Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Pertanyaan Laura


“Kakek ... Daddy Gabriel.” Naura mengigau memanggil sang kakek dan Gabriel, membuat Nael diam terpaku, tubuhnya menegang. Jutaan panah seperti menghantam dadanya saat sang putri demam dan menyebutkan nama orang lain bukan namanya.


Hati Nael benar-benar terasa pedih, karena membayangkan betapa kesepiannya kedua putrinya selama ini, betapa hancurnya hati putrinya ketika tidak ada yang menemani mereka di kala mereka sakit.


Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya, saat mendengar ucapan Naura ketika mengingau. Tapi tak lama, ia langsung menghapus air matanya, kemudian mengelus rambut Naura, agar Naura kembali tenang.


Satu jam kemudian


Nael bangkit dari duduknya, kemudian ia melihat Laura yang juga sedang memejamkan. akhirnya ia pun memutuskan keluar dari kamar untuk mencari angin segar.


Nael keluar dari kamar, kemudian ia berjalan ke arah balkon. Ia membuka pintu balkon lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Nael mendudukkan diri di kursi, tatapannya menatap ke depan dengan tatapan kosong. Hatinya benar-benar pedih saat mengingat Naura yang mengigau menyebutkan kekek dan nama Gabriel.


Ia benar-benar mengutuk dirinya sendiri


Kilasan-kilasan balik berputar-putar di otaknya


di mana ia mengabaikan dan mengacuhkan kedua putrinya. Bahkan ketika Laura dan Naura mendekatinya, ia sama sekali tidak bersimpati dan ia sama sekali tidak ingin menoleh pada kedua putrinya yang selalu berharap padanya


Nael menundukkan kepalanya, ia mengurut keningnya. Kemudian bahu lelaki tampqn itu bergetar, ia menangis sesegukan saat mengingat kekejamannya pada kedua putrinya


Tak lama, Nael merasakan tepukan kecil di punggungnya, sehingga ia menghapus air matanya langsung menoleh.


“Laura!” Ternyata Laura yang menepuk punggungnya.


Gadis kecil itu tidak bisa tertidur. Hingga saat sang sang ayah keluar dari kamar, Ia pun langsung mengikuti sang ayah. Saat Nael sudah duduk di kursi Laura berdiri di belakang tubuhnya dan ia bisa melihat sang ayah menangis.


“Kenapa kau tidak tidur?” tanya Nael, Laura menunduk, kemudian menggeleng.


“Aku tidak bisa tidur,” jawabnya.


“Kau sudah tidak marah pada Daddy?” tanya Nael, karena saat ini putrinya menjawabnya dengan nada biasa. Padahal kemarin-kemarin Laura selalu menjawabnya dengan nada ketus.


“Aku tidak tahu,” jawab Laura sambil menunduk.


Nael bangkit dari duduknya, kemudian ia berjongkok dihadapan putrinya.


“Bagaimana caranya agar kalian memaafkan Daddy?” tanya Nael, “Daddy menyesal. Daddy ingin menebus semuanya pada kalian. Daddy ingin melewati hari-hari bersama kalian. Daddy berjanji, Daddy akan selalu mengantar Kalian pergi ke sekolah, menemani kalian setiap hari ayah dan akan terus bersama kalian,” ucap Nael


Ia mengelus pipi Laura yang sedang menundukkan pandangannya. Dan saat sang selesai berbicara, Laura melihat kearah Nael hingga tatapan kedua dan ayah itu saling mengunci tiba-tiba mata Laura berkaca-kaca saat melihat Nael dari dekat.


“Kenapa dulu Daddy.jahat sekali pada kami?” tanya Laura, kali ini Laura tidak memanggil Paman pada Nael,.melainkan Daddy, dan itu tentu saja membuat jantung Nael berdebar dua kali lebih kencang.


“Kenapa Daddy tidak pernah melihat kami .... Kenapa Daddy tidak pernah ada untuk kami, kenapa Daddy selalu kasar pada kami .... Kenapa Daddy tidak pernah hadir di ulang tahun kami. Apakah saat itu Daddy benar-benar membenci kami? Apakah salah kami kami, sampai Daddy begitu membenci kami dan ....” Laura menghentikan ucapannya suaranya tenggelam dengan tangisan.


Laura merasakan rasa lega yang luar biasa hebat, ketika bertanya tentang pertanyaan yang selama ini ia simpan dalam hati, pertanyaan yang sudah tersimpan selama bertahun-tahun, tentang kenapa Nael tidak pernah melihatnya dan melihat Naura.


Sedih banget huaa


Scroll gengs