
“Nael kau mengagetkanku!” pekik Gabby, ketika Nael memeluknya dari belakang, ia yang sedang bercermin terperanjat kaget karena Nael datang tiba-tiba.
Nael tidak menjawab, ia malah menciumi leher Gabby dari belakang, membuat Gabby memejamkan matanya. Namun, sepersekian detik Gabby ingat sesuatu.
“Nael, anak-anak akan masuk,” kata Gabby.
“Tidak akan, mereka sedang bermain ponsel di luar.” Belum Gabby menjawab, Nael sudah membalikan tubuh Gabby. Hingga kini, posisi mereka berhadap-hadapan.
“Kau cantik sekali!” puji Nael, ia mencium bibir Gabby sekilas, kemudian menegakkan kembali wajahnya membuat pipi Gabby bersemu merah merona.
“Apa Kau hanya pernah memujiku saja? apa kau pernah memuji wanita lain?” tanya Gabby, ia mengulurkan tangannya pada leher Nael kemudian Ia pun maju, lalu mencium bibir Nael sekilas. Setidaknya, Gabby sudah sedikit terbuka dengan apa yang ia rasakan semenjak pembicaraannya semalam, semenjak mereka saling terbuka satu sama lain.
Bukannya menjawab, Nael langsung mengangkat tubuh Gabby. Lalu, menggendongnya di depan dan setelah itu ia berjalan ke arah sofa. Nael mendudukan dirinya di sofa dan mendudukkan Gabby di atas pangkuannya.
“Sebentar saja, Sayang!” punya Nael, ketika Gabby akan bangkit karena merasakan ada yang aneh di bawah tubuhnya. Tentu saja itu karena senjata Nael bangkit.
Gabby mengelus rahang Nael, kemudian memberanikan diri, kembali mencium bibir Nael. “Apa kita masih akan panas seperti dulu?” goda Gabby, membuat Nael, memejamkan matanya karena Gabby menggodanya.
“Keahlianku masih sama, aku bisa membuatmu terbang seperti dulu.” Nael berucap dengan sensual, seolah membangkitkan hal liar yang pernah terjadi di masa lalu.
Tiba-tiba, terdengar suara derap langkah dari luar. Seketika Nael dan Gabby dilanda kepanikan, karena yang mereka yakin itu adalah salah satu putri mereka.
Gabby pun turun dari pangkuan Nael, kemudian mendudukan dirinya di sebelah Nael, sedangkan Nael langsung mengusap mengusap wajah kasar, ia mengambil bantal sofa lalu menutupi pahanya.
“Daddy, bukankah kita akan pergi sekarang?” tanya Laura, ternyata Laura yang menyusulnya.
“Pergi kemana?” tanya Gabby, seraya mengerutkan keningnya..
Wajah Gabby berbinar, ia tersenyum. Walau bagaimanapun, setiap Nael bersikap hangat padanya dan pada Laura serta Naura, Gabby masih merasa takjub. Hingga rasanya,nia tak bisa berkata-kata.
•••
Nael, mengendarai mobilnya dengan senyum yang sumringah, ia menyetir dengan satu tangan, karena satu tangannya menggenggam tangan Gabby, sedangkan Gaby melihat memalingkan tatapannya ke arah jendela, karena rasanya ia begitu gugup dan begitu malu saat Nael menggenggam tangannya.
Seperti biasa, rasa gengsinya Muncul lagi ketika di hadapan kedua putrinya. Padahal saat di kamat tadi, sedikit demi sedikit Gabby sudah berani untuk mendekat pada Nael tanpa di minta.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarainya Nael sampai di basement Mall. Nael turun, kemudian ia membantu Laura dan Naura untuk turun dari mobil.
“Ayo!” Nael menggenggam tangan Gabby sedangkan Laura dan Naura berjalan didepan mereka.
“Laura ... Naura, kenapa kalian belum memilih. Ayo pilih mainan yang kalian mau,” ucap Nael saat mereka sudah sampai di toko yang menjual mainan. Laura dan Naura pun saling tatap, sedangkan Gabby menutup mulut saat melihat reaksi putrinya, karena jujur saja putrinya tidak pernah menyuka mainan. Laura dan Naura lebih senang menggambar, bermain balet dan bermain piano.
“Daddy, kamu tidak pernah membeli mainan. Karena kami tidak menyukainya,” jawab Naura. Seketika Nael terdiam. Rasa bersalah menghinggapinya, ia bahkan tidak tahu apa yang disukai putrinya dan tidak tau apa yang disukai putrinya.
“Its, oke. Ayo kita pergi!” ucap Gabby yang menenangkan Nael. “Bagaimana jika kita makan siang!” ajak Gabby, Nael mengangguk dengan wajah yang sendu. Kemudian, ia mengulurkan tangannya pada Laura dan Naura. Saat mereka akan berjalan, tak sengaja Nael melihat Leticia ada di store tas. Hingga, Nael menghentikan langkahnya.
”Sayang bisa kau bawa anak-anak terlebih dahulu ke sana. Aku akan menghampiri Leticia.”
“Leticia?” ulang Gabby, seketika Gabby melihat ke arah pandangan Nael, lalu mengangguk dan membawa Laura dan Naura pergi.
Gengs aku up dua bab dulu ya, soalnya ini hari pertama anakku sekolah.