Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Cinta itu nyata


Yuhuuuuuuu


Kalian bisa baca atau skip aja ya, up Letucia nanti malem ya


cerita ini di jamin, meguras emosi dan energi


mon maafye Mpok Mpok ibu ibu otor mau promo novel otor yang di si hijau ( K | B| ?)


Novellll ini judulnya D O K T E R B U N G A


aku cuman naruh satu bab di sini..tapi di sana udah tamat


Judul D O K T E R B U N G A


Bab 1


Tolong, untuk kali ini, Mundur dari tim hukum ayahku. Jangan biarkan mereka mengambil hak ibuku." Suara wanita muda itu terdengar pilu, ia mengiba dan berlutut di bawah pengacara muda yang terlihat sangat angkuh dan ambisius, ia ingin memertahankan haknya agar sang ayah dan gundik ayahnya tak merampas haknya dan ibunya.


Pengacara itu terkekeh pelan, "Dunia itu kejam, jika kau ingin menang kau harus sukses." Dia berucap dengan sombongnya. Pengacara itu pun berlalu, meninggalkan wanita yang berlutut di hadapannya.


Pengacara itu adalah salah satu harapan bunga dan ibunya, ia berharap sang pengacara akan mundur di detik-detik persidangan jika dia mengiba. Namun wanita itu harus gigit jari karena ternyata si pengacara itu sama jahatnya dengan sang ayah.


10 tahun berlalu.


Dering telepon berbunyi di meja perawat yang terdapat di ruang operasi. Suster itu mengangkat telepon, setelah mengangkat dan mendengarkanya, ia menoleh pada sang dokter yang sedang mengisi resum medis pasien yang baru saja dia operasi.


"Dok ada konsulan dari igd," ucap suster itu.


Sang Dokter bedah saraf itu menoleh dan beranjak dari duduknya lalu menghampiri suster dan mengambil alih gagang telpon.


"Halo, ada apa?" tanya Dokter itu yang bernama Bunga.


"Maaf Dok, mengganggu. Saya mau melaporkan ada pasien yang wanita 55 tahun yang tak sadarkan diri. Dari hasil Ctscan menyatakan ada gumpalan darah di otak bagian kiri. Bagaimana, Dok. apa anda bisa ke igd sekarang."


"Baik, saya kesana sekarang." Bunga pun meletakan kembali gagang telepon ke tempatnya.


"Bawa pasien ke ruang ICU, pantau secara berkala saya akan memeriksa pasie di igd" titah Bunga pada perawat agar memindahkan pasien yang baru saja ia operasi.


Para perawat pun mengangguk. Bunga pun keluar dari ruangan operasi dan menuju igd. Ia memang lelah, tapi rasa semangatnya lebih mendominasi, bagi Bunga, tak ada kata lelah jika pasien membutuhkannya.


Setelah sampai di igd, Bunga pun langsung memeriksa pasien yang tadi di konsulkan, ia memeriksanya dengan seksama. Saat melihat wajah pasiennya. Tiba-tiba ia teringat mendiang ibunya. Ada rasa yang tak biasa menyapa hatinya. Lamunannya buyar kala ia mendengar isakah seorang wanita di sisi brankar.


"Apa yang terjadi dengan pasien ini, Bu?" Tanya Bunga pada wanita yang mengantar pasien ke rumah sakit. "


"Sa-saya tidak tau, Dok. Saya menemukan ibu sudah tergeletak di kamar mandi dan bersimbah darah," jawabnya sambil terbata.


Sebelum Bunga mengajukan pertanyaan lagi, suster datang membawa hasil ctscan milik pasien. "Dok, ini hasil CTscan milik pasien."


Bunga pun mengambilnya dan memeriksanya dengan seksama.


"Apa anda keluarganya?" tanya Bunga saat selesai mengamati hasil Ctscan milik pasien.


"Bu-bukan, Dok. Sa-saya hanya asisten rumah tangganya."


"Tolong hubungi keluarganya, sampaikan pasien harus segera di operasi. Kami butuh tanda tangan pihak keluarga untuk persetejuan," ucap Bunga lagi.


Wanita itu pun mengangguk, ia langsung merogoh saku untuk mengambil ponsel dan untuk menelpon putra dari majikannya. Sedangkan Bunga kembali menunggu di meja perawat, ia duduk sejenak untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Setengah jam telah berlalu, Bunga pun kembali menghampiri wanita tadi


"Bagaimana, Bu apa sudah mendapat jawaban dari keluarganya?" tanya Bunga lagi.


"Be-belum, Dok. Panggilang saya tidak di angakat," jawabnya dengat terbata-bata. Wajahnya semakin pias karena putra majikannya tak menjawab panggilannya.


"Apa ibu ini tak punya keluarga yang lain?"


Wanita itu menggeleng, ibu tak punya siapa-siapa, satu putranya menjadi pengacara di kota lain.


Deg ...


Bab 2 Bab 2 lelah


Bunga menggeleng samar ketika wanita yang di hadapannya menyebut kata pengacara. Setiap mendengar orang menyebutkan pengacara, hatinya kembali sakit. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya agar bisa mengendalikan dirinya.


"Bagaimana jika ibu saja yang menjadi penanggung jawabnya?" tanya Bunga.


"Ta-tapi, saya tidak punya biyayanya, Dok. Saya pun tidak tau di mana majikan saya menyimpan uangnya."


Mendengar ucapan wanita di depannya, Bunga menoleh kebelakang. Ia berbisik di telinga suster. Suster itu pun mengangguk-ngangguk tanda mengerti.


"Bu silahkah ikut saya untuk menandatangani berkas-berkas!" titah suster. Ibu itu pun mengangguk, lalu mengikuti suster.


Setelah suster pergi, Bunga melihat kearah pasien, ia menatap lekat-lekat wajah wanita paru baya itu. Ada rasa yang tak biasa saat Bunga melihatnya.


•••


Bunga menghela napas lega saat operasinya berjalan lancar. Ia pun duduk di kursi sambil mengisi resume medis pasien yang baru saja di operasinya. Ia menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kekanan, Bunga merasa tubuhnya begitu lelah.


Setelah mengisi resume medis pasien, Bunga pun bangkit dari duduknya. "Pindahkan pasien ini ke ruang ICU !" titah Bunga.


"Baik, Dok!"


"Kalau begitu saya duluan," ucap Bunga lagi pada para perawat. Para perawat pun mengangguk.


Bunga keluar dari ruang operasi dengan langkah gontai, ia berjalan menuju ruangannya,tubuhnya begitu lelah, beruntung jam prakteknya berakhir sebentar lagi.


Saat sampai di ruangan, ia langsung duduk dan mengambil botol yang berisi air putih yang ia simpah di laci.


Bunga menghela napas berat, peluhnya berjatuhan, dia merasakan tubuhnya begitu lemas tak bertenaga. Hari ini ia menjalani operasi besar yang menguras tenaga dan pikirannya.


Sejenak, Bunga melipat kedua tangannya di meja dan dia menyimpan kepalanya di atas tangan, dia memejamkan matanya karena tak kuasa menahan kantuk.


Baru saja ia akan terlelap, suara ketukan pintu kembali membangunkannya, Bunga pun dengan cepat mengakat kepalanya.


"Dok ada pasien yang di rujuk untuk berkonsultasi dengan anda," ucap suster yang baru saja masuk ke ruangan Bunga.


Bunga tersenyum, "Silahkan, Sus," jawab Bunga. Setelah suster keluar untuk memanggil pasien, Bunga menarik tisyu basah di dalam laci dan mengusap wajahnya agar terlihat segar


Tak lama, suster masuk membawa pasien yang akan berkonsultasi.


"Selamat sore, Bu?" Sapa Bunga ketika pasien sudah duduk di hadapannya.


"Selamat sore Dok."


"Ada yang bisa saya bantu?"


Wanita itu pun menganguk, "Dok, tangan saya gemetar ringan. Tapi, terkadang gerakannya tak terkendali," jawab Pasien di depannya. Ia mengangkat tangannya menunjukan pada Bunga


Setelah pasien mengangkat tangannya, Bunga pun mengambil pulpen dan kertas yang berada di sampingnya lalu menyodorkannya pada pasien di depannya.


"Coba ibu menulis di kertas ini!" titah Bunga.


Dengan tangan gemetar, pasien itu mengambil pulpen dan kertas yang di sodorkan Bunga. Tapi ketika saat dia akan mulai menulis, pulpen yang sedang di pegangnya terjatuh.


Bunga meneliti pasien yang ada di depannya, ia mencoba memasang pendengaran baik-baik kala berbicara dengan pasiennya.


Terdengar, suara pasien pun bergetar dan akhirnya Bunga pun bisa dengan cepat menyimpulkan penyakit apa yang dialami pasien di depannya. Tentu saja ia harus memeriksa lebih lanjut untuk lebih yakin sebelum mendiagnosis pasien.


"Sudah, Bu. tidak perlu di lanjutkan lagi," ucap Bunga ketika pasie di depannya masih berusaha menulis sedangkan ia tak bisa memegang pulpen dengan benar.


"Bu, apa selain tangan ibu ada lagi bagian tubuh Ibu yang bergetar?" tanya Bunga


Ibu itu pun menganguk dan ...


Tbc


Bab 3 tentang Bunga


Pasien itu pun mengangguk, "Kepala saya dan tungkai saya terkadang bergetar hebat, Dok."


"Apa ibu bisa makan menggunakan sendok ata garpu jika di rumah?" tanya Bunga.


Pasien itu pun menggeleng


"Apa ibu sudah lama mengalami gejala yang seperti ini?"


Ibu itu pun mengangguk, "Saya sudah lama mengalami ini. Tapi saya lupa kapan tepatnya "


"Baik, Bu. Diagnosa saya, Anda mengalami tremor. Tapi saya belum bisa memastikan jenis tremor apa yang menyerang Anda. Untuk selanjutnya, anda harus melakukan cek darah dan ct scan ... suster akan membantu anda."


"Dokter, apa saya bisa sembuh?" tanya dengan wajah yang sedih.


Melihat kesedihan pasien di depannya. Tiba-tiba, Bunga merasa sesak. Lagi-lagi, ia teringat ibunya. Selalu seperti itu, setiap ia melihat pasien yang sudah berumur, ia akan mengingat mendiang ibunya.


Bunga tersenyum. "Saya akan melakukan yang terbaik untuk anda," balas Bunga. "Anda pasti bisa sembuh," sambungnya lagi


"Silahkan, Sus," ucap Bunga pada, menandakan pemeriksaan sudah selesai, Bunga tinggal menunggu hasil ct scan dan cek darah agar bisa menentukan tindakan apa yang akan di ambilnya.


Sesudah pasiennya keluar dari ruangan, Bunga menyenderkan tubuhnya ke belakang. Ia kembali menguap, ternyata rasa kantuknya kembali menyapanya.


Baru saja dia akan menaruh kepalanya kembali di meja, pintu ruangannya terbuka, siapa lagi kalau bukan Gema Rahadrja, adik sepupunya.


Ayah Gema dan ibu Bunga adalah kaka beradik. Pernikahan, ibu Bunga tak di restui oleh kedua orang tuanya, karena ayah Bunga yang hanya berasal dari keluarga miskin.


Mereka pun menikah tanpa restu orang tua, rumah tangga mereka sangat harmonis, walaupun mereka hidup sangat sederhana.


Lambat-lambat, ekonomi mereka mulai meningkat, Berkat kegigihan ayah Bunga, Ayah Bunga berhasil mendirikan hotel, awalnya hanya penginapan biasa. Namun, lama-kelamaan dia bisa mengembangkannya menjadi hotel.


Namun, setelah 20 tahun berlalu, kebahagiaan keluarga Bunga hancur karena orang ketiga. Sang ayah, lebih memilih meninggalkan Bunga dan ibunya. Bahkan, ia tak memberi pun uang pada Bunga dan istrinya.


Ayah Bunga dengan teganya, tak memberikan harta gono gini pada ibu Bunga, bahkan hotel miliknya dia kuasai sendiri. Ayah Bunga mengubah semua asetnya atas nama gundiknya hingga hotel tak bisa di masukan kedalam harta gono gini.


Bunga dan ibunya sudah berusaha mencari bukti, bahwa hotel itu bukan milik gundiknya, melainkan harta bersama. Namun, Bunga dan ibunya gagal, mereka resmi bercerai tanpa ada harta gono gini, kecuali rumah yang mereka tempati. Itu pun ayah Bunga mendesak agar rumah itu harus segera di jual dan hasilnya di bagi dua, di tambah lagi ayah Bunga memakai pengacara terbaik. Tentu saja mereka memengkan gugatan.


Yang lebih membuat Bunga hancur, sang ibu meninggal usai sidang di gelar, Bunga semakin hancur kala sang ayah tak menoleh lagi pada ibunya yang sudah tak bernyawa. Ayah Bunga melenggang pergi bersama gundiknya, tanpa memerdulikan Bunga yang meraung memanggil nama ibunya.


Seminggu kemudian, setelah sang ibu meninggal, Bunga hanya berdiam dirumah. Tak ada lagi pembantu karena Bunga tak punya lagi biyaya untuk membayar, bahkan listrik di rumahnya padam karena ia tak sanggup membayarnya. uang tabungannya sudah terkuras untuk biyaya rumah sakit sang ibu dan pemakamannya, sedangkan tabungan ibunya sudah raib di ambil oleh ayahnya ketika perselingkuhannya belum terbongkar.


Setelah satu minggu berlalu, ada yang datang mencarinya. Ia adalah Tanu rahardja, seorang konglomerat, dan dialah kakek dari Bunga khalea


Dalam sekejap, Bunga menjadi cucu Milyarder, hidupnya berubah. Namun


Bab 4 Di selingkuhi


Namun, walaupun hidup bergelimbang harta, tak lantas membuat Bunga berubah. Ia di manjakan, sangat di manjakan. Namun, ia tak terlena.


Alih-alih, berfoya-foya, Bunga malah, memilih jalannya sendiri. Ia lebih fokus untuk menggapai tujuannya untuk menjadi dokter ahli bedah saraf. Bahkan sampai 10 tahun berlalu, tak ada yang tau bahwa Bunga adalah cucu seorang Tanu Rahardja. Bunga hanya ingin orang melihatnya sebagai Bunga, bukan sebagai cucu dari konglo merat, terlalu banyak kesakitan yang Bunga rasakan karena ulah ayah dan ulah gundik ayahnya.


Bahkan rumah sakit, tempat kerja Bunga pun tak mengetahui bahwa Bunga adalah cucu pemilik rumah sakit. Yang mereka tau, cucu pemilik rumah sakit hanyalah Gemma seorang dokter umum. Berbeda dengan kaka sepupunya yang ingin tampil sederhana, Gemma ingin terus tampil menonjol.


•••


"Bunga pinjem kartu lu," ucap Gemma saat masuk ke ruangan Bunga. Seperti biasa jika ada masalah, ia akan datang pada sepupunya


Bunga menyenderkan punggungnya kebelakang, ia menatap Gemma sambil bersideka. "Fasilitas lu, di tahan lagi?" Cibir Bunga.


Dengan lesu, Gemma pun berjalan dan mendudukan dirinya di kursi depan Bunga.


"Mana, pinjem kartu lu!" pinta Gemma lagi.


"Lu tuh apa susahnya si Gem, hidup yang bener, terima perjodohan yang di minta sama Om. Fasilitas lu pasti bakal balik lagi," ucap Bunga, menasihati Gemma. Orang tua Gemma mendesak Gemma untuk menerima perjodohan.


Namun, Gemma selalu menolak. Al hasil fasilitas Gema pun di tahan, dan akan di berikan ketika Gemma mau menyetujui perjodohan. Tapi Gemma tak khwatir, karena kaka sepupunya selalu bisa di andalkan


"Gak ada, sekarang ga ada pake kartu gue! elu pulang dan teriman perjodohan. Dah, masalah lu kelar." Bunga berucap tegas. Ia di perintahkan oleh omnya agar tak membantu Gemma.


"Bungaa ....! Gemma memanggil Gema dengan wajah memelas. Bagaimana ia bisa hidup tanpa uang.


Bunga melihat jam di pergelangan tangannya. Ia menghembuskan napas lega saat jam prakteknya selesai. Ia pun bangkit dari duduknya


"Ya, pulanglah. Jam praktek gue dah selesai."


"Lah, terus gue gimana?"


"Mana gue tau." Tanpa mendengar lagi jawaban Gemma, Bunga pun berjalan meninggalkan Gemma dan keluar dari ruangan.


Gemma menendang-nendangkan kakinya, "Dasar sepupu dakjal" gerutu Gema saat Bunga meninggalkannya. Ia pun ikut bangkit dan keluar dari ruangan Bunga.


••


" Apa anda sudah selesai, Dokter Bunga!" tanya seseorang yang tak lain adalah Dokter iren, orang yang selama ini membenci Bunga.


Bukan tanpa alasan Iren membenci Bunga, Iren iri pada Bunga. Walaupun dia putri petinggi rumah sakit dan juga sama seperti Bunga yang menjadi dokter Ahli bedah, tapi para pasien dan semua orang di rumah sakit menyukai Bunga.


para pasien hanya ingin berkonsultasi pada Bunga, karena Bunga dianggap selalu tepat dalam mendiagnosa para pasien dan setiap operasi, Bunga selalu akurat dan tak pernah ada kesalahan. Berbanding terbalik dengan dirinya, Selama ini, Iren hanya mengandalkan nama besar ayahnya yang menjabat petinggi rumah sakit, dia tak tau bahwa Bunga adalah cucu pemilik rumah sakit tempatnya dan tempat ayahnya bekerja.


Bunga yang sedang berjalan, menghentikan langkahnya. Ia tersenyum pada Iren. "Hai, Dokter Iren. Saya akan pulang, dan sekarang giliran anda." Bunga menjeda sejenak ucapannya. Ia mendekat pada Iren dan berbisik. "Saya harap, anda tak salah lagi dalam memberi diagnosa pada pasien yang akan anda periksa,"


Tanpa mendengar lagi jawaban Iren, Bunga pun melangkahkan kakinya meninggalkan Iren.


Iren mengepalkan tangannya. Tak laka ponselnya berdering. Ia merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya.


Ia menyunggingkan senyum saat tau siapa yang mengirimnya pesan.


"Aku ingin tau, bagaimana reaksimu jika kau tau bahwa pacarmu berselingkuh denganku," lirih Iren sambil melihat ke arah Bunga yang sedang berjalan. Ia tersenyum sinis saat membayangkan Bunga tau, bahwa pacarnya berselingkuh dengannya.


Bab 5 terbongkar


Iren pun membuka pesan dari pacarnya, yang tak lain juga adalah pacar Bunga. Ia tersenyum saat Albi mengajak Iren bertemu di atap.


Ia pun memasukan lagi ponsel ke saku jasnya dan berbalik menuju ruangannya.


•••


Bunga berjalan dengan gontai menuju mobilnya. Tubuhnya begitu lelah. Ia menghela napas lega saat tak melihat Gemma di depan mobilnya. Setidaknya, ia bisa beristirahat tanpa di recoki oleh adik sepupunya.


Ia masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan mobilnya, ia mengemudi di temani oleh lagu kesukaanya.


30 Menit kemudian, ia sampai di apartemennya. Bagi Bunga, apartemen adalah tempat ternyaman, dia tak ingin tinggal di rumah mewah kakeknya.


Ia lebih nyaman tinggal di apartemen sederhana. Setidaknya, di apartemen sederhana, tak terlalu banyak ruang yang tak terpakai sehingga tak menambah kesepiannya.


Bunga akui, ia orang yang membosankan, ia hanya berdiam diri selepas bekerja. Setahun yang lalu, ia mulai memberanikan diri membuka hatinya pada lelaki. Lekaki itu berhasil menarik perhatian Bunga, Lelaki itu bernama Albi, Albi berhasil meyakinkan Bunga bahwa dia akan menjadikan Bunga satu-satunya ratu di hatinya. Namun sebulan ini, sepertinya Albi sedikit melupakan janjinya.


Saat masuk ke kamarnya. Bunga melemparkan tasnya ke sembarang arah. Ia membanting tubuhnya ke ranjang, tubuhnya benar-benar lemas tak bertenaga.


Ia menaruh tangannya di atas kening. Matanya memandang langit-langit. Seperti biasa, rasa sepi kembali menyapanya. Tapi, terkadang dia menyukai rasa sepi itu.


Tiba-tiba, bulir bening tergelincir dari mata dan membasahi pipinya. Ia rindu seseorang, ia rindu pada Albi, kekasihnya, sudah satu bulan ini Albi berubah.


Bunga sadar, Albi bosan padanya, ia akui bahwa ia membosankan. Satu bulan ini, Bunga berusaha mencairkan hubungan mereka dengan mengajak Albi makan bersama, menonton, berjalan-jalan dan lain-lainnya.


Namun, Albi menolak dengan alasan lelah dan sibuk dengan bisnis yang baru dirintisnya.


Mereka pun jarang bertemu di rumah sakit, karena Albi dan Bunga terkadang berbeda jadwal.


Sudah seminggu pula Albi dan Bunga tak bertukar kabar, Bunga terlalu lelah untuk mengirim pesan pada Albi yang terkadang Albi hanya menjawab pesan Bunga dengan balasan yang sangat singkat.


Rasanya menyakitkan bagi Bunga saat melihat status Albi online tapi tak mengabari dirinya. Di titik ini, Bunga menyerah. Biarlah semua mengalir seperti air, tanpa kejelasan dan tanpa kepastian.


Dering ponsel Bunga terdengar dari tasnya dan membuyarkan lamunan Bunga, ia mengusap air matanya dan bangkit dari berbaringnya lalu turun dari ranjang dan mengambil tasnya.


"Rumah sakit," lirih Bunga ketika melihat siapa yang memanggilnya.


"Siapkan semua! Saya akan sampai secepatnya di rumah sakit," ucap Bunga pada suster yang menelponnya.


Bunga mematikan panggilan, lalu menaruh ponselnya lagi kedalam tas.


"Kenapa dia tak pernah bertanggung jawab setiap jadwal prakteknya di mulai!" gerutu Bunga sambil mengikat rambutnya.


Ia menggerutu pada Iren, di rumah sakit ada pasien darurat dan perlu penanganan. Namun, seperti biasa, Iren selalu menghilang di jam-jam prakteknya, hingga pihak rumah sakit segera menelpon Bunga.


Bunga menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh. Pikirannya adalah datang ke rumah sakit dan secepatnya menyelematkan pasien.


Saat sampai di pintu masuk, Bunga sudah di sambut suster yang menunggunya. Suster itu menunggu Bunga sambil membawa ct scan milik pasien.


"Apa semua sudah siap?" tanya Bunga ketika menghampiri suster tersebut. Ia langsung mengambil ct scan di tangan suster dan memeriksanya sambil berjalan.


"Semua sudah siap, Dok," balas suster yang mengikuti langkah Bunga. Bunga pun mengangguk dan terus meneruskan langkahnya menuju loker untuk mengganti pakaiannya.


Setelah dia sudah berganti pakaian. Bunga berjalan menuju ruang operasi, belum dia menekan tombol lift, pintu lift sudah terbuka.


Bunga terdiam saat melihat Iren dan Albi yang bergandengan tangan di dalam lift, langkahnya seolah tak berpijak. Inikah jawaban kenapa Albi berubah padanya ....


Bunga ....


Bab 6 berpura-pura baik-baik saja.


Albi dan Iren yang sedang berada di lift tak sadar saat pintu lift terbuka, mereka terus bersenda gurau. Mereka tak menyadari ada orang yang memerhatikan mereka.


Hancur.


Bunga berusaha menguatkan dirinya. Udara di sekitarnya mendadak menyesakan, jantungnya terasa di hantam godam, dadanya merasakan sesak yang luar biasa, bahkan ia merasa kakinya tak berpijak.


"Dok!" panggil suster dari arah belakang. Suster itu memanggil Bunga karena Bunga belum menaiki lift sedangkan pintu lift sudah terbuka.


Mendengar suara suster dari arah luar lift, seketika Albi dan Iren tersadar.


Tubuh Albi menegang saat melihat Bunga di depannya. Ia langsung melepaskan genggaman tangannya pada Iren, sedangkan Iren, ia tersenyum sinis ke arah Bunga.


"Bunga," lirih Albi.


Bunga tersenyum saat melihat Albi, "Silahkan keluar Dokter Albi ... Dokter Iren, karena kami akan memakai lift," ucap Bunga. Ia berusaha tersenyum dan mengendalikan dirinya, padahal hatinya teriris perih.


Albi terdiam melihat Bunga yang tersenyum, ada rasa bersalah yang menggelayutinya. Tapi mau tak mau dia pun keluar dari lift


"Operasi?" tanya Iren, sebelum Bunga masuk, Iren menghadang langkah Bunga.


"Anda ingin mengoprasi siapa, Dokter Bunga? Ini jadwal praktek saya, kenapa anda yang mengoprasi pasien?" tanya Iren.


Bunga berdecih, ia tersenyum sinis. "Jika Anda memang merasa ini jadwal praktek Anda, seharusnya Anda berada di ruangan dan menangani pasien darurat yang membutuhkan pertolongan anda."


Tanpa mendengar jawaban lagi dari Iren, Bunga pun maju ke arah lift, ia sedikit menubruk tubuh Iren karena Iren menghalangi pintu lift, Bunga pun masuk kedalam lift diikuti suster di belakangnya.


Mendengar jawaban Bunga, Iren mengepalkan tangannya. Ia serasa di telanjangi oleh Bunga, ia menoleh ke arah Albi yang sedang melihat kearah pintu lift yang baru saja tertutup.


Albi benar-benar merasa bersalah, ada prasaan tak nyaman saat melihat Bunga tersenyum padanya saat dia terpergok bersama Iren, selingkuhannya.


Ia akui, ia sedikit bosan dengan hubungannya bersama Bunga, saat ia merasa bosan, datanglah Iren mengisi kebosanan yang di rasakannya. Bersama Iren, Albi merasa hidupnya tidak monoton. Ia merasa sangat di cintai ketika Iren lebih perhatian dari Bunga.


Bahkan dalam sekejap, nama Bunga yang dulu pernah ia perjuangkan hilang, berganti dengan nama Iren.


Ia bahkan berniat mengakhiri hubungannya dengan Bunga, dan berniat serius pada Iren. Apalagi, Iren merupakan anak petinggi rumah sakit.


Sedikitnya bisa menaikan nama Albi dan juga Albi pikir, jika dirinya menikah dengan Iren bisa sebanding dengan keluarganya yang juga cukup kaya raya.


Selama ini, Albi hanya tau bahwa Bunga adalah seorang yatim piatu dan di besarkan di panti asuhan, hingga dia membenarkan tindakannya yang berselingkuh dengan Iren.


Ia berpikir, Bunga tak pantas untuknya, karena Bunga tak jelas asal-usulnya, lebih baik menikah dengan Iren yang jelas-jelas dari keluarga terhormat, begitulah pikirnya.


Namun, pikiran-pikiran itu sirna saat baru saja ia melihat Bunga tersenyum. Ia yakin bahwa Bunga hanya berpura-pura tegar saat mengetahui perselingkuhannya.


Haruskah dia jujur bahwa dia bosan pada Bunga dan jujur ingin menikahi Iren? tapi jujur saja, masih ada sedikit rasa cintanya pada Bunga, bahkan saat ini, ia sedikit rindu pada Bunga. Ada apa dengan dirinya. Padahal, ia baru saja melakukan hal yang manis bersama Iren di atap.


Lamunan Albi buyar saat Iren memegang tangannya. "Aku akan pergi ke keruanganku," ucap Albi pada Iren. Ia berusaha tersenyum pada kekasihnya dengan prasaan yang campur aduk.


Sedangkan di tempat lain, seorang lelaki 36 tahun sedang membanting semua barang-barang di depannya. Ia kesal, karena untuk pertama kalinya dia kalah dalam persidangan, ini pertama kalinya dia kalah setelah 10 tahun karirnya sebagai pengacara


Dialah kevin Aji kuntoro ....


Bab 7 Batu berlian vs batu krikil


Saat pintu lift tertutup, Bunga menyenderkan punggungnya kebelakang. Suster yang menyadari antara apa yang terjadi pada Iren Bunga dan Albi, menoleh kebelakang.


"Anda baik-baik saja, Dok?" tanya suster. Suster itu bisa melihat bahwa Bunga tengah berusaha menahan tangisnya.


Bunga tersenyum. "Saya baik- baik saja, " jawab Bunga. Lalu, pintu lift pun terbuka dan Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang operasi.


Saat semua sudah siap untuk memulai operasi. Tiba-tiba, pintu ruang operasi terbuka, Iren masuk dengan percaya dirinya.


Bunga dan tim medis yang lainnya menolah kearah pintu, mereka terlihat sangat kesal karena kehadiran Iren, sedangkan Bunga, ia menghela napasnya. Ia yakin, Iren akan membuat kekacauan.


Iren yang sudah memakai pakaian operasi langsung berjalan kearah Bunga. "Dokter Bunga, karena ini jam praktek saya. Jadi, saya yang akan memimpin operasi ini," ucap Iren dengan pongah di sertai kepercayaan diri yang tinggi.


Bunga tersenyum lembut, ia bergeser dari posisinya, membiarkan Iren menempati tempatnya.


"Apa Anda sudah mengamati hasil ct scan pasien secara baik-baik, Dokter Iren?" tanya Bunga saat Iren akan mengambil pisau bedah.


Mendengar ucapan Bunga, Iren nengehentikan gerakannya. Ia langsung menatap Bunga.


"Selain pasien mengalami celebral edema, apa anda tau pasien ini mengalami apa lagi?apa anda bisa membedakan perdarahan subdural dan epidural?" Bunga mencecar Iren dengan berbagai pertanyaan. Ia yakin, Iren tak memeriksanya ct scan pasien dengan seksama.


Mendengar ucapan Bunga, Iren terdiam. Dia hanya melihat sekilas hasil ct scan pasien dan ia malah nekad masuk ke ruang operasi.


"Semoga anda sudah memahami betul hasil ct Scan milik pasien. Kalau begitu silahkan mulai!" Setelah mengucapkan itu, Bunga melepas sarung tangannya.


Tim yang tergabung dalam operasi itu bergidik ngeri saat membayangkan Iren yang memimpin operasi. Bunga tersenyum sinis saat melihat wajah Iren yang pucat.


Dia pun berbalik dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan.


"Tunggu!" teriak Iren saat Bunga baru saja melangkahkan kakinya. Iren mengigit bibir bawahnya saat Bunga sudah berbalik dan menatapnya dengan tatapan mencemooh.


"Sepertinya, anda yang harus melanjutkan memimpin operasi ini," ucap Iren dengan pelan. Seketika seluruh tim menggela napas lega, saat Iren memutuskan untuk mundur.


"Dokter Iren ... Apa anda pikir Pasien ini adalah kelinci percobaan?" tanya Bunga. Terlihat jelas kekesalah di wajah Bunga. Biasanya, Bunga takan meladeni tingkah Iren.


Namun, setelah melihat Albi dan Iren, emosinya sedikit terpancing.


"Tadi anda sendiri yang menginginkan operasi ini. Maka, lanjutkanlah!"


Tanpa menderngar lagi jawaban Iren, Bunga kembali berbalik dan melangkahkan kakinya keluar. Seketika tim medis yang berada di ruang operasi dilanda kepanikan.


Saat Bunga keluar dari ruang operasi, Ia mengusap wajah frustasi. Ia takan benar-benar membiarkan Iren memimpin operasi. Ia tau, Iren takan mampu.


Bunga hanya ingin memberi pelajaran pada Iren agar tak semena-mena.


Benar saja, tak lama setelah Bunga keluar, Iren pun keluar menyusul Bunga. "Dokter Bunga!" panggil Iren.


Bunga menoleh, "Ada apa lagi?"


Setelah saya pikir-pikir, karena anda yang pertama masuk ke ruang operasi, jadi anda saja yang memimpin operasi," ucap Iren. Ia tetap memertahankan sikap pongahnya. Padahal sebenarnya, ia tengah merasakan malu.


mendengar ucapan Iren, Bunga maju ke arah Iren, ia menatap Iren dengan tajam. Tatapan tajam Bunga, membuatnya Iren tak berkutik, selangkah Bunga maju, selangkah pula Iren mundur, langkah Iren terhenti saat punggungnya mengenai dinding.


"Selama ini, aku selalu sabar dengan tingkahmu. Jangan kau pikir, hanya karena kau putri dari petinggi rumah sakit, kau bisa berbuat seenakmu. Rumah sakit ini punya aturan dan mulai sekarang, patuhi semua aturan rumah sakit ini, jangan berlagak bahwa kau berkuasa."


Mendengar ucapan Bunga, Iren terdiam. Lidahnya terasa kelu, ia tak bisa menjawab ucapan Bunga.


Setelah mengucpkan itu, Bunga pun melangkahkan kakinya untuk kembali masuk ke ruang operasi


"Apa kau sengaja mempermalukanku?" tanya Iren ketika Bunga kembali ke ruang operasi.


"Apa kau dendam karena melihatku dan Albi, " ucap Iren lagi. Ia hanya ingin memancing emosi Bunga, agar dia tak terlalu malu. Ia bahkan sudah memanggil Bunga dengan bahasa tak formal.


Bunga menoleh dan menjawab ....


"Batu berlian sepertiku takan bersaing dengan batu krikil sepertimu."