
Gabby membaringkan tubuhnya di ranjang, Ia meringkuk lalu menarik selimutnya dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Gabby baru saja pulang dari pemakaman. Tadinya, ia berniat untuk ke rumah sakit dan melihat kedua putrinya.
Tapi rasanya, tubuh Gabby lelah tak bertenaga. Itu sebabnya, Gabby menelepon Stella dan menyuruh Stella untuk menemani Laura dan Naura di rumah sakit. Gabby tak ingin kedua putrinya melihatnya dengan keadaan kacau. Iti sebabnya, Gabby memilih untuk menenangkan diri sejenak, sebelum ia pergi ke rumah sakit.
Satu jam berlalu.
Gabby tersenyum, ketika merasakan elusan di rambutnya. Elusan ini sangat membuatnya nyaman, dan ia tahu ini adalah elusan sang Ibu. Gabby membuka matanya, kemudian ia terperanjat kaget saat ia tidur dengan berbantalkan paha seseorang. Higga Gaby mendongak, menatap ke atas.
“Mommy!” pekik. Gaby dengan terkejut. Ia langsung bangkit dari duduknya, kemudian menatap Simma. “Mommy, Benarkah ini kau?” tanya Gabby. Ia membelai wajah Sima kemudian tangis Gaby luruh, saat melihat sang tersenyum padanya.
“Gaby!” Panggil Sima dengan suara yang lemah lembut. Seketika, Gabby memeluk Simma. Ia memeluk sang ibu begitu erat. “Mommy, jangan pergi. Mommy dan Daddy harus tetap disini bersamaku, bersama kami,” ucap Gaby sambil menumpahkan tangisannya di pelukan sang ibu.
Tangis Gabby semakin menjadi-jadi, ketika Simma membelai punggungnya. “Gabby, kami tidak pergi kemana-mana. Kami disini, melihatmu, melihat Gabriel, dan melihat Gisel. Kami melihat juga akan selalu melihat Laura dan Naura, kami akan selalu bersama kalian. Gabby kau Putri mommy yang kuat, kau harus tetap bertahan. Kau harus tetap berjuang demi putrimu. Ingat satu hal, kami akan tetap bersamamu dan melihatmu. Jika kau rindu, kau bisa datang ke gereja dan berdoa pada Tuhan dan Mommy akan selalu melihatmu dari sana.” Air mata Simma tumpah, ia mengecup pucuk kepala Gabby bertubi-tubi.
“Mommy, jangan tinggalkan aku,” ucap Gabby. Ia berteriak dan menangis histeris saat melepaskan pelukannya dari Simma. Kemudian, ia berbalik saat merasakan ada yang mengusap rambutnya.
Perlahan, Stuard mengulurkan tangannya pada Simma. Lalu setelah itu, bayangan Stuart mulai memudar, dan tak lama bayangan Stuard dan Simma menghilang.
“Mommy ... Daddy!” Gabby menjerit saat bayangan ayah dan ibunya menghilang. Ia turun dari ranjang dan mencari kedua orang tuanya.
Nafas Gabby masih terengah-engah, ternyata barusan ia bermimpi Simma dan Stuard datang ke mimpinya. Tiba-tiba nangis Gaby kembali luruh. Ia kembali menangis sejadi-jadinya.
Tak perduli seberapa banyak Gabby menangis, rasanya ia tak akan puas untuk menangis. Gabby sudah kehilangan kedua orang tuanya, dan ia harus berjuang melawan penyakitnya dan mengurus kedua putrinya. Gabby merasa sebatang kara dan tak ada tempat bergantung. Ia tidak ingin terus merepotkan Gabreil karena ia sadar, Gabriel pun memiliki kehidupan sendiri.
Setelah puas menangis, Gabby melihat kearah jam. Ternyata, ia udah tertidur selama 1 jam. tiba-tiba ia teringat Laura dan Naura. Dengan cepat, Gabby pun bangkit dari berbaringnya. Ia langsung berjalan ke air untuk menyegarkan dirinya dan setelah itu ia langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat Laura dan Naura.
Jadi ga semangat update soalnya kemarin dikit banget yang komen huhuhu ayo sekarang gas komen gengs. Sebentar lagi Gabby bahagia ya