Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Berbicara


Tubuh Ayana diam mematung, matanya membulat. Ia menatap Raymond dengan tatapan terkejut. Raymond akan membawanya ke Altar? Bagaimana mungkin lelaki gila ini mengajaknya untuk menikah.


“Tuan, apa Anda bercanda?” tanya Ayana, bahkan ia mengguncang-guncangkan tangan Raymond, sedangkan tatapan Raymond begitu lurus ke depan.


“Aku serius. Aku sama sekali tidak bercanda,” jawab Raymond membuat tubuh Ayana semakin bergidik. Ayana diam mematung, ia bahkan tidak berani lagi menetap Raymond. Ia sungguh takut dengan ancaman Raymond.


Bagaimana mungkin Raymond mengajaknya ke Altar, sedangkan diantara mereka belum ada pembicaraan apapun. Bahkan mereka sama sekali tidak berpacaran atau mereka juga bukan sepasang kekasih. Lalu bagaimana ia dan Raymond akan melangkah ke jenjang yang lebih jauh.


Saat Ayana tidak menjawab lagi, Raymond menoleh sekilas, kemudian menarik sudut bibirnya. Saat melihat wajah Ayana yang tegang. Ia pun memajukan mobilnya dengan cepat menuju ke apartemennya.


Sebagai seorang lelaki dewasa, tentu saja ia tidak mungkin mengajak Ayana sembarangan ke Altar, ia harus bertanya terlebih dahulu pada Ayana,.ia harus meminta restu ayah Ayana walaupun sekarang ayah Ayana ada di rumah sakit jiwa. Ia juga harus membicarakan hal lain lain sebelum mereka mengikat janji pernikahan di hadapan Tuhan


“Turun!” ucap Raymond yang menyadarkan Ayana dari lamunannya, Ayana melihat kesana kemari, ternyata ini bukan di gereja melainkan di basement apartemen.


“Tuan, kita tidak jadi ke gereja?” tanya Ayana dengan polosnya.


“Kau ingin pergi sekarang? kau yakin?” tanya Raymond seketika Ayana menggeleng.


“Tidak ... tidak, bukan begitu maksudku”


“Ayo turun!” balas Ayana dengan panik. Karena masih takut dengan Raymond, ia pun turun tanpa bertanya sepatah kata pun lagi dan akhirnya mereka pun berjalan ke arah lift untuk naik ke unit apartemen mereka.


Sebenarnya Raymond sudah curiga saat Ayana mengatakan bertemu temannya, tapi karena seingat Raymond Ayana tidak mempunyai teman siapapun, Raymond menjadi curiga, dan ia memutuskan untuk mengikuti Ayana


Saat sampai di restoran, ia melihat mobil Jordan terparkir, hingga itu sebabnya ia bisa mengetahui Ayana bertemu dengan Jordan.


Saat sudah meminum satu kaleng bir, Raymond langsung berjalan ke arah sofa, sedangkan Ayana masih berdiri di dekat televisi. Sejujurnya ia bingung harus bagaimana, ada rasa takut dan rasa aneh saat melihat Raymond saat ini, dan entah kenapa Raymond bersikap demikian.


“Kau akan terus diam di situ?” tanya Raymond saat Ayana masih berdiri, membuat Ayana mengerjap, lalu menoleh ke arah Raymond.


Ayana pun langsung berjalan arah sofa, lalu mendudukkan dirinya sofa.


”Siapa yang menyuruhmu duduk di sana?” hardik Raymond lagi, membuat Ayana langsung menoleh ke arah Raymond. Secepat kilat, Ayana pun bangkit, lalu kembali berdiri dan menunduk.


“Kemari!” Raymond menepuk pahanya, membuat Ayana membulatkan matanya.


“Apa kau tidak mendengar?” tanya Raymond lagi membuat Ayana langsung melihat ke arah Raymond. Dada Ayana rasanya berdesir, saat melihat Raymond membuka dua kancing kemejanya, di mata Ayana saat ini Raymond begitu seksi. Namun tak lama, Ayana menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku hitung sampai 3, jika kau tidak kemari maka ....”


Secepat kilat, Ayana pun langsung berlari ke arah Raymond lalu mendudukkan dirinya di pangkuan Raymond.