
Arsen menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tersadar ketika mendengar suara pintu tertutup, dengan langkah yang gontai, ia pun berjalan dengan pelan ke arah sofa dan mendudukan dirinya karena seluruh tubuhnya mendadak terasa nyeri.
Bukankah ini yang dia inginkan, ia ingin melihat Gisel bahagia bersama lelaki lain. Tapi kenapa rasanya begitu menyakitkan, hatinya semakin pedih saat Giseel mengingatkannya pada Seina.
Arsen kembali bangkit dari duduknya, kemudian ia mengambil ponsel yang ada di kamar. Lalu setelah itu, ia melihat sebuah foto yang tak lain adalah foto putrinya.
Selain Arsen menyerah karena ia tidak bisa memiliki Gisel, alasan lainnya karena ia tidak bisa mendapatkan hati putrinya. Ya, Seina, anaknya bersama Kristin.
Bertahun-tahun lamanya, ia sangat merindukan putrinya. Tapi ia tidak berani untuk mengaku ayah pada Seina, karena putrinya sudah bahagia bersama Jacob, suami Kristine yang juga ayah tiri dari putrinya.
Jacob terlihat sangat menyayangi Seina, begitupun Seina yang juga menyayangi Jacob. mereka begitu dekat. Arsen semakin minder, apalagi saat ia tahu bahwa Jacob tidak ingin lagi memiliki anak bersama Kristin dan hanya ingin membesarkan Seina.
Tentu saja sebagai ayah kandung dari Seina dan sebagai lelaki pendosa, Arsen merasa bersalah. Hingga pada akhirnya, Arsen memutuskan untuk tidak lagi menemui Seina, karena ia tidak ingin membuat putrinya bingung karena memilik ayah dua
Biiarlah, ia mengalah dan membiarkan Seina menganggap Jacob adalah ayah kandungan, karena ia tidak ingin membuat Seina kecewa, jika mengetahui bahwa ayah kandungnya adalah seorang pendosa di masa lalu.
Ia ingin Seina berbangga hati karena memiliki ayah seperti Jacob, bukan ayah seperti dirinya. Arsen tidak pernah berkomunikasi dengan Kristine, karena ia menghargai Jacob. Ia hanya berkomunikasi dengan Jacob, dan sesekali meminta Jacob mengirimkan foto Seina kepadanya.
Dan barusan, ketika Gisel membahas lagi tentang Seina, hati Arsen bergetar. Raya rindu yang selama ini ia rasakan, kembali membuncah. seandainya ia bisa, ia ingin datang ke hadapan Seina, memeluk putrinya dan mengatakan bahwa ia adalah ayahnya. Tapi Arsen tidak tidak ingin mengusik kehidupan putrinya yang sudah bahagia bersama Kristin dan Jacob..
tiga hari kemudian 3
3 hari berlalu, semenjak kepergian Gissel dari apartemennya, Arsen hanya berdiam diri di kamar, ia terus merenung dan pada akhirnya, keputusan Arsen tetap bulat, ia tetap akan menyerah dan tidak akan lagi menengok ke belakang. Ini memang berat, ini jalan yang terbaik yang bisa harus ditempuh.
Tak ada mobil yang masuk ke area parkiran membuat Arsen menghela nafas lega dan itu ternyata mobil Gisel. Saat ia akan turun, ia menghentikan gerakannya, ketika melihat Gisel keluar dengan Steve.
Dan yang lebih membuat hati Arsen hancur, adalah ketika Gisel dan Stev bergandengan tangan, bahkan keduanya berbincang hangat. Arsen mengelus dadanya, kemudian mulai tersenyum. Ia harus menguatkan hatinya kemudian Ia pun keluar dari mobilnya.
•••
“Terima kasih, Arsen!” kata Gisel, setelah mereka keluar dari ruang sidang..Sepanjang sidang berlangsung, Gisel tidak melihat ke arah Arsen, justru sebaliknya, Arsen yang mencuri-curi pandang ke arah Gisel, dan sekarang saat keluar dari ruang pengadilan Gissel pun berbicara seperti layaknya partner.
Mendengar ucapan Gisel, Arsen menggangguk. “Steven!” panggil Gisel, Stev yang sedang melihat ke arah depan, menoleh lalu tersenyum.
“Kau sudah selesai, ayo kita pergi?” kata Steve.
“Kalau begitu kami permisi, Arsen!” Gisel pun langsung menggenggam tangan Steve lalu mereka pun berbalik, meninggalkan Arsen yang diam terpaku.
Scroll gengs