Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Maukah kau jadi simpananku?


dua minggu kemudian


Nael terduduk di kursi berangkar, dengan posisi kaki yang memanjang, matanya terus fokus ke arah televisi mencari saluran yang menurutnya menarik.


Namun, setelah mencari-cari. Tak ada satupun saluran televisi yang membuatnya betah menonton. Ia tidak punya kegiatan lain, ia juga tidak bisa menyalakan ponselnya karena tak ingin orang tuanya menghubunginya.


Hingga pada akhirnya, Nael menghabiskan waktunya untuk menonton televisi dan melamun. Terkadang, dia juga mengerjakan pekerjaannya. Setelah di rawat selama dua Minggu, kondisi Nael pun mulai membaik.


Pintu terbuka, menyadarkan Nael dari lamunannya, ia menoleh ternyata Denis yang datang.


“Adaa apa?” tanya Nael pada Denis, ia yakin sekretarisnya datang karena akan menyampaikan hal penting.


Denis menyalakan tabnya, kemudian memberikannya pada Nael. “Tuan, sepertinya ada masalah di kantor. Mau tak mau, anda harus memimpin rapat yang akan dilakukan minggu depan,” ucap Denis, membuat Nael mengusap wajah kasar.


“Baiklah, aku akan minta pulang pada dokterku.” Setelah mengatakan itu ia memberikan lagi tabnya pada Denis, kemudian Denis pamit undur diri dan keluar dari ruangannya.


Setelah Dennis pergi, pintu kembali terbuka. Baru saja Nael akan menegur Denis karena kembali mengganggunya, namun, ia menghentikan niatnya ketika melihat Gabby yang masuk bukan Denis.


“Apakah aku bisa secepatnya pulang?” tanya Nael ketika Gabby menghampirinya.


“Dari caramu berbicara saja, aku yakin kau sudah sembuh seratus persen,” jawab Gabby, membuat Nael berdecih.


“Terima kasih,” ucap Nael dengan suara yang super pelan, membuat Gabby membulatkan matanya.


“Apa kau bilang?” tanya Gabby saat Nael mengatakan terima kasih padanya. ia mendengar ucapan Nael. Hanya saja, rasanya begitu aneh ketika pasien yang menyebalkan ini berterima kasih padanya.


“Aku berterima kasih,” jawabnya lagi dengan suara yang super pelan.


“Apa, kau ingin berkata apa?” tanya Gabby yang masih betah melihat wajah kesal Arsen.


“Terima kasih,” akhirnya Nael menjawab dengan suara super keras. Membuat Gabby memalingkan tatapannya ke arah lain.


“Kenapa kau harus pura-pura tidak mendengar jika kamu mendengar ucapanku,” protes Nael. Namun Gabby mengangkat bahunya acuh.


“Kau tau semua orang punya uang untuk membayar biaya rumah sakit. Tapi sangat jarang sekali pasien yang berterimakasih pada dokter yang telah merawatny” sindir Gabby, membuat Nael berdecak.


“Apa kau pikir aku tidak bisa menuruti apa mau mu sebagai tanda terimakasih?” tanya Nael. Gabby tampak berpikir.


“Kau mau menuruti apa mauku sebagai tanda terima kasih?” tanya Gabby, Nael mengangguk yakin.


“Maukah kau jadi simpananku dan maukah kau jadi selingkuhanku?” tanya Gabby, raut wajahnya menjadi serius, seolah dia memang meminta Nael menjadi simpanannya, dan itu sukses membuat Nael terdiam.


Kali ini, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat ketika mendengar ucapan Gabby. Tiba-tiba, Gabby tertawa ketika melihat reaksi Nael


“Aku hanya bercanda, memangnya siapa juga yang mau denganmu.” Setelah mengatakan itu, Gabny mengecek mengecek kondisi Nael, sedangkan Nael masih diam terpaku, ia masih mencerna ucapan Gabby. Bahkan, Nael tidak sadar, saat Gaby sudah keluar dari ruangan rawatnya.


•••


Gabby membuka pintu ruangannya, kemudian iya membuka jas dokternya. Lalu menekan tombol hingga pintu terbuka, ia langsung masuk ke dalam kamar pribadinya, kemudian membanting tubuhnya di ranjang.


Ini sudah dua minggu berlalu, tapi orang suruhannya sama sekali belum mendapatkan bukti apapun tentang Arsen.


Sebenarnya, seminggu yang lalu, Gabby berusaha untuk menghilangkan kecurigaannya dan berusaha bersikap baik-baik saja. Tapi anehnya, semakin Gabby bersikap baik baik saja, semakin perasaannya tersiksa dan ia malah semakin membenci Arsen.


Lamunan Gabby buyar ketika ponselnya berdering, ia mengambil ponselnya, kemudian melihat siapa yang menelponnya


“Bagaimana apa kau menemukan sesuatu?” tanya Gabby pada orang suruhannya.


“Ma-maksudmu ...” Gabby menghetikan ucapannya kemudian berusaha mengatur nafasnya. “Aku akan menyusul kesana.” Sambung Gabby lagi, ia mematikan panggilannya kemudian turun dari ranjang.


Gas komen Gengs