Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Amarah lagi


Melihat Ayana, ia seperti melihat sang ibu di masa lalu, di mana ibunya selalu tertindas, dan di mana ia melihat ibunya selalu diam saja ketika direndahkan oleh orang lain.


Masa lalu Raymond juga tidak baik, ia mempunyai trauma tersendiri sejak kecil. Setelah ayahnya meninggal, Raymond hidup berdua dengan sang ibu, dan sang ibu sama seperti Ayana yang terus bekerja hanya untuk dirinya.


Sang ibu rela melakukan apapun untuknya. Bekerja keras untuknya dan tidak pernah mau menyerah, sekalipun banyak diremehkan oleh orang lain. Saat itu, dia terlalu kecil untuk membela ibunya, ia tidak mengerti bagaimana caranya membela ibunya, ia juga sering melihat ibunya sering menangis diam-diam.


Itu sebabnya, ia begitu kesal ketika melihat Ayana yang pasrah, ia begitu marah ketika melihat Ayana yang sabar karena itu mengingatkannya pada sang ibu, dan tanpa sadar sebenarnya Raymon masih mencintai Ayana, itu sebabnya ia tak ingin Ayana menjadi lemah.


“Sudahlah akui saja jika kau masih mencintainya. Sebab jika kau tidak mencintainya, kau tidak akan memaksa dia untuk mengikuti apa yang kau mau,” ucap Justin membuat Raymond tersadak, lalu berdecak kesal.


“Aku kesini karena ingin tenang, tapi bukannya tenang, kau semakin membuatku pusing!” gerutu Raymond. Ia pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung keluar dari apartemen Justin.


Dua Minggu kemudian


Raymond masuk ke dalam ruangannya dengan membanting pintu, wajahnya memerah, amarah berkobar hebat di dadanya.


“Ayana ... Ayana!” teriak Raymond. Ia berteriak pada Ayana dan memanggil Ayana seperti orang yang kesetanan. Ayana yang berada di luar ruangan Raymond, tidak berani melangkahkan kakinya, ia sungguh takut Raymond akan melukainya.


jantung Ayana berdetak dua kali lebih cepat, lututnya bergetar. Ia merasakan ketakutan yang luar biasa hebat, apalagi masalah ini berawal darinya.


“Ayana!” bentak Raymond lagi, karena ia tahu Ayana berada di luar ruangannya , Ayana menghela nafas dan menghembuskannya. Dengan mengumpulkan keberaniannya, akhirnya Ayana pun melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam ruangan Raymond. Saat masuk kedalam, Ayana hampir saja berteriak saat Raymond melemparkan jas ke hadapan Ayana.


“Apa kau menjual data-data ke perusahaan lain!” teriak Raymond. Ayana menggeleng dengan cepat. “Lalu bagaimana data perusahaanku bisa di curi oleh perusahaan lain, sedangkan kau menyimpan semua data-data itu!” teriak Raymond. Ia benar-benar emosi dan merasa di curangi oleh Ayana.


”A-aku tidak tahu kenapa data-data itu ada di perusahaan lawan,” jawab Ayana dengan bibir bergetar. Ia bergidik, walaupun Raymond sering marah kepadanya, tapi untuk pertama kalinya, ia melihat Raymond semarah ini.


“Tutup mulutmu!” Bentak Raymond.


“ Aku menyesal telah mempertahankanmu di perusahaanku, seharusnya aku mengikuti kemauan mantan suamimu untuk memecatmu. Karena kau perusahaanku menderita kerugian yang cukup besar, dan kau harus mengganti kerugian apa yang kau lakukan!” teriak Raymond lagi, emosinya benar-benar di titik tertingginya. Ini bukan hanya soal perusahaannya saja. Ini juga soal harga dirinya sebagai pemimpin perusahaan. Apalagi saat meeting tadi, ia harus melihat ide perusahaannya di curi dan di tampilkan oleh perusahaan lain di depan matanya sendiri.


Seluruh tubuh Ayana terasa melemas, saat mendengar jawaban Raymond. Bagaimana mungkin dia akan mengganti kerugian perusahaan Raymond, uang ia tahu bahwa kerugian itu cukup besar.


“Tu-tuan. Ta- tapi saya tidak tahu kenapa data itu ada di perusahaan lain. Bahkan, saya mengunci semua data-data itu di komputer saya!” ucap Ayana, membuat Emosi Raymond semakin mendidih. Seketika Raymond maju ke depan Ayana, membuat Ayana bergidik. Tanpa diduga Raymond mencengkram rahang Ayana, hingga Ayana kesulitan bernafas.


“Jika kau mengunci data-data itu, harus data-data itu aman bersamamu. Jadi kesimpulannya bahwa kau yang menjual data-data itu pada perusahaan lain,” ucap Raymond. Ia menghempaskan cengkramannya hingga Ayana meringis.


Ayana berjalan dengan pandangan kosong ke depan, dua minggu ini ia benar-benar merasakan enjoy dan rileks dengan hidupnya, karena Raymond tidak pernah memberi perintah yang aneh-aneh padanya.


Tapi setelah dua minggu berlalu, ternyata ia harus mengalami hal yang menyakitkan di mana ia harus mendengar bentakan dan teriakan dari Reymond lagi.


Ia tidak tahu, kenapa data itu ada pada perusahaan lain, ia ingat ... Ia sudah benar-benar teliti dan tidak mungkin data itu bocor. Hingga Raymond murka kepadanya, dan sekarang ia terpaksa kerja tidak mendapat gajih selama beberapa tahun ke depan untuk menutupi ganti rugi, jika ia tidak bisa mengganti rugi, ia mungkin akan di penjara. Bagaimana mungkin Ayana bekerja tanpa digaji, sedangkan ia kerja untuk menghidupi Moa ayahnya sedang berada di rumah sakit jiwa.


Ayana tersadar ketika ia sudah berada di depan sekolah Moa, ia langsung masuk ke dalam gerbang, ternyata saat ia masuk Moa sedang menunggunya dan terlihat gadis kecil itu sedang melamun


Saat melihat Moa melamun, hati Ayana berdesir pedih. Jika ia tidak mendapat gajih, lalu Bagaimana Moa akan bersekolah dan bagaimana dengan kehidupannya ke depan.


Ayana berusaha menegarkan hatinya, kemudian ia menghampiri Moa. “Moa!” panggil Ayana.


“Mommy!” ucapnya dengan girang, Ayana menekuk kakinya, kemudian menyetarakan diri dengan Moa.


“Apa ada yang mengganggu pikiranmu? kenapa kau tampak melamun?” tanya Ayana.


“Mommy, kelasku akan berlibur satu minggu lagi dan madam Elsa menitipkan ini untuk mommy!” Moa mengeluarkan sesuatu dari tasnya, kemudian ia memberikan lembaran kertas pada Ayana yang berisi biaya liburan yang harus Ayana bayar.


Ayana memejamkan matanya saat melihat tagihan itu, bagaimana mungkin ia bisa membayar biaya berlibur, sedangkan ia saja tidak akan mendapat gaji. Tapi rasanya, Ia juga tidak tega apalagi wajah Moa begitu sumringah saat mengatakan tentang liburan.


Ayana memalingkan tatapannya ke arah lain, ia menghapus sudut matanya yang berair, kemudian menatap Moa. “Ayo kita pulang!” ucap Ayana, ia mengulurkan tangannya pada Moa dan ia harus memikirkan ini matang-matang.


•••


“Moa, boleh Mommy bicara?’ tanya Ayana ketika ia masuk ke dalam kamar dan Moa terlihat sedang belajar. Ayana melangkahkan kakinya kemudian menghampiri Moa yang sedang duduk di lantai..


“Moa, maafkan Mommy. Sepertinya besok kau tidak bisa bersekolah lagi di sana dan tidak akan bisa mengikuti liburan,” ucap Ayana tiba-tiba membuat Moa menoleh.


“Kenapa aku tidak bersekolah di sana, teman-temanku sangat baik di sana,” ucap Moa, ia tampak protes dengan ucapan sang ibu.


”Karena besok kita akan pergi dari sini!”