
“A-apakah kau seorang psico?’ tanya Naura ia menatap Alvaro dengan takut-takut.
Alvaro menyeringai. “Bisa dibilang seperti itu," jawabnya. Dia malah mengakui apa yang Naura tuduhkan, hingga wajah Naura memucat.
Selangkah Naura mundur, selangkah pula Alfaro maju. “Jangan mendekat,” ucap Naura membuat Alvaro terkekeh.
“Rileks baby." wajah Naura semakin memutih. Tak lama, Naura memejamkan matanya saat punggungnya mengenai tembok ia tidak bisa mundur lagi dan Alvaro makin menyeringai puas. Alvaro menarik pinggang Naura, hingga tubuh mereka sangat rapat dan secepat kilat Naura mendorong tubuh Alvaro.
“Minggir, Jangan mendekat.” Naura berbicara dengan terbata, kali ini wajahnya lebih dari sekedar memucat. Bahkan, terlihat sangat memutih, ia begitu takut dengan Alvaro.
“Baby rileks, Kau tidak perlu takut. Kau aman jika kau patuh. Tapi aku tidak menjamin dengan apa yang akan terjadi nanti jika kau terus melawan. Bisa saja ...." Alvaro menjeda sejenak ucapannya kemudian ia mengelus pipi Naura, membuat Naura memejamkan matanya.
“Minggir!” Naura mendorong tubuh Alvaro. Namun tentu saja Alvaro mundur sambil memegang pinggang Naura. hingga Naura pun ikut mundur. Alvaro menjatuhkan tubuhnya di sofa, hingga Naura pun jatuh di atas tubuhnya membuat Naura membulatkan matanya.
“Lepaskan aku,” ucap Naura. Sungguh, saat ini Naura ingin sekali menangis karena ketakutan, Bagaimana mungkin ia bisa terjebak dengan seorang psico yang bisa kapan saja melenyapkannya. Jika ia salah sedikit saja, mungkin nyawanya akan melayang, begitulah pikir Naura.
Alvaro tersenyum, ia mengelus bibir Naura. “Bibirmu seksi sekali sayang," ucap Alvaro membuat Naura semakin merasa ngeri.
“Bayangkan, apa yang akan aku lakukan pada bibirmu. Jika kau membuat aku marah ....” Tiba-tiba otak Naura blank, ia seperti teringat film-film tentang psico yang terobsesi dengan wanita dan jika wanita itu tidak menerima, maka nyawanya terancam dan sekarang Naura seperti ada di posisi itu, di mana dia terjebak dengan psico.
“Tolong lepaskan aku.” kali ini nada suara Naura mulai melemah, dia bahkan tidak berani menatap Alvaro. Alvaro melepaskan tangan dari pinggang Naura, hingga Naura pun langsung bangkit Lalu setelah itu Naura mendudukan diri di sofa dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, seraya membelakangnya Alvaro.
Sebenarnya ia tidak tega melihat Naura ketakutan hanya saja ini cara Alvaro agar Naura tetap menurut padanya. “Ayo kita makan, Naura." Alvaro mengulurkan tangannya pada Naura. Namun Naura tidak menggubrisnya.
“Sayang.” Alvaro memanggil Naura dengan penuh penekanan.
“Jangan memanggilku Sayang,” balas Naura.
Alvaro menarik tangan Naura dan Naura pun langsung menarik lagi tangannya dari genggaman Alvaro. “Kau ingin aku melakukan sesuatu padamu,” ucap Alvaro ketika Naura terus menolaknya. Dengan tangan gemetar, Naura mengangkat kembali tangannya, membiarkan Alvaro menggenggamnya dan mereka pun berjalan ke arah ruang makan.
Di ruang makan itu, sudah terhidang berbagai masakan kesukaan Naura, membuat Naura mengerutkan keningnya, karena makanan ini adalah makanan yang ia sukai. Namun bukan makanan dari usia, melainkan makanan dari luar negeri.
Alvaro menarik kursi untuk Naura, hingga Naura mendudukkan dirinya di kursi, begitupun Alvaro yang juga duduk di sebelah Naura. Dengan tangan gemetar, Naura mengambil sendok dan garpu. Pikiran buruk sudah mengembara, ia takut Alvaro menaruh sesuatu dalam makanannya
“Don't worry, aku tidak menaruh apapun di sana,” ucap Alvaro yang mengerti pikiran Naura. Tapi Naura masih enggan memakan makanan itu. Hingga akhirnya Alvaro mengambil makanan Naura dan menyuapkannya ke mulutnya sendiri.
“Lihat, aku saja makan makananmu. Ayo makan,” ucap Alvaro. Naura pun memberanikan diri untuk makan, dan ternyata makanan itu sangat mirip dengan yang Naura selalu makan ketika ia sedang berada di luar negri.
Pada akhirnya, acara makan pun selesai. Alvaro mengambil tisu kemudian mengelap sudut bibir Naura yang terkena noda makanan, hingga Naura refleks menghindar. Setelah itu, Alvaro mengulurkan tangannya lagi pada Naura.
“Ayo kita menonton film," ucap Alvaro. Sungguh, rasanya Naura ingin sekali lari dari sini.
“Kau tidak ingin menemaniku menonton film?” tanya Alvaro, nada suaranya di penuhi ancaman di telinga Naura, hingga akhirnya Naura mengangkat tangannya menerima uluran tangan Alvaro.
Alvaro mengajak Naura untuk duduk di sofa lagi. Lalu setelah itu Alvaro membaringkan tubuhnya dan menjadikan paha Naura sebagai bantal. “Elus rambutku,” ucap Alvaro. Naura memejamkan matanya, lalu mengelus rambut Alvaro dengan terpaksa.
Akhirnya acara menonton film selesai. Naura melihat ke arah bawah ternyata Alvaro sedang tertidur. Dengan pelan, Naura menyimpan kepala Alvaro di sofa. Lalu setelah itu, ia mengambil tasnya dan keluar.
Tepat ketika Laura keluar dari apartemennya, Alvaro membuka mata karena faktanya dia hanya pura-pura tertidur. Dia hanya mampu menatap punggung Naura dengan getir.
Saat sudah berada di luar, Naura lansung berlari ke arab basement. Saat berada di basement. Naura berlari, mencari tempat sepi. Rasanya ia begitu mual membayangkan apa yang dilakukan Alvaro. Bagaimana jika Alvaro benar-benar seorang psico dan melakukan sesuatu terhadap orang lain. Lalu Naura juga membayangkan hal terburuk bahwa, bukan hanya dia yang objek Obsesi oleh Alvaro, dia membayangkan masih ada wanita lain yang pernah dalam posisinya dan berakhir dengan tragis.
***
Saat berada di depan apartemen, Naura mencoba menenangkan dirinya karena Nauder sudah pulang dari kantor dan ia tidak boleh membuat Nauder curiga.
“ Sayang !" Tiba-tiba terdengar suara dari arah dalam. Saat mendengar suara Nauder. Naura langsung berlari ke arah suaminya dan langsung memeluk lelaki itu.
Naura menumpahkan tangisan, ia merasa bersalahnya karena telah bertemu dengan Alvaro. “Sayang kau kenapa?" nada suara Nauder terdengar panik saat mendengar suara Naura yang terisak
“Ada apa, apa ada yang mengganggumu?” tanya Naura.
“Tidak, aku hanya bahagia tender akhirnya jatuh pada perusahaanku," jawab Naura berbohong. Padahal, Ia sedang tidak mempunyai tender apa-apa. Helaan nafas terlihat dari wajah tampan Nauder, Dia pikir terjadi apapun dengan Naura.
“Syukurlah,” ucap Nauder.” Kau sudah makan?” tanyanya lagi. “Aku sudah masak untukmu,” ucapnya lagi, karena memang Nauder begitu pandai memasak..
“ Aku sudah makan di kantor, aku akan menemanimu makan saja," balas Naura. Setelah itu Naura dan Nauder berjalan ke arah ruang makan ternyata di sana sudah ada makanan dimasak oleh Nauder.
•••
Waktu menunjukkan pukul 10.00 malam, Naura keluar dari walk in closet, ia datang dengan memakai gaun tidur. Naura langsung berjalan ke arah ranjang, di mana Naura sedang memainkan tab miliknya.
”Nauder!” panggil Naura. Nauder tersadar, ia menoleh ke arah Naura. Lalu setelah itu, ia merentangkan tangannya dan Naura pun melompat ke dalam pelukan Nauder.
Naura mengerutkan keningnya saat ada yang aneh digambar yang ada di tab suaminya. “Itu apa?” tanya Naura yang melihat ke arah Tab.
Nauder tampak gugup. “Oh, hanya desainku saja,” jawabnya. Naura mengangguk karena memang beberapa perusahaan suaminya bergerak di bidang desain.
“Sayang apa kita bisa memulai bulan madu, pekerjaanku sudah sedikit longgar,” ucap Nauder membuat tubuh Naura menegang, Ia mempunyai janji satu minggu sekali dengan Alvaro. Lalu jika Nauder mengajaknya berbulan madu, bagaimana ia harus menjalani tuntutan dari lelaki gila itu.
“Bulan madu kemana?” tanya Naura.
“Ke sebuah pulau pribadi, aku yang akan menganturnya," jawab Nauder.. “Ayo kita tidur,” ajaknya lagi.
20 menit berlalu terdengar suara nafas Naura sudah mulai teratur hingga Nauder melepaskan pelukannya. Lalu setelah itu, ia menatap wajah Naura lekat-lekat, tatapan matanya Nauder berubah, ia menatap Naura dengan tatapan tidak bisa diartikan. Lalu tak lama, ia menyeringai. perlahan, ia menggerakkan tangannya untuk menyentuh bibir Naura, setelah itu ia pun bangkit dari berbaringnya dan keluar dari kamar, lelaki itu berniat untuk pergi ke ruang kerjanya.
“Apa kalian sudah melakukan tugas Nauder?”tanya Nauder. “Baik, biarkan dokter mengurus sisanya." setelah itu, Nauder menutup panggilannya.
••••
“Apa maksudmu?” tanya Naura, ia hampir berteriak pada Alvaro.
” Di mana kau bulan madu?” tanyanya lagi.
“Apa kau gila, kenapa kau menanyakan itu?” Naura mengumpat-kuat di hadapan wajah Alvaro. Bagaimana tidak emosi. Saat ia berbicara bahwa dia akan berbulan madu bersama Nauder.
Alvaro malah mengatakan dia ingin ikut dan akan mengawasi Naura dari jauh, karena Naura harus melakukan tugasnya seperti apa yang disepakati.
“Aku tidak akan memberitahumu,” ucap Naura.
Alvaro terkekeh. “Walaupun kau tidak memberitahukannya, aku pasti akan tahu dan menyusul kalian,” balas Alvaro dengan menyeringai.