Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Di permalukan


Baca sampe bawah ya gans karena ada kejutan


tiga hari kemudian


Jordan berbalik, matanya berkaca-kaca saat melihat sedang berjalan menuju ke arahnya dan didampingi oleh Nael.


Tidak ada yang mengantar Joana untuk ke altar, apalagi Hansel tidak bisa dihubungi. Padahal sebelum kemarin, Jordan berharap Hansel mengangkat panggilannya, karena ia ingin mengatakan bahwa mereka akan menikah dan berharap Hansel sudah luluh. Tapi ternyata, Hansel sama sekali tidak mengangkat panggilannya dan mau tak mau, Joana harus diantarkan oleh Nael untuk berjalan ke altar.


Dan Setelah serangkaian proses, akhirnya Joanna dan Jordan pun resmi menikah, mereka resmi menjadi suami istri. Jordan akan memberikan persepsi yang sangat mewah, ketika kondisi Joanna sudah dinyatakan membaik.


Karena Joana sedang menjalani konseling dengan psikolog dan Jordan tahu, Joanna masih belum siap bertemu orang banyak. Itu sebabnya, Jordan akan memberikan resepsi ketika Joanna benar-benar siap.


Waktu menunjukkan pukul 8 malam, Joana mondar-mandir di kamar mandi, ini sudah 1 jam yang berlalu dan Joana masih betah berdiam diri di kamar mandi, karena ia takut di unboxing oleh suaminya.


Walau bagaimanapun, ini hal baru untuknya dan ia begitu gugup, perbedaan usia juga mempengaruhinya. Ia yang masih belum berpengalaman, mendapatkan suami seperti Jordan yang 20 yang lebih tua darinya, walaupun memang Jordan tidak setua umurnya, suaminya masih kelihatan tampan, awet muda serta belum lagi tubuh Jordan yang atletis, semakin menambah kesan maskulin di diri suaminya.


“Sayang, apakah kau akan terus di sana?” tanya Jordan dari arah luar, rupanya sedari tadi pun, Jordan berdiri di depan kamar mandi. Ia mengerti dengan kegugupan istrinya.


Joana tersadar, ia mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, menenangkan dirinya agar tidak gugup. Perlahan, Joana maju ke arah pintu, Kemudian Ia pun langsung membuka pintu kamar mandi..


“Jika kau tidak siap, aku tidak akan memaksamu. kita masih mempunyai banyak waktu," ucap Jordan. Ia bisa saja berkata seperti itu, tapi tonjolan di tengah-tengah pahanya tidak bisa berbohong, apalagi saat ini ia melihat Joanna dengan pakaian satin yang super tipis.


Jordan menarik tangan Joana, kemudian ia langsung berjalan ke arah ranjang. Ia membantu Joana berbaring, lalu ia pun kembali berbaring di samping Joana.


“Kau tidak perlu takut, aku tidak akan meminta hakku sekarang!” kata Jordan. Joana mengubah posisinya, hingga kini posisinya menyamping dan hingga kini posisinya dan Jordan saling berhadap-hadapan


“Apa ada yang kau pikirkan, hmmm?” tanya Jordan.


“Apa kemarin kau tidak menghubungi ayahku? Maksudku, aku memang sudah ingin melupakannya dan tidak berharap lagi padanya, tapi aku berharap dia mau menemaniku di altar. Tapi sayangnya dia tidak datang,” ucap Joana, wajahnya langsung mendung saat membahas Hansel.


“Aku mengerti, aku sudah menghubungi ayahmu sebelum kita menikah. Tapi ayahmu tidak bisa dihubungi, dia tidak mengangkat panggilanku!” balas Jordan.


“Jangan dipikirkan lagi, ayo tidur!” kata Jordan. Jordan membawa Joana ke dalam pelukannya, dan Joana pun langsung membalas pelukan Jordan. Namun tak lama, kaki Joanna menyentuh senjata Jordan yang sudah menegang.


Joanna menggigit bibirnya, selama ini, Jordan sudah begitu baik padanya, menyelamatkannya dan memberikan kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya, dan detik itu pula Joana berpikir, untuk tidak menunda apapun lagi.


Perlahan, Joanna menjauhkan tubuhnya dari Jordan. Setelah itu, ia langsung memberanikan diri untuk mencium bibir suaminya terlebih dahulu, membuat mata Jordan membulat


Saat Joanna akan menjauhkan wajahnya, tentu saja Jordan tidak membiarkannya begitu saja. Jordan langsung memperdalam ciuman mereka, hingga ciuman yang begitu lembut, berubah menjadi ciuman yang menuntut dan keduanya sama-sama terbakar api asmara yang sangat hebat.


Seketika melepaskan tautan bibirnya, kemudian ia menindihh tubuh istrinya. Lalu setelah itu, Jordan pun memulai serangannya, dan mereka pun melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan sebagai pasangan suami istri.


Jordan menggulingkan tubuhnya ke samping, ia mencoba mengatur nafasnya begitupun Joana.


Barusan mereka bertempur begitu hebat, Jordan benar-benar menyalurkan semuanya, apalagi ia sudah tidak menyentuh wanita selama bertahun-tahun.


Belum lagi ternyata dia mendapatkan gadis virginn, tentu saja Jordan tidak bisa menahan dirinya. Hingga Ia bermain dengan brutal, membuat Joana hampir saja kewalahan. Hingga sekarang, mereka masih berusaha mengatur nafasnya.


Jordan melihat ke samping, wajah Joanna sudah terlihat sangat pucat, mata Joanna juga hampir terpejam, pertanda istrinya benar-benar kelelahan.


Setelah nafas Jordan mulai teratur, Jordan bangkit dari berbaringnya, Ia turun dari ranjang. Kemudian ia langsung pergi ke luar kamar untuk pergi ke dapur, berniat mengambilkan Joana minum.


5 menit kemudian, Jordan kembali lagi ke kamar. Ia terkekeh, ternyata istrinya sudah memejamkan matanya dan Jordan tahu Joana sangat kelelahan..


4 bulan Kemudian.


Ini sudah 4 bulan berlalu Jordan dan Joana menikah. Banyak yang terjadi dengan Joana. wajahnya sudah sudah mulai berseri-seri, begitupun tubuhnya sudah mulai berisi.


Setiap hari, kedua pasangan itu melewati hari-hari mereka dengan Cinta, dan setelah 4 bulan berlalu, akhirnya Jordan kembali ke aktivitasnya semula, begitupun Joanna yang juga harus kembali menjadi koki di restorannya.


Ya, 4 bulan lalu, setelah seminggu setelah mereka menikah. Jordan memberikan hadiah restoran untuk Joana, karena tahu itu adalah cita-cita istrinya, dan tentu saja ini adalah kado terindah bagi Joanna. Harapannya bisa terkabul, tanpa bayang-bayang sang ibu lagi.


Joanna juga sudah tahu, bahwa Olivia dirawat di rumah sakit jiwa. Tapi, ia enggan menemui Olivia. karena Juana merasa, saat ini ia sudah sangat bahagia.


Waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi, Joanna yang sedang menyiapkan makanan tersenyum saat Jordan keluar dari kamar, dengan setelan kantor.


“Pagi, Sayang!” kata Jordan, Ia datang menghampiri Joanna. Lalu memeluk Joana dari belakang, dan mencium pipi Joanna dari samping. Joana menolehkan kepalanya, kemudian mencium bibir Jordan sekilas.


“Kau tunggu di sana, aku akan menyiapkan makanan!” kata Joanna Jordan menggeleng.


“Tidak, aku lebih suka menemanimu.” Joana tersenyum saat mendengar ucapan Jordan. Seperti biasa, mereka selalu menghabiskan seluruh waktu bersama, termasuk dalam memasak


10 menit kemudian, akhirnya Joana selesai dengan acara memasaknya. dan ordan Jordan langsung bawanya kemeja makan.


•••


“Baby, bolehkah aku membawa mobil sendiri?” tanya Joanna, ketika mereka sudah menghabiskan sarapannya.


Jordan mengambil minum, kemudian ia langsung meneguk hingga tandas, lalu menatap Joana dengan bingung. “Tumben sekali, ada apa, kenapa kau tidak ingin aku mengantarkanmu?” tanya Jordan


“Hmm, aku hanya ingin saja, nanti siang aku akan pergi ke kantormu!” kata Joana lagi, membuat Jordan mengerutkan keningnya.


•••


“Hati-hati, Kau harus mengemudi dengan kecepatan sedang!” kata Jordan, saat ia membukakan pintu mobil Joana. Setelah Joana masuk, Jordan membungkuk, kemudian ia mencuri ciuman di bibir istrinya.


“Love you!” Ucap Jordan. Jordan menutup pintu mobil dan Joanna pun langsung pergi terlebih dahulu, sedangkan Jordan masuk ke dalam mobilnya untuk pergi ke kantor. Ia memberi kepercayaan full untuk Juana beraktifitas sendiri, karena ia tahu inilah yang dibutuhkan istrinya.


•••


Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, Jordan yang sedang fokus di depan laptopnya tersadar, ketika ponselnya berdering. Satu panggilan masuk dari nomer yang tidak dikenal.


“Halo, dengan siapa ini?” tanya Jordan.


“Ayana!” ucapnya lagi, ternyata Ayana lah yang menelepon.


“Ada apa?” tanya Jordan. Terdengar jelas nafas Ayana begitu memburu di seberang sana.


”Aku sama sekali tidak membawa Moa, Aku sedang berada di kantor," ucap Jordan. Ayana mematikan panggilannya sepihak, sedangkan Jordan langsung terdiam. Ia pun ikut panik saat mendengar bahwa Moa hilang. Seketika Ia pun langsung berjalan, mengambil jasnya, kemudian menyambar kunci mobil untuk pergi.


Dua jam kemudian.


Jordan menghentikan laju mobilnya sejenak, keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya. Bagaimana tidak, sudah dua jam berlalu ia mencari Moa, dan Moa juga belum ditemukan.


Begitupun Raymond dan Ayana, yang juga ikut mencari. Bahkan Raymond mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Moa. Tadi sebelum sopir menjemput, sekolah sudah terlebih dahulu dibubarkan dan sopir Moa telat menjemput hingga Moa dinyatakan hilang.


Jordan menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia berusaha untuk tenang. Bukan hanya Raymond saja yang mengerahkan anak buahnya, Jordan pun juga mengerahkan anak buahnya untuk mencari Moa.


Tak lama, ponselnya berdering kembali, satu panggilan dari Raymond. ”Apa Moa sudah ditemukan?” tanya Jordan


“Tolong kau datang ke sekolah Moa, sekarang juga!” balas Raymond. Seketika Jordan pun menutup panggilannya, kemudian ia memajukan mobilnya untuk pergi ke sekolah Moa.


•••


Jordan turun dari mobil, kemudian ia langsung berlari ke arah sekolah, saat ia masuk di sana. Ayana terlihat sedang duduk dan wajah Ayana terlihat sangat pucat, sedangkan Raymond sedang melihat CCTV yang baru saja dibawa oleh pihak sekolah. Dan ternyata, di sana terlihat Moa menaiki mobil seseorang.


“Bagaimana apakah ada petunjuk?” tanya Jordan.


“Apa kau mengenal mobil itu?” Raymond menzoom layar, agar mobil yang Moa terlibat di monitor. Jordan mengerutkan keningnya, saat mobil itu tak asing di matanya. Namun, sepersekian detik, ia menyadari bahwa mobil itu adalah mobil Joanna.


Seketika emosi Jordan meluap-luap, saat tahu istrinya yang membawa Moa. Ini benar-benar keterlaluan, harusnya Joana idak bertingkah seperti ini


“Itu mobil istriku!” kata Jordan.


Mendengar ucapan itu Jordan, Raymond dan Ayana sama-sama terkejut, seketika Ayana pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung menghampiri Jordan


“Apa hak istri membawa putriku!" teriak Ayana, sedangkan Jordan hanya menunduk. Ia begitu malu pada Ayana dan Raymond.


“Tenang sayang, tenang!" kata Raymond yang menenangkan Ayana.


“Aku segera mengantarkan Moa pada kalian!” Jordan lebih memilih pergi, sebelum Ayana kembali emosi kepadanya, Ia pun langsung keluar dari ruang tersebut.


Saat ia masuk ke dalam mobil. Jordan menghafalkan tangannya. “Joana!” geramnya, ia pun langsung mengerogoh saku, kemudian mengambil ponselnya.


“Di mana kau!” tanya Jordan, kali ini emosi Jordan tidak bisa dibendung. Bagaimana tidak, ia Ayana dan Raymond sudah panik, dan itu semua karena ulah Joana dan Jordan rasa, istrinya telah melewati batasannya.


Padahal Joana hanya ingin memberi kejutan pada Jordan, ia ingin membawa Moa ke kantor Jordan, karena selama ini, ia tahu Moa tidak pernah mau didekati oleh suaminya. Itu sebabnya, sebulan lalu Joanna kerap mendekati Moa.


Apalagi catering dan makanan dari sekolah Moa, mengambil dari restorannya, hingga Joana begitu mudah mendekati Moa, dan barusan Moa mau ikut dengannya. Joana mengajak Moa untuk menghias kueh bersama, hingga Moa pun langsung setuju karena itu adalah hobinya.


Tapi sayangnya, niat baik Joana harus menjadi bumerang untuknya sendiri. Padahal, tadi Joana berniat untuk menghubungi Ayana, dan meminta ijin. Tapi, Moa sendiri yang melarangnya. Karena gadis kecil itu tau, ibunya pasti akan melarangnya apalagi hari ini Moa ada les bahasa Jepang, dan Moa paling tidak menyukai itu. Itu sebabnya, Moa lebih memilih ikut dengan Joana.


•••


Ayana mengerutkan keningnya saya Jordan mematikan panggilannya. Tidak biasanya suaminya seperti ini, bahkan barusan suaminya berteriak padanya, dan Joana masih berusaha untuk berpikir positif mungkin suaminya sedang ada masalah di kantor.


“Bibi kapan kita akan menghias kuehnya!” tiba-tiba terdengar suara Moa dari arah belakang, membuat Joana tersenyum.


“Ayo kita hias sekarang!” Moa mengangguk, ia mengambil kursi lalu menaiki kursi tersebut, agar bisa membantu Joanna untuk merias kue yang sudah dibuat.


Brakkk


tiba-tiba pintu dapur terbuka dengan sangat kencang, membuat Joana dan Moa langsung terperanjat dan menoleh ke arah pintu. “Baby!” panggil Joana, saat Jordan masuk dengan muka memerah. Seketika Jordan langsung berjalan ke arah Joana dan ia langsung menarik tangan Moa hingga Moa hampir terjatuh


.


“Kau pikir kau siapa, Kenapa kau berani membawa Moa tanpa ijin kami. Apa kau tahu, kami dari tadi panik mencarinya, dan kau ....” tiba-tiba Jordan menghentikan teriakannya, saat melihat Joana memejamkan matanya dengan tubuh yang bergetar, ia tersadar ketika mendengar tangisan Moa.


Jordan mengusap wajah kasar, saat menyadari bahwa ia tidak seharusnya berteriak pada Joanna. “Joana!” Ia pun langsung menepuk pundak Joana. Hingga Joana refleks mundur dan membuka matanya.


“Ma-Maaaf, maafkan aku. Aku minta maaf." Hanya itu yang Joana bisa katakan, ia tidak tahu harus berekspresi bagaimana. Seluruh tubuhnya bergetar, Ia tidak percaya Jordan akan berteriak dan membentaknya


Seketika Jordan maju, kemudian memeluk Joana. “maaafkan aku, Aku tidak bermaksud berteriak padamu!” kata Jordan, hampir saja tangis Joanan lurug saat Jordan memeluknya. Namun Tentu saja, pelukan Jordan tidak bisa menggantikan rasa sakit yang Joana rasakan.


“Ayo ikut aku, dan minta maaf pada Raymond dan Ayana!” ajak Jordan, setelah itu Jordan berbalik kemudian ia langsung menenangkan Moa dan setelah Moa tenang, Jordan langsung berbalik kemudian menarik lembut tangan Joanna dan mereka pun keluar dari dapur.


Dan disinilah mobil Jordan terparkir, di depan pekarangan rumah Raymond. Sedari di perjalanan, Joanna hanya terdiam. Pikirannya terasa kosong, kejadian barusan benar-benar membuat Joana tersentak kaget, Ia masih tidak menyangka Jordan akan membentaknya dan berteriak padanya.


Ia emang salah karena tidak meminta ijin, walaupun itu bukan kesalahannya seratus persen, karena Moa sendirilah yang melarangnya untuk menelpon Ayana. ia juga tidak menyangka Jordan akan berteriak dengan kencang padanya, dan itu mengingatkan Joana pada lukanya.


“Ayo masuk ke dalam!” ajak Jordan, menyadarkan Joana dari lamunannya.


•••


“Harusnya kau meminta izin dulu padaku sebelum membawa Moa pergi, apa kau tahu betapa paniknya aku dan suamiku mencari Moa!” ucap Ayana, ia berkata sedikit keras pada Joanna. Membuat Joana refleks memundurkan langkahnya, menyembunyikan tangan yang gemetar di belakang tubuhnya.


Ia menoleh ke arah Jordan, berharap Jordan mau membantunya berbicara, karena ia begitu malu menatap Ayana. Namun sia-sia, Jordan sama sekali terlihat tidak ingin membantunya berbicara .


“Ma-maafkan aku Nona Ayana!” pada akhirnya, akhirnya ia memberanikan diri untuk berbicara walaupun dengan bibirnya bergetar, ia bahkan menuduh tidak berani menatap Ayana.


“Ayana ... Raymond, atas nama istriku aku meminta maaf. Mungkin karena istriku masih muda dan sedikit labil jadi dia tidak berpikir dampak apa yang dia lakukan.” ucap Jordan.


Deg.


Tubuh Joana diam mematung saat ucapan itu keluar dari mulut suaminya, ia tidak menyangka suaminya akan berkata begitu di hadapan orang lain, Sungguh, ia seperti sedang di telanjangi sekarang.


Seketika ....


Gengs ini konfilknya ga lama kok, soalnya kaya nya kurang gemes kalau Joana dan Jordan langsung bersatu hahaha.


Udah update panjang banget, di mohom untuk komem sampai 500 ye, kalau ga nyampe 500 bsok up seuprit hahaha