
Miko PoV
Waktu menunjukkan pukul 04.00 sore, jam kantor setelah selesai. Aku merentangkan tanganku, lalu menyadarkan tubuhku ke belakang. Entah kenapa hari ini rasanya malas sekali untuk pulang, apalagi jika harus melihat Leticia istriku, seperti ada beban setiap aku dekat bersamanya.
Aku pikir, setelah menikahinya rasa bersalahku pada tuan Greey akan menghilang, aku pikir rasa bersalahku akan tergantikan karena aku menikahi dan menjaga putrinya. Aku sudah sangat bahagia dan menangis di hadapan tuan Greey, ketika tuan Greey mengijinkan aku menikah dengan Leticia, karena aku pikir, aku bisa terbebas dari beban yang membelengguku.
Tapi, aku salah. Setelah aku menikah dengannya. Entah kenapa ini malah terasa asing untukku, dan aku menyesal telah menikahinya hanya untuk membalas budi.
Ya, aku egois, karena berpikir, aku menikahinya agar bebanku hilang.Tapi, ternyata aku salah. Bebanku malah semakin bertambah karena aku harus terbiasa dengan kehadirannya.
Tidak ada yang tahu bahwa aku melihat apa yang dilakukan ayahku dengan mata kepalaku sendiri. Aku melihat adegan pembunuhan dan pembantaian itu dengan mataku sendiri
Aku melihat ayahku menggorok leher ayah Tuan Greey, aku melihat ayahku ketika sedang memperkosaaa kakak Tuan Greey dan aku dan aku juga melihat tuan Greey yang tak berdaya saat keluarganya di bantai.
Semenjak kejadian itu, setiap hari bagai neraka untukku. Aku dihantam rasa bersalah, gelisah, dan trauma. Bagaimana tidak, aku melihat kejahatan orang tuaku secara langsung. Apalagi bebanku semakin bertambah ketika Tuan Greey merangkulku dan ketika tuan Grey memberikan aku yang terbaik
Jika aku boleh memilih, saat itu aku lebih baik mati di tangan Tuan Greey daripada mempunyai beban dan setelah puluhan tahun berlalu trauma itu tidak hilang. Rasa bersalah itu juga tidak hilang dan jujur saja aku lelah.
5 bulan lalu pernikahan itu terjadi, aku pikir setelah menikah aku bisa terbiasa dengan kehadirannya. Tapi ternyata, tidak aku yang biasa dengan kesendirian harus menerima kehadirannya tentu saja itu terasa berat.
Awal menikah, aku selalu mencoba untuk mendekatkan diri padanya. Tapi, aku selalu tidak nyaman, aku seolah membohong diriku sendiri. Sebulan setelah menikah, aku pernah berpura-pura pergi keluar negeri untuk perjalanan bisnis selama satu bulan, aku pergi agar aku bisa merasakan rindu padanya dan berharap cinta itu segera tumbuh jika aku berjauhan dengannya.
Tapi, ternyata rasa itu tidak kunjung tumbuh. Dan aku lelah, harus membohongi diriku sendiri. Hingga pada akhirnya, aku lebih memilih untuk tetap bersikap seperti semula, karena Leticia pun seperti tidak keberatan dengan sikapku.
Lamunnku buyar ketika satu pesan masuk kedalam ponselku.
[Paman, bisakah paman pulang lebih cepat. Aku ingin berbicara sesuatu pada paman] Aku menghela nafas saat Leticia mengirimiku pesan. Aku bangit dari dudukku kemudian memutuskan untuk pulang, walaupun sebenarnya aku sangat enggan untuk melihatnya.
Scroll gengs, sebenarnya masuk akal sih sikap Miko, dia nikahin Leticia agar bisa terbebas dari rasa bersalahnya.
Aku bikin konflik gini biar ceritanya ga datar aja gitu, biar ada nano-nanonya.
Tapi, tenang aja ya. Miko bakal nyesel senyeselnya saat tau apa yang terjadi sama Leticia dan nanti terbalik, Leticia yang ngejauhin Miko habis-habisan sampai bapak Miko kalang kabut 🤣🤣 Ujungujungya dia bucin, tapi Leticia yang acuh 😆