
Arsen mematikan panggilannya secara sepihak, ia memilih mematikan panggilan dari Nael, karena Nael terus mengumpat padanya, ia akan menemui Nael ketika kondisinya sudah lebih baik.
Arsen menyimpan ponselnya, kemudian ia menyadarkan tubuhnya ke belakang. Lalu ia melihat alat-alat yang ada di sekitarnya, kemudian tersenyum getir. Lalu, ia memejamkan matanya kembali.
keesokan harinya.
“Tuan Arsen, anda tidak bisa terus seperti ini!” kata dokter yang menangani Arsen, Arsen yang sudah memakai pakaiannya dan bersiap pulang menoleh. “Aku tidak apa-apa, Dok. Aku akan datang lagi ketika kondisi memburuk. Terima kasih.” Setelah mengatakan itu, Arsen pun keluar dari ruang rawatnya.
Arsen masuk ke dalam mobil, kemudian ia menyadarkan tubuhnya ke belakang. Tubuhnya terasa lemas. Ia mengambil Tumblr, kemudian meminum ramuan yang selama ini ia minum.
Tak lama, ponselnya berdering. Satu pesan masuk dari anak buahnya. Ia pun melihat ponselnya kemudian tersenyum lalu mengusap layar ponselnya. “Aku sangat merindukanmu!” kata Arsen dengan mata yang berkaca-kaca.
Ternyata, anak buah Arsen mengirim foto Gisel sedang bersama seorang lelaki, yang Arsen tahu lelaki itu sedang dekat dengan Gisel, lelaki itu adalah rekan bisnis Gabriel dan Gabriel sengaja mendekatkan Wiliam dengan Gisel. Tapi, sayang Arsen tidak tau rahasia apa yang ada di balik keretakan Giseel dan lelaki itu.
Sudah 5 bulan ini, Arsen tidak bertemu Gisel karena ia berada di Rusia, sedangkan Gisel di Swiss dan selama lima bulan ini, Arsen hanya bisa mengobati kerinduannya dengan foto-foto yang dikirimkan anak buahnya.
Sakit .... Perih, kala dia mencintai tapi tidak bisa memiliki, kala dia ingin mengungkapkan perasaannya tapi tak tak bisa. Keputusannya sama seperti dulu, di mana dia akan benar-benar pergi dan benar-benar menyerah ketika Gisel sudah bahagia bersama lelaki lain.
Arsen merogoh saku, kemudian mengambil ponsel. “Pesankan aku tiket ke Swiss, aku akan berangkat nanti malam,” ucap Arsen pada sekretarisnya.
Ya, memang Arsen akan kembali ke Swiss. Ini kasus terakhir yang harus ditangani, karena beberapa waktu lalu ia mendapat kabar dari firma hukum miliknya, bahwa perusahaan yang ditangani Gisel sedang bertarung di meja hukum dengan perusahaan lain.
Seharusnya, rekan Arsen yang menanganinya. Tapi, karena rekan arsen tidak sanggup akhirnya Arsen yang maju, ini juga bakti terakhir Arsen untuk membantu Gisel.
Ckitttt
Tiba-tiba Arsen menghentikan laju mobilnya, saat mobilnya dihadang oleh seseorang. Tak lama, ia menyipitkan matanya saat melihat siapa yang menghadangnya, ternyata, mobil itu adalah milik Nael.
Rupanya, Nael melacak keberadaan Arsen lewat ponsel Arsen, hingga ia langsung menyusul Arsen.
“Arsen buka ....” Nael mengetuk jendela, sedangkan Arsen hanya tertawa, ia sengaja tidak membukakan jendelnya, dan menunggu Nael benar-benar kesal. Entah kenapa, rasanya menyenangkan ketika melihat Nael kesal.
Tak lama, tawa Arsen meledak saat melihat wajah Nael memerah dan akhirnya Arsen pun membuka kaca jendelanya.
“Apa!” kata Arsen ketika membuka kaca jendelanya.
“Apa kau bilang?” Nael melotot galak pada Arsen ketika melihat reaksi Arsen yang santai. Padahal dia mati-matian mengkhawatirkan Arsen. Tapi, yang dikhawatirkan malah terlihat santai.
“Buka pintunya!” kata Nael.
“Tidak mau, aku harus segera pergi. Jika ada yang ingin disampaikan kau sampaikan saja lewat pesan," jawab Arsen lagi berusaha menahan tawa
“Arsen ....” Nael menggeram, membuat Arsen tak bisa menahan tawanya lagi.