
Savana melihat ke sekelilingnya. Tidak ada siapa pun di sana, dan dia yakin Joshua yang mengompres keningnya. Wanita itu pun langsung turun dari ranjang kemudian dia meringis saat merasakan tangannya begitu nyeri.
Tak lama, Savana menunduk, melihat telapak tangannya yang membengkak. Hari ini dia ada kelas, dan setelah ada kelas, nanti malam dia harus bekerja lagi. Rasanya, Savana ingin membaringkan tubuhnya. Dia ingin beristirahat, tapi dia sadar tidak ada waktu untuk berleha-leha. Wanita itu pun langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Dua puluh menit kemudian.
Akhirnya, Savana pun selesai bersiap. Dia sudah rapi, kali ini Savana tidak tidak memakai lagi pakaian yang glamor. Jika biasanya dia pergi ke kampus dengan pakaian yang glamor dan elegan, tapi kali ini Savana hanya memakai celana dan kemeja. Namun walau begitu, tampilan Savana tetap terlihat cantik dan menawan.
Saat dia keluar, ternyata ada Joshua yang baru saja selesai memasak. Sepertinya, lelaki itu memasakkan sarapan untuk Savana.
"Paman," panggil Savana.
Joshua menoleh. Dia mengerutkan keningnya saat melihat Savana sudah rapi.
"Kau mau ke mana?" tanya Joshua.
Setiap Joshua bersikap baik, rasanya Savana ingin menangis. Entahlah, jika dia boleh memilih, dia lebih ingin Joshua bersikap seperti kemarin-kemarin.
"Aku akan pergi kuliah. Ini juga kelas Paman, bukan? Kalau begitu, aku permisi," kata Savana lagi.
"Savana, kau tidak sarapan? Aku sudah membuatkannya untukmu," ucap Joshua.
Savana menggeleng. "Perutku sedang tidak enak, aku akan sarapan nanti. Sampai jumpa," jawab Savana dengan tersenyum samar.
Helaan napas terlihat dari wajah tampan Joshua. Ketika melihat Savana seperti ini, rasanya dia ingin meminta Savana untuk tinggal. Joshua mungkin bisa saja bersimpuh dan memohon ampun pada Savana, tapi dia yakin luka yang dia torehkan pada Savana tidak akan pernah cukup hanya dengan kata maaf.
***
Saat masuk ke dalam kelas, Savana langsung berjalan ke arah kursinya. Wanita cantik itu langsung menyimpan tas, lalu setelah itu dia menyimpan kepalanya di meja karena rasanya dia benar-benar merasa tak berdaya. Mungkin orang berpikir Savana berlebihan karena harus memaksakan semuanya, tapi percayalah ini adalah bentuk pengalihan dari rasa sakit yang Savana rasakan. Jika dia terus diam di apartemen, dia akan terus teringat rasa sakitnya. Dia akan terus merasa insecure karena tidak bisa seperti orang lain. Itu sebabnya Savana menargetkan dirinya untuk kuliah dan untuk bekerja agar bisa berdiri di kakinya sendiri. Bagi Savana yang tidak mempunyai siapa pun, Savana tidak mempunyai waktu untuk berleha-leha.
"Savana, are you oke?" tanya teman Savana yang berada di sebelah Savana, hingga Savana langsung mengangkat kepalanya, kemudian wanita cantik itu menoleh lalu tersenyum.
"Hm, oke," jawab Savana. Tiba-Tiba dia meringis, merasakan perutnya yang begitu nyeri. Sepertinya, efek apa yang Savana lakukan itu benar-benar masih terasa hingga terkadang perutnya terasa sakit, bahkan sangat sakit.
Dan mungkin rasa sakit yang Savana rasakan adalah efek dari trauma, di mana saat sekarang dia mengingat jelas bagaimana rasa sakitnya ketika saat itu dia meminum obat dan dia melihat darah mengalir di pahanya.
Sepuluh menit kemudian, pintu terbuka. Joshua masuk, kemudian lelaki itu langsung berjalan ke arah meja. Saat menyimpan tasnya di meja, tatapannya langsung teralih pada Savana yang sedang melihat ke arah depan. Wajah Savana lebih memucat dari sebelumnya.
"Savana Are you okay?" Kali ini, Joshua bertanya hingga Savana mengangguk dan setelah itu Joshua langsung membuka tasnya. Rasanya, Joshua meronta-ronta ingin menyuruh Savana untuk ke ruangannya untuk sekadar beristirahat, tapi tidak mungkin dia melakukan itu di hadapan semua muridnya.
Selama pelajaran berlangsung, Savana terus memegang perutnya yang sangat terasa nyeri. Beberapa kali Joshua terus mencuri-curi pandang ke arah istrinya.
Akhirnya, setelah satu jam mengajar, pelajaran Joshua pun selesai. Lelaki itu langsung menutup sesi mengajarnya dan keluar dari kelas, sedangkan yang lain langsung membereskan barang-barang mereka dan akan pindah ke kelas lain. Beruntung, Savana hanya ada kelas Joshua saja hingga dia bisa beristirahat sejenak di perpustakaan, sebelum dia nanti sore pergi ke restoran tempatnya bekerja.
Savana melihat kelas yang sudah hampir kosong, hanya tinggal tersisa dua orang. Lalu dengan lemas, wanita malang itu pun memasukkan semuanya ke dalam tas, kemudian dia langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan dengan sangat pelan. Setiap Savana melangkah dan bernapas, Savana merasakan perutnya nyeri hingga terkadang dia menghentikan langkahnya.
"Kau mengagetkanku, pamab," ucap Savana.
Joshua tidak menjawab, lelaki tampan itu malah menarik lembut lengan istrinya sedangkan Savana yang tidak ada tenaga, mengikuti langkah Joshua hingga mereka sampai di ruangan lelaki itu.
"Paman, kenapa Paman membawaku ke sini?" tanya Savana.
"Duduk saja," kata Joshua lagi.
Tidak ada tenaga untuk melawan, Savana pun mendudukkan diri di sofa sedangkan Joshua langsung mengambil tumbler minum miliknya, lalu setelah itu dia memberikannya pada Savana. Tak lupa, dia juga membawa kotak bekal makanan yang tadi dia masak.
"Ini minum," kata Joshua.
"Terima kasih, Paman," jawab Savana. Dia pun langsung menerima tumbler dari Joshua kemudian meminumnya lalu setelah itu, Joshua pun langsung membuka kotak bekal, lalu menyerahkannya pada Savana.
"Makanlah, aku tahu aku belum sarapan," titah Joshua dengan suara yang lemah lembut.
Savana menggigit bibirnya, kemudian dia mengambil kotak bekal itu lalu memakannya. Ketika memakan makanan itu, tanpa sengaja bulir bening terjatuh tanpa bisa ditahan.
Bagaimana tidak, teringat saat dia mengidam di mana dia pernah ingin memakan masakan Joshua, tapi saat itu Joshua menolaknya dan malah mengatakan akan pergi makan malam bersama teman-temannya. Lalu sekarang, dia merasakan masakan suaminya tapi anak yang dia kandung sudah tidak ada.
"Aku akan pergi keluar," kata Joshua ketika melihat Savana menangis. Ketika Joshua pergi, Savana langsung menyimpan makanannya di meja kemudian wanita malang itu langsung menunduk lalu menangis sejadi-jadinya, memukul-mukul dadanya yang terasa nyeri.
"Akhirnya Mommy merasakan masakan ayahmu, tapi kau sudah tidak ada," kata Savana dengan berlinang air mata.
Joshua menyandarkan tubuhnya ke belakang ketika melihat Savana sedang menangis. Dia juga teringat ketika Savana memintanya untuk membuatkan makanan, tapi dia malah pergi bersama teman-temannya.
Waktu menunjukkan pukul empat sore.
Tadi setelah keluar dari ruang dari ruangan Joshua, Savana memutuskan untuk diam di perpustakaan, mengistirahatkan tubuhnya sejenak dan sekarang Savana merasa sudah tidak lemas hingga dia pun memutuskan untuk pergi ke restoran.
Sebelum pergi, Savana membuka tasnya kemudian dia menghitung uang yang dia dapat hari kemarin. "Sudah terkumpul beberapa lembar uang. Semangat, kita harus mengumpulkan uang," kata Savana, menyemangati dirinya sendiri hingga wanita itu langsung bangkit dari duduknya.
Sekarang, di sinilah dia berada, di restoran tempat dia bekerja. Savana masuk lewat pintu belakang. Anehnya, semua malah bersikap ramah pada Savana padahal kemarin mereka bersikap tak acuh padanya. Namun, Savana enggan memikirkan itu. Dia pun langsung berjalan ke arah loker.
"Savana," panggil salah satu orang yang merupakan koki.
"Iya," sahutnya.
"Biarkan itu menjadi tugas orang lain. Kau siapkan saja piring dan tugasmu hanya itu," katanya.
Mata Savana membulat saat mendengar ucapan koki tersebut. Kenapa tugasnya jadi lebih mudah?