Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Hmm, aku ayahmu


“Mommy, apa Aku anak yang jahat?” tanya Moa, membuat tangis Ayana tidak bisa dibendung


“ kenapa kau berkata begitu?” tanya Ayana


“Tadi Paman itu memakiku dan mengatakan aku anak sialann. Apa Aku anak yang jahat?” tanya Moa lagi. “Guruku mengatakan, kata sialann selalu disematkan pada orang-orang yang jahat, Lalu kenapa Paman itu memanggilku anak sialann. Aku tidak jahat mommy!” air mata Moa turun begitu deras, begitupun dengan Ayana yang tak sanggup menahan tangisnya


“Kau tidak jahat, Paman itu adalah orang gila. Dia hanya berbicara asal, tolong jangan mengingat apapun yang diucapkan oleh Paman itu,” ucap Ayana, berusaha menenangkan sang Putri.


Ayana menyadari betul, kepintaran otak Moa, Moa begitu cepat tanggap dengan apapun yang terjadi di sekitarnya. Dan naasnya, hari ini, Moa harus mendengar ucapan yang menyakitkan dari Jordan.


Tia-tiba pintu terbuka membuat Ayana dan Moa melihat ke arah pintu, ternyata Raymond yang masuk membuat mata Ayana membulat, ia merasa sudah mengunci pintu kamar. Tapi, kenapa Raymond bisa masuk.


“Tuan!” panggil Ayana.


“Biarrkan Aku berbicara Moa!” kata Raymond..Entah kenapa, tatapan Raymond begitu tulus menatapnya, hingga Ayana terbuai. Bahkan tanpa sadar, ia mengangguk.


“Moa!” panggil Raymond, Moa yang sedang berbaring langsung bangkit dari berbaringnya, kemudian ia mendudukkan dirinya. Lalu Raymond duduk di ranjang, hingga kini ketiga orang itu sama-sama terduduk dengan posisi saling memandang.


“Apa Paman ayahku?” tanya Moa tiba-tiba, ia langsung berbicara tanpa basa-basi. Raymond menggangguk membuat mata Ayana membulat, dan Raymond langsung menoleh ke Ayana, kemudian mengedipkan matanya, pertanda Ayana tidak boleh berbicara apapun pada Moa.


“Maafkan Daddy yang selama ini tidak pernah ada di sampingmu, maafkan Daddy selama ini tidak pernah menengokmu, maafkan Daddy yang selama ini tidak pernah ada bersamamu. Tapi kali ini, Daddy berjanji, Daddy tidak akan meninggalkanmu dan Mommy lagi!” kata Raymond.


Tiba-tiba Moa tertunduk, lalu ia merepetkan tubuhnya pada sang Ibu dan menangis di belakang punggung ibunya.


Tapi hari ini ia mengetahui semua, Dan menganggap apa yang Raymond ucapkan adalah kebenaran, bahwa Raymond adalah ayahnya.


Saat Moa menangis di belakang punggungnya, Ayana berbalik lalu memeluk Moa hingga tangis kedua ibu dan anak itu pecah secara bersamaan, membuat Raymond menatap keduanya dengan mata yang berkaca-kaca.


Raymond bangkit dari duduknya, kemudian ia berpindah duduk, di samping Ayana. Lalu setelah itu, mengelus rambut Ayana.


“Bolehkah aku berbicara dengan Moa?” sebentar tanya Raymond. Ayana melepaskan pelukannya dari Moa, lemudian menatap Raymond.


“Percaya padaku!” lagi-lagi tatapan Raymond begitu tulus, membuat Ayana terhanyut. Lalu ia bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar meninggalkan Raymond dan Moa berdua.


satu jam kemudian


Raymond menarik selimut dan menyelimuti tubuhmu Moa yang sudah tertidur, ia mendudukkan diri di sebelah Moa. Lalu, menatap mual lekat-lekat.


Mungkin, Raymond sudah jatuh hati pada anak kecil itu semenjak pertama kalinya ia bertemu di supermarket. Moa begitu manis di mata Raymond, dan setelah tadi perkelahiannya dengan Jordan ia tidak akan lagi membiarkan Moa dan Ayana mengalami rasa sakit lagi.


Dan barusan ia berhasil memenangkan Moa dengan cara ...


Gengs dua bab lagi menyusul ya, udah aku ketik kok tinggal di periksa lagi. Aku lagi ada acara mendadak huhu


Gas komen ya