Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Panggilan


Raymond memperdalam ciumannya. Ia tidak membiarkan Ayana lepas begitu saja, ia menekan kepala Ayana karena beberapa kali Ayana seperti akan menjauhkan bibirnya. Malam ini, Raymond tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ayana harus menjadi miliknya.


Pada akhirnya, saat Ayana lelah meronta, Ayana terdiam dan perlahan ia mulai membalas ciumann Raymond. Ciumann yang tadinya pelan, berubah menjadi ciumann menuntut. Keduanya sama-sama terbakar.


Setelah sekian lama berciuman, akhirnya Raymond dan Ayana saling melepaskan tautann bibir mereka, kemudian keduanya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya..Saat Ayana akan pergi, Raymond menarik tangan Ayana hingga ayahnya menabrak tubuh Raymond.


“Tuan!” ucap Ayana dengan gugup. Jantungnya seperti akan keluar dari rongga dadanya.


Raymond menangkup kedua pipi Ayana, memaksa Ayana ntuk melihat ke arahnya. Binar matanya, menatap Ayana dengan hangat dan ketulusan, membuat Ayana terbuai dan menganggukkan kepalanya.


Raymond menyeringai, ia langsung menarik kedua kaki Ayana kemudian memangku Ayana di depan, seperti koala memangku anaknya. Kemudian ia berjalan ke dalam kamar.


Raymond membaringkan Ayana di ranjang, kemudian Ia membuka pakaiannya hingga kini Raymond bertelanjangg dada, membuat Ayana menggigit bibirnya. Setelah itu, Raymond menindihh tubuh Ayana, membuat Ayana memejamkan matanya.


“Baby!” panggil Raymond. Ayana memejamkan matanya.. Lagi- lagi, ia ia benar-benar terpesona dengan kharisma Raymond.


Dan akhirnya, percintaaan panas itu pun terjadi. Untuk pertama kalinya, Raymond menyentuh tubuh Ayana..Tubuh Ayana benar-benar membuatnya terbang sampai ke atas awan begitupun dengan Ayana.


•••


Raymond menggulingkan tubuhnya ke samping, ia berusaha mengatur nafasnya. Sedangkan Ayana langsung menarik selimut dan menyelimuti seluruh tubuhnya.


Sejujurnya, ia malu. Seandainya ia tidak terbuai, tentu saja ia tidak akan seperti. Raymond terkekeh melihat reaksi Ayana, ia langsung


menarik selimut Ayana. Namun, Ayana mempertahankan selimutnya, membuat Raymond tertawa. Raymond tidak menarik lagi selimut tersebut, Ia hanya memeluk Ayana membuat Ayana terdiam dengan tubuh yang menegang.


keesokan harinya


Ayana terus terdiam di kamar, sungguh ia tidak berani keluar dan tidak berani menatap Raymond. Bagaimana mungkin ia menatap Raymond setelah apa yang terjadi semalam.


Ia melihat jam dipergelangan tangannya, ternyata sebentar lagi ia harus berangkat bersama Raymond, hingga mau tak mau Ia pun harus keluar dari kamar dan melihat bosnya.


“Tidak apa-apa, Ayana aggap saja semua hanya mimpi.” Ayana berusaha menenangkan dirinya agar tidak terlalu malu saat bertemu dengan Raymond. Ia pun mulai melangkahkan kakinya kemudian keluar dari kamar.


Saat keluar dari kamar, ia menghentikan langkahnya, saat melihat adegan di depannya, di mana Raymond sedang menyuapi Moa.


“Moa, kau pulang jam berapa? Tanya Raymond pada Moa sambil menyuapi Moa.


Moa mengambil tisyu, kemudian mengelap mulutnya. Sepertinya aku akan pulang lebih awal karena tidak ada kelas balet,” jawab Moa. Ia kembali membuka mulutnya, dan menerima suapan dari Raymond.


“Seharusnya kau istirahat saja, Moa. Kenapa kau harus sekolah hari ini!” kata Raymond lagi apalagi kemarin Moa baru saja terkena insiden hampir tertabrak oleh Jordan.


Seketika Moa menggeleng. “Tidak mau, hari ini ada beberapa kelas yang aku ikuti!” jawab Moa membuat raymond terkekeh. Tak laman, Raymond melihat ke arah kanan. Ia merasa sedang ada yang memperhatikannya, ternyata benar ada yang memperhatikan


“Kenapa kau terus berdiri di situ!” tanya Raymond, menyadarkan Ayana dari lamunannya. Ayana pun langsung maju ke arah meja makan. Lalu menarik kursi dan menundukkan dirinya di sebelah Raymond.


••••


Suasana di jalan begitu hening, Ayana fokus melihat ke arah jendela, sedangkan Raymond fokus mengemudi. Saat ini, Raymond sedang menjalankan mobilnya menuju ke sekolahan Moa. Setelah pergi ke sekolahan Moa, Raymond dan Ayana akan pergi ke kantor


“Moa, ingat pesan Daddy,” Jangan pernah keluar dari sekolah sendirian, kau mengerti!” ucap Raymond ketika sampai di depan sekolah Moa.


Saat akan turun, Moa pun mengganggu.


“Hmm, Daddy, aku akan menunggumu!” balas gadis kecil itu, Raymond pun keluar. Seperti biasa, Raymond pun keluar dari mobil kemudian memutari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Moa mengantarkan Moa untuk masuk ke dalam sekolah.


Waktu menunjukkan pukul 12.00 siang, Ayana merentangkan tangannya. Ini waktunya ia istirahat dan waktunya ia menanyakan makanan apa yang akan Raymond pesan. Ia pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung berjalan ke arah Raymond.


“Tuan, Apa Anda ingin makan sesuatu?” tanya Ayana, ia sengaja berdiri di depan pintu dan tidak menghampiri Raymond.


“Kemari!” Titah Raymond.


. Dengan ragu, Ayana pun maju ke arah dekat meja Raymond.


“Anda ingin memesan apa Tuan?” Tanya Ayana sambil menunggu. Ia tidak berani menatap Raymond. Apalagi jika diingat kejadian semalam.


“Aku ingin memakanmu,” jawab Moa sambil tertawa, membuat Ayana semakin menundukkan kepalanya.


“Tidak .... tidak! Kemari!” Raymond menepuk pahanya mengisyaratkan Ayana duduk di pangkuannya membuat mata Ayana membulat.


Tidak ingin dijadikan bahan ledekan oleh Raymond. Ayana pun berbalik, ia berniat pergi dari Raymond..


“Telepon saja aku, jika kau ingin memesan sesuatu,” ucap Ayana setelah ia berbalik. Membuat Raymond tertawa.


“Tetap di tempatmu!” kata Raymond. hingga akhirnya Ayana terdiam di tempat.


“Pesankan aku makanan seperti biasa!” kata Raymond lagi, Ayana mengangguk tanpa berbalik, kemudian ia kembali keluar dari ruangan


Raymond


. Saat ia sudah memesan makanan dan akan turun ke bawah untuk pergi, Ayana menghentikan gerakannya, saat ponselnya berdering. Satu panggilan masuk ke dalam ponselnya.


Ayana mengerutkan keningnya, saat melihat nomor yang tidak dikenal. Namun, tak urung ia mengangkatnya.


“Hallo, dengan siapa ini!” tanya Ayana.


Saat orang di seberangnya menjawab, Ayana terdiam, karena itu adalah suara Jordan..


“Bisa temui aku,” ucap orang di seberang sana, yang tak lain adalah Jordan. Rupanya Jordan sengaja memakai nomor baru, agar Ayana mengangkat panggilannya.