Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Menurunkan


Laura mendudukan dirinya di sofa, kemudian ia mengambil ponsel dengan mata yang membasah. Ia mencari-cari makanan yang ia mau. Namun tak lama, Laura kembali menyimpan ponselnya kala tangisnya sudah tidak bisa dibendung. Entah kenapa beberapa hari ini Moodnya begitu memburuk.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, Laura langsung menghapus air matanya, karena ia tahu itu adalah Andre.


Andre terdiam saat melihat Laura memainkan ponsel, ia tahu Laura baru saja menangis. Sebenarnya, ia ingin membuka hati untuk Laura.


Tapi setiap ia mendekati Laura, ia selalu teringat bayangan Naura. Tapi rasanya, saat melihat Laura tertunduk, ia menjadi tidak tega.


Andre berjalan ke arah sofa untuk menghampiri Laura. “Kau sudah makan?” Tanya Andre. Saat bertanya pada Laura pun, rasanya Andre begitu berat. Jika saja Laura sedang tidak mengandung anaknya, Mungkin ia akan masa bodoh dengan keberadaan istrinya.


Laura menggeleng, ia tidak berani menatap Andre karena ia tidak ingin Andre melihatnya menangis, ia lebih memilih berpura-pura memainkan ponselnya. “Maafkan aku yang tidak membelikan makanan yang kau inginkan. Sebagai gantinya, aku akan memasakkaan makanan untukmu.”


Laura menggeleng. “Tidak, terima kasih. Aku akan makan nanti,”balas Laura. Padahal jelas-jelas Ia merindukan masakan Andre. Dulu, sebelum mereka menikah Andre begitu romantis selalu membuatkan masakan yang sederhana untuk Laura, dan rasanya Laura merindukan itu.


Namun setelah mereka menikah, Andre berbeda


Pernah satu kali Laura memaksa Andre untuk membuatkannya makanan. Andre memang menuruti keinginannya. Namun, Andre membanting piring ke hadapannya Laura dan rasanya Laura tidak ingin lagi merasakan rasa sakit seperti saat itu.


“Aku ingin beristirahat!” ucap Laura. Karena tidak sanggup berdekatan dengan Andre, Laura pun memutuskan untuk bangkit dari duduknya, kemudian ia berlalu meninggalkan Andre dan pergi ke kamarnya


Laura membaringkan tubuhnya di ranjang, rasa lapar menguap begitu saja. Ia hanya ingin menangis sekencang-kencangnya, agar dia merasa lega. Laura mengambil ponselnya, kemudian Ia mengutak-atik dan saat ia bermain ponsel, satu panggilan masuk dari Naura.


Laura memejamkan matanya, ia menghela nafas kemudian menghembuskannya. Lalu setelah itu, ia pun mengangkat panggilan dari Naura.


“Hmm, Ada apa Naura,” tanya Laura ketika mengangkat panggilannya.


“Aku akan pergi ke Rusia besok. Apa kau ingin menitip sesuatu?” tanya Naura dari sebrang sana


Tiba-tiba jantung Laura berdegup dua kali lebih cepat, saat Naura berkata akan kembali ke Rusia. Hatinya mendadak nyeri, lagi-lagi ia pasti akan menyaksikan pemandangan yang menyakitkan.


“Laura are you okay?” tanya Naura. Naura langsung bertanya mendengar Laura terisak, hingga Laura tersadar.


“Aku baik-baik saja, aku tidak ingin apapun, kau pulang saja aku sudah bersyukur,” jawab Laura. Karena tangisnya sudah tidak bisa dibendung, Laura pun mematikan panggilannya kemudian menyimpan ponselnya.


Karena faktanya Laura tahu tujuan Andre menikahinya, ia tahu betul alasan Andre berubah setelah menikah. Walaupun Andre tidak memberitahunya. Tapi setelah menikah, Laura menyadari sesuatu. Bahwa selama ini Andre mendekatinya tentu saja karena ia begitu mirip dengan Naura.


Namun, sampai detik ini Laura tetap membohongi dirinya sendiri. Laura tetap berpura-pura tidak perduli, karena ia sedang mengandung. Ia pernah merasakan pahitnya tidak diakui oleh ayah, dan hidup tanpa seorang ayah selama bertahun-tahun, dan ia tidak ingin anaknya merasakan apa yang ia dulu rasakan


Kini, bagi Laura yang terpenting anaknya mempunyai keluarga utuh. Ia rela mengorbankan dirinya mengorbankan perasaannya dan mengorbankan semua agar anaknya tidak merasakan apa yang dulu dia rasakan.


Dan besok, Naura akan tiba di Rusia dan dia akan melihat pemandangan yang menyakitkan. Rasanya, begitu menyakitkan saat melihat tatapan Andre yang menatap Naura dengan berbeda, ia bisa melihat cinta Andre pada Naura yang begitu menggebu-gebu.


Dua hari kemudian.


Laura mematut diri di cermin, ia sudah rapi dan bersiap ke mansion orang tuanya, karena akan ikut menyambut Naura. Tak lama, Laura melihat ke arah Andre yang baru saja keluar dari walk in closed.


Wajah Andre tampak terlihat berseri-seri, dan Laura tahu, kenapa wajah suaminya tampak terlihat bahagia, karena tentu saja suaminya akan bertemu kembarannya. Laura mengurut dadanya, mencoba menegarkan hatinya


•••


Suasana makan malam begitu penuh sukacita. Semua sudah berada di meja makan, termasuk Naura yang juga sudah bergabung dan datang bersama kekasihnya, semua bercakap-cakap, sambil menikmati hidangan makan malam, sedangkan Laura hanya terdiam.


Ada rasa sesak yang tidak tidak bisa definisikan saat suaminya yang berada di sampingnya terus mencuri-curi pandang ke arah Naura, dan rasanya begitu menyakitkan.


Nael yang sedang bercengkrama, tiba-tiba menghentikan aktivitasnya saat melihat Laura yang tampak melamun. Ia menatap wajah putrinya lekat-lekat, sebagai seorang ayah ia tahu ada yang terjadi dengan Laura.


“Laura, kau tidak apa-apa?” Tiba-tiba semua orang terdiam, lalu menoleh ke arah Laura, hingga Laura memaksakan senyumnya.


“Aku tidak apa-apa, aku hanya lelah,” jawabnya.


“Pergilah ke kamar dan istirahat!” kata Nael. Laura pun mengangguk, Ia pun bangkit dari duduknya. Saat Laura bangkit, Nael melihat ekspresi Andre, ia merasa menantunya tampak tidak peduli dengan kondisi Laura. Entah kenapa, tiba-tiba Nael merasakan hatinya tidak tenang.


•••


“Laura Ada apa denganmu? kenapa kau dari tadi terus diam?” tanya Naura. Saat ini, mereka sedang berada di kamar Naura, sedangkan yang lain berada di ruang keluarga, termasuk suaminya.


Laura tersadar, kemudian tersenyum lalu menggeleng. “Tidak apa-apa, aku hanya lemas!” jawab Laura.


Naura mengeluarkan paper bag dari kopernya, kemudian ia memberikannya ke hadapan Laura. “Ini untukmu, dan ini untuk suamimu!” kata Naura.


Laura membuka paperbag tersebut. Rupanya, Naura memberikannya hadiah parfum pada Laura, dan setelah memeriksa paperbag miliknya, Laura pun membuka paperbag suaminya, ternyata Naura juga menghadiahi sebuah parfum untuk Andre.


“Karena suamimu sangat menyukai aroma parfum ini dan ...” Tiba-tiba Naura menghentikan ucapannya, saat melihat wajah Laura yang tiba-tiba berubah


“ Laura bukan begitu maksudku," ucap Naura dengan panik.


Laura tersenyum, “Tidak apa-apa, kau lebih tahu suamiku daripada aku,” jawab Laura dengan hati yang hancur, membuat Naura menjadi tidak enak.


“Laura aku tidak bermaksud begitu, maksudku ...”


“Aku tidak apa-apa, Naura. Bukan itu memang benar. Kau lebih tau tentang suamiku dari pada aku ...”


“Laura, kau baik-baik saja?” tanya Naura


“Tidak, aku tidak baik-baik saja. Aku sakit, aku hancur,” jawab Laura. Tapi sayangnya, Laura hanya bisa membatin dalam hati, ia tidak mungkin berkata begitu pada Naura.


tiba-tiba, terdengar suara derap langkah, dan tak lama pintu terbuka. ternyata sosok Andre yang membuka pintu kamar Naura.


Andre membuka pintu, kemudian tatapannya langsung bersibobrok dengan Naura. Matanya berkaca-kaca saat melihat mantan kekasihnya, ia rindu sekali dengan wanita itu, dan tentu saja tatapan Andre pada Naura tertangkap jelas oleh mata Laura. Hingga rasanya, ia ingin menenggelamkan dirinya


“Ekhemm!” tiba-tiba Laura berdehem, menyadarkan Andre dari lamunannya Andre pun masuk ke dalam, menghampiri Laura dan Naura.


“Andre bagaimana kabarmu?” tanya Naura. Andre menggangguk, walaupun Andre hanya menggangguk. Tapi Laura bisa melihat jelas, Andre menatap Naura begitu berbeda.


“Ayo kita pulang!” ajak Laura, rasanya Laura tidak sanggup lagi melihat pemandangan di depannya. Hingga ia memilih untuk langsung berbicara dan mengajak Andre pulang.


“Naura terima kasih kadomu. Aku pulang.” kata Laura, ia pun mendahului Andre untuk keluar dari kamar Naura, hingga kini di kamar itu hanya ada Naura dan Andre saja


“Kau baik-baik saja di sana?” tanya Andre tiba-tiba, Naura mengangguk-anggukkan kepalanya.


•••


Suasana mobil begitu hening, tidak ada yang berbicara satu orang pun, Andre fokus mengemudi sedangkan Laura melihat ke arah jendela.


“Bagaimana rasanya bertemu dengan Naura kembali?” tiba-tiba Laura bertanya pada Andre, ia merasa sudah tidak bisa menahan rasa sesaknya lagi. Itu sebabnya, ia melontarkan pertanyaan yang ada di dalam hatinya.


Andre menoleh ke arah Laura. “Untuk apa juga kau bertanya?” tanya Andre dengan dingin, seperti biasa nadanya terdengar sadis.


“Pasti menyenangkan bukan melihat Naura kau, pasti bahagia ?” Laura kembali bertanya. Padahal sebelumnya ia mati-matian menahan untuk tidak berbicara. Tapi, sayangnya, ia juga tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


“ Laura apakah kau bisa diam? kenapa kau bertanya hal yang tidak penting!” lagi-lagi Andre bertanya dengan ketus.


“Karena kau ....” Tiba-tiba Andre meminggirkan mobilnya, lalu memarkirkannya di sisi.


“Turun!” titah Andre, Laura menoleh ke arah Andre, ia menatap Andre dengan tak percaya.


“Turun!” titah Andre lagi, Laura tidak menjawab. Ia membuka seatbel-nya, kemudian mengambil tasnya. Lalu setelah itu, turun dari mobil dan setelah Laura turun, Andre menjalankan mobilnya.


Rupanya, Andre masih merasa kesal. Ia memang senang karena kedatangan Laura. Tapi, Ia pun kesal karena melihat interaksi Naura dan kekasihnya. Dan ketika Laura membahas Naura, tentu saja itu membuat anda semakin kesal. Hingga ia menurunkan Laura a di tengah jalan.


Setelah turun dari mobil, Laura berjalan dengan pelan. Tangisnya sudah berlinang, ia memeluk tubuhnya yang terasa dingin, apalagi ini sudah pukul 11.00 malam..


Tak bisa di bayangkan lagi, betapa perihnya hatinya Laura saat ini. Apalagi saat Andre menurunkannya di tengah jalan, dengan posisi Ia yang sedang mengandung.


•••


Setelah menurunkan Laura, Andre menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Entah kenapa ia begitu kesal pada Laura dan menumpahkan kekesalannya pada istrinya.


Ia kesal, karena ia melihat Naura bersama lelaki lain.


Dan akhirnya, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai Andre sampai di basement apartemen. Andre membuka seatbeltnya, kemudian ia berniat untuk turun. Namun saat ia akan turun, ia melihat ke arah bawah di mana ada ponsel Laura di sana.


Rupanya, tanpa sengaja ponsel Laura terjatuh ke bawah.


Andre mengusap wajah kasar, Ia kembali memakai seatbeltnya, dan memutuskan untuk menyusul Laura. Ia pikir, setelah ia meninggalkan Laura mungkin Laura akan menelepon seseorang untuk menjemputnya..Tapi ternyata, ponsel Laura ada di mobilnya, hingga mau tak mau Ia pun kembali menyusul istrinya.


Saat dalam perjalanan, tiba-tiba hujan turun membuat Andre kelabakan. “Siall!” umpatnya, ia mengutuk dirinya sendiri yang telah menurunkan Laura. Ia bukan khawatir pada Laura, melainkan khawatir pada calon anaknya.


“Dimana dia!" lirih dia l Andre saat ia tidak menemukan Laura di manapun ia sudah menyusuri jalan dari mulai ia Melu menurunkan Laura sampai dengan jarak yang cukup jauh tapi Laura tak ada di manapun karena ternyata Laura ...


Gengs ga akan ada selisih paham ko Laura sama Naura. Sedih banget komenya dikit. aku up satu bab tapi panjang kok