Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Cinta


Cinta Untuk Stevia


Mau kasih rekomendasi bacaan gengs, kalau kalian cari novellll yang kaya roller coaster bisa bacaaaa ini ya dengan judul cinta untuk Stevia. di sini di tulis versi yang sangat panjang. Bab Bella Nicky scroll ya.


Sudah tamat tayang di ( K~*b-M) info bisa 088222277840


Bab 1


Tubuh Stevia terdiam, kakinya kaku untuk di gerakan. Matanya mulai memanas. Seketika itu, dunia Stevia hancur berkeping-keping.


Riyadh, suaminya. Lelaki yang menikahinya dua tahun silam, lelaki yang selama ini memperlakukannya bagai ratu, lelaki yang berhasil merebut hatinya. Kini, berada tak jauh dari tempatnya berdiri, bersama seorang wanita dan seorang anak kecil, mereka seperti keluarga yang sangat bahagia.


Bukankah semalam suaminya berkata bahwa hari ini ia akan terbang ke Jepang dan mengurus pekerjaannya. Tapi, kenapa Riyadh malah ada di sini, di Mall ini.


"Tidak-tidak, itu bukan dia," kata Stevia. Ia menggeleng meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu bukan suaminya. Namun, seberapa pun kuat Stevia menyangkal. Itu memang benar suaminya.


Hari ini, Stevia berencana untuk memberikan Kado untuk keponakannya. Ia sengaja berkeliling Mall untuk sedikit menghibur diri sendiri karena suaminya pergi ke Jepang.


Tapi apa ini, suaminya sedang bersama wanita lain, dan terlihat jelas mereka seperti keluarga yang bahagia.


Tidak, Stevia tak akan menerima hal sekecil apa pun kebohongan apalagi penghianatan.


Stevia berusaha mengendalikan diri, ia berusaha menguatkan hatinya. Dengan kaki yang gemetar serta tubuh yang lemas Stevia berjalan ke arah Riyadh.


"Apakah Jepang sudah berpindah kesini?" tanya Stevia, ia berbicara dan menatap Riyadh dengan datar. Ia bisa menyimpan emosinya baik-baik karena ia tak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Padahal, saat ini. Ia sangat ingin menghajar dan memaki suaminya.


Mendengar suara yang tak asing, Riyadh yang sedang melihat ke arah samping langsung menoleh.


Jantung Riyadh terasa akan melompat dari rongga dadanya ketika ia melihat Stevia ada di depannya. Tiba-tiba, wajahnya memucat, lututnya melemas. Ia tak menyangka istrinya akan memergokinya.


"Ss-Stevia," kata Riyadh terbata-bata.


Stevia menyilangkan tangannya, lalu ia menatap wanita yang berada di samping suaminya. Wanita yang di tatap itu, tiba-tiba menunduk saat Stevia menatapnya.


"Ayah!" panggil anak kecil yang sedang berdiri di tengah-tengah Riyadh dan wanitu itu, seketika itu, Stevia tersenyum getir.


Riyadh memejamkan matanya saat anak di sampingnya memanggilnya ayah.


"Ss-Stevia aku bisa menjelaskan padamu," kata Riyadh.


"Kalau begitu jelaskan!"


Riyadh bergidik melihat reaksi istrinya. Stevia menatapnya dengan tatapan datar. Namun, Riyadh tau, Stevia sedang menahan amarahnya


"Kau lanjutkanlah, dulu. Aku akan menunggumu di apartemen," kata Stevia. Lalu setelah itu, Stevia melihat ke arah wanita yang sedang berada di sisi suaminya. "Jika kau ingin ikut, maka datanglah!" kata Stevia pada wanita itu, ia tersenyum sinis. Kemudian berbalik.


•••


Saat berada di mobil, tangis yang sedari tadi di tahan oleh Stevia, akhirnya tumpah. Stevia memukul-mukul dadanya, karena rasaya ini begitu menyesakkan.


Bagaimana mungkin, suami selama ini menjadikannya ratu, tak ubahnya hanya penipu ulung. Riyadh berhasil, membuatnya lupa akan sosok Lyodra dan Riyadh juga berhasil membuat hati Stevia terbuka. Hingga perlahan, nama Riyadh mampu mengisi hatinya.


Stevia masih menangis tergugu, ia masih berharap apa yang di lihatnya barusan hanyalah mimpi.Tapi, sekuat apapun dia menyangkal. Ini semua nyata. Suaminya telah membohonginya. Suaminya telah berkhianat. Sekuat apapun cinta Stevia untuk Riyadh, Stevia Takan mentolelir sebuah kebohongan dan Takan mentolelir sebuah pengkhianatan.


Setelah puas menangis, Stevia merogoh ponsel dari tasnya. Tangannya dengan lincah mencari-cara nama kontak mertuanya.


Bab 2


Pintu apartemen terbuka, Stevia yang sedang duduk sambil memegang gelas di tangannya menolah sebentar, lalu kembali lagi menatap ke arah depan. Ia tau, bahwa Riyadh lah yang masuk.


Jantung Stevia terasa di remas saat aroma wangi tubuh Riyadh menguar di hidungnya. Kemarin-kemarin, Stevia selalu merindukan aroma ini. Tapi sekarang, rasanya begitu menyesakkan.


Stevia menghela nafas beberapa kali, lalu menguasai diri. Ia sedang menahan dirinya agar tak mengamuk. Ia tak ingin merendahkan dirinya sendiri hanya demi lelaki seperti Riyadh.


Stevia menyeruput minuman di gelasnya, saat Riyadh duduk di sofa, matanya lurus kedepan, ia sama sekali enggan melihat ke arah Riyadh.


"Dia Agnes ...." Ucap Riyadh tiba-tiba, ia berbicara setelah sama-sama terdiam dengan waktu yang lama.


Hati Stevia berdenyut nyeri, air mata sudah mendesak untuk dikeluarkan. Namun, Sebisa mungkin ... Ia menahannya.


Riyadh menoleh ke arah Stevia, Lalu menunduk dan memainkan jari-jari di tangannya. Dua tahun, hidup bersama Stevia membuat Riyadh mengerti bagaimana sikap sang istri. Seperti dugannya, Stevia tetap tenang. Padahal ia berharap Stevia akan mengamuk dan menghajarnya.


"Dia mantanku semasa kuliah, kami pernah khilaf dan melakukan dosa. Hingga hadir sosok anak kecil yang tadi kau lihat. Aku tak tau dia mengandung, karena saat itu, dia pergi tanpa jejak. dan dua bulan lalu, dia datang bersama putriku!" Riyadh menghentikan ucapannya sejenak. Kemudian ia melihat ke arah Stevia, ia menghela napas gusar kala wajah Stevia tetap dingin dan tanpa ekpresi.


"Ternyata saat itu, dia pergi karena takut aku akan menyuruhnya menggurkan kandungannya ...."


"Apa kalian menikah siri di belakangku!" tanya Stevia memotong ucapan Riyadh. Dari cara suaminya menjelaskan, ia tau ada sesuatu yang terjadi antara suaminya dan perempuan itu.


Skak, Riyadh terdiam. Mulutnya kelu untuk di gerakan. Karena memang faktanya dia memang sudah menikahi Agnes seminggu lalu. Lelaki tampan itu merasa bersalah, karena Agnes yang berjuang sendiri melahirkan dan membesarkan putrinya.


Stevia tersenyum getir, jantungnya terasa terlepas dari rongga dadanya. "Kapan?" tanya Stevia lagi.


"Seminggu yang lalu," jawab Riyadh. "Aku menikahinya hanya karena ingin bertanggung jawab pada putriku. Aku sama sekali tak menyentuhnya Stevia, aku mencintaimu. aku berjanji aku bisa adil dan ...."


"Dan kau pikir aku mau menerima di madu?" tanya Stevia, memotong ucapan Riyadh.


"Kau tau siapa keluargaku, bukan? Dan kau mau aku menyetujui keinginanmu? Kau sudah lama mengenal keluarga kami, lalu bukankah kau bisa menebak jawaban apa yang akan aku beri." Stevia menekankan kata demi kata, terdengar jelas bahwa ia sedang di kuasai oleh amarah.


"Wanita berharga sepertiku tak akan pernah bersaing dengan wanita lain hanya untuk mendapatkan lelaki kacang sepertimu." Setelah mengatakan itu, Stevia mengambil ponsel dari sisinya dan menelpon seseorang


"Tolong urus perceraianku!" ucap Stevia pada orang yang di telponnya yang tak lain adalah pengacaranya.


"Stevia!" bentak Riyadh saat Stevia mengajukan ceria tanpa berbicara terlebih dulu dengannya. Padahal, jika Stevia menginginkan Riyad menceraikan Agnes, dia pun akan menceraikannya. Ia menikahi Agnes hanya karena ingin bertanggung jawab pada putrinya.


"Se-Stevia ...." Panggil Riyadh saat ia tak sengaja membentak istrinya. Riyadh pun bangkit dari duduknya dan berniat menghampiri Stevia.


"Tetap di tempatmu, mulai detik ini. Aku tak ingin seujung kuku pun tubuhnya di sentuh olehmu." Setelah mengatakan itu, Stevia langsung bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar lalu mengunci pintu.


Dua hari kemudian


Suasana ruang tamu begitu menegangkan, Riyadh tertunduk, saat mata Vania dan mata Malik menatap tajam padanya.


Saat ini, ia datang bersama ibu dan ayahnya untuk meminta maaf pada Malik dan Vania, berharap mereka mau membujuk Stevia agar tak meneruskan gugatan perceraian.


"Aku tak bermaksud mengungkit ini. Tapi, apa kalian lupa apa yang di lakukan papihku pada kalian?" tanya Vania. Ia menatap Ahsam, Sarah dan Riyadh dengan tatapan kecewa. Jika Tania seperti Keinya yang selalu memperlihatkan amarahnya, namun gampang memaafkan, lain halnya dengan Vania.


Ia seperti Bram, sang ayah. yang selalu tenang. Namun jika di kecewakan oleh orang lain. Tak akan ada lagi maaf bagi orang tersebut.


Ahsam menghela nafas, ia dan istrinya sangat banyak berhutang Budi pada mendiang Bram. Dan ia mengerti kekecewaan yang Vania.


Saat tau tingkah putranya, ia bahkan langsung menghajar Riyadh. Ia sungguh malu pada besannya. Ia tau, sebenarnya percuma meminta Vania untuk membujuk Stevia agar mencabut gugatanya. Ia mengenal Vania dengan baik dan ia yakin, Vania Takan mengampuni putranya.


"Vania .... Malik, atas nama putra kami, kami meminta maaf. Kami akan menyerahkan semua keputusan di tangan Stevia." Kata Ahsam lagi.


Mendengar ucapan sang ayah, Riyadh yang menunduk tiba-tiba mengangkat kepalanya. Bukankah tadi sang ayah akan ikut membujuk Vania.


"Kita sudah berhubungan baik selama puluhan tahun. Aku memaafkan kalian. Tapi demi apapun, aku Takan membiarkan putriku menjalani pernikahan yang menyakitkan. Mungkin Tania bisa menerima kembali menantunya. Tapi tidak denganku! tak akan ada kata kesempatan kedua untuk sebuah pengkhianatan." Tandas Vania dengan nada yang sangat-sangat tegas.


Vania enggak bakalan balik lagi sama Riyadh ya


Bab 3


Stevia hanya bisa terdiam, saat mendengar percakapan antara keluarganya. Ia sama sekali tak berniat berbicara saat riyadh dan kedua mertuanya datang ke rumahnya.


Keputusannya sudah bulat, Stevia tetap akan bercerai dari Riyadh. Tak ada kesempatan untuk sebuah pengkhianatan. Tak ada ampun, apalagi suaminya sudya menikahi wanita lain


Sekalipun, alasan Riyadh hanya untuk bertanggung jawab. Bukankah, semua  bisa di bicarakan baik-baik. Tapi, kenapa suaminya Malah memilih jalan yang menyakitkan bagi dirinya.


"Mah ... Pah, ampuni Riyadh. Riyadh janji, Riyadh bakal cerain istri kedua Riyadh. Riyadh janji ga akan kecewain lagi Stevia," kata Riyadh lirih, ia mengiba pada Malik dan Vania, mertuanya. Berharap Vania dan Malik mau memaafkannya dan membujuk Stevia.


Malik meradang.


"Bangun kamu!" titah Malik, ia bangkit dari duduknya dan menatap Riyadh dengan tatapan tajam.


Riyadh bangkit dari duduknya, dan setelah itu ...  tanpa menunggu lagi, Malik maju ke arah Riyadh dan memberikan bogem mentah pada menantunya hingga Riyadh tersungkur.


"Mana janji kamu yang mau bahagiain anak saya!" teriak Malik. Ia mengepalkan tangannya. sekuat tenaga ia menahan dirinya agar tak menghajar Riyadh. Emosinya berkobar. Ia tak menyangka bahwa sang anak akan mendapat lelaki sebrengsek Riyadh.


Vania bangkit dari duduknya, ia menghampiri suaminya dan memegang tangan Malik. "Mas!" panggil Vania, ia tak ingin suaminya terbawa emosi.


Malik tersadar, ia mengusap wajah kasar. Ahsam dan Sarah hanya bisa terdiam. Ia tak bis membantu sang putra karena sang putra memang bersalah


"Stevia masuk kamar! Biar ayah yang urus perceraian kalian!" titah Malik yang melihat Stevia.


mendengar ucapan mertuanya, Riyadh  langsung panik. di tengah rasa sakitnya karena menerima bogem dari mertuanya, ia langsung bangkit dari lantai dan berniat untuk berlutut di hadapan Malik.


Tapi sebelum rencananya tercapai, Malik yang mengerti apa yang akan dilakukan Riyadh langsung berbalik dan meninggalkan ruang keluarga, sedangkan Vania kembali duduk untuk menyelesaikan urusannya dengan Sarah dan Ahsam. Ia bersyukur, suaminya meninggalkan ruang keluarga, jika tidak ... Mungkin suaminya akan menghajar Riyadh kembali.


••••


Stevia berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai, Vania masih berbicara dengan kedua mertuanya dan juga suaminya. Sedangkan ia lebih memilih menuruti keinginan sang ayah yang menyuruhnya untuk pergi ke kamarnya.


Bohong jika stevia tak merasa sakit. Nyatanya, stevia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya. Tapi, seorang stevia Lesmana,  takkan pernah mengeluarkan tangisnya di hadapan orang lain.


Itu sebabnya, dia lebih memilih diam dari tadi. Karena sejujurnya, setiap menatap Riyadh ia ingin sekali menangis, jantungnya terasa diremas-remas kala membayangkan suaminya menikahi wanita lain di belakangnya, dan itu sungguh menyakitkan. Wanita mana yang tak sakit ketika suaminya menikahi wanita lain.


Apapun alasannya, tindakan Riyadh sangatlah salah.


Stevia mendudukkan diri di ranjang dengan posisi kaki yang menjuntai ke bawah. Ia sedikit membungkuk, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Wanita malang itu menangis tergugu, menangisi rasanya sakit karena dikhianati dan ia harus menghadapi perceraian yang tak pernah ia duga akan melanda pernikahannya.


Malik melongokkan kepalanya ke kamar putrinya. Ia menghela nafas saat mendengar isakan putrinya yang terdengar sangat pilu.


sebagai seorang ayah tentu Malik pun ikut hancur, seandainya ia tak terburu-buru mungkin nasib pernikahan putrinya takkan seperti ini.


perlahan, Malik berjalan ke arah putrinya ia mendudukan dirinya di ranjang di sebelah stevia. Tangannya terangkat untuk merangkul bahu putrinya dan membawa stevia kedalam dekapannya hingga tangis stevia semakin luruh.


Malik mengelus punggung stevia ia membiarkan stevia tenang dalam pelukannya. bukannya berhenti menangis tangi Stevia malah terdengar sangat kencang.


"Anak ayah kuat. Kamu pasti bisa ngelewatin ini." Gumam Malik, ia terus mengelus punggung putrinya.


Satu Minggu kemudian.


Stevia menghela nafas lega persidangan ke-1 nya berjalan dengan lancar. ia menolak segala mediasi hingga sidang berjalan cukup singkat di tambah lagi, Riyadh tak hadir semakin mempermudah jalan Stevia.


 Saat keluar dari ruang sidang, stevia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. karena rasanya, berada di ruang pengadilan cukup menyesakkan. Ia tak pernah berpikir bahwa ia akan sejauh ini. Tapi, apa mau dikata semua sudah terjadi. Lebih baik terluka sekarang daripada ia terus terluka di kemudian hari.


Saat Stevia akan berbelok, seseorang memanggilnya. Hingga stevia menoleh. Kening stevia mengernyit, saat melihat siapa yang memanggilnya. Wanita yang dinikahi suaminya atau calon mantan suaminya beberapa waktu lalu. Ya,   Agnes lah yang memanggilnya sambil menuntun putrinya.


Stevia terdiam saat Agnes menghampirinya, lidahnya terasa kelu untuk digerakkan. tentu saja rasa sesak menghampirinya apalagi melihat anak yang dituntun Agnes sangat mirip dengan suaminya. Tapi sebisa mungkin, Ia harus berdamai dengan masa lalu dan memaafkan semuanya.


"Kau ingin berbicara denganku?" Tanya stevia saat Agnes berdiri di depannya. Terlihat jelas, Agnes ragu untuk berbicara padanya hingga ia memulai pembicaraan.


"A-aku minta maaf atas semua yang terjadi," jawab Agnes dengan menunduk sedangkan mata Stevia langsung tertuju pada anak yang sedang dituntun oleh. 


tanpa menjawab ucapan Agnes, stevia menekuk lututnya mensejajarkan dirinya dengan anak Agnez dan anak  mantan suaminya. 


"Hai sayang, siapa namamu?" tanya Stevia pada anak tersebut. 


wajah anak kecil itu berbinar saat melihat stevia ia tersenyum kemudian memandang stevia dengan tatapan tulus. "Aku Melisa aunty," jawab bocah kecil itu membuat stevia tersenyum lalu mengelus rambut Melisa. setelah itu Stevia kembali bangkit dari duduknya dan melihat ke arah Agnes.


"Tak ada yang bersalah di sini, semua sudah takdir. Takdirku, takdirmu dan takdir Riyadh. kalian bisa menebus dosa-dosa kalian dengan membesarkan Melisa dengan baik. jangan merasa terbebani, karena ini semua sudah berakhir." Stevia berbicara dengan tersenyum padahal hatinya remuk redam. "kalau begitu aku permisi!" pamit stevia pada akhirnya. Ia mengelus rambut Meisya lalu meninggalkan Agnez yang terpaku karena sikap Stevia yang begitu baik.


•••


Satu bulan kemudian


Stevia menghela nafas lega saat ia keluar dari pesawat. Udara di Rusia benar-benar dingin, hingga stevia memeluk erat tubuhnya karena ia lupa memakai mantel.


Sebulan berlalu, Stevia resmi menjadi seorang janda. memang berat bagi Stevia, tak bisa dipungkiri rasa untuk Riyadh masih ada dan Ia tak ingin terlalu lama terjebak dalam masa lalu hingga Ia memutuskan untuk pergi ke Rusia meneruskan perusahaan milik keluarganya.


Sebelum pergi ke Rusia, Agnes sempat bertemu lagi dengannya. dan mengatakan bahwa Riyadh telah mentalaknya. Tapi, Stevia tak perduli. Karena itu bukan lagi urusannya. sekalipun Riyadh memohon untuk kembali padanya. Stevia tak akan pernah membuka lagi hatinya untuk Riyadh.


Saat ia keluar dari terminal kedatangan, Ia menabrak seorang lelaki. Namun, baru saja ia akan meminta maaf.Matanya membulat saat ia melihat siapa yang ditabraknya.


"Kau!" 


Bab 4


Mata Stevia membulat saat melihat lelaki yang di tabraknya. Begitu juga lelaki itu, ia juga tak menyangka bahwa ia akan bertemu lelaki yang menyebalkan ini


“Kau lagi!” omel Stevia, membuat lelaki yang berada di depannya berdecih.


“Hei, Nona! Bandara ini bukan milikmu. Kenapa kau harus kesal,” balas lelaki tersebut. Membuat Stevia menghela nafas.


“Dasar lelaki mesum!” omel Stevia, membuat lelaki itu membulatkan matanya. Bagaimana mungkin, wanita itu menyebutnya begitu. Padahal saat itu, wanita yang baru saja mengutuknya hanya salah paham.


“Kaka!” Teriak sang adik, membuat lelaki yang bernama Leo itu langsung menoleh.


“Kau merepotkan sekali! Seharusnya kau meminta supir menjemputmu!” gerutu Leo pada Maria, sang adik. Ia langsung menghardik adiknya begitu Maria ada di depannya.


“Memangnya aku perduli,” jawab Maria tak kalah sengit. Setelah itu, ia berjalan meninggalkan sang Kaka bersama supirnya.


••••


“Kau ingin aku mengantarkanmu kemana?” tanya Leo pada Maria.


“Kantor Daddy.” Maria menjawab acuh, matanya melihat ke arah tab membuat sang Kaka berdecih. .


.


40 Menit kemudian, mobil yang di kendarai oleh Leo sampai di Smith company, perusahaan sang ayah. Seperti biasa, Maria meninggkan sang Kaka seolah sang Kaka adalah asistennya.


“Dadd ....” Panggil Maria, Zayn yang sedang fokus pada laptopnya, Zayn menoleh kemudian tersenyum. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri sang putri lalu memeluknya.


“Bagaimana liburanmu di Bali?” tanya Zayn setelah melepaskan pelukannya.


“Menyebalkan, Anak itu menelponku 3 jam sekali hanya untuk memastikan agar aku tak meminum alkohol.” Maria mencebik, saat mengingat kelakuan sang Kaka.


“Aku melakukan itu untuk kebaikanmu. Kenapa kau mengutukku!” sela Leo yang masuk ke ruangan sang ayah.


“Leo, duduk. Daddy ingin berbicara denganmu!” kata Zayn. Leo berjalan dengan lesu ke arah sofa, ia sudah tau apa yang akan di ucapkan oleh sang ayah.


“Maria, kau beristirahat dulu di ruangan Daddy. Daddy harus berbicara dengan kakakmu!” kata Zayn. Maria pun mengangguk dan sekarang, hanya tinggal Leo dan Zayn yang duduk di sofa. .


“Kau tau apa yang akan Daddy bicarakan bukan?” Tanya Zayn, Leo mengangguk.


“Berhenti bermain-main. Kita akan memperluas jaringan dan membangun sektor di Bali, kau akan bertanggung jawab dengan sektor yang akan kita bangun dan kau juga harus membangun kerja sama yang baik dengan pemimpin Abraham grup yang bercabang di sini.”


Mendengar kata Abraham grup, Seketika Leo tersedak. “A-abraham g-grup.” Loe menatap sang ayah dengan tatapan tak percaya. Ia tau, siapa pemimpin Abraham Grup cabang Rusia, yang tak lain adalah Stevia. Wanita yang tadi mengutuknya.


Belum Zayn menjawab, pintu ruangan Zayn di ketuk, Zayn pun mempersilahkannya untuk masuk karena ia sudah tau siapa yang datang ke ruangannya.


“Selamat datang Nona Stevia,” ucap Zayn, ternyata Stevia lah yang datang.


Leo kembali tersedak, lalu menoleh kebelakang. Sosok yang tadi mengutuknya datang ke ruangannya


“Terimakasih, Tuan Zayn.” Stevia membalas uluran tangan Zayn.


“Leo, beri salam pada Nona Stevia,” kata Zayn pada Leo saat sang putra terus terdiam.


“Hallo tuan Leo,” kata Stevia sambil tersenyum manis. Diam-diam, ia menatap Leo dengan tatapan meremeh.


“Lihat ... Lihat, dia pintar sekali bersandiwara.” Leo membatin dalam hati saat Stevia tersenyum padanya. Padahal, tadi Stevia memakinya.


Leo bangkit dari duduknya, ia membalas uluran tangan Stevia. Saat mereka berjabat tangan, Leo dan Stevia sama-sama mencengkram tangan mereka. Diam-diam, tatapan mereka saling memanas.


“Leo!” tegur Zayn, ia mengernyit heran kenapa sang putra menatap Stevia dengan aneh.


Leo tersadar, ia melepaskan jabatan tangannya kemudian kembali duduk. Matanya tak lepas memandang Stevia dengan tatapan kesal.


•••


“Baik Tuan Zayn, terimakasih atas waktu anda. Kalau begitu saya pamit untuk pergi,” kata Stevia ketika pembicaraannya dan Zayn sudah selesai.


“Baik Nona Stevia, terimakasih atas waktu anda. Saya harap kerja sama antar perusahaan kita berjalan lancar,” kata Zayn sambil bangkit dari duduknya menyusul Stevia yang sudah bangkit.


Setelah berbasai basi dengan Zayn, akhirnya Stevia pun pergi dan keluar dari ruangan Zayn. Ia berencana untuk langsung pergi ke penthouse yang sudah di siapkan.


Saat berada di dalam Taxi, ponsel di tasnya berdering. Satu pesan masuk ke ponselnya


Terpampang nama Riyadh di layar ponselnya.


[“Stevia, kumohon beri aku kesempatan kedua.”] Tulis Riyadh dalam pesannya. Stevia tersenyum getir. Ia mengusap layarnya.


Aku masih mencintaimu, Tapi seorang Stevia, takan kembali ke pelukan lelaki pengkhianat. Kau adalah buku yang tak akan aku buka lagi. Karena semua tentangmu begitu menyakitkan.


Batin Stevia berteriak pedih. Faktanya, ia pergi ke Rusia bukan untuk mengurus pekerjannya. Melainkan untuk melupakan semua tentang Riyadh, tentang rumah tangganya yang kandas karena sebuah hati yang lain dan cinta yang terbagi.


25 menit kemudian, Stevia sampai di sebuah penthouse yang cukup besar, penthouse itu hanya di tinggali olehnya dan beberapa asisten rumah tangganya.


•••


“Leo jaga sikapmu pada nona Stevia. Dia adalah penentu jalan untuk membuka sektor di Indonesia,” kata Zayn saat Stevia meninggalkan ruangannya.


Leo menganguk dengan malas, ia bahkan tak menoleh pada sang ayah. Pandangannya lurus kedepan, memikirkan mulai hari esok, ia akan berurusan dengan Stevia, wanita yang sangat menyebalkan.


“Leo,” gerutu Zayn saat sang putra tak menggubris ucapannya.


Leo tersedar, ia menegakan tubuhnya, “Maaf Dad. Aku akan berusaha bekerja sama dengannya. Tapi, aku tak yakin dia bise bekerja denganku!” kata Leo dengan nada lemas.


“Apa kau dan Nona Stevia pernah terlibat sesuatu?” tanya Zayn.


“Kau akan menertawakanku atau mungkin mengutukku jika tau,” ucap Leo.


“Memangnya kenapa?”


Leo ....


Bab 5


“memangnya Apa yang terjadi padamu dan Nona stevia?” tanya Zayn dengan raut wajah penasaran ia menatap Sang putra dengan tatapan gemas karena Leo tak kunjung menjawab pertanyaannya


“Sudahlah, Dad!  Jangan dibahas karena sungguh tak penting!” jawab Leo. kejadian saat itu begitu memalukan bahkan rasanya jika melihat wajah Stevia moodnya langsung memburuk.


“Bolehkah aku pulang, Dad. Putri kesayanganmu sudah di sini dan tugasku selesai,” ucap Leo lagi membuat Zayn menggeleng karena tingkah putranya yang tak pernah serius dengan apapun.


Tanpa mendengar lagi jawaban sang ayah, Leo pun pergi keluar dari ruang kerja Zayn.  ia rasa, ia butuh hiburan dan satu-satunya hiburan baginya adalah pergi ke Club.


hingar-bingar lampu mulai terlihat, Leo memasuki club yang khusus untuk orang-orang kelas atas di Rusia. Begitu sampai, ia disambut oleh seorang wanita yang cukup cantik dan seksi. Seperti biasa, leo  melewati wanita itu begitu saja karena jujur saja ia tertarik dengan wanita yang berpakaian terbuka.


•••


Saat sampai di penthouse, Stevia langsung pergi ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Lalu, mengambil ponselnya dan membaca ulang pesan Riyadh.


Tak terasa, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya saat membaca ulang pesan Riyadh. Stevia adalah wanita yang paling gampang jatuh cinta. Tapi, ketika dia disakiti apalagi atas nama penghianatan dia takkan mentolelirnya. Sekalipun dia masih mencintai lelaki itu termasuk pada Riyadh.


Bohong jika Stevia sudah melupakan Riyadh. Faktanya, rasa itu masih ada dan tersimpan rapih di hatinya. Riyad, lelaki dingin yang dulu hanya sebatas mengenalnya. Namun dengan gentle  berani datang pada orang tuanya dan berani meminangnya.


“Cukup Stevia ...Cukup! kau harus melupakannya!” Stevia bergumam sendiri, ia menghapus seluruh pesan dari Riyadh. Kemudian memblokir semua kontak dan semua akses agar Riyadh  tak bisa menghubunginya.


Keesokan harinya.


Stevia turun ke bawah dengan pakaian kantornya. Tampilannya sangat elegan, walau hanya memakai celana panjang dan dipadukan dengan blazer dengan rambut diikat. Hari ini, ia akan mulai memimpin Abraham group cabang Rusia


“Aku sungguh rindu makan pecel lele!” stevia setelah ia mendudukan di meja makan. Menu di depannya ada roti dan juga sarapan sehat  lainnya. Tapi, sungguh ... Ia sama sekali tak berselera.


Ia memutuskan untuk tak sarapan. Ia bangkit dari duduknya, menyambar kunci mobil dan membawa tas kerjanya. Kemudian, ia keluar dari penthouse dan langsung mengendarai mobilnya untuk pergi ke kantornya.


Jalanan di Rusia cukup lenggang. Cuaca cukup cerah, hingga pemandangan terasa lebih indah. Stevia pun akhirnya bersenandung sambil menyetir.


Ckitttttttt Brakkkk


Karena Stevia menyetir sambil melihat pemandangan dan bersenandung. Ia tak menyadari bahwa di depannya ada sebuah mobil yang sedang terparkir di bahu jalan hingga ia menabrak mobil tersebut


Stevia terpekik kaget saat ia menyadari bahwa ia menabrak mobil yang sedang terparkir di depannya. Ia menutup mulut tak percaya dengan apa yang telah di lakukannya.


Sebelum terjadi kesalah pahaman, Stevia langsung turun dari mobilnya untuk menghampiri pemilik mobil yang ditabraknya dan berniat bertanggung jawab.


Setelah turun, Stevia langsung ngetuk-ngetuk kaca jendela mobil tersebut. Namun sayang, tak ada siapapun di dalam. Hingga tak lama, terdengar suara pekikan dari belakang membuat Stevia menoleh.


“Mobilku!” seorang lelaki terpekik kaget saat melihat mobil belakangnya penyok, ia lebih terkejut melihat siapa yang menabrak mobilnya.


“Kau!” Sentak Leo saat melihat Stevia. Ternyata, mobil yang ditabrak Stevia adalah mobil milik Leo yang baru dibeli Leo sekitar 2 minggu yang lalu.


“Kau menabrak mobil ku?!” Leo melotot galak pada Stevia. Stevia menggigit bibirnya, Kemudian berusaha tenang. Lalu tersenyum kikuk. membuat Leo semakin geram saat melihat ekspresi Stevia.


“Maaf!” kata Stevia


“Maaf kau bilang!” Hardik Leo. Ia menatap Stevia dengan tatapan kesal bercampur marah.


“Aku akan memperbaiki mobilmu. Atau jika kau mau, aku akan mengganti mobilmu dengan yang baru,” kata Stevia membuat mata Leo membulat. Leo benar-benar ingin mencekik wanita di depannya ini, Stevia seolah-olah menginjak-injak harga dirinya.


Tanpa menjawab lagi ucapan Stevia, Leo langsung masuk ke mobilnya dengan membanting pintu mobil. Membuat Stevia terperanjat kaget, kemudian menggeleng.


“Dasar aneh!” Setelah mobil Leo pergi. Stevia pun kembali masuk kedalam mobilnya dan melanjutkan perjalanannya untuk ke kantor.


Setelah sampai di depan kantor, Stevia terdiam sejenak. Ia menatap gedung Abraham grup. Ia tak menyangka, karena perceraiannya ia sampai harus pergi jauh kemari.


Setelah puas memandang gedung di depannya. Stevia pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke perusahaannya.


Stevia tersenyum saat melihat ruangannya. Ia maju ke arah meja kerjanya dan mengambil kaca yang berisikan namanya dan jabatannya sebagai direktur utama.


Ia punmenduduki kursi kerjanya membuka laptop dan mulai pekerjaannya.


•••


waktu menunjukkan pukul 12 waktu Rusia, stevia merentangkan tangannya perutnya terasa keroncongan Ia pun bangkit dari duduknya dan berniat untuk pergi ke kantin.


Namun, baru saja ia akan bangkit sekretaris barunya mengetuk pintu hingga Stevia mengurungkan niatnya untuk keluar dan mempersilahkan sekretaris barunya untuk masuk.


“Madam, Tuan Zidan dan Tuan Leo mengkonfirmasi akan menemui anda,” kata Anne, sekretaris Stevia.


“Orang itu lagi!”


“Hmm!” Sekretaris Stevia langsung bereaksi ketika Stevia berguman.


“Tidak, tidak apa-apa,” kata Stevia, sambil tersenyum. Diam-diam ia menghela nafas kasar kalau harus bertemu dengan Leonardo, kaki yang menurutnya cukup menyebalkan dan sangat menyebalkan.


•••


“Jaga sikapmu Leo! jangan sampai kau mengacaukan kerja sama ini!” kata Zidan pada keponakannya.


Leo mendekus, tadi pagi ... Mobilnya baru saja di tabrak oleh Stevia dan kini, sang paman malah mengajaknya pergi menemui Stevia. Sungguh, hari yang sangat sial!


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya Zidan dan Leo sampai di perusahaan Abraham group Mereka pun langsung diarahkan untuk masuk untuk naik ke ruangan Stevia.


“Selamat datang Tuan Zidan Tuan Leo,” ucap Stevia saat Zidan dan Leo masuk ke ruangannya.


Stevia menyalami Zidan dan Leo, Saat ia menyalami Leo, Leo mencengkram tangan Stevia dengan keras, begitupun Stevia. Ia mencengkram lengan Leo tak kalah keras.


Zidan menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Stevia dan Leo. Ia  sudah tahu dari sang kakak bahwa Leo dan stevia sepertinya pernah ada masalah di masa lalu. Hingga saat akan ke sini Zidan mewanti-wanti agar Leo tetap bersikap sopan pada Stevia.


“Ekhemm!” Zidan berdehem, hingga Stevia dan Leo sama-sama tersadar.


“Silahkan duduk!” kata Stevia yang mempersilahkan Leo dan Zidan untuk duduk.


Mereka pun mulai berbincang-bincang tentang proyek yang akan mereka kembangkan bersama-sama.


3 bulan kemudian.


Stevia mematut diri di cermin. Wajahnya tampak malas, dan tampak tak bersemangat. Malam ini, ia harus menghadiri sebuah pesta perkumpulan pengusaha yang selalu rutin di gelar setiap tahun. Ia tak ingin hadir. Tapi, sebagai pimpinan Abraham grup. Mau tak mau, ia pun harus hadir.


Setelah siap, Stevia pun keluar dari kamarnya. Seperti biasa,  Anne sang sekretatis sudah menunggunya


“Wah, anda cantik sekali Madam,” kata Anee saat Stevia turun kebawah.


“Kau juga cantik Ane!” jawab Stevia. “Ayo kita berangkat!”


••••


Setelah perjalanan kurang lebih selama 30 menit, akhirnya mobil yang dikendarai oleh sekretaris Stevia sampai di hotel tempat menyelenggarakan pesta.


Pesta itu terlihat sudah ramai, beberapa pengusaha sudah berdatangan. Jangan ditanya seberapa mewahnya pesta tersebut, yang pasti pesta itu sangat mewah


Stevia turun dari mobil. Ia langsung berjalan beriringan dengan Ane dan masuk ke tempat acara.


Stevia langsung berbaur dengan beberapa orang pengusaha, mereka berbincang akrab sedangkan ane berdiri disamping Stevia.


“Ane aku titip tasku dulu sebentar. Aku rasa aku harus ke toilet!” kata Stevia. Ane pun mengangguk.


Saat akan masuk ke lorong untuk berjalan ke arah kamar mandi. Seseorang menarik tangan Stevia. Mata Stevia  membulat saat melihat siapa yang menarik tangannya ternyata Riyadh, mantan suaminya.


Ah sial! ia lupa bahwa Riyadh pun mempunyai perusahaan dan saat ia menikah, Riyadh memutuskan berhenti untuk menjadi sekretaris Khalisia dan memutuskan untuk memimpin perusahaan sendiri hingga hari ini ia pun hadir di sini.


Selama ini, Riyadh sudah menahan untuk tak bertemu Stevia. Ia  sudah merencanakan jauh-jauh hari pertemuan ini. Karena ia yakin, ia akan bertemu di sini dan saat stevia lengah ia langsung mengikuti Stevia dan berencana membawa Stevia ke kamar mandi 


“Apa yang kau lakukan Hah!” Teriak Stevia saat Riyadh menyudutkannya ke tembok.


Plakkk! 


Satu tamparan mendarat di pipi Riyadh, Stevia menampar Riyadh dengan kencang hingga suara tamparan itu terdengar begitu nyaring.


Emosi Riyadh terpancing, ia langsung mengunci tangan  Stevia ke atas kemudian  mencium rakus bibirku Stevia.


Stevia tak bisa melawan, tangannya dikunci oleh Riyadh, ia berusaha melawan. Namun tak bisa. Ia sudah mengigit bibir Riyadh. Namun, Riyadh bergeming. Ia tetap mencium bibir Stevia. Ia benar-benar merindukan Stevia hingga akhirnya ia berbuat nekad. 


Brakkkk


Tiba-tiba pintu kamar mandi di dobrak dari luar, membuat Riyadh langsung melepaskan tautannya, seketika Stevia di hinggapi kelegaan. 


Emosi Riyadh memuncak, ia langsung maju untuk menghajar orang yang telah menganggunya. Namun, sebelum Riyadh maju, orang itu mendahului meninju pipi Riyadh, hingga pipi Riyadh ambruk kelantai.


Mata Stevia membulat.


“Kau tidak apa-apa?” Tanya orang yang barusan mendobrak pintu.


bab 6


Leo baru saja menerima telpon. Saat akan kembali ke pesta. Kening Leo mengernyit heran saat melihat Stevia di tarik oleh seorang lelaki.


Awalnya, Ia pun sama sekali tak ingin memperdulikan Stevia. Karena walau bagaimanapun ia tak mau terlibat dengan wanita yang sangat  menyebalkan itu.


Tapi,  saat ia melewati kamar mandi. Ia  mendengar seperti suara orang yang menggeram dan ia tahu bahwa itu adalah suara Stevia karena hanya ada Stevia dan lelaki  yang menarik Stevia yang masuk ke  toilet.


Saat ia memutuskan untuk kembali ke pesta. Ia mengurungkan niatnya, kala mendengar suara hentakan kaki yang seperti sedang terpaksa, Ia mengingat saat sebelum masuk ke kamar mandi. Wajah Stevia begitu gelisah saat lelakii itu menariknya.


Ia pun mendekatkan telinganya ke pintu. lalu, saat ia merasa yakin bahwa Stevia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, Leo langsung mendobrak pintu.


Benar dugaannya, ternyata Stevia memang sedang tidak baik-baik saja. Setelah membuka pintu, Ia langsung melepaskan  paksa tangan Riyadh dari Stevia kemudian langsung memberi bogem mentah pada Riyadh.


“Kau tidak apa-apa?” Tanya Leo pada stevia yang masih terdiam ditempat.


Stevia tersadar saat kedua kali Leo bertanya padanya. ia menoleh pada Leo kemudian mengangguk ragu.


Riyadh bangkit dari lantai. Ia menatap galak pada Leo. Baru saja Riyadh akan menghampiri Leo untuk membalas pukulannya. Stevia menahan tangan Riyadh.


“Hubungan kita sudah berakhir, tolong jangan seperti ini!” Setelah mengatakan itu. Stevia  langsung berjalan dan melewati tubuh Riyadh.


Ia berjalan ke arah Leo, lalu menarik tangan Leo  membuat mata Leo membulat. Ia  terpaksa melakukan ini agar Riyadh menyangka bahwa Leo adalah kekasihnya. Ia tak punya pilihan lain, Ia hanya berharap Riyadh akan berhenti untuk mengganggunya.


Nafas Riyadh memburu, saat melihat Stevia menggenggam tangan lelaki lain. Matanya memerah, ia ingin sekali menghajar Leo tapi ia tak bisa. Ia takut Stevia semakin membencinya.


Setelah Leo dan stevia keluar dari kamar mandi. Ryadh mengusap wajah kasar. Kemudian ia teringat sesuatu, ia merogoh saku dan mengambil benda kecil yang berisi serbuk. Kemudian ia menyeringai.


“Stevia, kau akan jadi milikku lagi,” kata Riyadh.  Di otaknya sudah tersusun rencana dan dengan cara ini, ia yakin Stevia akan kembali menjadi miliknya.


•••


“Tunggu!” kata Leo saat saat keluar dari kamar mandi.


Stevia menghentikan langkahnya. Ia tersadar kemudian melepaskan genggaman tangan Leo. Ia  menoleh, kemudian tersenyum. Membuat Leo terpaku, tumben sekali wanita di depannya ini tak menyebalkan seperti biasanya.


“Maaf Tuan Leo!” kata stevia.


Leo terpaku, ia terdiam saat melihat wajah stevia yang tampak sendu. untuk pertama kalinya ia melihat wanita di depannya ini berbeda.


Jika Bertemu dengannya, atau jika mereka tak sengaja bertemu. Stevia akan menunjukkan muka dingin dan acuhnya. Tapi, sekarang ...


Stevia yang di depannya ini seperti berbeda dengan stevia yang selalu melihatnya dengan tatapan dingin dan datar.


“Kau baik-baik saja?” tanya Leo tanpa sadar.


Stevia tersenyum. Ia mengangguk, “terima kasih sudah membantu saya. Kalau begitu saya permisi.” Setelah mengatakan itu, Stevia langsung berbalik dan berlalu meninggalkan Leo. Ia pergi tanpa mendengar lagi jawaban Leo.


Saat berjalan, Stevia menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca, ada air mata yang mendesak untuk dikeluarkan. Rasanya, begitu menyakitkan ketika melihat Riyadh, Karena jujur saja,  itu mengingatkannya pada kenangan masa lalu. Dan sekarang, dengan tidak tahu malunya Riyadh datang kepadanya, menghampirinya dan melakukan hal yang menurutnya sangat menjijikkan.


“Nona, anda tidak apa-apa?” tanya Ane. Mata Ane menatap Stevia dari atas sampai bawah, ia merasa ada yang tak beres dengan bosnya.


Stevia tersenyum kemudian mengangguk “Aku ingin pulang. Bagaimana jika kita pulang sekarang?”  Tanya Stevia pada Ane.


Anne  tampak berpikir. “Nona, rasanya akan tidak sopan jika kita pulang sekarang. Ada beberapa tamu lagi yang harus anda temui atau yang mungkin ingin menemui anda. Tapi, keputusan ada pada anda. Saya akan mengikuti keputusan anda,” jawab Anne. Membuat Stevia tampak berpikir.


Stevia menoleh ke sana kemari. Acara semakin malam semakin ramai.  Tamu-tamu yang lain berdatangan. Saat ia akan menjawab ucapan Anne, Seseorang menepuk Stevia  dari belakang, hingga membuat Stevia menoleh.


“Nona Stevia,” panggil Seseorang.


“Hai, Tuan Emanuel,” jawab Stevia. Ia tersenyum pada rekan bisnisnya. Kemudian mereka pun mulai berbincang-bincang.


Keesokan harinya. 


Stevia membuka matanya, Kepalanya terasa berputar-putar. Ia melihat kesekelilingnya. Karena kepalanya masih berdenyut nyeri. Ia pun memutuskan untuk memejamkan matanya kembali. Namun, sepersekian detik. Kesadarannya kembali


“Tunggu! ini bukan kamarku!” Stevia langsung kembali membuka matanya. Ia melihat ke arah. Mata Stevia terbelalak ketika melihat seorang lelaki tidur di sampingnya. 


Dan 


“Aaaaaaaaaaaaaaa!” Stevia dan lelaki itu sama-sama berteriak.


Bab 7


Setelah sekian lama terdiam di toilet. Riyadh pun memutuskan keluar dari toilet, Ia langsung kembali ke pesta dan mencari-cari seseorang.


Setelah  melihat orang yang ia cari, Riyadh menghampiri orang tersebut. Lalu, Ia mendekat kemudin  berbisik, dan dengan gerakan pelan ia memberikan serbuk obat itu pada seseorang yang telah dia bayar.


Orang itu adalah pelayan yang diperintahkan Ryadh untuk memasukkan obatpada minuman Stevia.


Riyadh tersenyum saat pelayan itu memberikan minuman pada Stevia. Stevia sedang mengobrol dengan rekan bisnisnya mengambil minuman itu dan menangguk nya sedikit demi sedikit.


pelayan itu pun berlalu sambil membawa nampan berisi minuman. Naasnya, pelayan itu memasukan obat perangsang kedua gelas, karena takut Stevia memilih yang tak berisi obat perangsang. Dan pelayan itu berniat untuk membuang isi gelas yang satunya lagi


Namun, saat melewati segerombolan pengusaha yang sedang berbincang. Seseorang menarik gelas yang di atas nampan. Membuat mata pelayan itu membulat.


Karena tak ingin terkena masalah, pelayan itu membiarkan gelas itu di ambil tanpa menegurnya, dan naasnya ... Gelas itu di ambil oleh Leonardo Smith.


15 menit berlalu, tubuh Stevia terasa gelisah. Ia memegang tengkuk dan mengusap-ngusapnya. tiba-tiba, rasa panas menjalar diseluruh tubuh. Begitupun dengan leo. Leo, kehilangan fokus saat berbicara dengan rekan-rekan bisnisnya


Riyadh yang melihat dari jauh tersenyum saat melihat reaksi Stevia. Ia sudah bekerjasama dengan Anne , Sekretaris mantan istrinya dan Anne  akan mengarahkan stevia untuk memesan kamar di hotel dan saat itulah Riyadh akan masuk ke kamar yang di tempati oleh Stevia.


”Anda tidak apa-apa?” tanya Anne saat melihat Stevia seperti terlihat gelisah. Tentu saja, Ane hanya berpura-pura bertanya. “Tubuhku panas. Aku tak tahu kenapa tubuhku begini. Sepertinya aku butuh berendam,” Kata Stevia.


“Nona apa sebaiknya kita menyewa saja hotel di sini?” kata  Ane. Anne mengedarkan pandangannya untuk mencari Riyadh. Saat mata Anne dan mata Riyadh saling mengunci, Anne mengangguk, pertanda ia akan membawa Stevia ke kamar hotel.


Stevia yang merasa tubuhnya hilang kontrol pun mengangguk, “Cepat pesankan untukku!” kata stevia rasanya ia ingin cepat meredam tubuhnya dalam bathube. Karena rasa panas sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.


Anne menarik lembut dengan Stevia dan membawa Stevia untuk keluar dari area pesta. Lalu, ia berjalan ke lobi hotel dan memesan kamar untuk Stevia.


Berbarengan dengan itu, Leo pun datang ke lobi hotel dan memesan kamar untuk dirinya sendiri. Ia pun sama, berniat untuk berendam di bathtub karena rasa panas di tubuhnya sudah meluap-luap


••••


Setelah mendapat Cardlook  kamar hotel. Anne dan Stevia langsung berjalan ke kamar  yang sudah dipesan.


Setelah masuk ke kamar hotel, Stevia langsung membuka seluruh pakaiannya dan berendam di Bathube.  Sedangkan Anne langsung keluar dari kamar. Karena berpikir sebentar lagi Riyadh akan segera datang.


Saat Ane keluar dari kamar,  Leo masuk ke kamar yang ditempati Stevia. Karena kamar yang  yang dipesan Leo bersebalahan dengan kamar yang dipesan stevia, dan naasnya, Leo malah masuk ke kamar yang di tempati Stevia.


Otak Leo sudah tidak bisa berpikir jernih, dan saat melihat kamar yang ditempati Stevia terbuka. Leo langsung memasuki kamar itu, karena menganggap kamar itu adalah kamar yang telah Ia pesan.


Dan setelah ia masuk, Leo langsung membuka seluruh pakaiannya dan masuk kamar mandi,  yang sedang diisi oleh Stevia.


Otak mereka sama-sama kosong, tubuh mereka sama-sama panas. Entah apa yang terjadi di kamar mandi, Hingga akhirnya ,kedua insan itu saling melebur menjadi satu.


••••


“Aaaaaaaa!” Teriak Leo dan Stevia secara bersamaan saat mereka menyadari bahwa mereka tidur satu ranjang dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun.


“Kau!” Lagi-lagi,  dan stevia berteriak bersamaan raut wajah terkejut terlihat jelas di wajah keduanya.


Stevia  mengusap wajah kasar, ”Bagaimana mungkin kita berakhir di sini dengan seperti ini,” kata Stevia.


Wajah Stevia langsung memerah.  Ia ingin sekali menangis. Bagaimana mungkin ia bisa tidur dengan lelaki yang bukan siapa-siapanya.


Semalam. Ia  hanya ingat bahwa ia meminta Anne  memesan kamar hotel karena tubuhnya begitu panas dan setelah itu ia tak mengingat apapun lagi.


“Kenapa kau masuk ke kamar yang aku pesan!” teriak Stevia saat melihat cardlook milik Leo tergeletak di lantai. Jelas-jelas, kamar yang di pesan Leo ada di sebelah kamar yang di pesannya.


Leo masih tak menjawab. Otaknya kosong seketika. Ia bingung, bagaimana mungkin ia  berbaring di sini dengan Stevia. Ia tak mengingat apapun, yang ia ingat ...  Semalam tubuhnya terasa panas dan ia masuk ke kamar hotel lalu masuk ke kamar mandi.


“Brengsek ... Bajingan ...!” Teriak Stevia saat Leo masih terdiam. Ia  memukuli Leo dengan bantal secara membabi-buta membuat lewat tersadar. Dengan sekali gerakan, Leo mengambil bantal tersebut dan mencekal kedua lengan Stevia  agar Stevia tak memukulinya lagi.


“Lepassss!” Teriak Stevia saat Leo mencengkram kedua tangannya. Leo tersadar, saat selimut yang menutupi tubuh Stevia jatuh ke bawah. Hingga, terpampang jelas tubuh Stevia yang setengah telanjang.


Dengan cepat, Lio  memalingkan tatapannya hingga membuat stevia tersadar, bahwa selimut yang dipakainya melorot


“Cepat pakai pakaianmu!” titah Leo. stevia langsung menarik selimut lalu melilitkannya ke tubuhnya. Dan kini, tubuh polos Leo


yang polos  terpampang nyata di hadapan mata Stevia hingga stevia langsung berlari kearah kamar mandi.


•••


Kini, Leo dan dan Stevia duduk di sofa dengan posisi saling berseberangan. Tentu saja mereka sudah memakai. Pakaian lengkap dan bersiap untuk pulang ke tempat masing-masing.


“Sekarang kita harus bagaimana?” Tanya Stevia saat duduk berhadapan dengan Leo. Ia bisa saja berbicara dengan wajah yang tenang. Padahal, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dan hatinya ketar-ketir. Bagaimanapun, ia telah melakukan dosa yang sangat besar.


Stevia menyilangkan kakinya ia bersidekap


lalu menatap Leo dengan tatapan tajam, membuat Leo menghela nafas dan mengusap wajah kasar.


“Ini bukan salahku, maupun salahmu. ini murni kesalahan kita berdua,” kata Leo dengan dengan entengnya membuat mata stevia membulat.


Mendengar ucapan Leo. Wajah Stevia meredup. Ia bagaikan Sudah jatuh tertimpa tangga pula lalu bagaimana jika ia mengandung. Akankah lelaki di depannya ini bertanggung jawab. Sekalipun Leo bertanggung jawab, akankah ia mampu menerima Leo di saat hatinya belum sembuh dari luka masa lalu.


Otak Leo buntu, ia tak bisa berpikir jernih. Lalu ia mengalihkan tatapannya pada stevia, dan menatap wajah stevia lekat-lekat. Bagaimana mungkin, ia harus bertanggung jawab dan menikah dengan wanita yang sangat menyebalkan di depannya ini.


Helaan nafas panjang terlihat dari wajah Leo. Ia  menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Kemudian berbicara pada Stevia. “Jika terjadi sesuatu denganmu, atau kau mengandung. Aku akan bertanggung jawab. Tapi jika tidak, maka lupakan saja hal semalam. Kalau begitu aku pergi. Semoga kejadian ini tak mempengaruhi kerjasama kita yang sedang berlangsung.” Setelah mengatakan itu Leo pergi tanpa menoleh lagi ke arah stevia.


Setelah Leo pergi dan pintu kamar hotel tertutup. Stevia menaikkan kakinya. Kemudian berbaring di sofa. Ia menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan. Matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Air matanya luruh, wajah kedua orang tuanya terbayang-bayang di otaknya.


Ia sudah melakukan dosa yang sangat besar. Walau bagaimanapun. Keluarganya mendidiknya dengan agama yang kuat. Tapi, yang terjadi di sini. Ia malah membuat dosa yang sangat besar. Bahkan, tak termaafkan. lalu bagaimana jika kedua orang tuanya tahu.


Stevia masih menangis tergugu. Rasanya begitu menyesakkan.Ia paling dirugikan di sini


Apalagi mendengar kata-kata Leo yang berkata akan bertanggung jawab. Namun, tak ada sama  sekali keseriusan dalam ucapannya.


“Nonna!” Panggil Anne saat  masuk kedalam kamar hotel. Ia tertegun ketika melihat stevia berbaring di sofa sambil menangis.


Rasa bersalah mendera Anne. Semalam, Riyadh  Memarahi Anne  habis-habisan karena gagal menjalankan tugasnya. Padahal Riyadh sudah membayar Ane dengan mahal.


Dan semalam, saat Riyadh akan masuk ke kamar yang ditempati oleh stevia. kamar itu terkunci, Karena setelah Leo masuk saya mengunci pintu tersebut.


“Nonna!” panggil Anne. Stevia yang sedang berbaring sambil menangis tersadar. ia bangkit dari berbaringnya kemudian duduk dan menghapus air matanya.


“Ah maaf Kau pasti menungguku dari tadi,” Kata Stevia. Ia berusaha tersenyum padahal hatinya hancur berkeping-keping.


“No-Nonna!” Lirih Anee dengan terbata-bata. Ia menatap Stevia dengan mata berkaca-kaca. Rasa  bersalah Anne semakin membuncah. Ia  bisa menahannya lagi.  Ia pun menghampiri Stevia dan berlutut di hadapan Stevia.


“Anne, apa yang kau lakukan!” pekik Stevia dengan terkejut ia. Ia bingung, kenapa Anee harus berlutut di hadapannya.


“Anne ada apa?” Stevia bangkit dari duduknya dan memaksa Anne untuk bangkit.


“Nonna  ... Se-sebenarnya ....”


Tubuh Stevia bergetar saat mendengar untaian kata yang diucapkan Anne. Jantungnya terasa ditusuk ribuan jarum saat mengetahui bahwa ini adalah ulah mantan suaminya.


“Di-dimana dia?” kata stevia dengan terbata-bata. wajahnya sudah memerah emosi sudah di ubun-ubun.


Diaaa ....


bab 8


Setelah mengetahui keberadaan Riyadh, Stevia langsung keluar dari kamar yang di pesannya dIa berlari untuk menyusul Riyadh.


Rasanya, ia ingin menghajar mantan suaminya. Emosinya sudah di ubun-ubun dan meledak-ledak. Ia tak akan melepaskan Ryadh begitu saja. Karena Riyadh, ia harus mengalami hal buruk.


Saat ia akan menaiki lift. Pintu lift terbuka, Ternyata Ryadh ada di dalam lift tersebut. Tanpa basa-basi, Stevia maju ke arah Riyadh lalu ia melayangkan tangannya. dan menampar Ryadh.


Plakkk


Satu tamparan mendarat di pipi Ryadh. Stevia menampar Riyadh dengan keras. Hingga suara tamparan itu begitu nyaring.


“Berani sekali kau melakukan ini padaku. Apa maumu, Hah!” teriak stevia ia menatap Riyadh dengan mata menyala.


“Aku ingin, kau kembali padaku Stevia!” teriak Riyad. Saat Stevia memukul-mukul tubuhnya. Riyadh menangkap kedua tangan Stevia lalu menyudutkan stevia ke sisi.


“Aku ingin dirimu Stevia. Aku ingin kau kembali lagi padaku!” Suara Ryadh mulai melemah, ia menempelkan keningnya pada kening Stevia. Hingga hangat nafas Riyadh menyapu wajah Stevia.


Tangis Stevia luruh, untuk kedua kalinya. Lelaki ini melukainya. Semua menubruk menjadi satu Sehingga. Rasanya, Stevia hampir gila.


Tubuh Stevia bergetar, membuat Riyadh Langsung melepaskan cekalannya pada tangan Stevia. “Tolong hentikan. Jangan lagi menggangguku!” Kata Stevia dengan nada memelas. “Kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Tolong jangan mencampuri lagi urusanku,” ucap Stevia lagi membuat Riyadh tertegun.


Saat mendengar ucapan Stevia. Riyadh terdiam. Selama mengenal Stevia. Ini pertama kalinya Riyadh melihat Stevia yang berbeda.


Ketika melihat Riyadh terdiam, Stevia berbalik lalu berjalam keluar dari lift. Ia menunduk bahunya bergetar. Stevia menangis tergugu. Selama hidupnya. Ini pertama kalinya ia memperlihatkan kerapuhannya.


••••


6 Tahun kemudian


“Mommy, aku lapar. Tapi tenggorokanku sakit,” kata Amora. Ia memegang tenggorokannya yang terasa perih. Ia ingin makan. Tapi, ia kesusahan saat menelan.


Dia adalah Amora Smith, anak yang di lahirkan Stevia 6 tahun yang lalu. banyak yang terjadi dengan kehidupan stevia 6 tahun ini.


3 bulan setelah kejadian di hotel. Stevia baru menyadari bahwa ia telah mengandung. Ia menghubungi Leo dan berkata tentang kehamilannya.


Leo bertanggung jawab. Ia menikahi Stevia dan berpindah agama. Tapi nyatanya, pernikahan mereka tidak sesimpel itu.


6 tahun ini. Pernikahan mereka bisa disebut tidak sehat. Mereka tidak tinggal serumah. Bahkan, Leo sangat jarang pulang ke rumahnya.


Tak ada yang tahu tentang nasib pernikahan mereka. Karena mereka selalu berpura-pura di depan keluarga besar masing-masing. Hingga, tak ada yang menyadari bahwa pernikahan Leo dan stevia hanya pernikahan semu.


Stevia dan Amora menjalani hari-hari mereka hanya berdua. Saat mereka akan menikah, Leo membuat pembatas antara dia dan Stevia.


Saat itu, Leo berkata jujur. Bahwa ia berpindah agama hanya karena sebuah formalitas. Ia tak ingin Stevia mencampuri urusannya dan ia pun tak akan mencampuri urusan Stevia.


Bisa dibayangkan betapa hancurnya Stevia saat itu. Tapi ia tak punya pilihan lain. Ia menerima semuanya dengan lapang.


Selama 6 tahun ini. Bisa terhitung beberapa kali Leo datang ke penthousnya. Dalam sebulan, Leo hanya pulang dua kali bahkan terkadang sekali. Ia hanya datang sebentar. Ia hanya menemui Amora sebagai bentuk formalitas. Seolah ia terpaksa menemui putrinya sendiri.


Hancur, Jangan ditanya betapa hancurnya Stevia. Ia adalah korban di sini. Ia juga adalah orang yang paling menderita. Stevia tak pernah menunjukkan kesedihannya di hadapan siapapun. ia Membalut lukanya dengan dengan wajah yang tegar.


Setiap Amora bertanya tentang Leo, Stevia harus memutar otak untuk menjelaskan kemana perginya Leo. Stevia hancur berkeping-keping saat mendengar Amora merindukan Leo. Jangankan meminta Leo untuk datang, mereka saja jarang bertegur sapa.


Ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Stevia dari Leo. Yaitu, kondisi Amora dan kondisinya yang sebenarnya. Tak ada yang tahu tentang kondisi Amora dan kondisinya. Termasuk Leo dan keluarga besarnya.


Ia menyimpan semua sendiri. Ia menghadapi semuanya sendiri. Ia berjuang sendiri, tak ada yang memberinya semangat. Stevia paling anti untuk di kasihani. Hingga, ia merahasiakan apa yang terjadi, dan menutup rapat semua, menyamarkannya dengan senyuman.


••••


mendengar ucapan Amora, hari Stevia teriris perih. Amora bahkan tak bisa makan, makanan padat selama dua hari ini.


Stevia menggendong tubuh Amora, mendudukkannya di pangkuannya.


“Bagaimana jika Mommy membuatkanmu makanan lembut?” tanya Stevia. Amora mengangguk lesu. Ia paling tak menyukai makanan lembek. Tapi, perutnya sudah sangat perih.


Stevia bangkit dari duduknya. ia berjalan ke dapur. Kemudian mendudukan Amora di meja pantry. Lalu, Ia memulai memasak.


Saat membelakangi tubuh Amora, Stevia menitikkan air mata. Melihat kondisi putrinya. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya. Seandainya ia bisa meminta. Lebih baik Ia saja yang menderita.


Kenapa Tuhan menghukumnya bertubi-tubi. Apakah ini karma karena ia telah membuat dosa besar. Tak cukupkah apa yang dialami Stevia sampai putrinya harus merasakan rasa sakit yang teramat pedih.


10 menit kemudian, makanan yang di masak Stevia selesai. Amora memandang makanan itu dengan tak bersemangat, membuat dada Stevia berdenyut nyeri.


“Aaa!” kata Stevia sambil menyodorkan sendok ke mulut Amora.


Amora membuka mulutnya. Baru saja ia akan mengunyah makanannya. Ia langsung turun dari kursi dan berjalan ke tempat sampah untuk memuntahkan makanannya.


“Amoraa!” pekik Stevia ...


Bab 9


“Amora!” Pekik Stevia saat Amora memuntahkan makanannya. Ia menghampiri Amora, lalu menepuk-nepuk punggung Amora.


Amora menegakkan tubuhnya. Ia memegang tenggorokannya. “Mommy tenggorokanku bertambah sakit,” kata Amora ia menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara. Karena perih di tenggorokannya semakin menjadi-jadi.


Hati Stevia teriris perih saat melihat kondisi putrinya. Ia menggendong Amora lalu mendudukan Amora di meja makan. Setelah itu, ia mengambil susu khusus untuk Amora lalu memberikan ke hadapan Amora. Hanya susu itu yang masuk ke tubuh putrinya.


Setelah Amora meminum susu, ia mengambil ponsel milik Stevia yang tergeletak di sampingnya. Ia membuka ponsel sang ibu lalu mengetik sesuatu.


“Mommy kapan kita akan kembali ke rumah sakit?” tulis Amora di ponsel Stevia. Walaupun umur Amora baru menginjak 5 tahun. Tapi, Amoera sudah bisa menulis dan membaca.


Tenggorokannya semakin bertambah nyeri, Sehingga ia hanya bisa menyampaikan pesannya lewat teks yang diketik di ponsel sang ibu.


Nafas stevia tersendat, ketika membaca pesan dari putrinya. Rasanya, ia kesulitan untuk bernafas. Biasanya Amora paling sulit untuk pergi ke rumah sakit dan ia tau, saat ini Amoera sudah sangat tersiksa dengan kondisinya.


Tau apa yang paling menyakitkan bagi Stevia? Di tengah rasa sakit yang melanda putrinya. Amora sama sekali tak pernah merengek. Ia hanya berkata bahwa dirinya merasakan sakit. Lalu, selebihnya akan terdiam. Seolah gadis kecil itu sedang menikmati sakit yang menderanya.


“Besok kita pergi ke rumah sakit dan bertemu dokter Rey,” kata Stevia. Stevia berusaha tersenyum, kemudian mengelus rambut Amora.


Saat mengelus rambut Amora, Stevia mengigit bibirnya. Ia langsung menyembunyikan tangannya kebelakang. Ternyata rambut Amora menempel di telapak tangan Stevia. Hati Stevia terasa ngilu saat melihat rambut Amora yang semakin menipis.


Rupanya mata Amora cukup jeli. Ia melihat saat rambutnya ada di tangan Stevia. Amora meraba rambutnya sendiri. Dan saat ia menurunkan tangannya. Ternyata rambutnya pun ikut jatuh ke telapak tangannya.


Sejenak, Amora melihat telapak tangannya yang dipenuhi oleh rambutnya sendiri. kemudian ia memberikan rambutnya pada stevia. hingga Stevia tak kuasa untuk tak menumpahkan tangisannya.


“Amora, kita pasti bisa. Kau pasti sembuh,” ucap stevia. iya membawa tubuh Amora kedalam dekapannya.


Seperti biasa, Amora tak menjawab saat Stevia memeluknya. Amora hanya melihat ke depan dengan tatapan kosong. ia sedang merasakan sakit di seluruh tubuhnya.


Keesokan harinya.


“Mommy, aku ingin memakai jilbab,” kata Aurora dengan suara yang pelan.


stevia yang sedang bersiap menoleh kearah Amora. ia menekuk kakinya dan menyetarakan diri dengan Amora.


“kau ingin memakai jilbab?” Tanya Stevia. Amora pun mengangguk. Aurora mengelus kepalanya lalu mengambil rambut yang rontok dan memperlihatkannya pada Stevia.


Stevia menunduk, Ia mengambil rambut itu dari tangan Amora, kemudian berjalan ke tempat sampah lalu membuangnya. Tak ingin membuat Amora sedih. Ia mengambil jilbab yang kecil lalu memakaikannya pada kepala Amora. Jilbab yang ia beli saat ia pulang ke Indonesia.


“Ayo!” ajak ia mengulurkan tangannya pada Amora kemudian mereka pun keluar dari kamar dan pergi rumah sakit.


jalanan Rusia cukup lenggang, Stevia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia menoleh kearah Amora di mana Amora tampak melamun dengan tatapan kosong ke depan.


Wajah Amora begitu tirus dan pucat, berbeda dengan Amora setahun kebelakang yang tampak segar dan tampak lucu.


mobil stevia berhenti saat lampu merah. Tiba-tiba, Amora memegang lengan stevia kemudian menunjuk ke seberang di mana ada Leo sedang duduk di cafe seorang diri.


Wajah Amora berbinar saat melihat sang ayah. Namun, wajahnya kembali meredup kala mobil yang dikendarai sang ibu harus melaju karena lampu sudah hijau.


Saat melihat wajah Amora yang murung, Stevia meminggirkan mobilnya lalu menghentikannya. Ia menoleh kearah Amora.


“Kita tak bisa menghampiri Daddy, karena kita harus segera bertemu dokter Rey,” kata Stevia. Ia berusaha menenangkan Amora. Amora menoleh kearah Stevia. kemudian ia mengangguk pertanda ia mengerti apa yang diucapkan oleh sang ibu.


Satu Minggu kemudian.


Stevia tersenyum saat melihat Amora makan dengan sedikit lahap. Sudah dua hari ini perkembangan Amora cukup bagus


Amora sudah bisa memakan makanan yang padat.


Dua hari lalu, Stevia berjanji akan membawa Amora ke kantor untuk bertemu Leo.


Walaupun Stevia dan Leo sudah menikah. Mereka tetap partner bisnis, di mana stevia tetap memimpin Abraham grup dan Leo tetap memimpin Smith company.


Walaupun mereka terikat pernikahan. Tapi, mereka cukup profesional dalam menjalani kerjasama. Dan hari ini, Leo akan datang ke kantornya untuk membahas kerjasama tahunan dan ia sengaja membawa Amora agar Amora bisa bertemu dengan Leo. Dan itu sebabnya, Amoera terlihat tampak bersemangat.


••••


Waktu menunjukan pukul 11 siang, Amoera menunggu harap-harap cemas akan ruangan Stevia ia sedang menunggu kehadiran Leo.


Setelah 10 menit berlalu. Pintu terbuka. Sosok Leo muncul membuat wajah Amora terlihat bahagia.


“Daddy,” pekik Amora. Ia langsung berlari ke arah Leo dan memeluk kaki Leo.


Leo terlihat menghela nafas berat. Kemudian ia mengelus kepala Amora yang terbungkus hijab. reaksi Leo tentu saja tak luput dari perhatian stevia. terlihat jelas wajah Amora begitu bahagia berbeda dengan Leo.


•••


Saat meeting berjalan. Mata stevia terus melihat kearah Amora yang duduk di sisi Leo. terlihat jelas Amora ingin duduk di pangkuan sang ayah. Tapi, Leo seolah acuh. Ia malah fokus pada berkas yang sedang dilihatnya.


Saat Leo sedang sibuk memeriksa berkas. Amora terus menatap kearah Leo. ia menarik-narik keras kerah jas Leo Berharap, sang ayah menoleh kepadanya.


Sungguh, Stevia ingin sekali menegur Leo. tak bisakah dia berpura-pura. Setidaknya sekali ini saja


••••


“Daddy, tak akan pulang ke rumah?” tanya Amora saat sang ayah membereskan berkas di depannya. Amora tahu bahwa sang ayah akan segera pergi.


Leo menoleh sekilas, kemudian ia mengelus lagi kepala Amora. Lalu tersenyum. “Daddy masih banyak pekerjaan. Jika waktu Daddy Senggang, Daddy akan pulang,” ucap Leo. “Stevia, aku pergi,” kata Leo. Setelah mengatakan itu. Ia berlalu meninggalkan ruangan Stevia. Meninggalkan hati Amora yang patah berkeping-keping.


Saat Leo keluar, Amoera bangkit dari duduknya. iya langsung berlari kearah pintu dan membuka pintu. Ia ingin berlari mengejar sang ayah. Tapi, secepat kilat, Stevia menahan tubuh Amoraa.


“Mommy!” mata Amora tampak berkaca-kaca.


dia menatap sang ibu dengan wajah sendu dan tatapan terluka. jangan ditanyakan betapa hancurnya hati stevia tentu saja ia begitu hancur melihat putrinya diabaikan oleh Leo.


“Daddy sedang sibuk, Sayang.” kata Stevia. Ia mengelus kepala Amoera. Lalu menggendong tubuh Amoera dan mendudukan diri di sofa dan mendudukan Amora di pangkuannya.


“Mommy!” Rasa sesak membuncah Dalam dada Amora. Langsung memeluk tubuh sang ibu. Lalu menumpahkan tangisannya.


“Bagaimana jika sekarang kita membeli boneka,” bujuk Stevia. Amora tak mengangguk atau pun menggeleng.


•••


Setelah membujuk Amora dan membuat mood Amoora membaik. Stevia mengajak Amora untuk pergi ke mall dan membeli mainan.


“Amora kau masuk dulu ke dalam. Oke, Mommy akan menerima telepon dulu,” kata stevia saat iya dan Amora sudah masuk ke gerai tempat mainan mainan.


Amora pun mengangguk. Ia masuk seorang diri dan mencari mainan yang menurutnya menarik. Saat melihat miniatur boneka, Amora tersenyum. ia berjalan untuk mengambil boneka itu. Saat Amora akan mengambil boneka itu. Boneka itu itu sudah terlebih dahulu diambil oleh seorang anak perempuan seumuran Amora.


“Itu punyaku,” kata Amora ia menatap galak pada anak perempuan yang memegang mainan yang ia inginkan.


“Daddy!” teriak anak kecil yang mengambil mainan yang diinginkan oleh Amora.


“Cecil ada apa?” tanya sang ayah, ia menghampiri Cecil.


“Daddy? kenapa dia Daddymu dia Daddyku.” Hardik Amora saat melihat lelaki yang di depannya.


Bab 10


Tubuh Lelaki yang tadi di panggil Daddy oleh Cecil menengang. “A-amora.”


“A-amora ad ap ....” stevia menghentikan ucapannya ketika melihat siapa yang ada di depan Amora.


Lutut Stevia melemas saat melihat siapa orang yang berdiri di depan putrinya. Suaminya, sekaligus ayah dari anaknya.


Ini seperti Dejavu, seperti kejadian tujuh tahun silam. di mana ia memergoki Riyadh, mantan suaminya bersama wanita dan seorang anak kecil dan kini untuk yang kedua kalinya dia merasakan hatinya hancur karena kejadian yang sama.


“Daddy!” panggil Cecil. Seketika, nafas Stevia memburu saat mendengar anak kecil itu memanggil Leo Daddy.


Ah, kini Stevia mengerti, kenapa Leo bersikap dingin pada Amora. Apalagi, anak kecil yang memanggil Daddy pada Leo seumuran dengan Amora. Ia sudah lebih dari jelas bagi Stevia.


mata Leo dan mata stevia saling mengunci. Tubuh Leo menegang. Stevia tersadar, ia memutuskan pandangannya pada Leo. Lalu melihat ke arah Amora yang sedang menatap Cecil dengan tatapan tidak suka.


“Amora, ayo pulang.” Kata Stevia, ia berjongkok untuk menggendong Amora. Stevia tak tahan untuk terus melihat Leo. Ada air mata yang mendesak untuk segera di keluarkan.


Stevia pergi dari hadapan Leo membawa luka yang amat luar biasa hebat. Ini bukan tentang dirinya tapi tentang putrinya.


Setiap langkah, setiap hembusan nafas, mengantarkan Stevia kedalam rasa sakit yang luar biasa hebat, putrinya sedang berjuang untuk hidup. Putrinya tak pernah mengeluh, tak pernah merengek. Tapi Leo ...


••••


waktu menunjukkan pukul 10 malam. di dalam ruangan yang redup kedua insan terdiam.


5 menit yang lalu, Leo datang ke penthouse stevia. iya mengirim pesan pada Stevia bahwa ia akan datang. Hingga, Stevia menunggu Leo di ruang tamu dan kini pasangan manusia yang terbelenggu takdir itu saling duduk dengan posisi berhadap-hadapan.


“Aku rasa Aku tak punya kewajiban apapun untuk memberitahumu karena kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Hanya saja, aku rasa kau perlu mendengar penjelasanku,” kata Leo. ia menghentikan ucapannya lalu melihat reaksi Stevia. Namun seperti biasa, Stevia bergeming. Tatapannya lurus ke depan. Bahkan, dia seperti tak mendengar ucapan Leo.


“Dia adalah putriku, dia lahir 2 bulan setelah Amora lahir. aku rasa hanya itu yang bisa kujelaskan kepadamu. karena kau sudah tahu maka aku tak perlu repot-repot menyembunyikan semua. Aku harap kau bisa tetap menyembunyikan semua dari keluarga besar kita. Kalau begitu, aku pergi."


Stevia tersenyum getir ketika mendengar ucapan Leo. “Leo!” panggil Stevia. Leo yang sudah berdiri dan bersiap pergi kembali menoleh pada Stevia. Leo pun kembali mendudukkan dirinya dan menatap Stevia.


“Apa kau menyayangi Amora seperti menyayangi putrimu yang lain?” Tanya Stevia. Ia menguatkan hatinya untuk mendengar jawaban Leo.


Leo tampak menghela nafas beberapa kali. Kemudian, ia melihat stevia lekat-lekat. “Kau yakin ingin tahu jawabannya?” Tanya Leo. Stevia pun mengangguk tanpa menoleh kearah Leo.


Leo tersenyum getir “Mungkin dari seratus persen. Aku hanya menyayangi Amora sepuluh persen. Ya, aku mungkin ayah yang jahat. Tapi, kau tahu Stevia. Kita jadi terlibat seperti karena ulah mantan suamimu, dan muncullah Amora di tengah-tengah kita. Karena kehadiran Amora, aku tak bisa menikahi kekasihku. Putriku tak bisa mendapat namaku. Bahkan, aku harus menyembunyikan Cecilia di hadapan dunia. Akulah yang jadi korban disini, karena aku terlibat permasalahmu dan mantan suamimu. Banyak yang aku korbankan karena kehadiran Amora. Jadi, aku rasa menyayangi Amora 10 persen adalah hal yang terbaik yang bisa aku berikan untuk Amora.”


Kata-kata Leo bagai pedang yang menghunus jantung Stevia. Ia tak menyangka, Leo bisa berpikiran seperti itu tentang Amora. Amora hanya anak yang tak berdosa. Lalu, kenapa leo malah membenci Amora dan menyalahkan putrinya.


Hati Stevia terlalu hancur untuk merespon semua ucapan Leo, ia hanya bisa terdiam.


“Maaf jika ini menyakitimu. Tapi inilah fakta yang sesungguhnya.”


Setelah mengatakan itu, Leo bangkit dari duduknya. Saat ia berbalik. Langkahnya terhenti. saat melihat Amora berdiri di depannya.


“A-amora!” ucap Leo terbata-bata.


Mendengar nama Amora, Stevia tersadar. Ia langsung menoleh. Matanya terbelalak saat melihat Amora berdiri di depan Leo.


Secepat kilat, Stevia bangkit kemudian menggendong Amora.


Saat berada di dalam gendongan Stevia, mata Amora tak berkedip menatap sang ayah. Membuat Leo terhenyak atas reaksi putrinya. Ini pertama kalinya, Amora menatapnya dengan tatapan berbeda. tiba-tiba hidung Amora mengeluarkan darah membuat stevia terpekik begitupun Leo yang ikut terkejut.


Perlahan Leo, melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Amora. Namun, secepat kilat stevia memundurkan langkahnya.


“Leo pergilah. aku akan memberi pengertian pada Amora,” ucap Stevia sambil tersenyum. tangis yang sedari tadi ditahan nya akhirnya pecah ketika mendekap tubuh Amora. membuat Leo terpaku Ini pertama kalinya ia melihat stevia menangis.


“Leo, pergilah. Kau tak perlu khawatir. Amora pasti mengerti.” Tanpa mendengar lagi jawaban Leo, Stevia berbalik kemudian ia masuk ke kamar Amora