Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Tersarah


Gengs gas komen ngapa


“Nona, Ayolah jangan menemui Tuan Nauder sekarang, aku akan dipecat nanti," kata Gio yang mengikuti Elsa saat masuk ke lobi apartemen.


“Kau ini banyak bicara sekali, diam! pergi sana!” titah Elsa yang mengusir anak buah Nauder yang sedari tadi terus mengikuti Elsa dan berusaha untuk mencegah wanita itu untuk menemui Nauder. Bisa habis dia oleh nauder jika sampai Elsa menemui bosnya.


“Nona ayolah, aku akan dipecat nanti.” Elsa kembali berbalik.


“Tidak akan, aku yang akan menyuruh Nauder untuk tidak memecatmu,” kata Elsa Entah kenapa dia bisa berkata seperti itu. Padahal jelas-jelas dia tidak ada hubungannya lagi dengan Nauder.


“Tetap di tempatmu, jika kau mengikutiku lagi maka aku akan mengatakan Nauder untuk memecatmu.” Gio terdiam dia tidak lagi berbicara dan tidak lagi mengikuti elsa, sedikitnya Gio tahu bahwa Elsa adalah orang yang berarti di hidup bosnya, dan dia percaya bosnya akan menuruti ucapan Elsa.


Elsa berdiam diri di depan unit apartemen mantan suaminya, tadi menanyakan pada resepsionis dan mengatakan bahwa dia adalah sekretaris Nauder, agar resepsionis memberitahukan unit apartemen mantan suaminya.


Dan sekarang, jantung Elsa berdebar dengan kencang saat akan menekan bel. 4 tahun berlalu, dia berhasil melupakan Nauder dan masa lalunya, tidak ada getaran lagi sekalipun dia mengingat mantan suaminya.


Namun Entah kenapa kali ini dia merasa jantungnya seperti akan keluar dari rongga dadanya,


Dan tak lama dengar suara klik, pertanda pintu akan terbuka dan sedetik kemudian Nauder membuka pintunya. Tubuh Nauder membeku, matanya membulat saat melihat ada Elsa di depannya.


Sama seperti Elsa, jantung Nauder berdetak dengan kencang melihat Elsa. Nauder merasa, otaknya kosong. Ini antara seperti mimpi dan nyata. Bagaimana mungkin Elsa tahu apartemennya.


“El-Elsa." Akhirnya Nauder tersadar, kemudian dia memanggil Elsa dengan terbata. Elsa berdehem, kemudian dia melihat perban yang sedikit terbuka.


“Aku kemari ingin menggantikan perbanmu,” ucap Elsa, Elsa terlalu bingung untuk berbicara hingga dia mengatakan apa yang ada di otaknya.


“Hah!” Nuader dengan bingung menjawab ucapan mantan istrinya, sungguh ini pertemuan yang sangat aneh.


“E-elsa, kau,” ucapan nauder terhenti ketika Elsa menubruk tubuhnya dan masuk ke dalam apartemen, membuat Nauder menggaruk tengkuk yang tidak gatal, dia bingung dari mana Elsa tahu, dan dia tidak tahu kenapa Elsa datang menghampirinya, padahal jelas-jelas tidak ada komunikasi antara ia dan Elsa, karena selama ini, Elsa tidak mengetahui dia adalah Alexandra.


Mata Nauder membulat saat menyadari sesuatu. Apakah Elsa sudah mengetahui bahwa selama ini dia mengikuti kegiatannya. “Mana perbannya?” tanya Elsa. Entah kenapa tiba-tiba dia menyesal telah menghampiri Nauder secara tiba-tiba, seharusnya dia tidak datang pada mantan suaminya dengan cara yang seperti ini.


Mendengar ucapan Elsa, lagi-lagi nauder hanya melongo. “Di mana perbannya?” tanya Elsa lagi


“Di sana,” jawabnya dia menunjuk nakas di mana ada perban di sana atas nakas, hingga Elsa pun mengambil perban itu.


“Duduk!” titah Elsa, hingga Nauder pun mengikuti instruksi mantan istrinya


Dan ketika Nauder duduk, Elsa pun duduk di belakang tubuh suaminya. Dengan pelan, Elsa membuka pernah Nauder lalu dia meringis saat melihat bekas tembakan.


Mata Elsa berkaca-kaca entah kenapa dia tiba-tiba mendadak mellow, dia menengadahkan kepalanya ke atas agar air mata tidak turun begitupun dengan Nauder, dia menunduk menahan tangis.


Setelah yakin semua ini nyata dan yakin Elsa ada di apartemennya, Nauder merasa mellow entah kenapa dia lebih senang Elsa tidak tahu keberadaannya, karena dia takut Elsa menyuruhnya untuk pergi lagi, dan jika Elsa menyuruhnya untuk pergi lagi dia tidak mempunyai alasan untuk tetap tinggal dan yang terparah bagaimana jika Elsa menyuruhnya berhenti untuk mengikutinya, itu berarti Nauder tidak punya kesempatan lagi untuk melihat mantan istrinya.


Acara pergantian perban pun selesai, Elsa bangkit dari duduknya kemudian wanita itu langsung menyimpan kembali perban lalu menghampiri ke arah Nauder.


“Terima kasih,” ucap Nauder, dia menunduk tidak berani menatap Elsa.


‘Cih, dia tidak menahanku.” Elsa membatin saat Nauder mengucapkan terima kasih, dia pun langsung berbalik. Saat dia melewati area dapur, terlihat dapur sedikit berantakan sepertinya tadi Nauder akan memasak karena terlihat bahan-bahan yang ada di meja.


Ya, tadi memang berniat membuat makanan, tapi karena tangannya tidak bisa digerakkan dia menunda sejenak aktivitasnya.


Elsa ingin masuk ke area dapur. Namun wanita itu menghentikan langkahnya, kala mengingat Nauder tidak pernah memakan makanannya.


’Ah, terserahlah, dia makan atau tidak yang penting aku sudah membuatkannya makanan.’ Elsa membatin, pada akhirnya dia memutuskan untuk menyimpan tasnya, lalu setelah itu dia pergi ke area dapur hingga Nauder yang sedang melamun langsung membulatkan matanya, dia pun langsung menghampiri.


”Elsa, kau mau apa?” tanya Nuader.


“Apa kau tidak lihat aku akan masak,” jawab Elsa dengan ketus. “Aku tidak peduli kau mau memakan masakanku atau tidak, yang terpenting aku sudah membuatkanmu. Entah itu berakhir di perutmu atau di tempat sampah aku tidak perduli,” jawab Elsa.


“Sekarang duduk di sana dan jangan menggangguku.” lagi-lagi Nauder berbalik ucapan Elsa seperti ultimatum untuknya, dan Elsa pun langsung memulai acara memasaknya.


Kemampuan Elsa memasak bisa dibilang meningkat apalagi selama 4 tahun ini, setiap pulang dari kantor dia kerap masak seorang diri dan selalu belajar lewat internet.


30 menit kemudian, Elsa selesai dengan acara memasaknya, dia pun langsung menatanya di piring lalu setelah itu dia membuka kulkas dan membawakan minuman dingin untuk Nauder, karena nauder paling tidak bisa meminum minuman biasa ketika makan.


Dan setelah itu dia mengambil nampan lalu memindahkan makanan yang dia buat dan minuman ke nampak tersebut dan membawanya ke meja makan. Setelah menyimpan di meja makan Elsa menghampiri Nuader yang sedang di sofa.


“Makanannya sudah matang, mau kau membuangnya atau kau memakannya terserah. Yang terpenting, aku sudah membuatnya. Kalau begitu aku pergi.”


Setelah mengatakan itu, Elsa pun berbalik.


“Elsa!” panggil Nauder,. dia bangkit dari duduknya kemudian memberanikan diri memanggil Elsa.


Elsa berbalik. “Apa!’


"maukah kau menemaniku makan?” tanyanya.


“Aku sibuk,” jawab Elsa. Sejujurnya Elsa sedang menahan tangisnya untuk tidak keluar entah kenapa dari melihat Nauder yang pasrah seperti ini dan sedari tadi menurut padanya Elsa merasa ingin menangis itu sebabnya dia lebih memilih pergi.


Nauder ingin sekali menarik tangan Elsa, menyuruhnya untuk tinggal. Tapi Nauder tidak seberani itu dan setelah Elsa keluar dari apartemennya, dia berjalan ke arah meja makan dan berdiri di sana.


Tatapnya terus menatap makanan buatan Elsa yang sudah terhidang, terlihat sangat lezat tapi entah kenapa walaupun Nauder tidak ingin memakan masakan itu, dia ingin terus menatap masakan itu mengabadikannya.


“Cepat makan! apa kau akan terus menatap makanan itu!” Tiba-tiba terdengar suara Elsa, rupanya Elsa masuk kembali ke dalam apartemen Nauder.


Nauder tidak menjawab, dia bingung kenapa Elsa masuk lagi. “Cih, seharusnya aku tidak membuatkan makanan untukmu, pasti kau akan membuangnya lagi. Ya sudah biar aku saja yang membuangnya.”


Baru saja sa akan maju tiba-tiba Nauder duduk, dia langsung merentangkan kedua tangannya agar Elsa tidak mengambil makanannya lagi..Hingga ....