
“di mana Joanna?” tanya Jordan pada pelayan tersebut.
“Nona Joana ....” Kedua pelayan tersebut saling tatap, mereka bingung harus mengatakan apa pada Jordan.
“di mana Joanna?” tanya Jordan lagi, kali ini nadanya sedikit keras.
“Maaf anda siapa?” tanya pelayan itu yang memberanikan diri bertanya pada Jordan. Jordan tanpak memutar otak.
“Aku kerabat Ayah Joana dan aku datang mencarinya!” kata Jordan, Ia hanya bisa memberikan itu sebagai alasan.
“Nona Joana .....” tiba-tiba Jordan terpikirkan sesuatu, Ia pun langsung melesat masuk ke dalam.
“Joanna ... Joanna!” Jordan berteriak dengan keras, memanggil nama Joana. Ia berjalan ke sana kemari untuk mencari Joanna. Namun tak lama, perhatian Jordan teralihkan pada pintu kamar mandi yang terbuka. Hingga Jordan pun langsung memasuki pintu kamar mandi tersebut.
“ApaIni ....” kata Jordan ketika melihat pintu kamar mandi tersebut berantakan, semua barang-barang ada di lantai. Tiba-tiba hatinya berdenyut nyeri saat melihat keadaan kamar mandi tersebut. Lalu, ia menoleh ke arah pelayan yang mengikutinya.
“A-apa Joana tadi disiksa di sini?” tanya Jordan, kedua pelayan itu tidak berani menjawab. Namun dari ekspresi mereka saja, Jordan mengetahui bahwa Joana di siksa di sana.
Lutut Jordan melemah saat menyadari hal itu, kemudian ia langsung berbalik dan setelah itu ia langsung naik ke arah tangga mencari Joanna.
“Joanna .... Joanna!” teriak Jordan lagi, ia berteriak dengan keras berharap Joana masih ada di rumah sana.
“Tuan, nyonya Olivia dan Joanna sudah pergi dari sini!” pada akhirnya pelayan tersebut ikut berteriak, karena Jordan tidak mau mendengarkan mereka, hingga Jordan langsung menghentikan gerakannya.
Nona Olivia ...
••••
satu tahun kemudian
Jordan menyandarkan tubuhnya ke belakang, ia menghela nafas lalu menghembuskannya. Pekerjaan begitu menumpuk membuat Jordan begitu stres. Rasanya ia ingin memejamkan matanya, tapi ia malas pulang ke apartemennya.
Setelah berdiam diri cukup lama, akhirnya Jordan bangkit dari duduknya, kemudian Ia memakai jasnya lalu menyambar kunci mobil dan setelah itu ia pun langsung keluar dari ruangannya untuk pulang.
Jordan membuka pintu apartemen, kemudian ia terdiam sejenak. Selalu seperti ini, ia selalu merasakan aneh saat masuk ke dalam apartemennya.
Jordan masuk ke dalam, kemudian ia menyimpan tas kerjanya, ia masuk ke dapur lalu membuka kulkas dan mengambil kaleng soda. Setelah itu, Jordan mendudukkan diri di kursi pantry, seraya menyeruput kaleng berisi soda yang ada di tangannya.
Mata Jordan memanas. Setiap pulang dari kantor, ia selalu terduduk di kursi pantry, ia selalu membayangkan Joana memasak lagi untuknya. Ini sudah 1 tahun berlalu, selama 1 tahun ini pula Jordan kehilangan jejak Joanna, ia tidak tahu lagi di mana gadis itu dan selama setahun pula Jordan dihantui rasa bersalah yang luar biasa hebat.
Ia sudah mencari Joanna ke sana kemari, tapi Joanna tetap tidak ada, hingga Ia hanya bisa berdoa agar gadis itu baik-baik saja. Setiap hari, Jordan menjalani harinya dengan hampa. Tapi ia sadar, hidup harus tetap berjalan.
Rasanya semangat Jordan pun menurun, setiap malam, ia selalu terbayang Joana. Cinta itu semakin kuat, kala Joanna sudah tidak ada lagi di sisinya dan entah ke mana gadis itu..Tak bisa di devinisikan lagi rasa bersalah Jordan saat ini, yang pasti ia benar-benar mengutuk dirinya.
Seandainya saat itu ia tidak mengutuk menyuruh Joana untuk keluar dari apartemennya, Joana pasti masih ada bersamanya.