Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
mengandung


Gengs maafin baru update ya. part Savana setelah iklan ini ya. jadi kalian baca dulu iklan ini terus ada parr Savana


Gengs, di bawah ini jduinya Petaka satu Malam. Aku mau jual Via whatsap satu novel harganya 25 ribu aja. Kalau berminat tinggal wa ke 088222277840, ya.


Petaka satu malam bab1


Keringat dingin sudah membasahi wajah Veronica, tubuhnya sudah amat lelah, matanya terasa ingin terpejam. Tapi, ia tak bisa karena putrinya terus menangis dan sedari tadi ia terus umengayun-ngayun putrinya yang kini berusia tiga bulan.


“Sayang, tidur oke. Ibu lelah!” sedari tadi Veronica terus mengatakan hal yang sama pada putrinya. Sungguh, ia ingin menangis sekencang-kencangnya saat putrinya tak mau diam.


ditengah rasa paniknya, Veronica langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu terbuka. Ia langsung ke melihat kearah pintu, ternyata suaminya datang dengan kondisi yang kacau dan tercium bau aroma alkohol dari Bara, suaminya. Dan sepertinya Bara sedang mabuk.


Secepat kilat, Veronika berjalan ke arah kamar tamu untuk menenangkan putrinya. Ia tidak ingin putrinya mencium bau alkohol dari tubuh Bara.


Sepuluh menit kemudian, akhirnya putrinya bisa ditenangkan. Ia pun membaringkan putrinya diranjang dan menghela nafas lega. Setelah itu, ia langsung keluar kamar untuk melihat Bara, dan ternyata Bara sedang terduduk di sofa dengan mata yang setengah terpejam.


Veronica menghela nafas saat melihat kondisi Bara yang kacau, untuk pertama kalinya. Ia melihat Bara mabuk. Selama ini, hubungannya dan Bara tidak terlalu dekat, walaupun sudah menikah.


Mereka selalu menjalani hidupnya masing-masing, walaupun tinggal di apartemen yang sama Itu, itu sebabnya dia tidak pernah tahu dengan apa yang dilakukan suaminya.


Ya, karena faktanya Bara menikahi Veronica adalah Karena rasa tanggung jawab. Kisah mereka cukup rumit. Dulu mereka bertemu di club, dan dulu, Bara adalah dosen Veronica. Takdir membawa mereka di kamar yang sama. Hingga mereka menanggalkan pakaian mereka dan berakhir dengan Veronica yang mengandung Putri Bara.


Saat tau Veronica mengandung, Bara langsung mengajak Veronica nikah siri, karena jika menikah resmi, orang tua Bara Takan setuju. Dan saat tahu Verocina mengandung, Bara menaruh harapan besar pada putrinya, ia berharap putrinya akan lucu dan menggemaskan seperti anak-anak lainnya.


Tapi ternyata, harapan Bara hanya tinggal harapan, karena bayi yang dilahirkan oleh Veronica dalam kondisi buta dan tidak bisa melihat. Dan sejak saat itu, Bara yang tadinya bersimpati pada Veronica, seketika rasa simpatinya menghilang dalam sekejap.


Padahal sebelum Veronica melahirkan walaupun mereka tidak terlalu dekat, Bara selalu memberikan perhatian perhatian kecil pada Veronica. Tapi ketika anaknya lahir dalam kondisi buta, seketika rasa peduli itu hilang dalam diri Bara, ia tidak menerima putrinya terlahir dalam kondisi tidak bisa melihat.


Dan setelah tiga bulan berlalu, rasanya Bara tidak sanggup untuk menahan dirinya hingga akhirnya, ia pergi ke club dan melampiaskan dengan meminum alkohol sebanyak-banyaknya. 


Ia terlalu stres saat mendengar putrinya terus menangis, ia selalu selalu marah saat putrinya tidak mau diam dan ia selalu kesal saat mendengar Veronica menenangkan bayinya.


Selama 3 bulan ini berusaha menahannya. Tapi setelah tiga bulan berlalu, ia merasakan kesal yang luar biasa hebat, hingga akhirnya ia pergi ke club dan meminum alkohol sebanyak-banyaknya.


Veronica mendekat ke arah Bara, kemudian ia langsung berjongkok untuk melepaskan sepatu Bara. Setelah melepaskan sepatu Bara, Veronica bangkit dari lantai, kemudian ia langsung menarik lengan Bara, berniat untuk melepaskan jam tangan Bara..


Namun, saat ia memegang tangan Bara, dengan cepat Bara angsung menghempaskan tangan Veronica dengan keras, sehingga Veronica mengaduh kesakitan dan seketika itu, Veronica terperanjat kaget. Untuk pertama kalinya, ia melihat Bara seperti ini.


Bara bangkit dari duduknya, kemudian Ia membuka matanya. Lalu menatap Veronica dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Setelah itu, Bara berlalu meninggalkan Veronica dan masuk ke dalam kamarnya.


Saat Bara akan masuk dalam kamar, Veronica menghampiri Bara berniat untuk membantu Bara, karena ia tahu suaminya mabuk berat. Walaupun Bara sudah menghempaskan tangannya. Tapi Veronica menganggap itu karena efek Bara sedang mabuk. Itu sebabnya, sekarang, ia mengikuti Bara dan membantu Bara untuk melepaskan pakaiannya.


“ Kenapa kau mengikutiku?” Bara berteriak di hadapan wajah Veronica, membuat Veronica hampir terhuyung kebelakang, karena jujur saja Ini pertama kalinya Bara berteriak padanya, dan untuk pertama kalinya Bara membentaknya.


“Ka-Kak!” Veronica bergidik saat melihat tatapan Bara. Padahal Bara sedang mabuk, tapi Bara masih sanggup memelototinya


“Kak-Kakak!” ucap Veronica terbata-bata. Ia tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Saat Veronica bersuara, emosi Bara tiba-tiba meledak.


Seketika itu juga, ia langsung maju ke arah Veronica, lalu ia langsung memegang kedua bahu Veronica dan mencengkeramnya dengan keras, hingga Veronica meringis.


“Kenapa kau harus melahirkan anak yang Buta. Kenapa kau tidak bisa melahirkan anak yang sempurna!” Bara berteriak lantang di hadapan wajah Veronica, membuat tubuh Veronica hampir saja ambruk ke bawah.


Demi apa pun, Veronica tak percaya, ucapan itu akan keluar dari mulut Bara. Ia tidak percaya, bahwa Bara akan mengucapkan hal semenyakitkan itu. Veronica berharap, ini hanya mimpi, tapi sayang kenyataan menampar Veronica, ini nyata dan barusan, Bara menghina putrinya


“Kau tau, anak itu membuatku gila. Kenapa kau tidak bisa memberikan anak yang sempurna, kau membuatku malu. Seandainya aku bisa,nl aku ingin menukarnya dengan anak lain.” Setelah mengatakan itu, Bara melepaskan tubuh Veronica. Hingga tubuh Veronica terjatuh ke lantai.


Sejenak Veronica terdiam, otaknya tidak mampu mencerna Apa yang terjadi. Ucapan Bara begitu menyakitkan untuknya, bagaimana mungkin Bara menghina darah dagingnya sendiri. otaknya dan Rasanya, Veronica tidak sanggup lagi untuk bangun, dan menatap Bara. 


“Pergi!” teriak Bara, ia berteriak begitu kencang. Emosinya kembali terpancing ketika melihat Veronica yang menangis. Saat Veronica masih terdiam, Bara berniat menghampiri dan menyeret Veronika keluar dari kamarnya. Namun, gerakannya terbaca oleh Veronica.


 Secepat kilat, Veronica berlari ke arah luar kemudian ia pergi ke kamar tamu di mana dia meletakkan putrinya, dia berencana untuk pergi dari apartemen Bara. Ia tidak mungkin tinggal bersama lelaki yang seperti Bara yang mungkin bisa melukai ia dan putrinya.


****


Savana menutup mulut tak percaya ketika melihat Joshua yang ternyata mengikutinya, dan dia yakin Joshua sebenarnya tahu bahwa dia kembali ke Rusia Savana memejamkan matanya meresapi rasa yang bersemayam dalam dada. Dia teringat kata-kata psikiaternya.


“Jika kau tidak berani memulai, maka kau tidak akan pernah menemui titik terang."


Savana menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan pada akhirnya dia berjalan keluar dari persembunyiannya dan berdiri di tempat Joshua berdiri.


Joshua masih belum menyadari kehadiran Savana yang berada di depannya, hingga beberapa saat berlalu akhirnya Joshua melihat ke arah depan. Jantung Joshua berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Savana di depannya, antara rindu takut dan gugup. Rasanya dia rindu wanita di depannya ini, tapi dia takut Savana tidak mau melihatnya lagi


Tatapan kedua Insan itu saling menyatu, mata Savana berkaca-kaca ketika melihat suaminya dan tak lama Joshua lebih memilih berbalik, dia tidak ingin Savana semakin murka padanya. Namun saat dia sudah melangkah, tubuh Joshua diam mematung ketika Savana memeluknya dari belakang, lelaki itu terdiam sejenak. Dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh istrinya.


“ Savana!” panggilnya dengan terbata. Savana tidak menjawab. Dia malah memeluk Joshua dengan erat dan setelah dia memeluk suaminya Dia merasakan rasa lega yang luar biasa, akhirnya dia berhasil mengalahkan egonya.


“Sa-savana!” panggil Joshua.


“Paman!” lirihnya, mendengar nada suara Savana yang hangat, Joshua langsung melepaskan tangan Savana, kemudian lelaki itu berbalik, keduanya kini saling tatap. Dengan cepat, Joshua langsung menangkup pipi Savana.


“Kau sudah merasa baikan?Apa tidak masalah kau melihat aku disini?” tanya Joshua, seperti biasa tatapan matanya menatap Savana dengan penuh ketulusan. Savana mengambil tangan Joshua yang sedang berada di pipinya kemudian wanita cantik itu mengecup tangan suaminya, membuat Joshua memejamkan mata dengan tangis yang mulai turun.


Setelah cukup lama menghabiskan waktu di basement, Savana mengajak Joshua untuk pergi ke Unit apartemennya dan mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan.


"Silakan masuk, Paman," kata Savana, dia membukakan pintu apartemen untuk suaminya. Hening, tiba-tiba kedua insan itu dilanda keheningan.


"Silakan duduk, Paman," ucap Savana. Dia bingung harus bagaimana menghadapi suaminya.


Joshua tidak menjawab. Dia malah menatap lekat istrinya dan tanpa diduga, Joshua maju kemudian lelaki tampan itu langsung menangkup pipi Savana, setelah itu dia mencium bibir Savana.


Sepertinya Joshua benar-benar tidak mau melewatkan apapun lagi dia bahkan sekarang mencium bibir Savana dengan rakus. Savana cukup kewalahan dia ingin menjauhkan tubuh Joshua dari tubuhnya tapi dia berusaha menekan ketakutannya hingga pada akhirnya dia membalas ciuman Joshua. Setelah cukup lama bibir mereka saling bertemu, Joshua menjauhkan wajahnya kemudian dia mengelus bibir Savana.


"Aku merindukanmu, sungguh" ucap Joshua, nada suaranya memberat.


Savana tersenyum, dia tidak menyangkal di titik ini dan melihat Joshua seperti ini, dia pikir saat itu Joshua tidak pernah mau melihat ke arahnya, tapi sekarang Joshua menatapnya dengan tatapan penuh cinta.


Savana menatap Joshua dengan mata yang berkaca-kaca, kali ini Savana yang mendekatkan bibirnya pada bibir Joshua kemudian wanita cantik itu langsung mencium bibir suaminya tentu saja Joshua senang hati, hingga pada akhirnya Joshua langsung menggendong Savana.


"Savana, di mana kamarku?" tanya Joshua ketika dia sudah menggendong Savana.


Napas Joshua benar-benar memberat. Rasanya, dia tidak sanggup menahan apapun lagi. Savana menunjuk ke arah kamarnya hingga Joshua pun langsung berjalan ke arah kamar istrinya dan tepat ketika itu, Joshua langsung berjalan ke arah ranjang kemudian dia membaringkan tubuh Savana lalu setelah itu dia membuka pakaiannya dan dengan cepat dia juga menuduh tubuh istrinya.


"Pa-paman," panggil Joshua ketika mereka akan menyatukan tubuh mereka.


"Why," jawab Joshua dengan napas yang memburu, ranya dia sudah tidak sabar untuk menyatukan tubuhnya dan tubuh istrinya.


"Aku takut," ucap Savana.


"Tidak ada yang harus ditakutkan, Sayang. "Kau percaya padaku, 'kan?" tanyanya.


Savana mengangguk dan akhirnya menyatukan tubuh mereka hingga malam itu terjadi pertempuran antara dua insan yang saling mencintai. Kali ini Joshua melakukannya dengan cinta yang begitu menggebu dan pada akhirnya Savana terjatuh dipelukan suaminya.


Satu tahun kemudian.


Savana terdiam di depan ruangan Joshua. Rasanya, dia begitu ragu untuk masuk. Awalnya Savana tidak akan memberitahukan kepada Joshua sekarang, tapi entah kenapa langkahnya menuntun kemari.


Satu tahun lalu, pada akhirnya setelah mereka berdamai, Savana kembali ke Rusia dan Joshua memilih berhenti menjadi dosen dan menggantikan posisi kembarannya karena Jonathan sudah pindah ke Amerika bersama istri dan kedua anaknya. Selama setahun mereka tinggal di Rusia, Joshua benar-benar memperlakukan Savana dengan dengan cinta setiap harinya.


Barusan, Savana baru saja pulang dari dokter. Dia berencana untuk memeriksakan dirinya karena dia sudah telat periode selama beberapa hari, dan ternyata Savana sedang mengandung. Lalu yang jadi masalah adalah ketakutan Savana, trauma Savana tentang kehamilan sungguh besar.


Dan ketika dia mengandung lagi, tentu saja dia mengalami ketakutan lagi. Dia belum sanggup memberitahu Joshua, tapi dia juga ingin melihat respon suaminya hingga sekarang dia berada di sini.


Perlahan, Savana mengangkat tangannya kemudian wanita cantik itu langsung memegang gagang pintu, lalu setelah itu membuka pintu dan ternyata Joshua sedang berada di depan laptop. Sepertinya, lelaki itu masih banyak pekerjaan sampai tidak menyadari keadaan Savana.


Savana berdeham membuat Joshua tersadar.


"Sayang, kau kemari?" Joshua cukup terkejut dengan kehadiran istrinya, karena selama ini Savana tidak pernah mau ikut ke kantor.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Savana.


"Tidak, mana mungkin kamu menggangguku," kata Joshua, padahal pekerjaannya sedang menumpuk.


Joshua pun bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Savana lalu setelah itu dia menarik lembut lengan istrinya dan menuntunnya untuk duduk di sofa, hingga kini Joshua sudah duduk di sofa dengan Savana duduk di atas pangkuannya.


"Tumben sekali kau kemari?" tanya Joshua, dia mengelus punggung Savana sedangkan Savana langsung menunduk, tidak berani menatap Joshua.


"Aku ingin menyampaikan sesuatu." Pada akhirnya, Savana pun jujur dengan apa yang akan dia katakan.


"Kenapa? Apa ada yang mengganggumu?" tanyanya.


Savana menggeleng.


"Apakah menurutmu aku pantas menjadi seorang ibu?" tanyanya. Nada suara Savana mulai memberat saat menanyakan hal itu. Entah kenapa, dia yang tadinya ingin memberitahukan Joshua secara langsung tentang kehamilannya malah berubah pikiran.


Joshua mengerutkan keningnya saat Savana mengatakan hal seperti itu, hingga lelaki itu pun langsung memeluk Savana dengan erat.


"Kau pasti akan menjadi ibu yang sangat baik untuk anak kita. "Memangnya kenapa?" tanya Joshua.


Savana bangkit dari pangkuan Joshua, kemudian wanita cantik itu langsung membuka tasnya. Lalu setelah itu, dia menyerahkan sebuah kertas pada Joshua. .


“Sayang apa ini?” tanya Joshua.


“Kau buka saja,” jawabnya. Setelah itu, Savana menunduk, dia memejamkan matanya. Joshua membaca kertas itu dengan seksama, tiba-tiba jantung Joshua seperti berhenti berdetak. Dia terpaku saat melihat kertas yang ada di tangannya.


“Sa-Sayang kalau hamil?” tanya Joshua.


Jari-jari Savana saling bertautan, dia menggigit bibirnya dengan keras karena terlalu takut mendengar respon Joshua dan tak lama Savana membuka mata ketika Joshua sudah berlutut di hadapannya.


“Sayang kau hamil?" tanya Joshua, lagi-lagi Savana terpaku saat melihat respon Joshua Di mana saat ini Joshua menatapnya dengan berlinang air mata.