
Kristien mematut diri di cermin, ia memasang riasan yang tak seberapa di tubuhnya, karena ia tidak punya aksesoris lain. Hari ini, ia akan datang ke pesta yang diselenggarakan oleh Stuard, pesta ulang tahun perusahaan milik Stuard, ia pun di undang, karena dia bekerja di Firma hukum milik Stuard.
Selain datang karena undangan, Kristin juga berharap, ia bertemu Arsen, agar ia bisa membicarakan kehamilannya. Selama beberapa waktu ini, Arsen selalu menghindar. Bahkan selalu menolak berbicara dengannya.
Tidak mungkin juga, ia terus mengejar-ngejar Arsen di kantor, karena akan membuat kegaduhan. Itu sebabnya, ia lebih memilih untuk mengatakannya sekarang, karena ia sudah benar-benar bingung.
Bagaimana ia menghadapi kehamilan di ditengah kondisi yang kacau, dan ia benar-benar butuh Arsen. ia hanya berharap, agar Arsen menerima kehamilannyanya.
Kristine tersenyum, setelah selesai bersiap. Ia langsung mengelus perutnya, di mana ada janin tumbuh di rahimnya. “Doakan Mommy, Oke. Agar Daddy mau bertanggung jawab padamu,” ucap Kristine lagi sambil mengusap perut. seolah berbicara dengan putrinya.
Saat sampai di pesta, Kristine mondar-mandir kesana kemari, untuk mencari Arsen, berharap kali ini ia bertemu denganArsen. Tak lama, matanya menangkap Arsen sedang berjalan, secepat kilat Kristine langsung berjalan ke menyusul Arsen.
Saat dekat dengan Arsen, Kristine langsung menarik tangan Arsen, hingga Arsen berbalik.
“Kristine!” mata Arsen membeliak tajam, saat Kristine menarik tangannya. Tiba-tiba, tatapannya tak sengaja beradu pandang dengan Stuart yang sedang melihat kearahnya.
Secepat kilat, Arsen langsung menghempaskan tangan Kristine, ia berusaha memutar otak. Lalu tanpa diduga, Arsen malah menggerakkan tangannya, seolah Kristine sedang bertanya arah, membuat Kristine kebingungan, karena tiba-tiba Arsen menunjukan arah.
Arsen melakukan itu, agar Stuard tak curiga. ia berakting layaknya sedang memberitahu tempat pada Kristine. “Pergi dari hadapanku. jangan pernah mengangguku lagi,” ucap Arsen sambil tersenyum agar mertuanya tak curiga. Setelah mengatakan itu, Arsen pun kembali melanjutkan langkahnya, untuk mencari Gabby.
Nael mempersilahkan Gabby masuk ke toilet, setelah Gabby, masuk, Nael menggeser papan yang bertuliskan bahwa toilet sedang rusak. Setelah itu, Nael masuk dan langsung menyudutkan Gabby kesisi. Gaby langsung mengalungkan tangannya dileher Nael, kemudian ia mencium bibir Nael dan mereka pun berciuman dengan rakus.
“Aku merindukan semua yang ada di tubuhmu Gabby,” Kata Nael setelah mereka melepaskan tautannya. Gabby mengelus rahang Nael, dengan sensual. “Aku tau, senjatamu tidak bisa berbohong, Babe.”
Setelah mengatakan itu Nael membalikkan tubuh Gabby. Lalu membungkukkan tubuh Gabby, ia mengangkat gaun Gabby. Dan mulai menyatukan tubuh mereka dari belakang. Lewat pantulan cermin, Gabby bisa melihat Nael yang sedang bergerak di belakangnya..
Gabby menoleh, kemudian mereka berciuman. Tak lama terdengar suara derap langkah,
“Gabby kau di dalam?” terdengar Arsen Memanggil nama Gabby, membuat Gabby menyeringai dan Nael menghentikan aktivitasnya.
Arsen berjalan masuk kedalam toilet, di toilet itu begitu sepi. Bahkan, tidak ada satu orang pun di sana. “Ga-Gabby,” Arsen memanggil Gabby, berharap Gabby. Tidak ada di sana, Dan berharap bahwa Gabby tidak bertemu dengan Nael.
Tetapi, saat ia melangkah dan berjalan ke arah dalam, jantungnya berdegup sangat kencang. “Gabby!” Panggil Arsen lagi saat tidak ada yang menjawab. Hanya satu pintu toilet yang tertutup, itu pun ada bacaan sedang diperbaiki dan tak mungkin Gabby ada di dalam.
Scroll gengs aku up 3 bab