Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Tanpa perasaan


“Nael, Apa kau pikir hubungan Mommy dan Daddy dulu sebaik sekarang? apa kau pikir hubungan Daddy dan kakakmu sebaik sekarang. Kau tahu, dulu, Daddy mengusir Mommy karena mommy mengandung kakakmu dan setelah 10 tahun berlalu, saat Daddy bertemu kakakmu, Daddy membencinya, Daddy sering memakinya. Kau tahu, hidup macam apa yang dialami Mommy saat Daddy mengusir Mommy dalam keadaan mengandung? Mommy melahirkan dan bekerja keras seorang diri untuk mengurus kakakmu. Bahkan, Mommymu pernah hampir meregang nyawa karena mempunyai penyakit dan kakakmu harus menerima kebencian Daddy.”


Greey menghentikan ucapannya sejenak, “Apa kau kau tahu seberapa besar penyesalan Daddy saat itu, Daddy sangat menyesal, Nael. dan saat penyesalan datang, Daddy begitu sulit untuk mendapatkan Mommy dan kakakmu. Tapi Tuhan begitu baik, Mommy dan kakakmy bisa berlapang hati, memaafkan Daddy. Hingga kini keluarga kita bahagia. Coba bayangkan, jika saat itu Mommy dan kakakmu tidak memaafkan Daddy, kau tidak akan bisa berada di dunia. Nael apa kau ingin Mengulangi kesalahan Daddy?” Di akhir kalimatnya, Greey berbicara pelan, nadanya seolah di penuhi kepahitan.


Hubungan Greey dengan istrinya pun dulu tidak begitu baik. Bahkan sangat tak baik. Dulu, Grey hanya mengontrak Grisella sebagai sugar baby. Tapi Greey mengusir Grisella ketika Grisella hamil dan mereka baru di pertemukan 10 tahun kemudian, dan saat itu pula, untuk yang pertama kalinya, Greey bertemu dengan putrinya, Aurora.


Dan saat pertama kali bertemu dengan Aurora, Greey membenci anaknya sendiri. Hingga penyesalan itu datang dan ia tidak mau Sang putra mengulangi kesalahannya.


Mata Nael membulat saat mendengar ucapan Grey. Ia tidak menyangka sang ayah mempunyai masa lalu yang buruk dengan ibunya.


“Jangan ulangi kesalahan Daddy Nael. Kau harus tetap bertanggungjawab. Mau tak mau, anak yang dikandung wanita itu adalah anakmu.” Kali ini, Greey berbicara lirih. Ia tidak emosi seperti sebelumnya, karena ia pun masih merasa bersalah pada istri dan Putri pertamanya yang sekarang menetap di Spanyol.


dua hari kemudian


Nael terdiam di depan ruangan Gabby. Ia menemui Gabby karena ingin minta Gabby datang kepada ayahnya, dan mengatakan bahwa Gabby tidak butuh pertanggungjawabannya. Walau bagaimanapun, ia tidak ingin menikahi Gabby dan tidak ingin bertanggung jawab kepada anaknya.


Saat ia akan memencet bel, suster datang dari arah kanan. “Apa Anda ingin bertemu dokter Gabby?” tanya suster tersebut.


Nael mengangguk. “dokter Gabby sedang dirawat, sudah dua hari ini dokter Gabby dirawat.


“Dokter Gabby di rawat dimana?" tanya Nael.


“Mari saya antarkan.” Suster itu pun berbalik, kemudian berjalan diikuti Nael di belakangnya. Saat sampai di depan ruangan Gabby, Nael terdiam. Ia langsung mengetuk pintu. karena tidak ada sahutan dari dalam. Akhirnya, Nael membuka sedikit pintu, kemudian mengintip.


“Masuklah!” kata Gabby, saat Nael belum masuk ke dalam ruangannya. Nael pun masuk, kemudian ia menatap Gabby dengan dingin. Tidak ada raut senyum sedikit pun di wajahnya.


”Aku tidak tahu kau sudah sedang sakit. Tapi jika kau sembuh, bolehkah aku minta tolong padamu.” Tiba-tiba, dada Gabby kembali berdenyut nyeri saat melihat ekspresi Nael dan mendengar ucapan Nael. Alih-alih menanyakan kondisi anak yang sedang di kandung, Nael makah berkata hal lain.


Gabby tersenyum, senyuman itu berbalut luka. Tapi sebisa mungkin, ia menegarkan hatinya.


“ Katakanlah, nael!”


“Bisakah kau menemui Ayahku, dan bilang padanya kalau aku tidak harus bertanggung jawab atas kau dan anak-anakmu?” ucap Nael tanpa perasaan.


Untuk kesekian kalinya, hati Gabby berdesir pedih, saat mendengar Nael hanya berbicara itu adalah anak-anaknya, seolah mempertegas bahwa Nael tidak ingin ada sangkut-pautnya dengan anak-anak yang sedang ia kandung.


Lagi-lagi Gabby tersenyum. “Aku akan berbicara pada ayahmu nanti, setelah aku pulih. Jika tidak, aku aku akan menghubungi ayah mau lewat telepon! bisakah kau membari nomer ponsel ayahmu?” balas Gabby, ia berusaha untuk berbicara setegar mungkin.


Nael merogoh saku, kemudian ia mengambil dompet. Lalu mengeluarkan kartu nama sang ayah


“Terima kasih atas bantuanmu, kalau begitu aku permisi.” Tanpa perasaan, Nael berbalik kemudian ia langsung pergi.


“Jangan menangis Gabby, jangan menangis.” Gabby mengelus perutnya, seraya berusaha menahan tangis. “Nanti, kita pasti akan bahagia.”


Gila sihhh mewek Parah 😭😭 Gas komen gengs, besok mulia update rutin ya.