
Setelah keluar dari ruangan Raymond. Lutut Ayana tiba-tiba melemas, dadanya bergemuruh seluruh sendi-sendinya terasa patah dan ia merasa tubuhnya terombang-ambing. Bahkan udara udara di sekitarnya mendadak menyesakkan, jiwanya seolah di renggut paksa dari raganya.
Dulu saat pertama kali menjadi sekretaris Ray, ia selalu menepis perasaannya, perasaan bahwa Ray, menjadikannya sekretaris hanya untuk membalasnya. Tapi hari ini ia mengetahui, feelingnya benar. Apalagi jika ia mengingat, ia masuk ke dalam perusahaan Ray terlalu mendadak dan sekarang ia sadar kenapa ya langsung dipekerjakan menjadi sekretaris tanpa tes yang berat.
Ayana menghapus sudut matanya yang berair, kemudian ia langsung berjalan ke arah ruangannya. “Jangan menangis, Ayana.” Ayana membatin, menguatkan dirinya sendiri. Seberapa sakit yang ia rasakan, ia tidak boleh mengeluh apapun, karena ia membutuhkan pekerjaan ini.
Ayana mendudukan diri di kursi kerjanya, tangannya dan kakinya masih bergetar, jujur saja saat ini ia ingin menangis kencang-kencangnya. Tapi sebisa mungkin, ia menahannya karena ia takut Rai melihatnya dari CCTV.
Ayana menghela nafas, kemudian menghembuskannya, lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Hanya tinggal 15 menit lagi ia bisa pulang.
•••
Setelah Ayana pergi dari ruangannya, Ray masih terdiam. Ia menatap pintu di mana Ayana baru saja melewati pintu tersebut.
“Ray, kau benar-benar gila!” ucap Justin, ia pun bangkit dari duduknya
“Kau mau ke mana?” tanya Ray.
“Pulang, aku tidak ingin terlibat dengan urusanmu,” jawab Justin. Ray berdecak kesal saat Justin keluar dari ruangannya, sedangkan ia menyandarkan tubuhnya ke belakang.
Entah kenapa ada rasa yang aneh ketika melihat raut wajah Ayana yang sepertinya Mendengar pembicaraan. “Ah sudahlah, memangnya apa juga urusanku, dia kan hanya sekretarisku kenapa juga aku harus memikirkannya!” Ray pun bangkit dari duduknya, ia bersiap untuk pulang.
Ayana menegarkan hatinya, kemudian ia menatap Raymond. Lalu menundukkan kepalanya. “Selamat sore, Tuan. kalau begitu saya permisi.” Ayana berbalik, kemudian berjalan meninggalkan Raymond begitu saja, membuat Raymond dia terpaku dan hanya menatap punggung Ayana. Namun tak lama, Ray menggeleng-gelengkan kepalanya.
Saat berada di depan rumahnya, Ayana mengerutkan keningnya saat Moa duduk di depan rumah, bingung kenapa Moa menunggunya di luar, apalagi hari sudah malam dan ia tahu putrinya begitu penakut. Secepat kilat, Ayana langsung berjalan menghampiri Moa.
“Moa!” panggil Ayana, ia menekuk kaki dan menyetarakan diri dengan Moa.
“Mommy akhirnya kau pulang,” ucap Moa, terlihat jelas wajah gadis kecil itu berbinar saat melihat Ayana.
“kenapa kau menunggumu di luar?” tanya Ayana Ia membuka mantelnya kemudian ia menyematkannya pada tubuh putrinya.
“Mommy, aku takut Kakek dari tadi terus mengamuk, dia mencubitku dan melemparkan piring padaku,” ucap Moa, memperlihatkan tangannya yang membiru.
Secepat kilat, Ayana langsung menundukkan diri di sebelah putrinya, kemudian ia langsung menggendong Moa. Lalu mendudukkan Moa di atas pangkuannya lalu memeluk erat tubuh putrinya. Ia yakin, saat ini putrinya ketakutan.
“Tidak apa-apa, Moa. Jangan takut, ada mommy di sini.” Belakangan ini ayahnya memang sering mengamuk, dan jujur saja Ayana pernah berpikir untuk menyimpan ayahnya di rumah sakit jiwa, karena ia takut ayahnya mencelakai Moa, dan mencelakai dirinya sendiri. Tapi rasanya, Ayana tidak tega.
Tapi ketika melihat Moa seperti ini, Ayana sepertinya tidak punya pilihan lain ia takut ayahnya mencelakai Moa.