
Setelah Jeremy keluar dari ruangannya Gabby kembali memejamkan matanya, karena kepalanya, rasanya berputar-putar. Tapi tak lama, ia kembali membuka matanya dan ia melihat ke arah Laura dan Naura yang sedang tertidur.
Hari ini Gabby benar-benar merasakan kelegaan yang luar biasa hebat. Ia bersyukur saat mendengar putrinya mengatakan bahwa mereka tidak ingin bertemu Nael lagi. Setidaknya Gabby tidak perlu ketakutan dan setidaknya Laura dan Naura sudah tahu sadar tentang sifat ayah mereka dan Gabby tidak punya beban di masa depan, mereka Takan pernah bertanya lagi tentang ayah mereka.
Tak lama, terdengar suara orang berlari membuat Gabby langsung menoleh ke arah pintu. Rupanya, itu adalah Gabriel.
“Gabby!” Panggil Gabriel saat masuk ke dalam ruangannya. Saat melihat Gabriel, tiba-tiba tangis Gabby Luruh. Ia bingung harus mulai berbicara dari mana pada Gabriel. Walaupun ia berencana untuk memberitahu apa yang terjadi padanya. Tapi rasanya, ia belum siap ketika Gabriel mengetahui tentang apa yang menimpanya.
Ia tidak ingin Gabriel melihatnya dengan tatapan kasihan, karena dia menderita leukimia. Tapi untuk menyimpan ini sendiri pun rasanya Gabby tak sanggup.
“Gabby!” Panggil Gabriel, mata Lelaki itu sudah berkaca-kaca saat melihat Gabby terbaring dengan dengan wajah yang pucat. “Gabriel, Kenapa kau menangis?” tanya Gabby. Ia Bisa saja bertanya kenapa Gabriel menangis. Padahal dia sendiri pun sudah Menangis.
Tanpa menjawab pertanyaan Gabby, Gabriel maju kemudian ia memeluk sang adik. Hingga tiba-tiba tangis Gabby yang tadi berupa hanya isakan berubah menjadi tangisan yang kencang, ketika Gabriel memeluknya. Ia yakin, Gabriel sudah tahu mengenai penyakitnya.
“Gabby, katakan ini bohong kan? ini tidak benarkan? apa yang dokter katakan hanya bercanda?” tanya Gabriel saat melepaskan pelukannya. Ia sudah mendengar dari dokter tentang apa yang yang menimpa adiknya
Gabriel menarik kursi, kemudian ia mendudukan diri di kursi di sebelah berangkar Gaby.. Ia menggenggam tangan Gabby dengan tangis yang berderai. “Tidak apa-apa, Gabby. Kau pasti sembuh, pasti sembuh!” kata Gabriel dengan hati yang luar biasa pedih.
Ia tahu benar, penderitaan apa yang adiknya rasakan, dan seolah belum cukup dengan rasa sakit itu. Kini, adiknya harus kembali merasakan sakit yang luar biasa hebat karena penyakit leukimia yang dideritanya.
“Daddy Gabriel!” tiba-tiba terdengar suara Naura dari belakang, membuat Gabriel menoleh. seketika Gabby dan Gabriel langsung menghapus air mata mereka masing-masing.
“Hai, Sayang. kau pasti terbangun karena suara Daddy bukan?” tanya Gabriel, tanpa menjawab ucapan Gabriel. Naura pun maju, kemudian melompat ke arah pangkuan Gabriel. Lalu memeluk Gabriel.
“Daddy aku mempunyai tugas melukis di sekolah. Bisakah Daddy membantu kami. Tapi jangan ajak Maira, karena Maira sering memarahi kami jika kami dekat dengan Daddy.” Naura berbicara dengan polosnya, tapi mampu membuat hati Gabriel bergetar.
Gaby menggigit bibirnya Seraya menahan tangis, begitupun Gabriel yang langsung membawa Naura ke dalam pelukannya. Ia benar-benar merasa jahat, karena ia tak bisa membuat kedua keponakannya merasakan sosok ayah. Ia juga tak mengerti kenapa putrinya tidak memperbolehkan Ia dekat dengan Laura dan Naura. Padahal, Gabriel dan Amelia sudah memberi pengertian kepada Mayra, putri mereka. Tapi tetap saja, putrinya seolah tidak rela ia dekat dengan Laura dan Naura sehingga Gabriel Dilema.
Scroll gengs