Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Terbongkar


Karena Like sudah stabil lagi, besok aku usahan up rutin ya


Naura hampir saja membuka matanya saat Alvaro mencium keningnya, dada Naura berdegup dengan kencang dia mengepalkan tangannya berusaha untuk tidak bergerak.


Setelah mencium kening Naura, Alvaro menatap wanita di depannya lama-lamat, rasanya ia ingin seperti dulu menarik Naura ke dalam pelukannya tanpa mempedulikan pendapat wanita itu tapi sekarang Alvaro tidak seberani itu untuk melakukannya.


Setelah puas melihat Naura, Pada akhirnya, Alvaro bangkit dari duduknya kemudian keluar dari kamar yang ditempati oleh Ameera.


Tepat setelah terdengar suara pintu tertutup Naura langsung membuka matanya dia langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya karena jujur saja saat Alvaro tadi di dekatnya Naura tidak bernafas karena ia terlalu gugup dan terlalu takut Alvaro mengetahui bahwa dia terbangun.


Naura mendudukan dirinya di ranjang, dalam gelap dia termenung seorang diri berusaha memikirkan apa yang terjadi pada Alvaro. Kenapa Alvaro bisa menciumnya Kenapa Alvaro bisa menatapnya dengan dalam, walaupun Naura memejamkan matanya, tapi wanita itu tahu bahwasanya dari tadi Alvaro menatapnya.


Tidak, Naura kalau tidak boleh berpikir berlebihan, walaupun ia senang, tapi tetap saja ia tidak mau berpikir lebih, dia masih menghargai perasaan istri Alvaro


Malam berganti pagi, Naura baru saja selesai mengelap tubuh Ameeera, wajah Ameera udah sedikit terlihat berbinar tidak lemas seperti kemarin.


Tak lama, Alvaro masuk sambil membawa sarapan untuknya dan untuk Naura.


“Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Alvaro pada Ameera yang sedang terbaring, gadis kecil itu tidak menjawab ia hanya menatap Alvaro dalam diam membuat hati Alvaro kian sesak.


Setiap melihat Ameera seperti ini, setiap itu pula rasanya Alvaro ingin menangis, terbayang perjuangan Naura saat menghadapi penyakit Ameera saat dia belum kembali.


Alvaro mengalihkan tatapannya pada Naura kemudian ia, ia memberikan paperbag ke hadapan Naura. “Kau belum sarapan, kan'?" tanya Alvaro, lelaki itu bahkan tidak berani menatap Naura. Jika dia menatap Naura, dipastikan matanya akan berkaca-kaca.


“Alvaro aku akan pulang, tidak enak jika istrimu melihat kita berdua di sini.” terdengar penuh kegetiran dalam nada suara wanita itu.


“Istriku sedang berada dari luar negeri. Kau tidak usah khawatir."


“Lalu anakmu?”


“Anakku juga ikut.”


“Oh, begitu.”


“Sarapan Lah dulu." Alvaro kembali menyerahkan paperbag lagi, karena tadi Naura tidak menerimanya.


“ Terima kasih,” jawab Naura


***


“Tuan Apa kau tidak salah. Kenapa kau memberikanku tugas lagi!" protes Elsa.


“Kau dibayar untuk mematuhi perintahku. Jadi untuk apa kau membantah.”


“Lalu Kenapa kau tidak menyetujui surat pengunduran diriku,” ucap Elsa, karena memang dia sudah mengundurkan diri tapi Nauder menahannya. Padahal, tugas Elsa


“Sebelum aku menemukan sekretaris baru, kau tetap aku tahan walaupun kau sangat menyebalkan!”


Saat Elsa akan bicara lagi, tiba-tiba ibu Nauder datang membuatnya Nauder memejamkan matanya menahan geram, dia sungguh malas berdebat dengan ibunya.


Semenjak bercerai dari Naura, Nauder sudah tidak terlibat lagi bisnis dengan sang Ibu, ia ingin bertaubat dan tidak ingin lagi terlibat dalam penjualan organ tubuhh.


Ya, selama ini bisnis yang dikelola Nauder,. bersama ibunya adalah penjualann organ tubuhh secara ilegal, korbannya bermacam-macam, ada pula bagian yang mengeksekusi korbannya.


Dan setelah bercerai dari Naura, Nauder, benar-benar ingin berhenti dan tentu saja sang ibu menerornya dan membujuknya untuk kembali, tapi tentu saja Nauder menolak.


Beruntung dia mempunyai perusahaan tersendiri yang tidak dicampuri oleh sang ibu, hingga dia bisa bangkit tanpa ibunya.


“Untuk apa Mommy kemari?” tanya Nuader dengan dingin


“Mommy ingin berbicara denganmu,” ucap Ibu Nuader, wanita paru baya itu menatap Nauder dengan tegas. Begitupun Nauder, yang menatap sang ibu sama tegasnya.


“Kau bisa keluar!” titah Ibu Nauder pada Els


“Maaf, tidak bisa, Nyonya. Tuan, belum memerintahkan saya!” Nauder menutup mulut menahan tawa saat mendengar Elsa menjawab sang Ibu. Ada alasan kenapa Elsa berani pada Nauder mau pun ibunya, itu karena dia ....


***


dua minggu kemudian


“Naura!” panggil Alvaro.


Naura yang sedang duduk langsung menoleh.


”Ah, kau sudah datang rupanya,” jawab Naura.


“Apa ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Naura yang melihat Alvaro sepertinya ragu untuk mengatakan sesuatu.


“Bolehkah aku membawa Ameera ke luar negeri?”


“Maksudmu kau ingin pergi membawa Ameera?”


“ Aku ingin mengajak Ameera, berlibur. Tapi jika kau keberatan aku tidak jadi.”


“Hah, kita ke luar negeri?” tiba-tiba Ameera langsung menyahut ucapan sang ayah membuat Naura menoleh ke arah putrinya, raut wajah Ameera begitu bahagia hingga Naura tak kuasa menolak.


“Bo-boleh, kau boleh mengajak Ameera ke luar negeri," balas Naura.


“Jik kau mau, kau boleh ikut.” Batin Naura terasa tercubit saat mendengar ucapan Alvaro.


Bagaimana mungkin dia akan ikut berlibur bersama Alvaro dan istrinya yang ada dia hanya merasakan sakit hati.


“Kita berlibur bertiga?” tiba-tiba Ameera menimpali membuat Naura langsung menoleh.


“Tidak Naura, kau pergi bersama Daddy dan Mommy Nella.”


“Aku tidak akan menghampiri istri dan anakku,” ucap Alvaro membuat Naura menoleh


“Maksudmu kau tidak akan menghampiri Nella dan putrimu?” Naura malah balik bertanya.


“Hmm, Aku ingin berlibur ke Bali. jika kau mau kau ....”


“ Ayo Mommy, ikut saja," ucap Ameera. Naura tidak kuasa menahan keinginan putrinya, hingga dia mengangguk.


“Baiklah Mommy, akan ikut.”


***


Dua hari kemudian.


Naura mematut diri di cermin, ia sudah rapi dengan tampilannya..Entah kenapa dia begitu senang ketika ia akan berlibur bersama Alvaro


Semalam Naura sudah berpikir, kali ini ia ingin egois. Selama satu minggu saja, dia tidak ingin memikirkan istri Alvaro ia ingin menikmati momen bersama lelaki itu, sebelum ia kembali lagi ke sini dan sebelum hubungan mereka akan kembali berjarak lagi


Setelah selesai, Naura pun mengajak Ameera untuk keluar dari kamar, dan mereka pun langsung turun, dan saat mereka turun, Alvaro sedang mengobrol bersama sang ayah.


Setelah melewati perjalanan selama berjam-jam akhirnya pesawat yang ditumpangi Alvaro Naura dan Ameera sampai di bandara Ngurah Rai Bali, semuanya sudah dipersiapkan, termasuk villa yang sudah dipesan oleh Alvaro hingga ketika sampai bandara Alvaro sudah disambut oleh sopir yang sudah disediakan oleh villa..


“Oh aku lelah sekali," ucap Ameera gadis kecil itu dengan segera masuk ke dalam Fila, dan saat melihat sofa bed Ameera Langsung berjalan ke arah sofa tersebut disusul oleh Naura.


Sedangkan Alvaro masih di luar. Sepertinya lelaki itu sedang menurunkan koper.


”Naura itu kamarku dan itu kamarmu,” ucap Alvaro setelah masuk, dia menunjuk pintu kamar. ia dan Naura “Biarkan Ameera tidur bersamaku agar kau tidak tergaggu," jawab Alvaro. Naura mengangguk.


“Terima kasih, ya sudah kalau begitu aku langsung istirahat.” Alvaro melihat ke arah Ameera, yang ternyata gadis kecil itu sudah memejamkan matanya. Alvaro langsung menggendong tubuh kecil putrinya membawanya ke kamar, begitupun Naura yang juga masuk ke dalam kamar.


Saat ia akan membuka pintu, Naura menghentikan langkahnya saat rasa haus mendera, dia pun langsung berjalan ke arah dapur dan setelah itu, Naura langsung membuka kulkas dan mengambil minuman botol lalu meminumnya.


Saat akan kembali ke kamarnya, dia melihat dompet Alvaro. Sepertinya Alvaro lupa menaruh dompet dan meninggalkannya di dapur.


Saat akan mengembalikan dompet Alvaro, tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari dompet itu, Hingga Naura membungkuk kemudian mengambilnya, ternyata itu adalah kartu identitas Alvaro yang terjatuh.


Saat Naura akan memasukkannya ke dalam dompet , tiba-tiba ada hal yang menarik perhatian Naura, yaitu adalah status Alvaro


“A-pa ini.” Naura menatap bingung pada kartu identitas Alvaro, Sebab di sana Alvaro dituliskan Alvaro masih lajang dan belum menikah.


“Tunggu, apa selama ini dia membohongiku!”