usia 20 tahun, dia bisa menggenggam dunianya, hanya saja seberapa pun sukses Khalisia. Ia merasa hidupnya belum sempurna karena ia belum bisa menaklukan hati suaminya.
Mendengar Gemma menuduhnya membual, Khalisa langsung membuka ponselnya. Lalu membuka website perusahaannya dan menyodorkannya kehadapan Gemma.
Mata Gemma membulat saat melihat nama Khalisia sebagai CEO dari Globehealt, bahkan perusahaan Khalisia juga bekerja sama dengan rumah sakit kakeknya
"Ishhh!" Setelah berdecih, Gemma bangkit dari duduknya, ia berjalan dengan menghentakan kakinya karena kesal. Ia ingin menekan Khalisia tapi malah ia yang tertekan karena ternyata Khalisia lebih hebat dirinya. Bahkan, ia masih diberi jatah bulanan. Sedangkan Khalisia sudah mampu memimpin perusahaan besar padahal umur Khalisia masih sangat muda.
Khalisia menghela napas panjang saat Gemma meninggalkannya. Ia merasa puas saat bisa memukul kesombongan suaminya. Ia sudah menduga bahwa Gemma akan mendiskriminasinya setelah menikah, hingga Khalisia memilih tak memberitau dari awal bahwa dirinya adalah seorang pemimpin perusahaan.
Bab 7 Luka Khalisia
Gemma mendengus kesal, ia benar-brnar merasa kalah pada Khalisia. Dia kalah, kalah telak. Ia sungguh merasa harga dirinya telah di injak-injak oleh Khalisia.
Ia berjalan keluar dengan menghentakan kaki. Sumpah serapah ia ucapkan dalam hati, gadis kecil itu benar-benar membuat ia kesal.
Saat ia akan menekan tombol lift untuk turun. Ia melihat Garnia, yang sepertinya juga akan turun. Mata Gemma dan Garnia saling mengunci, tubuh Garnia menegang, ia tak menyangka akan bertemu mantan kekasihnya.
"Kau tidak masuk?" tanya Gemma, membuat Garnia tersadar.
"Ah, ia," jawab Garnia, ia melangkahkan kakinya kedalam lift. Saat masuk kedalam lift, tubuh Gemma Garnia saling terdiam. Detak jantung mereka berdetak dua kali lebih kencang, mereka bahkan lupa bahwa mereka belum menutup pintu lift.
Tak lama, Gemma tersadar. Ia maju untuk menutup pintu lift, baru saja tangannya terangkat ke udara untuk menekan tombol lift, ia menghentikan gerakannya. Saat melihat bayangan orang yang sedang berjalan, seketika Gemma menarik sudut bibirnya, karena ia tau yang berjalan adalah Khalisia,
Ia pun kembali mundur ke tempatnya, membuat Garnia keheranan, karena Gemma tak menutup pintu lift.
"Kena ...." ucapan Garnia terputus saat melihat ada yang masuk ke lift.
Saat berada di depan lift, Khalisia terdiam saat melihat Gemma dan seorang wanita. Jantungnya terasa di remas-remas saat melihat wanita itu, ia tau wanita itu adalah wanita yang di cintai suaminya. Ia mengingat betul, wajah wanita itu sama dengan tato di lengan suaminya.
Tak ingin terlihat lemah, Khalisia pun maju dan masuk kedalam lift. Hingga kini, ia berdiri di depan Gemm dan Garnia.
"Garnia, ayo pergi ke rumah sakit bersamaku!" ajak Gemma, membuat Garnia refleks menoleh dan membulatkan matanya. Ini pertama kalinya setelah putus Gemma berbicara lagi padanya.
Garnia menatap Gemma dengan bingung, ia menatap Gemm lekat-lekat, seolah mengerti bahwa Garnia sedang bingung, Gemma memberi isyarat dengan wajahnya agar Garnia mengiyakan tawarannya.
"A-ah, ia," jawab Garnia dengan sedikit ragu. Sedangkan Khailisia hanya mampu terdiam, ia tak bisa berbuat apa-apa, walau dadanya terasa sesak.
Saat sampai di bawah, dan pintu lift terbuka. Ada seorang pria berjas di depan lift. Kepalanya menunduk begitu lift terbuka membuat Gemma dan Garnia keheranan.
"Anda sudah siap, Nona?" tanya lelaki itu yang tak lain adalah Riyadh, sekretaris dan supir Khalisia. Ia sengaja menunggu di depan lift karena tau bahwa Khalisia sudah turun.
Khalisia turun dari lift, ia langsung berjalan menghampiri Riyadh. "Apa aku bisa pergi ke kampus sebentar untuk mengantarkan tugasku?" tanya Khalisia sambil berjalan berdampingan dengan Riyadh. Sedangkan Gemma dan Garnia berjalan di belakang Khalisia.
"Saya sudah membuat janji dengan dosen anda, jadi saya akan mengurusnya. Kita harus segera pergi," jawab Riyadh. Membuat Khalisia mengangguk.
"Lihat-lihat, sok keren sekali dia." Gemma membatin saat melihat Khalisia berjalan di depannya. "Shitt, dia memang keren," batin Gemma lagi ketika Khalisia dan Riyadh membicarakan soal perusahaan.
Saat sampai di luar, Riyadh langsung membukakan pintu mobil untuk Khalisia, sedangkan Gemma tanpa sadar terus menatap mobil yang di tumpangi Khalisia
"Gemm!" panggil Garnia membuat Gemma tersadar.
"Ah, maaf," jawab Gemma.
"Maaf, aku tak bisa ikut dengan mobilmu. Kalau begitu aku permisi." Setelah mengatakan itu, Garnia pun pergi meninggalkan Gemma.
•••
Waktu menunjukan pukul 07 malam, Khalisia yang sedang mengerjakan tugasnya di meja makan menoleh, ia tau bahwa suaminya lah yang pulang. Ia sengaja membawa laptopnya ke meja makan sambil menunggu pesanan makanannya datang.
"Sedang apa kau?" tanya Gemma dengan nada ketus. Rupanya ia masih kesal karena kejadian tadi pagi, kejadian saat Khalisia berhasil mematahkan kesombongannya.
Khalisia menoleh sejenak, lalu kembali pada laptopnya membuat Gemma memincingkan matanya karena reaksi Khalisia.
"Aku sedang mengerjakan tugas," jawabnya dengan santai.
"Buatkan aku makanan!" Bentak Gemma. Ia membentak Khalisia tanpa sadar karena kesal dengan reaksi Khalisia.
Khalisia meremas tangannya, saat Gemma membentaknya. Ini pertama kalinya, ia bentak oleh orang lain. Rasanya sungguh sakit dan membuatnya sesak, sehingga rasanya, dia kesulitan untuk bernapas.
Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya kala ia mendengar bentakan Gemma. Rasanya, ini lebih menyakitkan dari apa pun. Tapi, tak lama ia menghapus kembali air matanya kala suara bell berbunyi. Ia yakin, itu adalah kurir yang mengantar makanannya.
Gemma keluar dari kamar dengan kondisi segar karena habis ia baru saja selesai mandi. Lalu, ia berjalan ke arah meja makan dan ternyata sudah ada piring yang tersaji berisi makanan di meja makan.
Yang membuat Gemma heran, Khalisia sudah tak ada di meja makan, sedangkan ada satu box kecil makanan yang belum terbuka, Gemma yakin, itu adala milik Khalisia. Tapi kenapa Khalisia tak ada.
"Memangnya apa perduliku," ucapnya dalam hati. Ia pun meneruskan langkahnya dan mendudukan diri meja makan, lalu menyantap makanannya.
Setelah menyiapkan makanan untuk Gemma, Khalisia memilih untuk pergi ke kamarnya tanpa menyentuh makanannya. Padahal, ia sudah sangat lapar.
Ia mendudukan dirinya di ranjang kemudia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Rasa lapar berganti dengan rasa sesak yang sungguh luar biasa. Ia tak menyangka bahwa ia akan mendapat bentakan dari suaminya. Ia juga sudah menyiapkan mentalnya, dan sudah memerkirakan hal ini akan terjadi. Tapi ia tak menyangka, rasanya akan semenyakitkan ini.
Khalisia membaringkan tubuhnya, ia meringkuk. Ia rindu dengan keluarganya, keluarga yang hangat yang selalu membuatnya nyaman. Tapi, Khalisia sadar, bahwa ini sudah menjadi keinginannya Ini sudah menjadi pilihannya dan ia harus bertanggung jawab dengan keputusannya.
Beberapa hari kemudian.
Gemma sedang asik memainkan ps, ia berteriak memanggil Khalisia. Namun, Khalisia sama sekali tak menjawab membuat Gemma berdecih.
Sejak saat Gemma membentak Khalisia beberapa hari lalu, Khalisia berubah total. Ia sama sekali tak menegur Gemma. Bahkan, ia tak pernah menggubris ucapan Gemma dan ia tak pernah menuruti printah Gemma yang selalu meminta di siapkan makanan atau minuman.
Khalisia hanya sedang menenangkan dirinya dan menguatkan hatinya. Karena faktanya, bentakan Gemma, masih terasa dan masih membekas. Hingga ia butuh waktu untuk menenangkan diri.
Tak lama, pintu kamar Khalisia terbuka, membuat Gemma menarik sudut bibirnya tanpa sadar. Namun, tak lama keningnya mengkerut dalam saat Khalisia melewatinya begitu saja. Ia pikir, Khalisia keluar kamar untuk menghampirinya. Tapi, nyatanya ia salah.
Khalisia berjalan ke dapur, ia memanaskan air untuk meminum susu. Ia berdiri di depan kompor menunggu sampai air mendidih.
Tak lama terdengar suara derap langkah dan Khalisia tau, bahwa itu adalah suara Gemma.
"Hei, buatkan aku ramen!" titah Gemma. Namun, Khalisia tak menjawab. Bahkan sama sekali tak menoleh. Membuat Gemma kesal
"Apa kau tuli, Hah!" teriak Gemma yang kesal karena Khalisia tak menoleh padanya dan menggubris dirinya.
Tanpa pikir panjang, Gemma maju ke arah Khalisia dan menarik tangan Khalisia, hingga panci yang sedang di pegang oleh Khalisia terjatuh dan air panas mengenai kakinya.
"Ahhhhh!" teriak Khalisia. Saat air panas mengenai kakinya. Mata Gemma membulat, ia tak tau bahwa Khalisia sedang memegang panci berisi air panas.
Khalisia berjingkrak, kakinya begitu perih. Ia berjalan tertatih-tatih ke meja makan, lalu mengambil tisyu untuk mengelap kakinya. Sedangkan Gemma masih terdiam di tempat, ia tak tau harus berbuat apa.
Tak lama, ia mendengar Khalisia terisak.Gemma pun langsung menoleh. Ia langsung menghampiri Khalisia yang masih terlihat kesakitan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Gemma dengan polosnya membuat Khalisia ingin mengencangkan tangisnya.
Tak ada jawaban dari Khalisia, Gemma pun berjalan mengambil salep lalu kembali lagi, kemudian berjongkok dan mengambil kaki Khalisia.
"Kau merepotkan sekali!" cibir Gemma. Seketika membuat Khalisia menghentikan isakannya. Hatinya kembali berdenyut nyeri kala ia mendengar ucapan Gemma. Padahal, jelas-jelas Gemma yang bersalah.
Tanpa pikir panjang, Khalisia langsung menarik kakinya dari tangan Gemma dan bangkit dari duduknya meninggalkan Gemma. Membuat emosi Gemma meledak-ledak karena untuk kesekian kalinya, Khalisia mengacuhkannya.
Saat Khalisia berjalan dengan tertatih, Gemma bangkit dari berjongkoknya. Ia berjalan ke arah Khalisia, lalu menarik tangan Khalisia hingga Khalisia menoleh ke arahnya.
"Sebernarnya apa maumu?" bentak Gemma. Membuat seketika tubuh Khalisia bergidik. Untuk ke sekian kalinya, hatinya merasa sakit bukan main saat mendengar bentakan Gemma.
"Ka-ka," jawab Khalisia. Tanganya gemetar, kakinya melemas bahkan ia merasa, tak sanggup lagi menahan tubuhnya.
"Ada apa denganmu anak manja!" Teriak Gemma. Emosinya semakin bertambah saat melihat tangisan Khalisia. "Apa kau tidak laku, Hah! apa tak ada lelaki lain selain aku. Hadirmu membuatku susah. Kenapa kau aku harus menjadi bagian dari obsesimu, kenapa kau begitu terobsesi untuk menikah denganku. Apa kau tak bisa membeli saja lelaki lain, Hah!" teriak Gemma lagi, ia berteriak lebih keras dari sebelumnnya, ia menggoncang-goncangkan tubuh Khalisia dengan keras, membuat Khalisia meringis, dan kesakitan. Tapi, Gemma sama sekali tak perdulk. Ia mengeluarkan uneg-unegnya, karena ia di paksa harus menikahi Khalisia.
"Apa sebegitu tak ada harga dirinya kah kau, Khalisia?" tanya Gemma. Suaranya mulai melembut. Namun, dia menekankan suaranya. "Haruskah kau menjadi bebanku. Haruskah kau membuatku menderita karena obsesimu, haruskah ...." Gemma menghentikan ucapannya. Ia semakin meremas bahu Khalisia
Jujur saja, ia benar-benar membenci Khalisia, ia belum siap menikah, ia masih ingin menikmati hidup bebas, ia masih ingin mengejar Garnia. Tapi, tiba-tiba, ada seorang gadis yang merengek untuk dinikahi olehnya. Setelah menikah dengan Khalisia, Gemma berusaha meredam gejolaknya. Tapi saat Khalisia mengacuhkannya, Gemma benar-benar tak sanggup lagi untuk menahan gejolaknya.
"Ka-kaka," lirih Khalisia lagi. Mendengar ucapan Gemma, hati Khalisia tercabik-cabik. Tubuhnya benar-bemar melemas, ucapan Gemma barusan membuatnya hancur-sehancurnya. Apalagi Gemma menghinanya tak ada harga diri.
Khalisia tau, Khalisia memang terlalu memaksakan kehendaknya, tapi ia tak menyangka akan mendengarkan ucapan yang sangat menyakitkan dari Gemma
Mendengar suara Khalisia, tiba-tiba Gemma mengangkat kepalanya.
"Kau sudah menghancurkan hidupku, Khalisia. Ini kan yang kau inginkan bukan? menjadi istriku. Maka kau harus menerima konsukuensinya." Setelah mengatakan itu, Gemma menarik tangan Khalisia dengan kasar, ia tak memerdulikan teriakan Khalisia yang meronta dan memohohon maaf padanya.
Ia membuka kamar Khalisia, lalu menghempaskan Khalisia ke ranjang, kemudian ... ia menindih tubuh Khalisia.
Dan malam ini, terjadi hal yang sangat menyakitkan bagi Khalisia. Ia kehilangan mahkota yang selama ini ia jaga. Walaupun suaminya yang mengambil mahkotanya, tapi tetap begitu menyakitkan, dan begitu menusuk. Khalisia memang berharap Gemma menyentuhnya seperti pasangan suami istri pada umumnya. Tapi tidak dengan cara paksa seperti ini.
Gemma melakukannya dengan kasar, tak ada kelembutan sedikitpun. Ia tak memerdulikan Khalisia yang meronta, menjerit bahkan mengiba. Gemma gelap mata, nafsu sudah menguasainya. Ia menutup wajah Khalisia dengan bantal dan menjeritkan nama Garnia.
Hancur dan semuanya menggelap.
Bab 8 Terluka
"Garnia … Garnia …." Napas Khalisia tercekat, Gemma menekan bantal dengan sangat keras hingga Khalisia kesusahan bernapas. Seluruh tubuhnya remuk, Gemma benar-benar seperti binatang buas. Di tengah rasa sakitnya dan rasa sesaknya, Khalisia hanya mampu mendengar Gemma meneriakan nama wanita lain.
Khaisia kehabisan tenaga, ia berhenti meronta, tangisnya luruh. ia tak bisa melawan lagi, napasnya semakin tersendat-sendat dan ia pasrah jika memang hidupnya berakhir di tangan suaminya.
"Garnia …." Jerit Gemma saat ia sudah sampai di puncaknya. Napasnya masih terengah. Ia langsung menyingkirkan bantal yang menutupi wajah Khalisia.
Mata Gemma membulat, kesadarannya kembali bangkit saat melihat Khalisia tak sadarkan diri.
Gemma melepaskan penyatuan tubuhnya, "Shittt!" Umpat Gemma. ia mengacak rambutnya dengan kasar karena apa yang dia lakukan pada Khalisia.
Secepat kilat, Gemma memakai celananya lagi. Dengan cepat, ia berjalan ke arah Khalisia. "Khalisia … Khalisia!" Gemma menepuk-nepuk pipi Khalisia. Namun, Khalisia tak membuka matanya.
Gemma di landa kepanikan, ia mundar-mandir di depan ranjang, wajahnya memerah. Otaknya berusaha berpikir, bagaimana menghadapi hal di depannya.
Gemma menghela napas lalu menghembuskannya, ia berusaha setenang mungkin, agar bisa mengendalikan situasi yang sedang terjadi.
Saat sudah tenang, Gemma berjalan keluar kamar Khalisia, lalu kembali ke kamarnya. Ia langsung mencari-cari kotak medis.
Ia membereskan kondisi Khalisia, membersihkan semuanya dan mengganti pakaian Khalisia, lalu ia memasangkan infus pada tangan Khalisia.
Setelah selesai, Gemma mendudukan diri di sebelah tubuh Khalisia. Ia menundukan dirinya dan mengusap wajah frustasi.
Bagiamana ia akan menghadapi Khalisia, menghadapi keluarganya dan menghadapi mertuanya. Gemma ketakutan, ia merutuki dirinya sendiri. Karena nafsu, ia tega melakukan hal yang sangat keji. Lalu, ia melihat kedua tangannya, tangan yang ia pakai untuk membekap wajah Khalisia dengan bantal.
•••
Khalisia mengerjap. Ia membuka matanya. Untuk sekejap, otak Khalisia kosong, ia tak mampu mencerna apa yang terjadi. Ia hanya merasakan, tubuhnya sangat sakit, dan begitu remuk.
Tak lama, kilatan kejadian yang barusan menimpanya menghantam otaknya. "Daddy ...." Lirihnya. Khalisia menangis tergugu. Saat ini, ia hanya teringat sang ayah.
Khalisia kalah, rasanya ia tak sanggup lagi untuk berjuang. Harapannya musnah saat Gemma menyiksanya batinnya, dan hampir membunuhnya.
Khalisia menangis tergugu, ia melihat ke arah samping tenyata di tangannya terpasang infusan. Ia pun mencabut infusan itu dengan paksa dan lalu bangkit dari berbaringnya.
"Badjingan! Brengsek! Biadab!" Khalisia menjerit, ia melemparkan bantal dan barang-barang yang berada di sekitarnya. Khalisia meraung, ia menjerit-jerit melampiaskan amarahnya.
Khalisia menekuk kakinya, ia memejamkan matanya dan menutup kupingnya saat kilasan-kilasan teriakan Gemma memanggil nama wanita lain terpatri di otaknya.
Rasanya, ia ingin membentur-benturkan dan meledakan kepalanya saat kilatan-kilatan kelakuan bejad Gemma menari-nari di otaknya.
Tubuhnya remuk, hatinya lebih remuk. Gemma benar-benar seperti binatang, saat Gemma berusaha mengambil mahkota Khalisia dengan kasar, Khalisia meronta, meminta maaf dan mengiba. Tapi itu tak meluluhkan hati Gemma, ia malah menarik bantal dan membekapkannya ke wajah Khalisia, semakin kuat Khalisia meronta, semakin kuat pula Gemma menekankan bantalnya.
"Dadddyyyyyy!" Khalisia menjerit histeris. Gemma benar-benar meluluntahkan semuanya. Menghacurkan hatinya berkeping-keping dan meremukan tubuhnya hingga rasanya ia tak mampu lagi untuk berdiri.
•••
Gemma menyenderkan tubuhnya kebelakang pintu kamar Khalisia. Matanya berkaca-kaca saat mendengar jeritan dan tangisan Khalisia.
Saat Khalisia mengerjap dan terlihat akan membuka matanya, Gemma segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar.
Ia masih bingung menghadapi Khalisia, ia masih bingung bagaimana meminta maaf Khalisia. Hingga ia memutuskan untuk langsung keluar agar Khalisia tak terkejut dengan kehadirannya.
Tubuh Gemma merosot kebawah, ia menekuk kakinya dan menyembunyikan kepalanya di kedua lututnya. Lelaki 32 tahun itu terisak. Ia sungguh tak menyangka bahwa dia akan melakukan hal kejih pada wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Sebenci-bencinya Gemma pada Khalisia dia sama sekali tak berniat untuk berlaku demikian, itu semua benar-benar di luar prediksinya. ia mengutuk dirinya yang khilaf dan gelap mata hingga melukai Khalisia.
Sekarang, langkah apa yang dia akan ambil, melihat dunia saja ia tak berani. Rasanya, ia begitu malu pada dirinya sendiri dan pada dunia. Hingga ia merasa, ia tak sanggup untuk menghadapi siapa pun lagi.
•••
Waktu menunjukan pukul 02 pagi, Khalisia meringkuk, ia menatap kosong kedepan. Rasanya, otak Khalisia mengambang, rasa sakit rasa perih semua berkecamuk dalam dada.
"Daddy ...." lirihnya. Di tengah rasa sakitnya. Khalisia hanya mengingat sang ayah. Ia berharap sang ayah datang, memeluknya dan mengusap kepalanya seraya berkata semuanya baik-baik saja.
Tapi harapan hanya tinggal harapan, Ia harus menanggung kesakitan ini seorang diri, mencintai Gemma adalah keinginannya dan menikah dengan Gemma adalah keputusannya. Dan kini, ia harus bertanggung jawab dengan keputusannya, menutup rapat-rapat tentang rasa sakitnya, merahasiakan Iukanya agar dunia tak menertawakan dirinya yang sudah salah dalam mengambil keputusan.
Khalisia bangkit dari berbaringnya, ia turun dari ranjang. Dengan berderai air mata, Khalisia menatap seprei yang terdapat bercak darah dan seprei tersebut menjadi saksi, bagaimana Gemma melakukan hal biadab kepadanya.
Semakin lama melihat seprei itu, mata Khalisia semakin memanas, napasnya memburu, amarahnya berkobar hebat.
Ia menarik seprei tersebut lalu membantingnya, "Keparattt!" teriak Khalisia. Emosinya masih membara, hingga ia lupa, bagaiamana rasanya bernapas
Setelah puas berteriak menyalurkan emosinya. Khalisia menatap dirinya di cermin, kemudian tertawa terbahak-bahak sambil berderai air mata.
Tubuhnya luruh ke lantai, ia membentur-benturkan kepalanya ke penyanga ranjang, lalu memukul-mukul dadanya, yang terasa semakin sesak dan menjepit.
Gemma kembali terisak, ia ingin masuk untuk menenangkan Khalisia. Tapi rasanya, ia tak mempunyai keberanian sebesar itu.
Sedari tadi, saat keluar dari kamar Khalisia, Gemma sama sekali tak beranjak, ia tetap berada di depan kamar Khalsia hingga ia bisa mendengar isakan demi isakan Khalisia yang terdengar sangat pilu.
Dengan kaki menekuk, Gemma menyenderkan kepalanya kebelakang, matanya menerawang kelangit-langit. Ia tak bisa berhenti mengeluarkan air mata, kala suara tangis Khalisia terdengar semakin pilu.
Seminggu kemudian.
waktu menunjukan pukul 1 siang, Gemma keluar dari ruangannya dan berjalan dengan lesu, ia berjalan untuk pergi ke kantin.
Sudah satu minggu semenjak kejadian itu, Gemma langsung meninggalkan apartemennya, ia terlalu takut dan malu untuk bertemu Khalisia, hingga ia lebih memilih pergi. Sebelum pergi, ia menempatkan asisten rumah tangga di apartemen untuk melayani Khalisia.
Saat berbelok untuk menuju lift, Gemma melihat Garnia sedang mengobrol dengan seseorang di ujung lorong, mata Gemma membulat saat melihat lawan bicara Garnia yang ternyata adalah sekretaris kakeknya.
Seketika Gemma terpikirkan sesuatu. Mungkinkah kakeknya yang menyuruh Garnia untuk memutuskannya dan menghindarinya.
"Garnia!" panggil Gemma. Seketika Garnia menoleh dan langsung membuat tubuhnya menegang. Sekarang, bagaimana jika Gemma mengetahui semuanya.
Bab 9 Seminggu berlalu, Khalisia masih setia terdiam di kamarnya. Di tengah duka dan luka yang menerjangnya, Khalisia berusaha berpikir jernih dan berusaha untuk tetap waras, walaupun itu sulit.
Karena nyatanya, bayang-bayang mengerikan itu selalu terbayang setiap malam, selama seminggu ini gadis malang itu hanya melamun-melamun dan melamun.
Ia mengabaikan semua panggilan yang masuk ke ponselnya, rasanya ia tak mau berbicara dengan siapa pun. Termasuk keluarganya. 3 hari lalu, Julian datang ke apartemen untuk melihat dirinya, karena Khalisia tak bisa di hubungi.
Khalisia yang belum mau bertemu siapapun, menyuruh asisten rumah tangganya untuk berbohong, mengatakan pada Julian bahwa dirinya sedang pergi ke luar kota.
Julian percaya begitu saja karena menganggap Khalisia pergi dengan Gemma, karena nomer ponsel Gemma pun sama-sama tak bisa di hubungi.
Saat hari ke 4 setelah kejadian naas itu, Khalisia memanggil dokter pribadinya untuk datang ke apartemennya. Karena setiap malam, tubuhnya menggigil, ia merasakan napasnya sesak bukan main.
Seminggu berlalu, Khalisia sudah berpikir matang-matang, tentang keputusan apa yang akan di ambil.
Walaupun ucapan Gemma begitu menyakitkan dan begitu menusuk, tapi Khalisia sadar, semua yang di ucapkan Gemma adalah kebenaran.
Ia yang bersalah di sini. Ia yang terlalu memaksakan kehendaknya, ia yang memaksa Gemma untuk masuk kedalam hidupnya. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri dan ucapan Gemma sebelum kejadian, membuat Khalisia hancur sekalipun semua yang di ucapkan Gemma adalah kebenaran.
Dan saat ini, Khalisia sudah menyadari semuanya. Dia harus mengembalikan semua pada tempatnya. Khalisia harus menepati janjinya pada sang ayah, harus menerima konsukuensi dari keputusannya dan tak mengeluh tentang apa yang terjadi di hidupnya.
Ia harus mengubur semuanya rapat-rapat, lukanya, dukanya dan kesakitan yang dia alami.
Waktu menunjukan pukul 9 pagi. Khalisia terduduk di meja rias, ia memandang wajahnya lekat-lekat, masih terlihat sembab dan kuyu.
Ia mengambil kuas make up dan mulai menyapukannya make up ke seluruh wajahnya hingga wajahnya terlihat segar, walaupun masih ada jejak sedikit sembab.
Setelah selesai, Khalisia membuka laci di depannya, ia mengambil buku nikah miliknya dan milik Gemma.
"Kau, kan, yang ingin menikah. Jadi kau simpan saja buku nikah itu."
Tiba-tiba Khalisia mengingat sekebat ucapan Gemma. Saat selesai ijab qobule, Khalisia memberikan buku nikah milik Gemma, Namun, Gemma menolak dengan sadis, hingga Khalisia menyimpan buku nikah itu seorang diri.
"Kau benar, Kak. Akulah yang terlalu berharap di sini," lirih Khalisia. Obsesinya begitu besar. Hingga menghancurkannya hanya dalam hitungan hari.
Khalisia bangkit dari duduknya, ia mengambil buku nikah dan memasukannya pada tasnya, lalu ia bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar.
"Non, mau pergi, Non?" tanya asisten rumah tangga yang di tugaskan oleh Gemma. Wanita berumur 40 tahun itu memandang Khalisia lekat-lekat. Selama seminggu ini, ia hanya melihat Khalisia sekali saat Khalisia menyuruhnya berbohong pada Julian. Selebihnya, ia hanya melihat punggung Khalisia karena setiap ia mengantarkan makanan ke kamar, Khalisia selalu sedang meringkuk di ranjang
Khalisia menarik sudut bibirnya. Ia tersenyum samar.
"Saya mau pergi, Bi. Saya permisi," pamit Khalisia, ia tak ingin terlalu berbasa-basi hingga ia memutuskan untuk pergi.
•••
"Anda ada masalah, Nona?" tanya Riyadh saat Khalisia masuk kedalam mobilnya. Khalisia sengaja meminta Riyadh mengantarnya karena ia tak ingin menyetir sendiri.
Khalisia tak menjawab, ia menyenderkan kepalanya ke jendela dan memejamkan matanya membuat Riyadh menghela napas.
"Anda yakin ingin pergi ke pengadilan?" tanya Riyad, apa anda tak ingin berunding terlebih dahulu dengan Tuan Julian dan Nyonya Tania?"
Mendengar nama kedua orang tuanya di sebut, Khalisia membuka matanya. Ia langsung menatap Riyadh dengan tatapan tajam.
"Bisakah kau berhenti berbicara!" hardik Khalisia, Riyad menggeleng. Ia sangat mengenal Khalisia, jika Khalisia sudah berbicara dengan nada tinggi, berarti Khalisia sedang tak baik-baik saja.
•••
"Garnia!" panggil Gemma. Dengan mata menyipit, ia maju ke hadapan Garnia.
Tubuh Garnia mengegang, ia langsung menyembunyikan amplop yang di tangannya, amplop yang di berikan oleh sekretaris kakek Gemma.
"Om sedang apa di sini?" tanya Gemma pada Andre, sekretaris kakenya.
"Garnia, saya harap kamu paham apa yang saya bicarakan!" ucap Andre. Andre malah berbicara pada Garnia tanpa menghiraukan pertanyaan Gemma. Membuat Gemma berdecih.
Setelah Garnia mengangguk, Andre langsung pergi dari hadapan Garnia, dan kini Gemma menatap Garnia dengan tatapan menyelidik.
"Ada urusan apa kau bertemu sekretaris kakekku?" tanya Gemma.
"Maaf, Dokter Gemma saya permis!" jawab Garnia, ia tak ingin Gemma tau yang sesungguhnya.
Saat Garnia sudah berbalilk, Gemma menarik paksa amplop yang ada di tangan Garnia, membuat Garnia terperanjat kaget.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Garnia, saat Gemma menarik amplop di tangannya.
"Apa ini?" tanya Gemma. Napasnya memburu saat melihat isi amplop tersebut yang merupakan sebuah cek yang bernominal fantastis dan terdapat tanda tangan sang kakek di cek tersebut.
"Bukan urusanmu!" Seru Garnia, ia mencoba mengambil cek dari tangan Gemma. Namun, secepat kilat, Gemma menyobek cek tersebut, membuat mata Garnia terbelalak.
"Gemma!" bentak Garnia saat Gemma menyobekan cek tersebut.
Napas Gemma memburu, secepat kilat ia menarik tangan Garnia dan berjalan memasuki lift, berniat membawa.
"Sebenarnya ada urusan apa kau dengan kakekku hingga kakekku memberi uang yang sangat besar padamu! Apa ini alasan kau memutuskanku dan kau menjauhiku?" Hardik Gemma saat sampai di atap. Ia menghempaskan tangan Garnia dengan kasar, hingga Garnia meringis. Kemudian dia menangis, bukan karena sakit di tangannya, melainkan karena mengingat cek yang di sobekan oleh Gemma.
"Garnia!" bentak Gemma lagi saat Garnia tak menjawab ucapannya. Ia meremas kedua bahu Garnia dengan keras hingga Garnia refleks menghempaskan tangan Gemma.
"Jawab aku Garnia! apa kakekku yang menyuruhmu untuk meninggalkanku?" tanya Gemma, dengan nada suara yang lebih pelan, namun.ada geraman di dalam nada suaranya.
"Ya, aku meninggalkankanmu karena kakekmu yang menyuruhku!" teriak Garnia sambil terisak
Tubuh Gemma terasa lemas saat mendengar ucapan Garnia, "Apa aku menukarku dengan uang?" tanya Gemma..Ia menatap Garnia dengan tatapan nyalang.
"Aku bisa apa? Kakekmu menjodohkanmu dengan wanita lain, beliau tau aku membutuhkan uang untuk pengobatan kedua orang tuaku. Jadi menurutmu aku harus bagaimana. Haruskah aku mementingkan perasaanku, dan membiarkan orang tuaku kesakitan!" teriak Garnia dengan berderai air mata.
"Kenapa kau tak bicara padaku tentang orang tuamu," jawab Gemma lirih, jantungnya terasa di tikam ribuan jarum saat mendengar ucapan Garnia.
"Mungkin kau bisa membantuku jika, tapi pada akhrinya, aku harus tetap meninggalkanmu." ujarnya. "Sekarang, kau sudah menikah dengannya bukan? lalu kenapa aku harus terus bertahan saat aku sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya?" isak Garnia. Baru saja ia akan berbalik untuk pergi. langkahnya terhenti saat Gemma menarik tangannya dan membawa Garnia kedalam pelukannya.
Saat di dalam pelukan Gemma, tangis Garnia kembali luruh. Ia membalas pelukan Gemma, dan memeluk Gemma begitu erat.
"Maafkan aku, aku berjanji akan selalu berada di sisimu!" ucap Gemma. Membuat Garnia refleks melepaskan pelukannya.
"Tidak, Gemma. Kau sudah menikah dengan wanita lain dan aku tak ingin jadi duri dalam hubungan kalian," ucap Garnia
"Garnia dengarkan aku," ucap Gemma ia memegang bahu Garnia dan menatap Garnia dengan tatapan tegas. "Aku tak mencintainya. Aku tersiksa hidup dengannya. Sangat tersiksa. Kumohon Garnia, bantu aku. Kembalilah padaku," ucap Gemma di sertai dengan tatapan memohon.
"Ge-Gemma ...." Garnia terbata saat melihat irish mata milik Gemma. Ia melihat bahwa lelaki di depannya ini begitu putus asa.
"La-lu, bagaimana kakekmu?" tanya Garnia.
"Bantu aku, Garnia. Bantu aku agar dia mundur, jika dia mundur sendiri. Kakek tak akan bisa berbuat apa-apa," kata Gemma.
"Caranya?"
••••
Beberapa hari kemudian.
"Gemm, apa kau yakin ini akan berhasil?" tanya Garnia saat berada di unit apartemen milik Gemma.
"Aku yakin, ayo masuk!" ajak Gemma. Ia menekan sandi apartemennya dan pintu terbuka.
Gemma menghela napas saat masuk ke apartemen miliknya. Ia berusaha menguatkan dirinya, jujur saja ia masih malu bertemu Khalisia. Tapi, ia tak punya pilihan lain, ia harus mengakhirinya sekarang juga.
Perlahan, Gemma mulai melangkahkan kakinya. terdengar suara dari ruang televisi, dan Gemma yakin bahwa Khalisia sedang menonton.
"Ekhemm!" Gemma berdehem saat sampai di ruang televisi. Khalisia yang sedang menonton menoleh.
"Oh kalian," ucap Khalisia. Tak ada raut terkejut sama sekali di wajah Khalisia, ia seperti sudah menduga kedatangan Gemma.
Bohong jika Khalisia tak hancur, nyatanya ia hancur berkeping-keping saat melihat tak ada sedikitpun raut bersalah di wajah Gemma. Bahkan, Gemma menatapnya dengan tatapan menantang.
"Aku ingin bicara denganmu!" ucap Gemma dengan pongahnya, membuat Khalisia tersenyum getir. Lelaki di depannya benar-benar seperti monster.
"Bicaralah," jawab Khalisia dengan santai. Padahal hati dan jantungnya remuk redam.
"Dia Garnia. Wanita yang aku cintai, dan dia sedang mengandung anakku, jadi bisakah kau mundur dan beritau keluargaku dan keluargamu bahwa kau menyerah. Tolong jangan menghalangi kebahagiaan kami," kata Gemma. Ia menekankan setiap kata demi kata, tangannya menggenggam tangan Garnia dan menyimpan di pahanya agar Khalisia melihatnya.
Tak bisa di bayangkan, betapa hancurnya Khalisia. Setelah semuanya hancur malam itu, lelaki brengsek di depannya ini kembali berulah.
Dengan hati yang benar-benar nyeri. Khalisia tersenyum lembut. Ia mengambil map dari kolong meja dan memberikannya pada Gemma.
"Ini ...." Gemma tak sanggup lagi meneruskan ucapannya saat melihat map yang berada di depannya.
"Ya, itu akta cerai. Aku mempercepat perceraian kita beberapa hari lalu. Kau tak perlu khawatir, biar aku yang mengurus keluargamu dan keluargaku. Aku menjamin, mereka takan pernah bertanya padamu alasan perpisahan kita. Kalau begitu aku permisi," pamit Khalisia. Ia bangkit dari duduknya kemudian mengambil koper dari belakang sofa yang sedari tadi ia sudah ia simpan sebelum datang Gemma dan Garnia.
Gemma terpana saat melihat Khalsia bersikap datar, matanya terus melihat punggung Khalisia yang berjalan semakin menjauh, lamunan Gemma buyar kala Garnia menggoncangkan tubuhnya.
Saat akan keluar dari pintu, sejenak Khalisia menghentikan langkahnya. Ia berbalik untuk yang terakhir kalinya. Tak lama, ia tersenyum getir saat melihat mantan suaminya sedang berciuman dengan Garnia.
Pada akhirnya, obsesinya menghancurkannya hanya dalam beberapa hari. Khalisia datang membawa seribu harapan. Tapi, pulang membawa sejuta luka dan kesakitan.
Khalisia menggeret kopernya dengan lesu. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya. Tapi ia harus menahannya karena ia harus menghadapi sang ayah
Tapi, sekuat-kuatnya Khalisia. Ia tetap manusia biasa, pada akhirnya tangisnya luruh. Ia berjalan ke tangga darurat karena ingin menangis sekencang-kencangnya.
Hal yang paling menyakitkan adalah ketika tak ada rasa bersalah di mata orang yang menyakiti kita. `Khalisia Kim`
Bab 10 duka yang mendalam
"Garnia, kita bisa membuatnya mundur dengan berpura-pura kau mengandung anakku. Dia pasti akan mundur."
Tangis Khalisia semakin pecah saat mengingat ucapan Gemma saat di atap. Faktanya, Khalisia mendengar semuanya.
Setelah dari pengadilan, Khalisia menelpon Tanu untuk berbicara dan kebetulan Tanu juga sedang di rumah sakit dan di ruangan pribadinya, sembari menunggu sekretarisnya berbicara dengan Garnia.
Saat Gemma menarik tangan Garnia dan masuk ke arah lift, Khalisia keluar dari lift sebelahnya hingga dia melihat Gemma menarik tangan Garnia.
Awalnya, Khalisia tak ingin mengikuti Gemma, karena ia hanya berniat bertemu Tanu, untuk memberitahukan bahwa ia akan bercerai dengan Gemma. Tapi, hati kecilnya berontak. Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Khalisia pun menyusul Gemma ke atas.
Dan dia mendengar semua. Semua percakapa Gemma dan Garnia.
Hancur.
Tentu saja Khalisia hancur saat mendengar semua ucapan Gemma, tak bisa di bayangkan bagaimana hancur dan perihnya hati Khalisia. Rasanya, ia bahkan tak sanggup untuk bernapas. Ini menyakitkan, sangat menyakitkan dan ini lebih menyakitkan dari apa pun.
Ia bahkan membatalkan janjinya bertemu Tanu dan memutuskan untuk memberitaunya lewat telpon, karena rasanya, ia begitu malu menghadapi kakek mertuanya.
Khalisia masih menangis tergugu di tangga darurat. Kakinya melemas, bahkan rasanya ia tak sanggup untuk berjalan.
Khalisia, seorang manusia yang tak pernah kekurangan apa pun, kasih sayang, harta dan kehangatan keluarga selalu ia dapatkan sedari kecil.
Tak pernah ada yang memeralukannya dengan buruk, hingga saat Gemma berulah, kehancuran yang Khalisia rasakan tentu berkali-kali lipat.
Khalisia menghela napas dan menghembuskannya berulang-ulang, berusaha meredam gejolak dan menetralkan napasnya. Ia tak ingin pulang ke rumah, tapi ia harus bertanggung jawab atas keputusan yang sudah dia buat di depan sang ayah. Hingga kini, ia harus menghadapi Julian.
Perlahan, Khalisia bangkit dari duduknya. Ie kembali naik ke atas karena ia menyimpan kopernya di dekat pintu tangga darurat.
Saat ia berada di dalam taxi, Khalsia merapikan tampilannya, menyapukan wajahnya dengan makeup tipis agar keluarganya tak melihat bahwa dia baru saja menangis.
Dan disinilah dia berada di depan rumah mewah milik orang tuanya. Khalisia tersenyum getir, beberapa waktu lalu, ia keluar dari rumah ini dengan senyum dan harapan setinggi langit dan sekarang, dia pulang dengan sejuta luka yang sangat mendalam.
Khalisia menghela napas lagi, lalu berjalan ke arah pintu, tangannya terangkat untuk menekan bel tapi tak lama ia menghentikan gerakannya, rasanya ia ragu untuk bertemu keluarganya, termasuk sang ayah.
"Bismillah, kuatkan aku ya Allah," lirih Khalisia. Tangannya kembali terangkat untuk menekan bel.
Sekali
dua kali
tiga kali
Terdengar derap langkah dari dalam, Khalisia memejamkan matanya, lalu terdengar suara handle pintu dan Khalisia Refleks memejamkan matanya
"Khalisia!" panggil Julian saat membuka pintu, ia mengernyit saat melihat sang putri berada di depannya dan memejamkan matanya.
"Ha-hai, Dad!" jawab Khalisia terbata. Sungguh, Khalisia merasa asing saat melihat sang ayah di depannya.
Mata Julian menyipit, ia melihat putrinya lekat-lekat batin Julian mendadak nyeri saat melihat sang putri, padahal ia belum tau apa yang terjadi dengan Khalisia.
"Kau pulang liburan?" tanya Julian saat melihat Khalisia membawa koper.
Khalisia menggeleng. "Da-dad," ucap Khalisia. Pertahanan Khalisia hampir saja runtuh saat Julian menatapnya dengan tatapan menyelidik. Ia ingin sekali menerjang dan memeluk sang ayah seperti biasa, ia ingin menangis di pelukan sang ayah, tapi menatap Julian saja rasanya ia begitu malu.
Julian tersadar, "Ayo masuk!" ajak Julian. Khalisia pun mengangguk. Saat Julian akan menarik lengannya, Khalisia langsung menghindar, membuat tubuh Julian terpaku.
"Khalisia tatap Daddy!" titah Julian, ia mengenal putrinya lebih dari siapa pun di dunia ini. Ia tau, bahwa sang putri sedang menghadapi masalah yang besar.
"Kau mau bicara di sini atau di depan Mommy dan juga yang lain," ucap Julian lagi, Saat Khalisia masih tak mau menatapnya.
Tubuh Khalisia bergetar, ia hanya manusia biasa. Julian adalah cinta pertamanya, tempatnya pulang. Dan saat ini, ia sedang dalam hancur-hancur hingga sekuat apa pun ia menahannya, pada akhirnya ... Pertahananya runtuh.
"Daddy ...." Khalisia berjalan dengan cepat, ia berhambur memeluk sang ayah dan menumpahkan tangisannya.
Batin Julian tercubit saat mendengar tangisan Khalisia, ini pertama kalinyan ia mendengar sang putri menangis begitu pilu.
Julian mengelus punggung putrinya, membiarkan Khalisia tenang.
Julian melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua bahu Khalisia. "Apa ini ada hubungannya dengan suamimu?" tanya Julian. Khalisia berusaha menghentikan tangisnya. Ini yang dia takutkan, pertanyaan dari sang ayah dan menghadapi pertanyaan dari keluarganya
"Da-dadd ...." Jawab Khalisia dengan berderai air mata.
Napas Julian memburu, amarahnya berkobar hebat. Tak perlu mendengar jawaban dari putrinya, dari cara Khalisia menatapnya saja ia bisa tau apa yang terjadi.
"Kau masuklah! Daddy akan memberi perhitungan dengannya," ucap Julian. Amarahnya masih membara, ia benar-benar tak akan melepaskan Gemma.
Mata Khalisia membulat saat sang ayah bicara akan menemui Gemma. Ia langsung menarik tangan Julian sehingga sang ayah kembali berbalik.
"Dad jangan!" pekik Khalisia dengan tubuh bergetar. Ini pertama kalinya melihat wajah sang ayah yang memerah. "Aku dad yang salah. Aku sudah menceraikannya," teriak Khalisia saat melihat sang ayah yang sepertinya tak memerdulikan ucapannya.
"Khalisia!" panggil Tania yang baru datang dari dalam. "Ada apa ini?" tanya Tania, matanya menyipit saat ada koper di dekat Khalisia.
Julian menghela napas, ia mengusap wajah kasar. "Ayo kita bicarakan di dalam," ajak Julian. Tania yang masih bingung hanya mampu melihat Khalisia lekat-lekat.
"Ayo Sayang," ajak Tania. Ia menarik lembut tangan Khalisia yang masih diam mematung.
Saat masuk kedalam rumah, Khalisia terdiam. Dulu, rumah orang tuanya adalah tempat ternyaman. Tapi kini, ia merasa menjadi tamu, sangat asing begitu asing.
"Khalisia ada apa, Sayang?"tanya Tania ketika mereka sudah duduk di sofa. Julian mengedahkan kepalanya. Yang di pikirannya adalah ia akan menemui Gemma dan bertanya tentang apa yang terjadi, hingga putrinya terlihat hancur.
Khalisa yang menunduk langsung mengangkat kepalanya. " Mommy kami ....." Khalisia pun menjelaskan semuanya. Ia berkata keinginan pisah adalah keinginannya sendiri. Dan Gemma sama sekali tak bersalah. Karena sedari awal memang dialah yang terlalu memaksakan kehendakanya.
Mendengar alasan putrinya. Amarah Julian hilang seketika. Ia mengusap wajah kasar, karena memang ia sadar, semua adalah keputusan sang putri yang terlalu memaksakan kehendaknya.
"Lalu kenapa dia tak mengembalikan kau pada Daddy?" tanya Julian setelah Khalisia menyelesaikan ucapannya.
"Aku yang melarangngnya. Aku terlalu malu untuk memintaya mengantarkanku pulang. Jadi kumohon, Dad. Aku tak ingin kau memermanjang ini. Kau benar, Dad. Aku salah dalam melangkah. Dan aku menerima semua konsuekensi dari keputusan yang telah aku ambil. Jadi tolong jangan bertanya padanya, karena menikah dengannya adalah keputusanku dan berpisah dengannya juga adalah keputusanku." Khalisia menjawab Julian dengan tegas. Walaupun batinnya terasa ngilu. Tapi ia tak punya pilihan
Khalisia tak melindungi Gemma sama sekali. Dia sedang berperang dengan luka, dengan kecewa dan dengan rasa malu. Dia sungguh malu, menatap keluarganya. Dulu, dia sesumbar akan bertahan dengan pernikahannya dan dengan percaya diri, dia memaksa sang ayah untuk menikahkannya dengan Gemma. Rasa sombong dan percaya dirinya membuahkan hasil yang sangat menyakitkan.
Dan pilihan apa yang Khalisia punya? Tak ada! Khalisia tak mempunyai pilihan apa-apa, selain harus memendam lukanya seorang diri.
"Kha-khalisia ... Kau tidak apa-apa?" tanya Tania dengan bibir bergetar. Feeling seorang ibu tidak lah salah. 13 hari lalu, putrinya pergi dari rumahnya dengan senyum yang mengembang karena berhasil menikah dengan Gemma. Tapi, hanya dalam waktu 13 hari, senyuman itu berganti dengan tangisan.
Batin Khalisia kembali tercubit saat melihat mata sang ibu berkaca-kaca. Ia memang sangat dekat dengan sang ayah. Tapi, sang ibu pun sama berarti di hidupnya.
"Mommy ... Daddy, aku permisi untuk ke kamarku!" pamit Khalisia. Rasanya ia tak sanggup lagi untuk berhadapan dengan kedua orang tuanya.
•••
Khalisia mengerjap, ia membuka matanya lalu melihat ke arah jam. Ternyata, waktu menunjukan pukul 8 malam. Ternyata, ia sudah tertidur selama dua jam.
Setelah tadi masuk kamar, Khalisia langsung membaringkan dirinya, lalu tanpa sadar ia memejamkan matanya hingga terlelap.
Perutnya terasa lapar, ia pun memutuskan untuk turun ke bawah. Saat ia akan berjalan ke arah lift, ia menghentikan langkahnya, saat berada di depan kamar Mommy dan Daddynya. Pintu kamar mereka terbuka, hingga Khalisia bisa mendengar semuanya.
"Seharusnya sedari dulu kau tegas padanya, Dad. Seharusnya sedari dulu kita melarangnya. Seharusnya sedari dulu kau mengirimnya keluar negri agar dia ...." Tania menghentikan ucapannya karena suaranya berganti dengan tangisan. Hatinya hancur, saat melihat putrinya harus berakhir dengan seperti ini.
"Lalu bagaimana kita akan menghadapi ini, Dad?" lirih Tania lagi. Ia memukul-mukul dada Julian yang sedang memeluknya. Tania menangis tergugu., karena harus melihat kondisi sang putri.
"Ba-bagaimana mungkin dia menjadi janda di usia muda, bagaimana mungkin, Dad!" isak Tania lagi. Ia sungguh takut bahwa sang putri akan kesulitan kedepannya karena setatusnya.
Dunia Khalisia menggelap, saat mendengar ucapan sang ibu. Jantungnya benar-benar seperti di tusuk ribuan jarum saat sang ibu menyinggung tentang statusnya sebagai seorang janda muda. Ia tau, sang ibu mengkhawatirkannya. Tapi di sisi lain, ia merasa bahwa ia telah membuat aib di keluarganya.
Otak Khalisia kosong. Dengan berderai air mata, Khalisia melanjutkan langkahnya untuk turun. Saat turun, Khalisia bukannya pergi ke ruang makan melainkan pergi ke arah pintu.
Sejanak, ia menghentikan langkahnya lalu ia menatap koper yang tadi ia bawa dan masih tersimpan di dekat pintu karena saat naik ke kamarnya, ia tak membawa kopernya.
"Mommy ... Daddy, maafkan aku telah membuat keluarga kita malu. Semoga kalian selalu di berikan kebahagian," lirih Khalisia dengan pelan. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya dan kembali menggeret kopernya kemudian ia keluar dari rumah orang tuanya.
Selamat tinggal semua, Khalisia pergi dengan luka yang dasyat serta bertubi-tubi. Ia takan pernah sanggup untuk tetap tinggal dan menyaksikan kesedihan orang tuanya dan ia takan sanggup untuk menatap semua keluarganya, karena ia sungguh malu dengan apa yang terjadi di hidupnya.
Tangisan, kesedihan, angin malam, cahaya bulan mengiringi langkah Khalisia. Ia berjalan dengan bahu yang bergetar, ini sulit. Tapi, Khalisia harus menghadapi semuanya.
7 tahun kemudian
"Anda yakin akan pergi ke Indonesia besok?" tanya Riyad pada seseorang di depannya yang tak lain adalah Khalisia.
7 tahun berlalu, banyak yang terjadi di hidup Khalisia. Ia berubah total, sangat berubah. Hidup Khalisia menggelap. Ia bahkan jarang tersenyum, atau jarang memberikan senyumannya pada orang lain.
Khalisia sekarang, sangat irit berbicara dan begitu dingin, sangat dingin bahkan mungkin, api saja takan sanggup untuk mencairkan sikap dingin Khalisia. terlalu banyak kesakitan yang terjadi selama 7 tahun ini, hingga mengubah Khalisia.
Khalisia yang sedang berdiri di jendela sambil menatap gedung-gedung di depannya hanya menjawab ucapan Riyad dengan deheman. Tak lama, ia memejamkan matanya karena sinar matahari mengenai wajahnya.
"Tuan Julian dan Nyo ...."
"Sampaikan pada mereka, aku belum siap bertemu siapa pun," jawab Khalisia dengan dinginnya. Membuat Riyad menggeleng. Selama 7 tahun ini, dia mendampingi Khalisia, dan melihat bagaimana Khalisia bangkit dari keterpurukan.
"Baik kalau begitu," Riyad pun keluar dari ruangan Khalisia, dan setelah Riyadh pergi Khalsia berbalik dan berjalan ke kursi kerjanya.
Ia membuka laci lalu mengambil foto. "Sebentar lagi kita akan bertemu, Sayang," ucap Khalisia sambil membelai foto di tangannya, wajah dingin yang ia tampilkan sedari tadi akhirnya berubah menjadi wajah sendu dan terlihat jelas gurat-gurat kesedihan di mata Khalisia.
Keesokan harinya.
Saat turun dari pesawat, Khalisia menghirup dalam-dalam udara indonesia. Negri yang hanya ia datangi setahun sekali. Rasanya ingin menangis dan juga ingin tersenyum secara bersamaan.
Khalisia melanjutkan langkahnya dan berniat pergi ke tempat tujuannya. Tempat yang selalu ia ingin datangi setiap saat.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh menggunakan taxi, akhirnya, Khalisia pun sampai di tempat tujuannya
Ia menatap gerbang di depannya dengan mata berkaca-kaca. Setiap tahun, ia selalu merasakan sesak yang luar biasa ketika menginjakan kakinya di tempat ini, tempat yang menurutnya sangat menyesakkan
Setelah lama terdiam, akhirnya Khalisia pun melanjutkan langkahnya, dia berjalan lebih masuk hingga akhirnya langkahnya terhenti di depan sebuah nisan yang cukup kecil.
Di nisan itu tertulis nama
Afeesya kim binti Gemma syarif rahardja. Bayi mungil yang Khalisia lahirkan 7 tahun silam. Namun, sayang. Afeesya hanya bertahan 3 jam, kemudian bayi tak berdosa itu menghembuskan napas terakhirnya hanya dalam waktu 3 jam setelah di lahirkan oleh Khalisia, sang ibu.
"Assalamualaikum cantik, Mommy datang menemuimu," ucap Khalisia. ia berjongkok mencium nisan sang putri. bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya.
"Apa kau baik-baik saja, Sayang? Apa kau merindukan Mommy? Apa kau ...." Khalisia menghentikan ucapannya, karena suaranya berganti dengan tangisan. Rasanya terlalu perih, dan menusuk.
Tanpa Khalisia sadari, seseorang lelaki memperhatikannya dari jauh. Lelaki itu menatap Khalisia lekat-lekat, kemudian keningnya mengkerut dalam, saat melihat Khalisia ada di sini.
Dan lelaki itu adalah Gemma Raharja, lelaki yang telah membuat Khalisia hancur sehancurnya hancurnya.
Saat ia akan pulang, setelah berjiarah dari makam neneknya. Gemma menghentikan langkahnya saat mendengar suara wanita terisak.
Ia seperti kenal dengan suara isakan itu, hingga ia mengedarkan pandangannya mencari sumber arah suara.
Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Khalisia tak jauh dari tempatnya berdiri. Walaupun ia hanya melihat dari samping, ia tau bahwa itu adalah Khalisia, mantan istrinya.
Tanpa sadar, Gemma maju ke arah Khalisia. ia terus menatap nisan kecil yang di hadapan mantan istrinya. Saat sampai di belakang tubuh Khalisia, matanya langsung tertuju pada nama yang tertera di nisan tersebut.
"Ge-gemma raharja," ucapnya dengan terbata-bata. Otaknya mendadak tak bisa berpikir jernih, saat melihat namanya menjadi wali di batu nisan. Tubuhnya limbung, bahkan kakinya melemas saat menyadari sesuatu.
Khalisia yang mendengar suara di belakangnya langsung menoleh. ia refleks bangkit dari duduknya. Ia tak bisa menyembunyikan ekpresi terkejutanya saat melihat mantan suaminya ada di depannya.
"Kha-Khalisia a apakah it ..." Gemma tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya, matanya terus menatap nisan yang terpangpang namanya.
Khalisia tak menjawab, ia masih bingung menghadapi mantan suaminya. Ia tak menyangka dan tak mengira bahwa mereka akan di pertemukan kembali, bahkan di tempat yang tak terduga, di depan nisan anak mereka.
•••
Suasana caffe tak terlalu ramai, beberapa pengunjung ada yang datang dan juga pergi, di dalam caffe itu sepasang insan saling terdiam. Tak tau ingin membicarakan apa, tak tau ingin membahas dari mana, tak tau cara memulai apa yang akan mereka bicarakan.
Bagi khalisia, pertemuannya dengan Gemma sama sekali tak ada dalam bayangnya. Sedangkan bagi Gemma, ia masih tak percaya melihat nisan yang ternyata adalah anaknya.
Saat tadi berada di kuburan, secara refleks Gemma mengajak Khalisia berbicara. Khalisia menyetujuinya, ia hanya ingin meluruskan apa yang terjadi.
"Kha-khalisia ...." Panggil Gemma lirih. Rasanya, ia tak mampu memandang wanita yang berada di depannya ini.
"Umurnya hanya bertahan selama 3 jam," ucap Khalisia tiba-tiba. Matanya sudah berkaca-kaca saat berbicara tentang kematian anaknya. "Saat itu, aku mengkonsumsi obat anti depresan dan obat keras lainnya. Aku tak sadar sedang mengandung hingga obat yang aku minum mempengaruhi kandunganku." Khalisia meraup oksigen sebanyak-banyaknya, jantungnya terasa di remas. Saat mengingat detik-detik menyakitkan itu terjadi.
"Ma-maafkan aku Khalisia ak ...." Gemma tak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Napasnya terasa tercekat, ia memandang Khalisia dengan tatapan sendu. Sama seperti Khalisia. 7 tahun berlalu, Gemma berubah 18 derajat.
Khalisia tersenyum ke arah Gemma. Untuk pertama kalinya, ia tersenyum pada orang lain tanpa terpaksa. Ia tak ingin kembali berperang dengan batinnya, dan ia tak mau kejadian dulu terulang, kejadian di mana ia melakukan hal yang sangat mengerikan.
"Dia sangat cantik tapi wajahnya mirip sepertimu," ucap Khailisia seraya tersenyum membuat jantung Gemma serasa di tikam ribuan jarum.
"Khalisia ...." Gemma tak mampu lagi mengatakan apa pun. Selain hanya bisa memanggil nama Khalisia. Bahkan ia masih terasa bermimpi bertemu mantan istrinya, setelah sekian lama.
"Tak perlu merasa bersalah, karena namanya sudah tertulis di batu nisan," ucap Khalisia. Wajah yang tadinya sendu berubah menjadi dingin dan datar "Kalau begitu aku permisi," pamitnya. Ia rasa ia takan sanggup untuk terus berada di hadapan mantan suaminya.
Setelah ia keluar dari caffe, ia langsung menaiki taxi untuk pergi ke bandara. Ia merogoh tasnya, lalu ia mengambil botol obat mengeluarkannya dan meminum obat tersebut. Obat yang menemaninya selama 5 tahun setelah kejadian mengerikan itu terjadi.
••••
Napas Gemma tercekat, dalam tidurnya, ia kesulitan bernapas. keringat membasahi seluruh tubuhnya. Tak lama ia membuka matanya kemudian langsung bangkit dari berbaringnya.
Ia menghirup dalam-dalam oksigen, mencoba menguasai diri. Waktu menunjukan pukul 7 pagi, ia mengusap wajah kasar. Lalu bangkit dari berbaringnya, kemudian ia berjalan ke kamaar mandi.
•••
Mata Gemma tak lepas memandang nisan di depannya. Ia terduduk di tanah, lalu mengusap nisan itu beberapa kali. Ia tak mampu berucap, matanya hanya mampu menatap nisan itu tanpa berkedip.
Ia pikir, keputusan yang ia buat 7 tahun silam sudah benar. Tapi nyatanya ....
"Gemma!" Panggil seseorang dari arah belakang yang tak lain adalah Julian, tubuh Gemma terperanjat, ia langsung bangkit dari duduknya
Dan kini, sepasang mantan mertua dan menantu itu saling memandang, Gemma memandang mantan mertuanya dengan tatapan takut, sedangkan Julian memadang Gemma dengan rasa penasaran.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian 7 tahun lalu, saat Khalisia pergi dan kau juga menghilang?" Tanya Julian. Saat tadi bertemu di makam, Julian langsung mengajak Gemma berbicara di caffe yang sama, caffe di mana ia dan Khalisia berbicara kemarin.
Julian benar-benar tak bisa menahan rasa penasarannya, putrinya sudah sangat berubah, ia yakin ada alasan tertentu di balik perpisahan mereka, karena mustahil Khalisia berubah jika hanya karena alasan yang di ucapkan saat dulu.
"O-om ...." Dengan terbata-bata, Gemma pun menjelaskan semua. Termasuk hal bejad yang ia lakukan pada Khalisia. Walaupun tak secara rinci. Tapi penjelasan Gemma mampu membuat amarah Julian berkobar.
"Brengsek!" Teriak Julian. Ia langsung menendang meja, hingga Gemma terjungkal kebelakang. Amarah berkobar hebat di dadanya. Ia tak menyangka bahwa putrinya mengalami hal yang sangat mengerikan.
Julian bangkit dari duduknya, ia mengambil kursi dan menghantamkannya pada tubuh Gemma. Lalu ia berjongkok dan menghajar wajah Gemma secara membabi buta, membuat semua pengunjung caffe di landa kepanikan.
"Gara-garamu putriku berubah! Gara-garamu kami kehilangan cucu kami dan .... '" Julian berteriak dengan lantang, tangannya tak berhenti untuk menghajar Gemma. Sedangkan Gemma hanya meringis, ia sama sekali tak berniat melawan.
"Arhhhhhhhhh!" Teriak Julian saat pihak keamanan memisahkannya. Amarahnya masih berkobar hebat. Rasanya, ia ingin sekali membunuh lelaki yang menyakiti putrinya.
•••
Beberapa hari kemudian ...
"Untuk apa kau memanggilku kemari?" Tanya Stevia. Rahangnya mengeras, ia ingin sekali menghajar lelaki yang berada di depannya ini dan Lelaki itu adalah Gemma.
Gemma tak bisa menahan rasa penasarannya, setelah Julian menghajarnya beberapa waktu lalu, sang kakek pun ikut menghajarnya dan mengatakan hal yang membuatnya benar-benar terkejut.
Tanu sama seperti Julian, ia sama sekali tak tau apa yang terjadi, karena saat ia akan bertanya pada Gemma, cucunya sudah menghilang. ia tau karena Julian yang memberitau padanya, dan tentu saja itu membuat Tanu murka dan memanggil Gemma yang baru beberapa minggu ini kembali ke indonesia
Tubuh Gemma remuk, wajahnya membengkak. Tapi ia tak bisa menahan diri lagi dan segera menghubungi Stevia.
"Se-sebenarnya apa yang terjadi dengan Khalisia?" Tanya Gemma dengan menunduk. Membuat emosi Stevia meradang. Ia mengambil gelas di depannya dan langsung menyiram wajah Gemma.
"Kau masih berani bertanya, Hah!" Teriak Stevia
"Karena mu, gadis seceria adikku harus masuk rumah sakit jiwa ... Dia menjauhi kami. Bahkan dia ...." Stevia tak sanggup lagi menerusakan ucapannya. Tangis wanita itu luruh saat mengingat betapa hancurnya hidup adiknya. Khalisia sempat beberapa kali mencoba bunuh diri dan ia juga melakukan hal yang benar-benar membuat batin siapa saja teriris jika melihatnya.
Gemma menutup mulut. "Ru-rumah sakit jiwaa ...."