
Nael menghela nafas, kemudian menghembuskannya saat dia terjebak macet. Kendaraan begitu padat, membuat Nael, menggeram. Ia Ingin secepatnya, sampai di rumah untuk beristirahat. Apalagi Ia baru keluar dari rumah sakit.
Tak lama, ponsel Nael berdering, ia merogoh saku, kemudian mengambil ponsel. “Dia lagi,” Lirih Nael, saat nama sang sahabat terpampang di layar.
“Ya, aku akan ke sana sekarang,” jawab Nael, pada sahabatnya, yang menelponnya. Saa melihat ada celah, Nael memutar balikkan mobilnya kemudian menjalankan mobilnya ke tempat sahabatnya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil yang ditumpangi Nael sampai di basement apartemen. Ia pun segera turun, kemudian berjalan ke arah lift.
“Aku merasa bukan air lelaki tulen saat aku harus datang ke apartemen pria lain,” ucap Nael pada sahabatnya saat sahabanya membukakan pintu.
“Bagaimana, apa kita jadi pergi?” tanya Jordan, sahabat Nael yang juga tak lain adalah paman Arsen. Nael Jordan bersahabat sedari Mereka sekolah.
Itu juga, sebabnya Nael dulu memecat Arsen sebagai pengacaranya. Saat itu, ia sama sekali tidak ingin mencampuri hubungan Jordan dan Arsen. Karena itu urusan mereka. Dan Nael berusaha profesional.
Tapi setiap melihat wajah Arsen ia selalu mengingat kejahatan Arsen dan keluarganya kepada Jordan. Hingga, Ia memutuskan kontrak Arsen secara sepihak dan menghentikan Arsen sebagai pengacaranya.
Nael berdecak kesal, “Kenapa kau tidak bertanya saja lewat telepon, kenapa kau harus memangilku kemari!” omel Nael, Jordan tak menjawab. Ia melempar, kaleng bir pada Nael, kemudian mendudukan diri di depan Nael.
“Aku dengar dia kembali ke negara ini. Bagaimana jika kau bertemu lagi dengannya atau dia ingin menemui kita?” tanya Jordan.
Nael yang akan membuka kaleng bir menghentikan gerakannya, tubuhnya mendadak terdiam saat mendengar ucapan Jordan. Matanya menerawang ke depan seolah dia memikirkan sesuatu.
“Kenapa kau bertanya itu padaku, memangnya apa urusannya denganku,” jawab Nael berpura-pura tak perduli. Padahal hatinya berkata lain, bahkan wajahnya terlihat sendu.
“Kau baik-baik saja.” tanya Jordan, Nael tak menjawab. Ia kembali menengguk birnya, lalu memalingkan tatapannya ke arah lain, agar Jordan tak melihat ekpresinya.
Setelah keluar dari kantor Firma hukum ayahnya, Gabby meminta sopir untuk kembali mengantarnya ke apartemen Gisel. Rasanya, tubuhnya begitu lemas. Ucapan Arsen yang menyalahkannya membuat hatinya semakin hancur dan semakin patah.
Seandainya Arsen menunjukkan rasa bersalahnya, tentu Gabby tidak akan sehancur ini. Tapi, yang terjadi, Gabby sama sekali tidak melihat Arsen menampakan rasa bersalahnya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang di tumpangi oleh yang dikenali oleh Gabby sampai di basement apartemen. Gabby tuun dari mobil, kemudian berjalan ke arah lift untuk naik ke apartemen sang adik.
Ia membutuhkan waktu yang tenang, karena ia tahu. Saat ini pasti, Arsen akan pulang ke rumah. Saat ia masuk ke dalam apartemen Gisel, Gisel sudah tidak ada, dan tepat setelah Gabby masuk, pintu kembali terbuka dari luar, ternyata Gabriel yang masuk
“ Kau sedang apa disini?” tanya Gabriel pada adiknya.
“Kau sendiri mau apa kemari!” bukannya menjawab, Gabby malah balik bertanya pada kaka kembarnya.
“Aku mengantarkan ini untuk Giseel,” jawabnya seketika Gabriel terdiam. Ia melihat sang adik lekat-lekat. Ia mengenal Gabby lebih dari siapapun, dan ia yakin, Gabby sedang ada yang besar. Tiba-tiba, hatinya pun mendadak tak nyaman.
“Gabby, kau baik-baik saja?” tanya Gabriel dari pandangan matanya saja, ia sudah tahu bahwa ada sesuatu yang besar menimpa Gabby.
Seberapa kuat Gabby menahannya, Gabby hanya manusia biasa, ini terlalu menyakitkan untuk di pendam seorang diri.
Pada akhirnya, Gabby maju ke arah Gabriel, kemudian memeluk Gabriel.
“Gabriel ....” Gabby hanya mampu memanggil nama kakanya, lalu menumpahkan tangisannya.
Gengs satu bab dulu ya. satu bab lagi menyusul