
Arsen mengemudikan mobilnya dengan kecepatan pelan, ini sudah 3 jam berlalu setelah ia mengantarkan Giseel dan sudah 3 jam pula mengelilingi kota tanpa arah. Rasanya, ia ingin secepatnya memenangkan kasus Gisel.
Dan setelah itu, ia akan kembali pergi dari Polandia dan lebih memilih untuk pergi ke suatu tempat, ia tidak ingin terus membuat Gisel berharap kepadanya, ia lebih baik untuk menghilang.
Tak lama, Arsen meminggirkan mobilnya dan menghentikannya, kemudian ia mengambil ponsel lalu melihat siapa yang menelepon. “Aku akan kembali ke sana dua minggu lagi. Tolong siapkan dokumen pelengkap dan jangan beritahu siapapun, tolong juga siapkan seperti apa yang aku minta!” kata Arsen.
Setelah mengatakan itu, ia pun mematikan panggilannya, kemudian menyadarkan tubuhnya ke belakang. “Pada akhirnya, siap atau tidak aku akan tetap menghadapi kematian!” lirih Arsen, tatapan matanya menyiratkan betapa pedihnya hal yang dia rasakan.
Penyakitnya sudah sangat parah, ia meminta tim dokter yang menanganinya untuk tidak memberikan perawatan dan dia akan menandatangani dokumen kematian yang menyatakan, bahwa dia memang tidak ingin diobati dan tidak ingin tim dokter melakukan hal medis padanya.
Mungkin orang pikir, Arsen berlebihan. Tapi tidak, ada beban yang jauh lebih berat yang ia tanggung. Luka masa lalu, rasa bersalah, cinta yang tak sampaikan, dan keluarga belum lagi penyakit yang ia derita. Selama 10 tahun terakhir, ia berperang dengan mentalnya, ia trauma akibat penyiksaan Stuard, dan mengatasi traumanya, ia bergantung pada obat.
Dan Arsen mencapai titik lelahnya, dan sekarang, ia lebih memilih untuk menyerah. Mungkin jika ia tidak memiliki perasaan pada Gisel, ia sudah menyerah dari dulu. Tapi sekarang, setelah melihat Gisel dengan lelaki lain, Arsen rasa inilah saatnya untuk melepaskan semuanya.
Saat akan menyalakan mobilnya lagi dan menjalankannya, Arsen menghentikan gerakannya, ketika ponselnya kembali berdering. Ia pikir itu adalah anak buahnya, tapi ternyata Arsen salah.
Arsen mengerutkan keningnya saat melihat satu panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. “Baik, saya akan menemui anda sekarang,” Jawab Arsen. Tiba-tiba jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, ketika ia akan menemui lelaki yang selama ini ia ingin temui, lelaki yang dulu membuangnya.
Butuh waktu lama untuk Arsen meminta waktu untuk berbicara pada lelaki itu, hingga pada akhirnya lelaki itu menghubungi Arsen terlebih dahulu.
“Untuk apa kau meminta bertemu denganku?” tanya Edgar, lelaki tua yang duduk di depan Arsen. Lelaki tua itu begitu berkarisma, karena dia adalah salah satu orang terkaya di negaranya. Ia datang ke Polandia karena Arsen terus meminta bertemu dengannya.
Arsen mengangkat kepalanya, hatinya berdenyut nyeri saat melihat ekspresi lelaki di depannya yang tak lain adalah ayahnya. Ya, selama ini orang yang mengasuh Arsen bukanlah kedua orang tua kandungnya, karena faktanya, Arsen dibuang oleh ayah kandungnya yang tak lain adalah orang yang ada di depannya.
Dulu, ayah kandung Arsen tidak ingin anak laki-laki, karena ia sudah mempunyai 4 anak laki-laki, dan akhirnya ianmeninggalkan Arsen di panti asuhan dan Stuardlah yang berhasil mengungkapkan identitas Arsen, dan itu pula alasan kenapa Arsen tidak peduli lagi pada keluarga angkatnya, sekalipun keluarganya sudah di bangkrutkan oleh Stuard.
Dan setelah mengetahui informasi ayah kandungnya, setahun lalu akhirnya Arsen mulai memberanikan diri untuk meminta bertemu pada ayahnya, walaupun awalnya Arsen begitu sulit mendapatkan akses untuk berkomunikasi karena ayahnya bukan orang sembarangan.
Dan sekarang, ketika ia sudah melihat ayahnya hatinya terasa berdesir pedih, kala ayahnya menatapnya seperti dia adalah hama. Arsen hanya ingin melihat sosok yang telah membuangnya, sebelum ia benar-benar enyah dari dunia ini.
Mendengar pertanyaan ayahnya yang begitu dingin dan begitu sadis, Arsen tersenyum getir. “Terima kasih atas waktu anda, Tuan. Saya hanya ingin melihat anda, kalau begitu saya permisi!” Rasanya, Arsen tidak lagi bisa menahan kesedihannya dan kekecewaannya, hingga akhirnya ia lebih memilih pergi dari hadapan sang ayah.
“Tunggu ....”
Seketika Arsen menoleh dan ....
Mau update 4 bab, tapi bab sebelumnya kalian komen dikit banget, yok komen Yo.