
Savana hanya mampu tertunduk saat mendengar apa yang Joshua katakan. Dia tidak berani mengangkat kepala. Jangan ditanyakan, betapa sesaknya dia saat ini.
Savana memang menyadari bahwa selama ini dia salah dan keliru tidak mau menurut pada Joshua. Sekarang, dia tidak punya pilihan. Dia hanya harus menurut pada Joshua agar anaknya bisa mempunyai keluarga lengkap.
Semenjak menikah dengan Joshua, dia menjadi sebatang kara, tidak mempunyai siapapun. Karena itu, dia tidak mau anaknya merasakan apa yang dia rasakan.
"Jadi kau mengerti poin apa yang aku ucapkan?" tanya Joshua ketika Savana menunduk. Dia merasa gemas sendiri ketika Savana tidak menjawab ucapannya.
Savana terdiam kemudian mengangguk. "Iya Paman, aku mengerti," jawabnya dengan hati yang hancur.
Mulai saat ini, Savana akan mencoba untuk menjadi istri terbaik untuk Joshua. Dia akan mulai belajar semuanya. Dia memang sakit ketika mendengar hal seperti ini, karena ucapan Joshua baginya terlalu frontal. Namun, dia akan berusaha karena dia sadar, ini juga separuh salahnya.
"Bagus jika kau mengerti," ucap Joshua. Setelah itu, dia langsung memakai seat belt dan kemudian menoleh lagi ke arah Savana.
"Pakai sabuk pengamanmu, kita pulang," ucap Joshua. Tilda ada keramahan dalam nada suara pria itu.
Joshua langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya kembali. Saat di perjalanan, Savana terdiam. Dia melihat ke arah jendela menahan tangis agar tidak pecah. Sementara Joshua, dia fokus menyetir.
Setelah melewati perjalanan cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Joshua sampai di basement apartemen. "Ayo turun," ucap Joshua. Dia menoleh ke arah Savana.
"Jangan banyak drama, Savana. Ingat apa yang aku bilang. Aku ingin kau berusaha dewasa," kata Joshua ketika sekarang dia melihat Savana seperti orang yang menangis.
Savana mengangguk. Dia langsung turun dari mobil tanpa menoleh ke arah Joshua karena tidak ingin pria itu melihat tangisnya.
Joshua hanya bisa menggeleng melihat itu.
Saat berada di kamar setelah masuk ke dalam unit apartemen, Savana langsung berjalan ke arah kamar guna melepaskan tangisnya. Dia tidak menyangka dia akan mendengarkan hal semacam ini.
***
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, Savana memastikan dirinya sudah rapi di cermin. Hari ini, dia ingin memasakkan makanan kesukaan Joshua. Sedari tadi, dia sudah banyak berpikir bahwa dia tidak boleh kalah. Dia harus membuktikan pada Joshua bahwa dia bisa menjadi istri dan ibu yang baik.
Sebenarnya, Savana pun mempunyai keahlian memasak, hanya saja selama ini dia tidak pernah menggunakannya untuk Joshua.
Savana keluar dari kamar. Dia langsung berjalan ke arah dapur. Sebenarnya melihat wajah Joshua saja masih terasa sesak untuknya, tapi dia tidak ingin pria itu menganggapnya berlebihan, hingga dia harus menguatkan batin.
Saat berada di dapur, Savana langsung membuka kulkas. Wanita itu segera menutup hidung saat perutnya bergejolak karena rasa mual saat menghirup bumbu yang ada di kulkas tersebut.
Savana menutup kulkas kemudian menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia mengelus perut. "Nak, ayo kita memasak untuk Daddy. Bantu Ibu ya, agar Mommy tidak terkena masalah," ucap Savana.
Savana langsung menutup hidung. Wanita itu kemudian membuka kulkas hingga akhirnya, satu jam kemudian masakannya pun selesai.
Butuh perjuangan yang ekstra untuk Savana memasak makanan yang terlihat sangat lezat. Tentu saja karena dia berperang dengan rasa mual.
Setelah selesai, Savana memindahkan makanan ke dalam nampan kemudian membawanya ke meja makan. Namun, saat akan keluar dari area dapur, Joshua pun keluar dari kamar.
Savana mengeratkan pegangan pada nampan, karena walau bagaimanapun, dia merasa tersayat ketika melihat suaminya. "Paman, ayo makan malam. Aku sudah memasak," ucap Savana yang memberanikan diri.
Joshua terdiam. Dia melihat masakan yang ada di nampan Savana. Diam-Diam lelaki itu berdecih dan tentu saja pemandangan itu terlihat oleh Savana membuatnya merasa nyeri.
"Kau makan saja sendiri, aku ada janji dengan teman. Jangan tunggu aku, aku akan pulang malam," kata Joshua dengan sadisnya.
Joshua tidak yakin dengan masakan yang dibuat Savana, karena selama bertahun-tahun wanita itu tidak pernah memasak dan dia tidak mau mood-nya memburuk dengan mencicipi makanan Savana yang tidak enak, hingga dia memutuskan untuk makan di luar bersama teman-temannya.
Setelah Joshua keluar, tubuh Savana masih mematung. Bulir bening turun tanpa bisa ditahan. 'Kenapa ini begitu menyakitkan?' batin Savana.
'Tidak Savana, kau tidak boleh menyerah,' batin Savana lagi. Dia pun langsung berjalan ke arah meja makan, lalu mendudukkan diri dengan hati yang perih dan tangis yang berlinang, Savana memakan masakannya sendiri.
***
Satu bulan kemudian.
Ini sudah satu bulan berlalu semenjak pembicaraannya dengan Joshua di mobil, dan selama satu bulan ini pula Savana sudah berusaha menjadi yang terbaik. Dari mulai menyiapkan kebutuhan Joshua dan lain-lain. Dia selalu bersikap dewasa. Dia juga kembali aktif berkuliah.
Namun selama sebulan itu pula, perjuangan Savana seolah tidak terlihat di mata Joshua. Lelaki itu masih dingin, bahkan tidak pernah menanyakan apa yang dia mau atau bagaimana keadaan anak mereka.
Saat Savana memasak, Joshua tidak pernah memakannya, dan barusan Savana telah selesai melakukan cek kandungan yang ternyata dalam keadaan sedikit lemah. Bagaimana tidak, dia selalu melalui setiap harinya dengan overthinking, stres dan lain-lain, hingga kandungannya sedikit drop.
Tadi, Savana juga sudah berusaha mengajak Joshua untuk mengecek kandungan, tapi pria itu hanya memberikan uang dan tidak bisa mengantar dengan alasan ada pekerjaan hingga dia terpaksa pergi ke rumah sakit seorang diri.
Lalu ketika pulang dari rumah sakit, Savana memutuskan untuk berjalan-jalan di mall. Dia ingin melepaskan rasa stressnya sekaligus melihat pakaian bayi. Namun, baru saja menginjak lantai atas, dia merasa perutnya nyeri.
Saat melamun, Savana menunduk. Rasanya, dia ingin sekali menangis. Dia sudah dituntut menjadi yang terbaik, tapi ternyata Joshua tidak kunjung berubah. Padahal dia pikir, jika dia berubah pria itu bisa bersikap sedikit hangat. Tapi ternyata sikap Joshua sama saja.
Sementara Joshua, dia sedang memberikan hukuman pada Savana. Dia tidak percaya dengan perubahan wanita itu. Dia takut jika dia berubah menjadi suami yang hangat, wanita itu akan kembali seperti dulu. Padahal tanpa dia sadari, sikapnya benar-benar melukai Savana.
Saat akan bangkit, tanpa sengaja Savana menoleh ke arah restoran di mana dia melihat suaminya sedang makan bersama seorang wanita, yang tak lain teman Joshua yang sama-sama bekerja sebagai dosen.
Rupanya, mereka tanpa sengaja bertemu di restoran hingga memutuskan makan bersama.
Hal yang membuat Savana hancur adalah, Joshua bersikap hangat pada wanita itu. Mereka bahkan makan sambil berceloteh. Sesuatu yang tidak pernah lihat dari suaminya.
Emosi seketika melanda. Savana tidak mempedulikan lagi rasa sakit di perutnya hingga wanita itu pun langsung bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Joshua.
"Kau bisa ramah padanya tapi kenapa tidak bisa ramah padaku?!" tanya Savana ketika sudah berada di hadapan Joshua. Dia berbicara dengan sedikit meninggikan suaranya, hingga Joshua dan temannya langsung menoleh saat mendengar suara Savana.
Seketika, emosi langsung mendera Joshua karena Savana membuatnya malu, apalagi beberapa pengunjung restoran melihat ke arah mereka. "Apa yang kau lakukan?" tanya Joshua.
Savana langsung mengambil minum kemudian menyiramkannya pada wajah Joshua, membuat mata pria itu membulat. Seketika dia langsung berdiri, kemudian pamit pada temannya lalu menarik lengan Savana untuk membawanya keluar dari restoran.
Savana berusaha menarik lengannya dari genggaman Joshua, karena dia berjalan dengan sangat kencang. Bahkan perutnya pun terasa keram.
"Paman lepas!" pinta Savana ketika mereka berada di basement. Dia langsung menarik tangannya dari tangan Jonathan dengan keras hingga pria itu berbalik.
Emosi masih melanda Joshua. Lelaki itu benar-benar merasa malu karena tingkah Savana.
"Savana!" teriak Joshua. Beruntung basement dalam keadaan sepi, hingga tidak ada yang mendengar Joshua.
"Kau menuntut untuk berubah, kau menyuruhku untuk menjadi apa yang kau mau dan aku sudah melakukan semuanya, tapi kau malah—"
"Cukup!" teriak Joshua, "gugurkan saja anak itu. Aku tidak mau anakku lahir dari wanita sepertimu yang tidak pernah tahu tata krama dan selalu membuat ulah!" Teriak Joshua dengan wajah yang sangat memerah.
Saat mendengar itu, Savana langsung menatap Joshua dengan sendu, dia tidak percaya suaminya menyuruhnya untuk menggugurkan anak mereka. Perasaan marah pun berganti dengan rasa sakit. Gugurkan. Satu kata itu yang membuatnya benar-benar hancur.
"Kau ingin aku menggugurkan anak ini?" tanya Savana. Kali ini dia bertanya dengan yang sangat pelan. Dia menatap Joshua dengan sorot kecewa.
"Kau pikir anakku akan bangga jika mempunyai ibu sepertimu?!" hardik Joshua. Dia berbicara itu karena dalam kondisi yang emosi. Tidak pernah ada yang memperlakukan Joshua seperti ini, itu sebabnya dia merasakan rasa marah yang luar biasa pada Savana sehingga mengeluarkan kata-kata tersebut.
"Sekarang urus saja dirimu sendiri. Terserah kau akan melakukan apa. Aku tidak perduli."
Setelah mengatakan itu, Joshua pun langsung berbalik kemudian meninggalkan Savana yang mematung dengan tangis berlinang. Dia memegang pinggiran mobil yang ada di sebelahnya, berusaha menguatkan diri.
***
Waktu menunjukkan pukul empat sore.
Sepulang dari mall, Savana tidak berhenti menangis. Wanita itu benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Joshua.
Tak lama, bel berbunyi hingga Savana yang sedang duduk langsung bangkit dari duduknya. Dengan hati yang pedih, wanita itu berjalan ke arah pintu, karena tahu siapa yang datang, yaitu kurir obat yang sudah dia pesan secara ilegal karena tidak dijual di apotik mana pun.
Obat itu adalah obat penggugur kandungan. Savana terlalu hancur saat mendengar ucapan Joshua, hingga tidak mampu berpikir jernih sampai akhirnya memutuskan untuk mengikuti keinginan pria itu, yaitu menggugurkan anak mereka.