Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Jordan vs olivia


Saat Olivia masuk, Jordan langsung bangkit dari duduknya, kemudian ia menyeret Olivia, untuk keluar dari ruang rawat yang ditempati oleh Joanna.


Setelah sampai di luar, Jordan menghempaskan tubuh Olivia dengan kasar, hingga Olivia hampir saja terjatuh. “Kau!” Sentak Olivia, ia menatap Jordan dengan tatapan amarah yang memburu, Ia tidak menyangka ia akan berhadapan lagi dengan mantan kekasihnya


“Berhenti ikut campur urusanku,” Teriak Olivia, seketika Jordan maju, tatapannya begitu berapi-api, menatap Olivia dengan tatapan membunuh. Hingga Olivia sedikit ketakutan. Namun sebisa mungkin, dia tidak gentar dan ia juga menatap Jordan dengan tatapan menantang.


“Aku tidak menyangka, kau masih sama seperti dul!” kata Jordan, wajahnya tidak bisa disembunyikan, bahwa dia marah pada Olivia.


Saat Olivia akan menampar Jordan, Jordan menahan tangan Olivia, kemudian mencengkeramnya dengan keras. Hingga Olivia meringis.


“Lepaskan!” teriak Olivia. “Jangan pernah ikut campur urusanku dan putriku!” kata Olivia lagi, ia berusaha untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Jordan. Namun, Jordan tidak melepaskan begitu saja. Bahkan ia mencengkram pergelangan tangan Olivia dengan keras dan Olivia bisa merasa di kuku-kuku Jordan menancap di kulitnya.


“Olivia dengarkan ini! aku mampu melakukan apapun demi orang yang aku cintai, jika kau berani menyakiti Joana lagi, maka kau akan berhadapan denganku!” Seketika Olivia berhenti meronta saat mendengar ucapan Jordan.


“Cinta?” Olivia butuh waktu lama untuk mencerna apa yang Jordan katakan. Namun sepersekian detik, Olivia mengerti qucapan Jordan.


“Kau mencintai putriku?” tanya Olivia dengan bibir bergetar.


“Hmm, aku mencintainya dan Aku akan segera menikahinya agar kau tidak bisa lagi melukainya. Dan ingat, bukan berarti semua berhenti sampai di sini. Aku akan membalasmu atas tangisan yang dikeluarkan oleh Joana, maka tunggu saja tanggal mainnya!” Jordan berucap dengan sungguh-sungguh, membuat Olivia terpaku, ia mengenal Jordan saat kuliah dan ia mengerti betul Jordan tidak main-main dengan ucapannya.


Setelah mengatakan Itu, Jordan menghempaskan tangan Olivia dengan dengan kasar. “Pergi dari sini, sebelum aku menyuruh orang-orangku menyeretmu dan membuatmu malu!” Setelah mengatakan Itu, Jordan pun langsung berbalik meninggalkan Olivia. Lalu masuk ke dalam ruangan rawat Joanna.


Saat masuk ke dalam ruang rawat Joanna, Jordan mengerutkan keningnya saat Joana tidak ada di brangkar, lalu tatapan matanya beralih pada lantai di mana salad buah tercecer di lantai tersebut.


“Joana .... Joana!” Panggil Jordan, tidak ada Joana di manapun, hingga tatapan Jordan terhenti Di kamar mandi. Seketika itu juga, Jordan langsung membuka pintu kamar mandi.


Mata Jordan membulat saat melihat tubuh Joanna sedang duduk di lantai, seraya memeluk tubuhnya dan di bawah shower dengan keadaan shower yang menyala. Seketika itu juga, Jordan langsung berlari ke arah dalam, kemudian ia mematikan keran shower.


“Joanna ... Joanna!” Panggil Jordan.


Joana yang sedang memejamkan matanya langsung mengangkat kepalanya. “Pak-Paman, tolong aku. Jangan berikan aku pada ibuku!” ucap Joanna dengan nada yang sangat terdengar menyakitkan.


Setiap kali ia melihat Olivia marah, pasti ujung-ujungnya ia akan disiksa, dan setelah Din siksa, Joana selalu mengucuri tubuhnya dengan air yang mengalir untuk meredam sakitnya, dan barusan ketika ia melihat Olivia marah, ia merasa sakit di seluruh tubuhnya hingga ia mengucuri tubuhnya dengan air.


Jordan membuka koper, lalu mengambil handuk dan setelah itu, ia langsung mendudukkan diri di sebelah Joanna, tak lupa Ia pun mengambil dress yang tadi ia beli untuk Joana.


Jordan menundukkan diri di sebelah Joanna, kemudian ia langsung mengelap rambut Joanna. “Kenapa kau harus membasahi seluruh tubuhmu?” tanya Jordan dengan lemah lembut.


“Semua tubuhku sakit!” kata Joanna, kali ini air mata kembali mengenangi wajah cantiknya. Jordan tidak bertanya lagi, Ia terus mengeringkan rambut Joana.


Setelah rambut Joanna kering, Jordan bangkit dari duduknya. “Aku akan menunggu di luar, kau bisa mengganti pakaianmu, pakaianmu basah!” kata Jordan. Saat Jordan akan bangkit, Joanna kembali menarik tangan Jordan.


”Paman punggungku sakit, aku tidak bisa mengangkat tanganku," ucap Joana lagi membuat Jordan memejamkan mata. Seketika rahang Jordan kembali mengeras, demi apa pun, ia tidak akan melepaskan Olivia.


Jordan mendudukkan diri lagi di sebelah Joanna, “Sebenarnya apa yang dilakukan ibumu, kenapa kau bisa sampai seperti ini?" tanya Jordan, kali ini, ia memberanikan bertanya Joanna


Joana kembali memeluk tubuhnya, pikirannya melayang dengan apa yang dilakukan oleh sang ibu selama setahun ini. “Aku dicambuk oleh sabuk, aku dipukul, aku dilempari barang-barang aku ....” Joana tidak mampu lagi meneruskan ucapannya, kali ini tubuhnya bergetar lebih hebat dari sebelumnya, sedangkan Jordan hanya terdiam, penyesalan kembali lagi menerpanya. semua karena dirinya yang saat itu mengusir Joanna dari apartemennya.


Seketika itu juga, Jordan langsung membawa Joana ke dalam pelukannya, ia memeluk Joana begitu erat, kali ini kedua pasangan itu menangis. Jordan dengan penyesalannya dan Joanna dengan rasa sakitnya.


Setelah sekian lama menangis, dan tangis keduanya sudah mereda. Jordan langsung melepaskan pelukannya kemudian ia langsung menatap Joana aku akan meminta suster untuk menggantikan pakaianmu!” ucap Jordan, Jordan menghapus air mata Joanna dengan kedua ibu jarinya


“Pak-Paman jangan tinggalkan aku, aku takut Mommy akan masuk lagi!” pinta Joanna. Jordan menghela nafas, kemudian menghembuskannya.


“Berbaliklah, aku akan memakaikan baju untukmu!” kata Jordan. Jordan tidak bermaksud untuk kurang ajar, tapi melihat dari kondisi Joanna yang tidak ingin ditinggalkan, akhirnya mau tak mau Jordan pun membantu Joana untuk memakaikan pakaiannya


Dengan pelan, Joanna berbalik, sedangkan Jordan langsung menarik pakaian Joanna. Nafas Jordan terasa tercekat, dadanya bergemuruh. Ia memejamkan matanya, saat melihat punggung Joanna ada noda memar dan beberapa garis yang sepertinya bekas cambukan, bahkan ada satu noda yang masih tampak baru.


Jordan kembali membuka matanya, kemudian dengan pelan membantu Joanna untuk melepaskan pakaian. Lalu setelah itu Jordan memakaikan lagi pakaian yang baru untuk Joanna.


“Pa-paman, bolehkah aku tinggal di apartemen paman satu Minggu saja. Aku ingin menyembuhkan lukaku dulu, sebelum Mommy menangkapku. Aku berjanji, aku tidak akan merepotkan paman, atau paman bisa menaruhku di apartemen lain, aku tidak apa-apa jika harus sendi ....” Tiba-tiba, Joana menghentikan ucapannya saat ....


Scrol ya