Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Kenyataan yang memukul


Miko mendudukkan dirinya di sofa, ia mengusap wajah kasar, beberapa kali ia menghela nafas berat, mencoba berpikir jernih dan berusaha menenangkan dirinya.


Ia yakin, tidak akan ada yang terjadi apapun pada Leticia karena anak buahnya tidak mengabarkan apapun padanya. Miko menyandarkan tubuhnya ke belakang, kemudian menaruh tangannya dikening, lalu memejamkan matanya kembali.


“Tolong.” Tiba-tiba, Miko kembali membuka matanya, ketika sekelebat bayangan Letica muncul dan meminta tolong padanya. Ia kembali mengambil ponselnya kemudian mengutak-atiknya.


Lalu setelah itu ia pun langsung menelepon kembali anak buahnya untuk menanyakan keadaan Leticia. Namun, beberapa kali ia menelpon buahnya, tetap tidak bisa, anak buahnya masih tak bisa di dihubungi hingga Miko mengusap wajah kasar.


“Sebenarnya kemana dia!” umpat Miko pada anak buahnya, Ia pun kembali menghubungi Leticia. Namun, nihil Leticia tetap tak bisa dihubungi.


Tiba-tiba Miko terpikirkan sesuatu, ia mungkin bisa mencari petunjuk di mana Leticia dari berkas-berkas yang Leticia tinggalkan apartemennya, karena jujur saja Ia juga tidak tahu di mana alamat apartemen Leticia yang berada di Jepang.


Ia membuka lemari yang selama ini di tempati oleh pakaian dan benda-benda Leticia. Ia mengerutkan keningnya saat lemari itu kosong dan tidak tersisa sedikitpun, dan Miko baru menyadari itu.


Ia pikir, Leticia hanya membawa separuh pakaiannya. Tapi ternyata tidak, Leticia tidak meninggalkan pakaian satu helai pun. Tak lama, Miko menghala nafas saat melihat beberapa dokumen yang sepertinya milik Leticia, Ia pun mengambil dokumen itu, kemudian membawanya keluar.


Saat sudah duduk di sofa, Miko langsung membuka dokumen itu satu persatu, tidak ada yang aneh dari dokumen itu. Dokumen itu hanya dokumen tentang Leticia yang sudah tidak terpakai, hingga Miko menghala nafas besar.


Miko meneliti kertas itu dengan seksama, ia yang membaca huruf demi huruf yang ada di situ. “A-pa ini,” ucap Miko dengan bibir bergetar. Walaupun dia tidak mengerti tentang medis. Tapi ia mengerti tentang apa yang ada di kertas itu, itu adalah hasil pemeriksaan Leticia di mana Leticia di vonis penderita penyakit liver.


Tak lama, ada satu kertas kecil yang jatuh, hingga pun mengambil itu lalu membukanya. Jantung Miko berdebar ta karuan saat membuka kertas kecil itu, ternyata itu adalah hasil USG milik Leticia.


“ A-apa dia sedang mengandung,” ucap Miko dengan terbata-bata. Ia pikir, Leticia sedang mengandung. Sayangnya, Miko tidak tahu bahwa Leticia sudah kehilangan kandungannya.


Tidak, Miko tidak bisa diam saja, ia harus memastikan semuanya. Ia pun bangkit dari duduknya, lalu memakai mantel, ia harus mengunjungi rumah sakit yang di datangi oleh istrinya dan memastikan semuanya.


Walaupun ini sudah tengah malam, tapi Miko tidak peduli, ia harus memastikan apa yang terjadi pada Leticia. Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Miko sampai di rumah sakit yang saat itu di datangi oleh Leticia, beruntung ada nama rumah sakit di berkas yang ia lihat, hingga dia bisa langsung datang tanpa harus mencari tahu rumah sakit yang didatangi oleh istrinya.


“Maaf Tuan, kami tidak bisa membeberkan kondisi pasien!” kata resepsionis itu, membuat wajah Miko memerah.


“Saya suaminya. Saya berhak mengetahui kondisi istri saya!” Miko berkata dengan emosional, pikirannya kalut, hingga untuk pertama kalinya, ia menampakkan emosinya di hadapan orang lain.


Scrool gengs.