Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Flashback (kesempatan kedua)


Flashback


Arsen mengerjap, kemudian membuka matanya. Pandangan matanya terasa berkunang-kunang. seluruh tubuhnya begitu nyeri. Ia kembali memejamkan matanya karena tidak tahan melihat sorot lampu.


Otak Arsen kosong seketika, ia merasakan ada yang aneh. Ia berbaring dengan alas yang empuk dan ia sudah tidak merasa tubuhnya kepanasan, kemudian Arsen kembali membuka matanya. Lalu setelah itu, ia melihat ke sekelilingnya, ia terpekik kaget saat melihat ia sedang berada di rumah sakit.


Arsen mencoba memutar otak, mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Seingatnya, sebelum tak sadarkan diri, Arsen merasa tubuhnya panas. Belum lagi kakinya melepuh karena diam di ruang penyiksaan. Lalu kenapa sekarang ia bisa terbaring di brankar.


Tak lama pintu terbuka, membuat arsen menoleh. Muncul sosok Stuard masuk kedalam ruang rawat Arsen


“Kau sudah bangun?” tanya Stuard. Tak ada keramahan dalam nada bicara mantan mertuanya, hingga Arsen bergidik saat melihat Stuard. Bahkan di tengah tubuhnya yang masih lemah Arsen sungguh ingin lari dari mantan mertuanya.


“Tak perlu takut,” jawab Stuard yang mengerti apa yang dipikirkan oleh arsen.


“Pulihkan dirimu dulu dan persiapkan dirimu untuk menemuiku, dan pikirkan kesalahanmu. Setelah kau pulih temui aku.” Setelah mengatakan itu, Stuard pun berbalik dan keluar dari ruangan Arsen meninggalkan Arsen yang kebingungan. Ia bingung kenapa Stuard membebaskannya dari ruang penyiksaan dan malah menyuruhnya untuk memulihkan dirinya.


dua bulan Kemudian


Ini tepat 2 bulan berlalu, setelah Arsen dibebaskan dan di rawat secara intensif. Tubuh Arsen sudah pulih, dia sudah sehat dan saat ini, setelah dua bulan berlalu akhirnya Arsen bertemu dengan Stuart lagi, dan kini, Arsen telah berlutut dihadapan Stuard, meminta ampun pada mantan ayah mertuanya.


“Bangunlah duduk yang benar!” titah Stuard dengan tegas saat Arsen berlutut di hadapannya. Arsen pun langsung beringsut dan bangkit dari berlututnya dan duduk di depan Stuard.


Saat ia di siksa oleh Stuard, dan saat dia menyerah dengan keadaanya dan pasrah, ia menyesali semuanya. Rasa sakit akibat siksaan menyadarkan Arsen dengan kesalahannya. Dan menyadari kebodohannya, dan saat Arsen pasrah dan menunggu ajal menjemputnya, di tengah rasa sakitnya Arsen berdoa pada Tuhan agar mendapat kesempatan kedua dan jika pun tidak di berikan kesempatan kedua Arsen berdoa agar Tuhan mengampuni dosanya. Dan sekarang, doa Arsen terkabul ia di berikan kesempatan kedua, dan seperti janjinya dia akan berubah menjadi lebih baik.


“Kau benar menyesal?” tanya Stuard, Arsen mengangguk mantap, tatapan mantan mertua dan mantan menantu itu saling mengunci.


“Ya, aku menyesal,” jawab Arsen.


Stuard mengenal sudah 13 tahun lamanya


Walaupun iya emosi pada kelakuan mantan menantunya. Tapi ia masih bisa melihat sisi Arsen yang lain. Dalam pandangan Stuard, Arsen adalah lelaki yang baik. Hanya saja, ia terlalu dikontrol oleh keluarganya dan di doktrin oleh orang tuanya. Itu sebabnya, Stuard memberikan kesempatan kedua untuk Arsen


tapi tidak untuk kembali pada Gabby. Ia hanya ingin arsen menjadi lelaki yang baik.


“Tolong bebaskan, Aku Dad ... bukan maksudku Tuan, aku berjanji aku tidak akan mengganggu Gabby lagi, aku berjanji aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi,” jawab Arsen. Stuard. Stuard mengangguk-anggukan kepalanya.


“ Aku memberikanmu satu kesempatan lagi. jalani hidupmu dengan baik dan jangan pernah muncul lagi ke hadapan Gabby dan jangan pernah lagi kau temui keluargamu, karena mereka membawa pengaruh buruk untukmu. Jika kau tidak menurut maka aku akan menyiksamu lebih hebat dari pada kemarin,” mendengar jawaban Stuard. Arsen langsung bangkit dari duduknya. Lalu , ia kembali lagi memeluk kaki Stuard


“Terima kasih ... terima kasih.” Arsen menggumamkan kata yang sama, seraya memeluk kaki Stuard dan menangis sesegukan.


••••