Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Nasib tragis


Simma menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia peduli apapun lagi, yang ia pikirkan, adalah sampai di apartemen Gissel secepatnya. Rasa takut, rasa khawatir mendera Simma. Bayangan Gabby menangis seorang diri menari-nari di otaknya


Ia tidak pernah menyangka, Gabby akan mengalami hal buruk dan bernasib sama seperti dirinya. Bahkan, ia juga tak menyangka Arsen menantunya tega melakukan ini pada Gabby. Padahal, selama ini putrinya begitu baik dan begitu tulus menyayangi Arsen dan keluarganya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya Simma sampai di tower apartemen Gisel. Ia langsung memasukkan mobilnya ke basement, dan ia memarkirkan mobilnya. Lalu mematikan mesin mobil, dan keluar dari mobil.


Saat akan berjalan, Sima menghentikan langkahnya. Tiba-tiba, tubuhnya melemas, ia berusaha mengatur nafasnya. Apa yang menimpa Gabby terlalu membuatnya terkejut. Hingga akhirnya, ia shock dan sekarang, ia bahkan merasa kakinya tak bisa di gerakan.


Tiba-tiba, terdengar suara decitan ban dan Seseorang memarkirkan mobilnya. “Sayang!” pekik Stuar ternyata, Stuard menyusul Simma karena ia tahu, apa yang akan terjadi pada istrinya.


Benar saja dugaannya. Saat ia sampai, ia melihat Simma seperti kesulitan untuk bergerak. “Dad!” panggil Simma saat Stuard dekat dengannya.


Stuart berjongkok, kemudian ia melepaskan sandal Sima. Lalu setelah itu, ia memijat telapak kaki Simma karena ia tahu, apa yang terjadi dengan kaki istrinya.


Sepuluh menit berlalu. Sima sudah bisa menggerakkan kakinya, membuat Stuard bernafas lega. “kau sudah baikan sayang?” tanya Stuad.. Simma mengangguk. “Terima kasih, Dad.” Stuard bangkit dari posisinya, kemudian ia langsung merangkul pundak Simm.


“ Ayo kita naik ke atas!” ajak Stuard. lalu mereka pun mulai berjalan ke arah lift untuk naik ke apartemen Gissel.


Saat sampai di depan pintu, Simma menghentikan langkahnya. Hingga Stuard yang akan menekan sandi, ikut menghentikan gerakannya. Lalu menoleh.


“Seebentar, Dad.” Tubuh Simma mengeluarkan keringat dingin, wajahnya sudah memucat. Sungguh, ia tidak sanggup untuk melihat Gabby dan ia takut, ia akan lebih histeris, dari Gabby.


Setelah bisa menenangkan diri, akhirnya Simma dan Stuard masuk kedalam apartemen Gissela. Apartemen itu begitu sepi. Tidak ada siapapun di dalam.


“Dad, kau tunggu di sini. Aku ingin berbicara berdua bersama Gabby!” kata Simma. Stuard mengangguk, karena ia tahu, istrinya butuh waktu untuk bersama Gabby.


Perlahan, Simma melangkahkan kakinya menuju kamar Gissel. Setelah berada di depan pintu, Simma yang akan mengetuk pintu, menghentikan gerakan tangannya, saat mendengar tangisan Gabby dari dalam.


Secepat kilat, Simma langsung membuka pintu kamar Gisel. Ternyata, Gabby sedang menangis dengan posisi meringkuk.


Gabby yang sedang meringkuk, menoleh saat mendengar pintu terbuka. Ia langsung bangun. ”Mommy!” Gaby memanggil Sima dengan bibir bergetar. Ia tidak menyangka, sang ibu akan datang.


“Gabby!” Simma langsung berlari ke arah Gabby. Lalu,. ia langsung memeluk Gabby, begitupun Gabby yang memeluk sang ibu dengan erat. Hingga tangis kedua anak kedua ibu dan anak itu sama-sama pecah


“Mommy!” Gaby hanya mampu memanggil sang ibu. Sedangkan Simma terus membelai punggung Gabby. Dia tahu, rasa sakit macam apa yang dialami oleh putrinya.


“Its, oke. Gabby. Jangan menangis Gabby, jangan menangis!” kata Simma, saat Gabby terus menangis. Ia bisa saja melarang Gabby menangis. Tapi ia sendiri pun tak bisa menghentikan tangisnya.


8 Tahun kemudian ...


Scroll gengs Aku up dua bab ya. karena masih ya enak badan bsok aku usahain 3 bab


Ini langsung 8 tahun kemudian karena biar ga bertele2 aja ya. Yang nanyain keluarga Arsen nnti ttep di bahas kok