Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Khayalan


Sebenarnya sebelum Romeo meninggal dan saat Alvaro masih menjadi anak buah Romeo, Alvaro selalu mencari tahu tentang apa yang terjadi pada ayahnya, ia selalu menyuruh orang menyelinap ke kediaman Nauder dan mencari tahu seluk beluk di sana.


Alvaro melakukan itu karena ia ingin mengetahui Siapa pembunuhhh ayahnya yang sebenarnya dan apa yang di lakukan pada ayahnya. Bahkan beberapa kali ia mencoba menyuruh orang meretas CCTV di kediaman Nauder. Tapi tidak ada tidak, CCTV itu seolah hilang dimusnahkan.


Bahkan sampai sekarang setelah bertahun-tahun dia memimpin grup Jaguar dan menjadi salah satu Mafia terkuat, dia masih tidak berhasil mengulik siapa yang membunuhh ayahnya. Walaupun dia tahu itu adalah perintah ibu Nauder. Tapi tetap saja, ia ingin tahu siapa orang yang mengeksekusi ayahnya, walaupun sampai sekarang tidak ada titik terang atas kasus tersebut.


Dan itulah asal-usul perselisihan Alvaro dan Nauder. Alvaro yang tadinya lelaki baik dan lelaki yang tidak pernah mengenal dunia hitam harus terjun karena hal yang menyakitkan, kehilangan orang tersayang dan pada akhirnya ia terjerumus ke dunia Mafia, menjadi pemimpin yang ditakuti dan harus berhadapan dengan hal yang berbahaya, begitupun dengan permusuhannya dengan Nauder yang abadi sampai detik ini. Dia membenci keluarga nauder sampai ke dasar.


Hujan membasahi bumi, menyadarkan Alvaro dari lamunannya, Ia yang masih setia menatap nisan sang ayah langsung mengerjap, kemudian mengusap wajah yang sudah terkena air hujan bercampur dengan air mata.


Alvaro membungkuk, ia mencium nisan sang ayah. “Ayah, aku pulang." Alvaro pamit, seolah ada sang ayah di depannya dia bangkit dari berlututnya, kemudian ia langsung berjalan dengan lunglai ke arah luar pemakaman dia berjalan dengan langkah yang sangat pelan, jiwa Alvaro seolah ikut melayang. Hingga rasanya, kakinya pun serasa tidak menapak pada bumi.


Saat berada di dalam mobil, Alvaro menyadarkan tubuhnya ke belakang ia tidak peduli pakaiannya yang basah. Seolah belum cukup tangis yang dikeluarkan Alvaro, lelaki tampan itu kembali menangis. Hari ini adalah hari kematian ayahnya, dan otomatis ketika hari kematian ayahnya dia mengingat saat ia membuka pintu dan melihat sebuah peti mati yang berisi jasad ayahnya.


Setelah cukup lama terdiam, Alvaro melepaskan jasnya yang sudah basah, kemudian ia menyalakan mobilnya dan menjalankannya mobil. Hingga pada akhirnya setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil dikendarai Alvaro sampai di mansion, ia langsung memarkirkannya dan melempar kunci mobil pada Rekso.


“Tuan anda tiada apa-apa?” tanya Rekso yang melihat wajah Alfaro tampak pucat.


“Apa aku terlihat sedang baik-baik saja?”. Alvaro malah balik bertanya dengan ketus, membuat Rekso langsung menunduk.


”Maaf tuan,” jawab Rekso. Setelah itu, Alvaro pun masuk ke dalam.


“Tolong buatkan aku soupcream!” titah Alvaro pada pelayan yang kebetulan melintas di hadapannya.


“Baik Tuan.” Alvaro melanjutkan langkahnya kemudian berjalan ke arah kamarnya.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Alvaro membaringkan tubuhnya di ranjang dia menarik selimutnya karena ia merasakan sedikit demam, hingga tanpa sadar Alvaro memejamkan matanya dan terlelap


“ Alvaro apa ini bagus?” tanya Naura yang menyodorkan dua buah pakaian bayi pada Alvaro.


“Semuanya bagus, sayang. Aku ingin memborong ini semua,” jawab Alvaro dengan nada riang, lelaki itu langsung berbicara pada kasir memborong semua pakaian yang ada di store tersebut. Apalagi Naura mengandung anak kembar. Sedangkan Naura hanya menggeleng seraya mengekori langkah Alvaro.


Setelah selesaiAlvaro merangkul tubuh Naura lalu mengelus perut wanita itu. “Rasanya, aku tidak sabar menunggu anak kita lahir,” ucap Alvaro.


“Aku juga tidak sabar. ”


“Aaa.” tiba-tiba Naura saat ada yang menarik tubuhnya dan orang itu mengajak Naura berlari


“Huh! ternyata hanya mimpi." ucap Alvaro ketika ia melihat sekelilingnya, ia merana wajahnya yang ternyata sudah banjir dengan keringat. Dia melihat jam di dinding, ternyata ia sudah tertidur 2 jam. Lalu ia melihat ke arah samping, dimana soup cream pesananya sudah terhidang di sana.


Alvaro menyandarkan tubuhnya ke belakang, iya tersenyum. Entah kenapa ia mendadak bahagia walaupun hanya bermimpi tentang ia dan Naura yang akan memiliki anak dan saat ia mengantar Naura berbelanja.


Alvaro mengusap wajah kasar, kemudian ia langsung bangkit dari berbaringnya. Lalu setelah itu ia pergi ke luar kamar untuk meminta pelayan membuatkan sup cream untuknya.


•••


“Sayang apa kau lelah?” tanya Nauder ketika mereka sudah sampai di apartemen. Naura yang baru saja duduk di sofa dan merebahkan kepalanya mengangguk, bahkan sekarang mata Naura sudah memberat.


“Aku lelah dan aku juga kenyang. Rasanya, aku ingin tidur,” ucap Naura.


“Oh ya sudah," jawab Nauder, dia melihat ke arah ke arah Naura.


“Kenapa, apa kau ingin dibuatkan sesuatu?” tanya Naura.


“Tidak, aku tidak apa-apa.’


“Kenapa?” Naura memaksa Nauder untuk berbicara.


“Bolehkah aku meminta jatahku lagi nanti malam?” tanya Nauder. Naura melihat jam di dinding.


“Tentu aku bisa, aku akan beristirahat selama jam,” jawab Naura. Inilah Nauder, jika dia ingin sesuatu pada Naura, dia selalu berbicara terlebih dahulu dan tidak langsung mengambil tindakan karena ia selalu ingin membuat Naura nyaman.


Setelah berbicara pada Nauder. Pada akhirnya Naura terlelap di sofa, sedangkan Nauder yang baru saja kembali dari dapur menggeleng saat melihat istrinya sudah memejamkan matanya.


Nauder mendudukan dirinya di sebelah Naura kemudian ia mengkutak-atik ponselnya menelepon seseorang. “Bagaimana Apa kalian sudah menyiapkan semua apa yang aku mau?” tanya Nauder pada seseorang yang sedang menyiapkan tempat untuk ia berbulan madu dengan Naura.


“ Tuan, semua sudah siap keamanan dan yang lain-lain juga sudah siap dan Kami yakin tidak akan ada penyusup,” jawab anak buahnya dari seberang sana.


“Bagus, pastikan semuanya benar-benar aman dan tidak ada penyusup. Aku ingin menikmati waktu berdua dengan istriku dan juga ....” Nauder menghentikan ucapannya kemudian ia melihat ke arah Naura. “Selama aku bermula madu Jangan pernah ada yang menghubungiku hanya untuk urusan pekerjaan, kalian bisa membuka lahan baru dan data semuanya. Apakah sudah jelas? ku tidak ingin kalian menghubungiku lagi hanya karena ini. Kalian mau mengerti?” tanya nauder pada anak buahnya.


“Baik Tuan,” balas Nauder, lelaki itu mematikan panggilannya kemudian menyimpan ponsel. Lalu setelah itu, ia mengangkat kaki Naura yang mengganti, ke atas padanya saat dia akan memijat kaki istrinya, tiba-tiba ponsel Naura berdering. Sepertinya ada pesan yang masuk ke dalam ponsel istrinya. Tiba-tiba Nauder merasa penasaran. Haruskah dia melihat ponsel istrinya?