Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Bukan Daddy lagi. Tapi, paman Nael


Nael menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak ingin ingin terus berpikir. Ia pun memutuskan menyusul kedua putrinya untuk turun.


Saat keluar dari area kincir angin, senyuman Laura dan Naura mengembang. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan dan memgayunkan tangan mereka ke udara, seolah mereka bahagia dengan momen yang barusan mereka lakukan, moment berfoto bersama sang ayah, walaupun mereka harus mengalami hal yang menyakitkan terlebih dahulu.


Mata Gabby berkaca-kaca saat melihat putrinya berjalan dengan senyum mengembang. Jika dipikir, ini pertama kalinya ia melihat Laura dan Naura tersenyum setelah menemui Nael, karena biasanya, setelah mereka menemui Nael, mereka akan murung dan tidak bersemangat karena sikap Nael.


Tapi sekarang, ia bisa melihat senyuman putrinya mengembang dan ia yakin putrinya telah berhasil mengambil foto bersama Nael. Lihatlah, Laura dan Naura hanya ingin hal sederhana, dan sekarang mereka tidak perlu merasakan rasa sakit lagi, karena semuanya akan berakhir. Laura dan Naura tidak akan mengingatnya Nael lagi, mereka akan memulai kehidupan baru di Jepang.


“Mommy!” panggil Laura dan Naura secara bersamaan, mereka langsung memanggil Gabby, ketika menghampiri Gabby.


Gabby tersadar, kemudian ia tersenyum. “Bagaimana, apa kalian senang?” tanya Gabby Laura dan Naura pun mengangguk.


“Kami senang, Mommy,” jawabnya dengan wajah yang berseri-seri. Hanya berfoto dengan sang ayah saja putrinya tampak sangat bahagia.


“Ya, sudah kalau begitu kita pulang!” ajak Gaby sedangkan Nael tidak menghampiri Gabby lagi. ia langsung pergi ke arah mobilnya yang terparkir.


“Nael!” panggil Gabby. Nael yang akan membuka pintu mobil menoleh.. Gaby menggenggam tangan Laura dan Naura untuk pergi menghampiri Nael, dan Mereka pun berjalan ke arah Nael.


Lagi-lagi, Nael memperlihatkan kekesalannya ketika Gabby memanggilnya. Dan kali ini, Gaby tetap tersenyum, seolah berterima kasih karena telah mewujudkan keinginan kedua putrinya.


Jantung Nael berdetak dua kali lebih cepat ketika melihat Gabby tersenyum. Jika di pikir, selama 8 tahun ini. Ini pertama kalinya Gabby tersenyum padanya, begitupun ia yang tak pernah tersenyum pada Gabby.


“Nael!” panggil Gabby lagi, ketika ia sudah berada di depan Nael.


“Terima kasih kau telah mengikuti kemauan Laura dan Naura,” ucap Gabby. Ia tetap berterima kasih pada Nael, sedangkan hanya terdiam.


“Laura ... Naura, ucapkan terima kasih!” titah Gabby. Tanpa di duga, Laura dan Naura maju secara bersamaan, kemudian mereka memeluk kaki Nael, membuat Nael terperanjat kaget..Lagi-lagi, merasakan perasaan yang aneh. Ia merasakan perasaan yang tak biasa. Dan ia juga merasakan akan, ada hal besar yang menimpanya.


Setelah memeluk kaki Nael, Laura dan Naura pun menjauh. Kemudian kembali ke sisi sang Ibu, dan kembali menggenggam tangan Gabby.


“Terima kasih, Paman Nael, sudah mau menaiki kincir angin bersama kami,” ucap Laura dan Naura secara bersamaan.


Mata Gaby membulat, saat mendengar Laura dan Naura memanggil Nael dengan kata Paman, tidak Daddy. Padahal ia tidak menyuruh putrinya untuk mengganti panggilan pada Nael.


Begitu pun Nael, tubuhnya dia mematung ketika kedua putrinya tidak memanggil Daddy lagi padanya dan hanya memanggil paman. Ia merasa hatinya begitu nyeri ketika mendengar ucapan kedua putrinya. Bukankah ini yang selalu dia harapkan. Tapi kenapa hatinya terasa nyeri, saat putrinya tak lagi memanggil Daddy padanya.


Rupanya, saat mereka tau, mereka tidak akan kembali lagi ke Rusia dan akan menetap di Jepang, Laura dan Naura sudah sepakat untuk melupakan Nael, dan memanggil Nael Paman.


Usia Laura memang masih 7 tahun. Tapi, kesakitan kedua anak itu, telah membuat pribadi Laura dan Naura mengerti apa yang terjadi, bahwa sang ayah tidak pernah menginginkan mereka.


Dan Kini, Laura dan Naura mewujudkan keinginan sang ayah, yang tak ingin melihat lagi mereka. Laura dan Naura melepaskan Nael dengan senyum yang mengembang. Mereka pergi tanpa ada beban sedikitpun.


Ga komen, besok up satu bab hahahahaha