Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Kekeh menolak


Dad!” ucap Nael dengan kepala yang berdenyut nyeri, serta mata yang berkunang- kunang. Nael berusaha bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung membuka matanya lebar-lebar. Ternyata benar, sang ayah yang menonjoknya.


“Kenapa kau memukulku, Dad?” Nael berbicara dengan suara pelan. Beberapa kali, ia hampir terjatuh karena mabuk.


Greey mengusap wajah kasar, ketika melihat putranya dalam kondisi mabuk. Ia mencoba menguasai diri dan ia berusaha untuk meredam kemarahannya


“Paman, kenapa kau disini?” tanya Jordan yang tiba-tiba datang dari kamarnya. Dia bingung kenapa Greey ada di apartemennya.


Tiba-tiba, mata Jordan membulat saat menyadari bahwa Leticia kekasihnya memberi tahu apa yang ia katakan. “Dasar anak kecil!” gerutu Jordan pada kekasih yang baru saja seminggu ia pacari.


“Jordan, apa kau punya obat pereda mabuk?” tanya Greey. Tiba-tiba, Jordan bergidik saat melihat reaksi Greey. Untuk pertama kalinya, selama bersahabat dengan Nael, ia melihat ekspresi Greey yang dingin.


“Ya, paman. aku mempunyainya!” kata Jordan. Secepat kilat, Ia pun berbalik ke arah kamar, kemudian ia langsung mengambil obat pereda mabuk.


Satu jam kemudian


Nael membuka matanya, kemudian ia langsung menegakkan tubuhnya. Ia memegang pipinya yang terasa nyeri, kemudian mengerutkan keningnya. Ia tidak mengingat apapun, yang terjadi. Sehingga dia bingung, kenapa pipinya terasa pedih.


“Kau sudah bangun?” Tiba-tiba suara dingin Grey menyadarkan Nael dari lamunannya, kemudian ia menole. “Dad, kenapa kau di sini? ada apa kau kemari?” tanya Nael bertubi-tubi, pada sang ayah. Sedangkan Greey mencoba menahan emosinya.


“Apa maksud Daddy?” tanya Nael lagi. Seketika otak Nael langsung konek ke arah Gaby. Kemudian, ia melihat ke arah Jordan yang sedang berdiri di dekat sang ayah


Jordan yang ditatap oleh Nael, langsung mengalihkan tatapannya kearah lain. Kemudian ia langsung meninggalkan ruang tamu, membiarkan sepasang ayah dan anak itu berbicara.


“Nael, Apakah benar kau tak ingin bertanggung jawab?” tanya Greey, Nael terdiam. Ia menunduk tak berani menatap sang ayah.


sang ayah adalah tipikal orang yang hangat pada keluarga. Namun Ia juga tahu, bahwa sang ayah tidak pernah main-main dengan amarahnya


“Nael, jawab!” kata Greey lagi membuat Nael terdiam, kemudian mengangguk.


“Aku tidak mau bertanggung jawab, aku tidak bisa. Bukankah kau tahu selama ini aku berprinsip untuk tidak memiliki anak dan aku sungguh tak bisa bertanggung jawab pada anak yang sedang dikandung oleh wanita itu.” Nael berbicara dengan menunduk, membuat Greey lagi-lagi menghela nafas, ia berusaha meredam emosinya.


“Lalu Kenapa kau melakukan bersama wanita itu, kenapa kau tidak mau bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan. Apa kau tahu itu adalah hal yang salah?” tanya Greey lagi. Ia Masih berusaha mengatur nafasnya agar tak menunjukan amarah di depan putranya.


“Tapi itu salah wanita itu, Dad. Aku sudah menyuruhnya memakai pengaman. Tapi lihatlah, dia malah memaksaku. Hingga akhirnya dia hamil dan tidak mungkin aku bertanggung jawab, karena aku tidak bersalah. Hubungan kami hanya sebatas ranjang, tidak lebih dari itu. Aku membutuhkannya, dan dia membutuhkanku Apalagi dia ....”


“Nael!” kali ini Greey membentak Nael karena Nael benar-benar tak bisa dinasehati. Ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang ada di otak sang putra.