
Joanna masuk ke dalam apartemen yang disediakan oleh Jordan, apartemen itu begitu luas. Harusnya, Joana merasa nyaman di sini, tapi tidak, ada yang aneh dengan hatinya. hatinya seolah tertinggal di apartemen Jordan.
Joana menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia pun masuk ke dalam, lalu melihat-lihat apartemen yang ia tempati. apartemen ini begitu mewah..Tapi, sayangnya Johanna merasa ketakutan sendiri di apartemen ini.
Joana mendudukkan diri di sofa, kemudian ia merogoh tasnya, lalu mengeluarkan ponsel miliknya yang selama 4 bulan ini tidak dia hidupkan, karena jika dihidupkan, pasti ibunya akan melacak keberadaannya.
Saat ia menyalakan ponselnya, ia tersenyum saat banyak sekali pesan yang masuk dari Laura Naura dan Sheina, mereka tampak mengkhawatirkannya dan itu membuat hati Joanna menghangat, ia bersyukur mempunyai teman seperti mereka, mereka selalu ada di sampingnya
Saat ia akan mematikan kembali ponselnya satu pesan kembali masuk ke dalam ponsel miliknya. Pesan itu dikirim pada saat satu bulan lalu dan itu adalah pesan dari ibunya. Saat membaca pesan tersebut, Joana lansung menjatuhkan ponselnya kebawah.
Keringat dingin langsung mengucuri seluruh tubuhnya, ia terlalu terkejut dengan pesan Olivia. Joana menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak boleh lagi ada korban sang ibu, Ia pun segera mengambil ponselnya. Lalu setelah itu, ia langsung menelepon sang ibu. Ancaman Olivia benar-benar membuatnya mati Kutu, dan ia tidak mungkin membiarkan orang lain celaka karenanya.
“Mo-Mommy!” kata Joana dengan bibir bergetar, ia menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar teriakan Olivia yang memekik, di telepon saja Joanna begitu ketakutan, apalagi jika ia bertemu dengan sang ibu.
”Aku Aku berjanji aku akan pulang. Tapi tolong berikan aku satu hari untuk bebas, aku berjanji aku tidak akan kabur lagi!" kata Joanna dengan cepat. Setelah mengatakan itu, Joanna pun langsung mematikan panggilannya, kemudian ia langsung mematikan ponselnya, karena takut sang ibu akan melacak keberadaannya.
Keesokan harinya.
Joanna berdiri di depan kantor Jordan, di tangannya sudah ada paper bag yang berisi makan siang untuk lelaki itu, Joanna nekat melakukan ini. Lagi-lagi ini bentuk rasa terima kasihnya pada Jordan, sebab saat ini ia akan menyerahkan dirinya pada sang ibu.
Ia sudah banyak berpikir semalaman dan ia tidak ingin ada korban karena amarah sang ibu, itu sebabnya ia lebih memilih menyerahkan dirinya dan ia tidak tahu kapan ia bertemu Jordan lagi, atau bisa saja ia tidak akan bertemu lelaki itu lagi, itu sebabnya ia ingin menemui Jordan untuk yang terakhir kalinya.
Joanna merogoh tasnya, kemudian ia mengambil ponselnya. Lalu menelepon Jordan, beruntung ia mendapat kartu nama Jordan, hingga ia bisa mengetahui nomer Jordan.
“ Paman!” ucap Joana saat Jordan mengangkat panggilannya. Jujur saja ia takut Jordan akan menolak kehadirannya.
“Ada apa?” tanya Jordan, nada suara Jordan seperti kemarin.
“ Paman bolehkah aku bertemu denganmu sekali ini saja?” tanya Joana dengan nada memelas, terdengar helaan nafas dari Jordan, dan Joana tau, Jordan keberatan dengan keinginannya.
“ Paman kumohon, ijinkan aku bertemu denganmu. Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya!” kata Joanna dengan menahan sesak yang luar biasa, bisa dibilang Jordan adalah cinta pertamanya. Tapi seberapa pun, Joana berharap, tentu saja ia tahu, itu akan sia-sia.
Joana menutup panggilannya saat Jordan mengatakan bahwa Joanna boleh masuk ke dalam perusahaannya dan menyuruh Joana untuk naik ke ruangannya, walaupun dengan nada dingin dan terkesan malas. setidaknya Joana berkesempatan untuk melihat Jordan untuk terakhir kalinya .
•••
Joanna berdiri di depan ruangan Jordan, kemudian ia menggerakkan tangannya untuk mengetuk pintu. “pak-Paman,” ucap Joanna, saat terdengar sahutan dari dalam, Joanna pun memberanikan diri untuk membuka pintu, kemudian masuk ke dalam.
“Paman!” panggil Joanna.
“Ada apa?” tanya Jordan, Ia hanya menoleh sekilas kemudian kembali melihat ke arah laptopnya. Joanna maju ke arah meja Jordan. Lalu setelah itu ia menyimpan paper bag di meja dan langsung menatap Jordan, sedangkan Jordan berpura-pura melihat ke arah laptopnya. Padahal Ia sedang berusaha menahan diri untuk tidak melihat ke arah Joanna.
Joana menghirup oksigen sebanyak-banyaknya kemudian tersenyum, lalu menatap Jordan lekat-lekat, mencoba mengabadikan wajah lelaki itu dalam ingatannya.
“Paman terima kasih atas bantuanmu selama ini, terima kasih kau telah menyelamatkanku selama 4 bulan kemarin, aku tidak mempunyai apa-apa untuk membalasmu, aku hanya berharap Paman selalu bahagia!" Joana berusaha menahan tangisnya, kemudian ia membungkuk hormat pada Jordan.
“Paman, aku harap Paman mau memakan makanan ini, aku hanya bisa memberikan ini untuk kenang-kenangan terakhir, kalau begitu aku permisi!" Joana pun berbalik, kemudian ia keluar dari ruangan Jordan, sedangkan Jordan merasa hatinya benar-benar tak karuan, apalagi saat melihat punggung Joanna. Namun tak lama Jordan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Joanna keluar dari kantor Jordan dengan perasaan yang lega, setidaknya ia sudah pamit secara baik-baik pada Jordan, setidaknya ia tidak akan hilang tanpa berterima kasih. Saat ia akan menaiki taksi mobil berhenti di depannya
Mata Joana membuat saat melihat seseorang keluar dari mobil dan Joana tau, itu adalah orang suruhan ibunya, ibunya bisa melacakanya karena barusan dia mengatipkan ponselnya.
“Silahkan Nona!” kata lelaki itu, saat berada di depan Joanna. Joanna pun mengangguk kemudian ia masuk ke dalam mobil Lalu setelah itu mobil pun melaju.
Mobil yang ditumpangi Joana sampai di pekarangan rumah. Joana menahan degup dan ketakutan yang luar biasa hebat, apalagi ia melihat ada sang ibu di depan rumah dan sepertinya sudah menunggunya. Sudah dipastikan akan ada hal yang menyakitkan yang terjadi padanya.
“Ayo, Nona!”
keringat dingin sudah mengcuri seluruh tubuhnya saat anak buah sang ibu menyadarinya, dengan tangan yang lemas, Joanna membuka pintu mobil, kemudian ia langsung turun dari mobil tersebut..
Wajah Olivia sudah memerah saat melihat Joana turun dari mobil, Ia pun langsung berjalan dengan cepat untuk menghampiri putrinya. Setelah ada di depan Joanna, tanpa diduga Olivia menjambak rambut putrinya, ia masuk kedalam dengan menarik rambut Joana.
Sedangkan Joanna tidak berteriak ataupun tidak melawan sedikitpun, padahal sang ibu sedang menarik rambutnya dengan keras, karena ia sudah tahu dengan apa yang akan terjadi dan ia rasa melawan pun percuma, hanya air mata yang mewakili rasa takut dan hancurnya dia saat ini, ia merasa hukuman kali ini akan lebih berat dari hukuman sebelumnya.
Adakah yang bisa menyelamatkannya kali ini, entahlah .... Yang pasti, Joana sedang merasakan bahwa sebentar lagi nyawanya akan meregang di tangan sang ibu.
Yuks bisa yuks bantuin spam komen.
tatap aku lelakiku up besok ya.
walaupun up dua bab tapi panjang-panjang kok, ini 4 bab di jadiin dua bab, jadi jangan ada yang protes dikit ye
Gila sih ngebayangin takutnya jadi Joana. 😔