
Gengs ayolah tinggalin komen yang banyak biar semangat
Jantung Nauder berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar ucapan Naura. “Kenapa kau ingin tinggal di mansion, Kenapa kau tidak pulang ke apartemen?" nauder berbicara dengan terbata-bata, wajahnya langsung memucat saat mendengar keputusan istrinya
.
“Tidak perlu aku jelaskan kau sudah tahu bukan alasannya,” jawab Naura, membuat jantung Nauder berdetak dua kali lebih cepat. Seumur pernikahan mereka, dia tidak pernah melihat Naura bersikap seperti ini. Tapi sekarang, ia harus menghadapi sikap sang istri yang bersikap dingin padanya, sungguh ia merasa sesak.
“Naura aku bisa menjelaskan semuanya, aku berjanji aku ....”
“Nauder, aku mohon beri aku waktu.” Kali ini Naura tersenyum. Namun senyuman itu benar-benar membuat Nauder merasa sesak. Entah Nauder merasa bahwa ini senyuman terakhir istrinya.
“Mommy ....” tiba-tiba terdengar suara Ameera yang sudah terbangun dari tidurnya, kali ini nauder menghampiri putrinya.
“Sayang ini Daddy ... Kau ingin pulang ke apartemen bersama Daddy kan?’ Nauder benar-benar sudah kehabisan akal, hingga ia langsung berbicara bersama Sang Putri karena ia tahu kelemahan Naura adalah Ameera
Nauder menggenggam tangan gadis kecil itu. Namun, dengan cepat Ameera melepaskan tangannya dari genggaman sang ayah, gadis kecil itu salah asing dengan sosok Ayah yang ada di depannya ini
.
“Mommy!” panggil Ameera, Naura langsung menoleh, kemudian tersenyum Ia pun dengan segera menggendong Ameera.
“Ayo Ameera kita pulang.” tadinya Naura menunggu sopir untuk mengambil barang-barang mereka, tapi sepertinya ia sudah tidak sanggup lagi menghadapi Nauder, hingga pada akhirnya Naura lebih memilih memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Sedangkan Nauder, ia berusaha untuk mengejar Naura. Namun Naura sama sekali tidak menoleh, wanita itu terus berjalan untuk turun.
Nauder menghentikan langkahnya saat Naura sudah berbelok, ia rasa akan percuma mengejar Naura, apalagi ini rumah sakit dan dia tidak membuat kegaduhan.
Nauder mendudukan dirinya di kursi tunggu, dia menyesali semuanya lelaki itu memegang dadanya yang rasa nyeri, ketika membayangkan Naura akan pergi selamanya dari hidupnya.
Saat Nauder akan bangkit, satu panggilan masuk kedalam ponselnya, terpampang nama Anesa di layar.. Entah kenapa saat ini setelah semua terbongkar rasanya ia begitu membenci wanita itu padahal beberapa menit yang lalu ia masih bersamaa dan Anesa di restoran.
“Ada Apa?” tanya Nauder, biasanya ia berbicara dengan manis saat membalas ucapan Anesa tapi sekarang berbeda.
“Apa!”pekik Nauder. “Baik, aku ke kantor sekarang.” Rupanya, Anesa mengatakan bahwa ada sedikit masalah di kantor. Padahal jam kantor sudah selesai tapi mau tak mau ia harus segera kembali ke kantor
Nauder masuk ke dalam kantor, kemudian ia berjalan dengan cepat. Masih tersisa puluhan orang di kantornya yang sedang mengambil lembur dan dia pun langsung bergegas masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai paling atas.
Saat keluar dari lift, tak ada Anisa di ruang sekretaris. Hiingga Nauder pun langsung masuk dan ternyata Anesa sedang duduk di ruangannya.
“Apa yang terjadi?” tanya nauder ketika masuk ke dalam ruangan di mana Anesa sedang duduk di d
sambil fokus pada layar laptop
“Saham perusahaan kita tiba-tiba anjlok, Tuan,” jawab Anesa. Nauder langsung berjalan ke arah kursi kerjanya, kemudian mendudukkan dirinya di sana dan membuka laptop.
Mata Nauder membulat saat melihat grafik saham yang semakin menurun, dan ia pun langsung menelepon seseorang.
“Apa dokter Kai sudah mulai?" tanya Nauder. “Tidak, krimkan saja stok yang ada di laboratorium!” Setelah mengatakan itu, Nauder pun menutup panggilannya.
Dua jam kemudian.
akhirnya masalah bisa diatasi, karena anak buahnya sudah mengirim sesuatu pada pemegang saham tertinggi di perusahaannya hingga akhirnya sahamnyanya kembali normal.
Nauder menutup laptopnya dia menyadarkan tubuhnya ke belakang begitupun dengan Anesa sayang merentangkan tangannya, wanita itu merasa lega karena pekerjannya sudah berakhir.
Kemarin-kemarin dia selalu senang ketika Anesa berada di ruangannya. tapi entah sekarang dia merasakan muak apalagi jika mengingat Naura Yang akan pergi.
“Anesa, kau aku pecat,” ucap Nauder tiba-tiba
Anesa yang baru saja beristirahat langsung membulatkan matanya. “Kenapa aku di pecat?” tanya Anesa. Mata wanita itu membulat saat mendengar ucapan Nauder. Ah, Anesa mengerti mungkin karena tadi saat makan mereka terpergok oleh Naura.
“Tuan, kita bisa berhubungan di belakang istrimu bukan dan ...”
“ Tutup mulutmu ...." Tiba-tiba Nauder mendorong tubuh Anesa saat Anesa akan menduduki pangkuannya hingga, Anesa.terjatuh ke lantai.
“Mengenalmu adalah suatu petaka karena kau menggodaku dan aku hampir kehilangan istriku dan jika terjadi apa-apa dengan rumah tanggaku kau yang akan aku kejar. Pergi dari sini dan jangan menampakan dirimu lagi di hadapanku,” balas Nuader, setelah itu Nauder pun langsung menyambar kunci mobil. lalu keluar dari ruangannya. Hari ini akan, dia akan menyusul Naura ke mansion mertaunya ia tidak akan menyerah, ia akan menempel pada Naura sampai Naura luluh kembali
***
“Naura boleh Daddy bicara?’ tanya Nael saat Naura sudah membaringkan Ameera. Naura mengangguk.
“Tunggulah diluar, Dad. Aku akan memastikan Ameera terlelap.” Nael pun berbalik, lalu menutup pintu hingga kini di ruangan itu hanya ada ia dan putrinya.
Naura menggenggam tangan Ameera dengan mata yang berkaca-kaca. Tubuh Ameera begitu kurus, bahkan bekas bintik-bintik merah itu masih terlihat di kulit putrinya.
“Ameera, Maafkan jika Mommy belum bisa jadi ibu terbaik untukmu. Maafkan jika tidak bisa membuatmu sembuh, Kau pasti kuat, suatu saat jika kau mengerti Mommy akan memberitahu siapa ayah kandungmu.” Naura menghapus sudut matanya berair, kemudian ia turun dari ranjang, setelah itu keluar dari kamar dan menghampiri Nael.
“Dad!” panggil Naura. Nael yang sedang berada di balkon menoleh.
“Kemari!" titah Nael, sebagai seorang ayah dia merasa putrinya menanggung beban yang sangat berat tapi ia tidak berani bertanya. Namun saat tadi Naura menjemput Ameera dengan wajah yang membasah, akhirnya Nael pun memberanikan diri bertanya pada Putri keduanya
“Apa yang terjadi sebenarnya dengan kalian Daddy tahu hubungan kau dan Nauder tidak baik-baik saja. Apa kau tersiksa dalam pernikahanmu?” tanya Nael.
“Dad, bolehkah aku tidak menjawab pertanyaanmu. Suatu saat jika aku sudah siap Aku akan bercerita semuanya.”
jika sudah begini Nael tidak bisa memaksa untuk Naura berbicara, ai membawa Naura ke dalam pelukannya. “Jika kau merasa berat, cerita pada Daddy. Kau tidak perlu ragu.” Saat Naura akan menjawab, terdengar suara deheman membuat Nael dan Naura menoleh ternyata itu Nauder.
“Kalau begitu Daddy akan turun kebawah,” Nael melepaskan pelukannya kemudian ia keluar dari balkon. Lalu setelah itu ia berjalan, ketika berada di dekat Nauder, Nael menghentikan langkahnya kemudian menepuk bahu menantunya.
“Jika kau sudah tidak sanggup lagi membahagiakan Naura, kembalikan Naura pada Daddy dengan cara yang benar,” ucap Nael. Ucapan itu mengisyaratkan banyak hal, membuat tubuh Nauder diam mematung. Apakah Naura sudah mengadukan semuanya, pertanyaan itu berputar-putar di kepala lelaki itu.
Naura dan nauder saling menatap, kali ini Nauder menyadari betul Naura sudah tidak menatapnya seperti dulu, terkesan acuh dan tidak perduli sedangkan Nuader menatap Naura dengan tatapan membasah. “Sayang," lirih Nauder.
Naura hampir saja tertawa saat mendengar nauder memanggilnya sayang ucapan yang tidak pernah ia dengar selama putrinya sakit
“Pulanglah Nauder. Aku tidak ingin diganggu,” ucap Naura, Ia pun langsung menegakkan tubuhnya kemudian berjalan dan melewati tubuh Nauder, begitu pun Nauder yang tidak menyerah lelaki itu langsung mengikuti Naura.
Saat Naura akan menutup pintu, Nauder menahan pintu tersebut agar tidak tertutup hingga Ia pun bisa masuk.
“Nauder, aku tidak ingin berdebat Aku tidak ingin bertengkar. Tolong berikan aku waktu sendiri.”
Bukannya menjawab Nauder malah berlutut di hadapan Naura. “Naura , aku bersalah padamu aku berdosa padamu tolong ampuni aku.”
“Kita pernah membahas ini saat kita berbulan madu beberapa tahun lalu. Apa yang akan kita lakukan jika salah satu dari kita berbohong, dan kau sudah tahu kan jawabannya.’
Tiba-tiba, Nauder memejamkan matanya saat mengingat percakapan itu, di mana mereka sama sekali tidak akan mentolelir sebuah kebohongan. Hingga tiba-tiba, Nauder memeluk kaki Naura.
“Aku mohon, Naura berikan aku kesempatan.’ Nauder memeluk kaki Naura begitu erat, hingga rasanya Naura ingin sekali berteriak.
“Nauder bangunlah! pulang ke apartemenmu berikan aku waktu. Setelah ini, Ayo kita bicara mungkin aku akan memaafkanmu jika aku tenang,” Jawab Naura. Padahal dia berbohong ia tidak akan pernah memberikannya Nauder kesempatan, ia hanya ingin Nauder pergi.
Mendengar ucapan Naura, angin segar bagai menghantam Nauder, ia pun dengan segera bangkit. “Baiklah sayang aku akan pulang ke apartemen aku akan menjemputmu seminggu lagi,” ucap nauder. Ia berusaha menangkup pipi Naura. Namun, Naura menghindar.
“Pergilah sekarang!” titah Nauder, dia pun lansung berbalik, kemudian keluar dari kamar. Setelah Nauder pergi, ponsel Naura berdering hingga Naura pun dengan cepat berlari ke arah tasnya karena takut suara ponsel membangunkan Ameera.
Satu nomor tidak dikenal dan Naura pun langsung mengangkatnya, tiba-tiba Naura menjatuhkan ponselnya saat mendengar Siapa orang yang meneleponnya dan dia adalah ....