
Gengs maafin ya baru up Joshua, dari kemarjn aku sibuk mulu,🥲
Melihat senyuman Savana, hati Joshua begitu remuk. Wanita itu masih bisa tersenyum padanya setelah apa yang dia lakukan, sedangkan Savana dia terlalu lelah untuk berhadapan dengan Joshua, dia juga enggan membahas apa yang terjadi, karena itu hanya akan menambah lukanya.
Joshua yang sempat menghentikan langkahnya, kembali berjalan ke arah Savana.
Joshua berdiri di dekat brangkar. Lelaki itu menatap Savana yang juga sedang menatap ke arahnya. Dia tidak berbicara sedikit pun.
"Sa-Savana." Pada akhirnya, Joshua memanggil Savana dengan terbata, sedangkan Savana tidak menjawab. Dia hanya memberikan senyuman tulus untuk suaminya.
Savana mungkin bisa saja meronta, berteriak, memaki Joshua. Namun, dia sudah terlalu lelah dengan hidupnya, hingga yang terbaik yang bisa dia lakukan adalah terus tersenyum pada lelaki yang telah membunuh mentalnya.
***
Satu bulan berlalu.
Ini sudah satu bulan semenjak Savana dirawat, dan akhirnya setelah satu bulan, Savana diizinkan untuk pulang. Selama satu bulan ini Joshua terus mendampingi istrinya, tapi tidak banyak interaksi di antara mereka.
Savana lebih banyak diam, begitu pun dengan Joshua. Selama Savana dirawat, Savana tidak pernah membahas tentang kematian anaknya, begitu pula dengan Joshua.
Mereka terbelenggu dalam perasaan yang asing, dan yang paling menyesakan bagi Joshua adalah Savana terlihat baik-baik saja, dalam artian kata Savana tidak pernah membahas apa yang terjadi. Wanita itu malah bersikap seperti biasa, seolah tidak ada yang terjadi.
Jika ditanya Savana akan menjawab dengan raut wajah yang seperti biasanya. Tidak menampakkan rasa sakit ataupun tidak menampakkan rasa terluka, seperti tidak ada yang terjadi.
Savana memang sengaja bersikap seperti itu, karena dia rasa jika dia marah, jika dia memaki ataupun jika dia mengamuk pada Joshua pun, tidak akan mengubah apapun. Itu hanya akan menambah rasa sakitnya.
Savana berpikir untuk pergi dari Joshua, tapi dia juga tidak mempunyai siapapun hingga Savana memutuskan untuk tinggal sementara, dan akan mengambil langkah setelah dia benar-benar pulih.
Saat ini, dia hanya ingin melanjutkan kuliahnya, mempunyai pekerjaan yang baik dan setelah itu mungkin dia akan pergi dari sisi Joshua. Karena walau bagaimanapun berusaha berpikir realistis. Dia membutuhkan biaya untuk kuliah. Dia membutuhkan biaya untuk hidup. Dia tidak mungkin pergi sekarang, karena dia tidak mempunyai pegangan apapun
Savana yang sedang duduk melamun, tersadar ketika Joshua masuk ke dalam ruangan. Sebenarnya rasa canggung masih menghinggapi keduanya, tapi ketika melihat Joshua, Savana berusaha tersenyum dan itu membuat hati Joshua semakin sesak.
Seandainya Joshua bisa meminta ia ingin Savana mengamuk, memakinya. Namun yang terjadi, Savana malah berlaga seperti tidak terjadi apapun, padahal dia tahu Savana benar-benar terluka dengan apa yang dia lakukan, dan apa yang dia katakan.
"Ayo kita pulang," ajak Joshua.
Savana pun mengangguk. Savana bangkit dari duduknya kemudian wanita itu langsung mengambil tasnya.
"Biar aku saja," kata Joshua.
"Tidak usah, Paman. Terima kasih," jawab Savana lagi. Setelah itu Savana pun keluar dari ruangan, disusul Joshua di belakangnya.
Joshua mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia melihat ke arah Savana yang melihat ke arah jendela.
"Kau ingin membeli sesuatu?" tanya Joshua.
Savana diam-diam tersenyum getir. Mungkin setelah pernikahan mereka bertahun-tahun, inilah Joshua pertama kali menawarkan sesuatu padanya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Joshua sampai di basement. Savana turun dari mobil diikuti Joshua di belakangnya.
"Savana," panggil Joshua ketika mereka masuk ke dalam apartemen. Rasanya dia tidak sanggup lagi untuk terus seperti ini, hingga dia memutuskan untuk berbicara dan meminta maaf.
Savana yang baru saja akan pergi ke kamarnya, menoleh. "Iya, Paman?" sahut Savana.
"Maaf," ucap Joshua.
"Lupakan saja, Paman. Tidak apa-apa," jawab Savana. Dia tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Dulu, sebelum kehilangan anak mereka, mungkin kata maaf dari Joshua adalah hal yang paling Savana tunggu, tapi sekarang kata maaf itu begitu menyakitkan.
"Sa-Savana," panggil Joshua dengan terbata.
"Aku ingin istirahat, Paman. Besok aku akan mulai berkuliah lagi," ucap Savana.
"Kau akan mulai berkuliah? Tapi kondisimu masih begini," ucap Joshua.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," jawab Savana, dia berbalik kemudian dia berjalan ke arah kamarnya. Dia banyak sekali meninggalkan pelajaran.
Niat Savana ketika keluar dari rumah sakit, adalah serius dengan pendidikannya agar dia mendapatkan pekerjaan, yang agar bisa menopang hidupnya sendiri.
Savana masuk ke dalam kamar. Hal yang pertama dia lihat adalah perintilan-perintilan barang-barang KPOP yang dia beli.
'Ternyata, kau benar-benar kekanak-kanakan,' gumam gadis itu ketika melihat banyak sekali tentang K-POP yang dia beli, dengan berat hati Savana harus bisa keluar dari zona nyamannya. Dia harus benar-benar dewasa.
Setelah menyimpan koper, Savana langsung mengambil box, lalu dengan berat hati, Savana menyimpan semua perintilan-perintilan yang dia kumpulkan selama ini ke dalam box tersebut, hingga satu jam berlalu akhirnya kamar Savana kosong. .
Savana mendudukkan diri sejenak, kemudian dia mengelus perutnya. Dia memejamkan matanya ketika teringat rasa sakit saat dia membunuh anaknya sendiri.
Waktu menunjukkan pukul 08.00 malam, Savana merasakan perutnya terasa nyeri. sebenarnya mungkin itu bukan nyeri tapi lebih trauma yang dia rasakan, karena jika dia mengingat Apa yang dia lakukan, dia seperti sedang bernostalgia dengan luka lamanya teringat betapa nyeri perutnya ketika proses pengguguran kandungnya.
Tak lama Savana mengubah ekspresinya kala pintu diketuk dan dia tahu itu adalah Joshua, hingga wanita itu pun langsung bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah pintu.
“Ya Paman.
“Ayo kita makan, aku sudah menyiapkan makanan,” kata Joshua lagi.
“Baik, paman.” Savana berjalan ke meja makan mengikuti langkah Joshua dan Setelah itu mereka makan bersama.
Tidak ada yang berbicada Joshua dan Savana sama-sama terdiam, hingga pada akhirnya acara makan pun selesai
“Savana, ayo kita bicara," ucap Joshua ketika Savana akan bangkit dari duduknya.
Savana ...