
Setelah keluar dari ruangan Andreas, Gabby menyandarkan tubuhnya ke pintu. Ia mengadakan kepalanya ke atas, agar tangisnya tidak jatuh.
Bohong jika Gabby tidak shock, bohong jika Gabby tidak terkejut, dan bohong jika Gaby tenang-tenang saja. Faktanya, tidak begitu.
Ia takut, ia sedih, ia putus asa. Tapi seperti biasa, Gabby selalu bisa menyimpan perasaannya tersendiri dan tidak pernah menunjukkan lewat ekspresi wajahnya.
Keemarin-kemarin, saat meresakan gejalanya, dia hanya menebak-nebak bahwa ia mempunyai penyikit Leukimi, dan ia mempunyai harapan bahwa dugaannya salah.
Tapi sekarang, setelah melihat hasil tes miliknya, dan didiagnosa menderita leukimia. Rasanya dunia Gabby hancur berkeping-keping, dunianya seakan berhenti berputar dan dunianya seperti menggelap, tidak ada cahaya sedikitpun. Mungkin jika tidak ada Laura dan Naura, Gabby tidak akan sekuat ini.
Perlahan, Gabby menegakkan tubuhnya. kemudian berjalan ke arah ruangannya. Saat ia dekat dengan ruangannya, Gabby menghentikan langkahnya, ketika melihat Greey ada di depan ruangannya.
Entah kenapa, Gabby tidak bisa menolak, setiap Greey ingin mengajak Laura dan Naura. padahal setiap Greey mengirim pesan untuk meminta izin dan mengajak Laura dan Naura, Gaby selalu mewanti-wanti dan selalu menyuruh kedua putrinya menolak dan berbohong agar Greey tidak menjemput mereka.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Naura dan Laura malah semangat menunggu Grey untuk bertemu Nael. Sebab mereka akan bertemu Nael jika Greey yang mengajaknya. jika tidak, mereka tidak akan bisa bertemu dengan Nael.
karena Gabby tidak pernah mau mengantarkan mereka pada sang ayah, dan mereka tahu sopir dan pengasuh yang biasa mengantar mereka ke sekolah dilarang oleh sang ibu Untuk mengantarkan mereka alhasil mereka hanya bisa menunggu gerai untuk menjemput mereka.
Begitupun dengan Nael, ia juga tak pernah menjemput kedua putrinya.
“Tuan, Greey!” Panggil Gabby ketika Ga by berada di depan ruangannya. Grey yang sedang memegang ponsel menoleh.
“tapi maaf, Tuan.Sepertinya Laura dan Naura sedang tidak enak badan,” dusta Gabby. Ia tidak ingin Nael memperlakukan kedua putrinya dengan buruk di hadapan orang-orang.
“kakek!” tiba-tiba terdengar pintu terbuka, ternyata naura sudah terlebih dulu terbangun. Ia keluar saat mendengar suara Greey.
Gabby memejamkan matanya, ketika melihat Naura keluar. Sedari tadi, Naura yang paling ingin bertemu dengan Nael, dan, ia yakin putrinya tidak akan menolak jika diajak oleh Greey.
“ Naura, Apakah kau tidak enak badan?” tanya Grey. Naura menggeleng. ”Tidak, aku tidak apa-apa,” kata Naura lagi. Seketika Gabby menghela nafas. Lalu, ia menatap Greey.
“Naura, apa kau mau ikut bersama kakek?” tanya Grey.
“Kakek, apa kita akan bertemu Daddy?” tanya Naura lagi dengan wajah berbinar. Matanya menatap Greey dengan penuh harap.
“Tentu saja, kita akan bertemu Daddy dan makan malam bersama,” kata Grey lagi.
“Oke, Ayo kita pergi. Aku akan membangunkan Laura terlebih dahulu.” Dengan riang, gadis kecil itu pun berbalik dan masuk kedalam ruangan ibunya, untuk membangunkan Laura.
••••
Gabby membereskan berkas-berkas di meja kerjanya. Ada beberapa dokumen yang ia harus bawa untuk pergi ke Jepang. Ya, Gabby memutuskan untuk pindah ke Jepang bersama kedua putrinya dan akan menetap di sana. Ia juga akan jujur tentang penyakit yang di deritanya pada keluarganya.